Wanita Bersejarah Tribhuwana Wijayatunggadewi

0
1005
views
Ratu Wijaya Tunggadewi

Selama ini Gadjah Mada dipandang sebagai simbul nasionalisme Indonesia. Ia adalah Mahapatih Kerajaan Majapahit yang dikenal dengan Sumpah Palapanya, yang menegaskan bahwa ia tidak akan bersenang-senang sebelum bisa menyatukan nusantara. Sebagai panglima perang Gajah Mada terbukti tidak hanya sekedar omong kosong. Ia telah mengantarkan Majapahit menjadi kerajaan besar dunia pada waktu itu melalui penaklukan berbagai wilayah nusantara. Bahkan berkat kepiawaian Gadjah Mada dalam mengatur strategi perang, wilayah Majapahit bisa meluas sampai di luar batas-batas wilayah nusantara saat ini seperti  Semenanjung Malaya hingga Philipina.

Pada masa-masa menjelang kemerdekaan, tokoh pergerakan Muhammad Yamin rajin mempromosikan Majapahit di bawah kendali Mahapatih Gadjah Mada sebagai model bagi negara kesatuan Indonesia modern. Bagi Yamin bukan Singasari dan bukan pula kerjaaan-kerajaan Islam yang mempersatukan Nusantara, tapi Majapahit.

Dalam rapat-rapat BPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia) secara tegas Yamin mengakui peran penting Majapahit dalam menyatukan Nusantara. Pilihan terhadap istilah Nusantara ketika Indonesia belum merdeka merupakan keberanian tersendiri. Bagi Belanda, istilah ini sesuatu yang berbau subversif karena ia menyiratkan kesatuan Indonesia di masa silam. Padahal bagi Belanda Indonesia sebagai satu kesatuan wlayah tak pernah ada kecuali setelah mereka datang, yakni dengan terciptanya Pemerintahan Hindia Belanda.

Lalu tahukah anda siapa yang pertama kali mengorbitkan Gadjah Mada bintang yang bersinar hingga sekarang? Ternyata ia adalah seorang Ratu Majapahit, Tribhuwana Wijayatunggadewi. Wanita bernama asli Dyah Gitarja itu adalah anak dari pendiri Kerajaan Majapahit Raden Wijaya dengan putri raja terakhir Singasari, Kertanegara, Gayatri.

[artikel number=5 tag=”science” ]

Saat kakak tirinya, Jayanegara,  naik tahta menggantikan Raden Wijaya, Tribhuwana Wijayatunggadewi, ditunjuk untuk memerintah sebuah kawasan yang terletak di sekitar Sidoarjo, yang disebut Kahuripan. Oleh karena itu, Tribhuwana Wijayatunggadewi seringkali disebut Bhre Kahuripan.

Menurut Pararaton, Jayanagara merasa takut takhtanya terancam, sehingga ia melarang kedua adiknya menikah. Setelah Jayanagara meninggal tahun 1328, para ksatria pun berdatangan melamar kedua putri itu. Akhirnya, setelah melalui suatu sayembara, diperoleh dua orang pria, yaitu Cakradhara sebagai suami Dyah Gitarja, dan Kudamerta sebagai suami Dyah Wiyat.

Cakradhara bergelar Kertawardhana Bhre Tumapel. Dari perkawinan itu lahir Dyah Hayam Wuruk dan Dyah Nertaja. Hayam Wuruk kemudian diangkat sebagai yuwaraja bergelar Bhre Kahuripan atau Bhre Jiwana, sedangkan Dyah Nertaja sebagai Bhre Pajang.

Istri dari Bhre Tumapel (Cakradara) inilah yang sebenarnya menjadi pembuka jalan bagi Majapahit menuju masa keemasannya. Tribhuwana Wijayatunggadewi adalah sosok di balik kesuksesan Gajah Mada. Sejak menjadi anggota bhayangkara Majapahit, Tribhuwana sudah mengetahui kemampuan luar biasa yang dimiliki abdinya ini. Maka ketika Tribhuwana diangkat sebagai penguasa Kahuripan, Gajah Mada diusulkan menjadi Patih Kahuripan.

