Suku Ini Membentuk Tubuhnya Sangat Mengerikan dan Aneh

0
40
views

befren.com – Kadang sebuah suku di dunia ini mempunyai kebiasaan atau tradisi yang menurut kita sebagai orang masa kini sangat mengerikan dan enggan melakukannya untuk mengikutinya, tapi bagi orang suku ini hal tersebut adalah sesuatu yang sangat diidamkan dan mempunyai daya tarik bagi kaum suku tersebut. Sehingga tidak jarang dari mereka mengubah bentuk tubuhnya menjadi sangat mengerikan, itu bagi kita, tapi tidak bagi mereka. Dan ada sebagian dari suku Apatani melakukan modif tubuhnya sebagai perlindungan dari suku-suku lain yang memperebutkan mereka karena paras mereka yang sangat cantik.

Seperti meruncingkan gigi, memperpanjang telinga, bibir piring, gelang leher jerapah dan tambal hidung, bagi beberapa suku di dunia merupakan sebuah daya tarik kecantikan lho. Berbagai bentuk modifikasi tubuh tersebut telah dilakukan sebelumnya oleh suku-suku di seluruh dunia,  selama ratusan tahun.

Suku Dayak

Suku Dayak memiliki tradisi memanjangkan telinganya

Dayak adalah nama penduduk asli Pulau Borneo yang saat ini masih banyak tinggal di pedalaman Kalimantan. Suku asli dayak mempunyai budaya maritim atau bahari karena nama mereka banyak mempunyai arti dan berhubungan dengan sungai (karena banyaknya sungai yang terdapat di pedalaman Kalimantan). Memiliki tradisi memanjangkan telinga. Baik laki-laki maupun perempuan di kalangan orang Dayak Kenyah, memiliki daun telinga yang sengaja dipanjangkan, akan tetapi panjangnya antara laki laki dan perempuan berbeda. Kaum perempuan boleh memanjangkannya hingga sebatas dada, tapi kaum laki-laki tidak boleh memanjangkan telinganya sampai melebihi bahunya. Penduduk suku Dayak di zaman sekarang ini tinggal sedikit yang memiliki daun telinga yang panjang, itupun kebanyakan para manula yang berusia di atas 60 tahun.

Tapi untuk sekarang ciri khas Suku Dayak lain yang unik adalah tato, di mana tato bagi masyarakat Dayak memiliki makna yang sangat mendalam. Tato bagi masyarakat etnis dayak merupakan bagian dari tradisi, religi, status sosial seorang dalam masyarakat, serta bisa pula sebagai bentuk penghargaan suku terhadap kemampuan seseorang. Karena itu, tato tidak bisa dibuat sembarangan.

Suku Bagobo

Suku Bagobo mempunyai tradisi untuk meruncingkan giginya meskipun sangat menyakitkan

Bentuk modifikasi tubuh yang sangat menyakitkan bagi perempuan di Suku Bagobo adalah meruncingkan gigi yang telah mereka lakukan selama bertahun-tahun. Karena dianggap sebagai kecantikan maka hal-hal utama dilakukan perempuan di suku Bagobo.

Jika anak muda di Jepang meruncingkan gigi taringnya saja, maka wanita suku Bagobo justru meruncingkan seluruh giginya. Memiliki gigi runcing nggak membuat mereka menjadi seram tapi justru malah membuat mereka nampak jadi lebih cantik, itu menurut suku Bagobo.

Mereka harus rela menahan rasa sakit saat meruncingkan giginya dengan menggunakan kayu atau bambu. Jadi, peruncingan gigi ini pun butuh waktu lama untuk benar-benar runcing dan cantik.

Suku Mursi

Suku Mursi mempunyai tradisi menggunakan pring di mulutnya. Konon semakin lebar mulutnya makan wanita tersebut semakin cantik

Salah satu daerah paling terisolasi di negara Ethiopia dekat perbatasan Sudan dihuni suku Mursi atau Murzu. Penduduk suku ini adalah penggembala ternak yang hidup nomaden. Saat ini diperkirakan terdapat 6000 sampai 10.000 populasi penduduk di suku Mursi.

Para wanita suku mursi mengenakan piring yang dipakaikan pada bibir bawah mulutnya. Piring yang dipakai tersebut sebagai tanda bagi daya tahan, kedewasaan dan kecantikan diantara wanita suku mursi. Mereka menggunakan piring di mulutnya. Konon semakin lebar mulutnya makan wanita tersebut semakin cantik lho. Wanita di suku Mursi ini menggunakan piring di bibir ini sejak berusia 13 tahun hingga 16 tahun.

Suku Rikbaktsa

Manusia bertelinga kayu yang keberadaannya terancam punah

Di dalam hutan Amazon, ada Suku Rikbaktsa yang dijuluki manusia bertelinga kayu yang keberadaannya terancam punah. Kebiasaan pria di suku ini yakni memakai kepingan kayu di telinga mereka agar memanjang. Selama perayaan ritual pada usia 14 atau 15 tahun, para pemuda dewasa suku Rikbaktsa akan menindik telinga mereka ketika mereka mampu berburu hewan besar dan tahu tentang upacara-upacara tradisional.

Ciri khas dari suku ini, para prianya memiliki lubang besar di daun telinga bagian bawah dan diisi oleh potongan kayu dengan bentuk yang bulat.

Karena memakai potongan kayu itulah, mereka dijuluki telinga kayu. Walau terasa berat, tapi tidak menghalangi aktivitas mereka sehari. Mereka tetap masuk ke dalam hutan untuk berburu dan beraktivitas seperti biasa.

Namun sayang, tradisi tersebut terancam punah. Fakta menjelaskan, anak-anak muda Suku Rikbaktsa tidak lagi dan menolak tradisi itu. Kebanyakan dari mereka juga bertransmigrasi ke daerah lain, seperti ke Kota Porto Velho dan Brasilia, ibukota negara Brasil.

Suku Apatani

Suku Apatani merubah bentuk hidung agar tidak menarik sebagai perlindungan dari suku-suku lain yang memperebutkan mereka karena paras mereka yang sangat cantik

Jenis ritual dan tradisi di dunia memang kaya dan beragam, mereka termasuk tato, tindik, dan bahkan menyumbat hidung.

Khusus untuk tradisi penyumbatan hidung itu diwarisi oleh para wanita suku Apatani.

Di lembah Ziro di negara bagian Arunachal Pradesh di India timur laut terdapat Suku Apatani. Wanita-wanita suku Apatani dianggap adalah wanita-wanita paling cantik di antara suku Arunachal.

Wanita suku Apatani harus membuat diri mereka terlihat tidak menarik sebagai perlindungan dari suku-suku lain yang memperebutkan mereka karena paras mereka yang sangat cantik.

Dahulu terlontar kisah bahwa para wanita Apatani yang cantik ditangkap oleh suku tetangga.

Sebagai tindakan pencegahan, para tetua desa mengusulkan agar setiap wanita memasukkan sumbatan hidung dan menato wajahnya agar terlihat ‘jelek’ dan tak menjadi sasaran penangkapan.

Maka dari itu wanita Apatani memakai colokan kayu besar di hidung mereka, namun tradisi ini tidak lagi dilakukan oleh generasi muda mereka. Saat ini suku apatani berjumlah sekitar 26.000.

Mereka mengikuti agama animistis yang dikenal sebagai Donyi-Polo.

Donyi sendiri berarti Matahari dan Polo yang memiliki kekuatan berlawanan namun saling melengkapi, mirip dengan yin dan yang.

Suku Kayan

Suku Kayan memperpanjang leher mereka untuk proporsi yang tidak biasa

Suku Kayan adalah etnis Tibet-Burman yang minoritas di Myanmar dan terkenal dengan kumparan kuningan yang perempuan suku tersebut pakai di leher mereka, memperpanjang mereka untuk proporsi yang tidak biasa. Karena konflik dengan rezim militer, suku Kayan banyak meninggalkan Myanmar di akhir 1980-an dan awal 1990-an dan hijrah ke Thailand, di mana leher panjang perempuan Kayan telah menjadi obyek wisata.

Kumparan/Gelang kuningan ditempatkan di sekitar leher anak perempuan ketika mereka berusia sekitar lima tahun. Setiap kumparan kemudian diganti dengan yang lebih panjang. Leher sebenarnya tidak memanjang, namun ini lebih karena berat kumparan kuningan yang mendorong tulang selangka turun dan menekan tulang rusuk. Setelah dipakaikan di leher, kumparan tidak akan dilepas kecuali jika tiba saatnya untuk menggantinya dengan yang lebih panjang.

kumparan kuningan Mendorong tulang selangka turun dan menekan tulang rusuk

Ketika ditanya tentang tujuan atau keuntungan dari modifikasi tubuh seperti itu, jawaban wanita Kayan akan mengacu pada alasan identitas budaya dan kecantikan. Para antropolog telah lama berspekulasi tentang tujuan yang tepat dari kumparan kuningan ini. Dan muncullah teori teori mereka mengenai tujuan adat pemakaian kumparan kuningan ini, yaitu agar lebih menarik, agar terlihat tak menarik, mencegah harimau untuk menerkam serta agar melambangkan naga yang merupakan figur penting dari cerita rakyat Kayan.

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here