Tribhuwana menggantikan kakak tirinya, Jayanegara, setelah Raja Majapahit kedua itu dibunuh tabibnya, Tanca pada tahun 1328 M. Ibu kandungnya, Gayatri Rajapatni, yang seharusnya menggantikan Jayanegara, memilih mengundurkan diri dari istana dan menjadi pendeta wanita. Sebagai gantinya Rajapatni menunjuk dirinya menjadi Ratu Majapahit.

Ada dugaan kuat pembunuhan Jayanegara itu merupakan hasil konspirasi di kalangan istana yang bertujuan menghantarkan Tribhuwana Wijayatunggadewi ke singgasana kerajaan.

Sejarahwan dan diplomat University of British Columbia, Kanada, Prof Paul Drake menyebut Gayatri Rajapatni sebagai dalang sejumlah peristiwa, termasuk perekrutan Mahapatih Gajah Mada dan pembunuhan raja sah Majapahit Jayanegara (1309-1322). Karena itu wanita pemikir ini disebutnya juga berada di balik kejayaan Majapahit.

Pemikiran Gayatri ingin membunuh raja yang dijuluki Kalagemet itu karena perilaku buruk Jayanegara dianggap tidak mencerminkan karakter raja yang baik. Dari prasasti Pananggungan tersebut dapat diketahui Jayanagara adalah nama asli sejak kecil atau garbhopati, bukan nama gelar atau abhiseka. Sementara nama Kalagemet yang diperkenalkan  Pararaton  jelas bernada ejekan, karena nama tersebut bermakna “jahat” dan “lemah”. Hal itu dikarenakan kepribadian Jayanagara yang dipenuhi perilaku amoral namun lemah sebagai penguasa sehingga banyak pemberontakan yang timbul dalam masa pemerintahannya.

Lalu siapakah sebenarnya ibu ratu Kerajaan Majapahit, Gayatri Rajapatni? Kenapa dia dianggap memiliki alasan merencanakan pembunuhan terhadap Jayanegara?
Nagarakretagama menyebutkan Raden Wijaya menikahi empat orang putri Kertanagara,  raja terakhir Singasari, yaitu Tribhuwana (Tribhuwaneswari),  Mahadewi (Narendraduhita), Jayendradewi (Prajnyaparamitha), dan Gayatri  (Rajapatni). Selain itu, ia juga memiliki seorang istri dari Melayu bernama Dara Petak bergelar Indreswari.

Dari kelima orang istri tersebut, yang memberikan keturunan hanya Dara Petak dan Gayatri. Dari Dara Petak lahir Jayanagara, sedangkan dari Gayatri lahir Tribhuwana Wijayatunggadewi dan Rajadewi (Dewi Wiyat). Tribhuwana Wijayatunggadewi inilah yang kemudian menurunkan raja-raja Majapahit selanjutnya.

Pararaton menyebutkan Raden Wijaya hanya menikahi dua orang putri Kertanagara saja. Pemberitaan tersebut terjadi sebelum Majapahit berdiri. Ini bisa berarti mula-mula Raden Wijaya hanya menikahi Tribhuwaneswari dan Gayatri saja. Baru setelah Majapahit berdiri, ia juga menikahi Mahadewi dan Jayendradewi.

Dalam Kidung Harsawijaya, Tribhuwana dan Gayatri masing-masing disebut dengan nama Puspawati dan Pusparasmi. Pada saat Singasari runtuh akibat serangan Jayakatwang tahun 1292, Raden Wijaya hanya sempat menyelamatkan Tribhuwana saja, sedangkan Gayatri ditawan musuh di Kadiri.  Setelah Raden Wijaya pura-pura menyerah pada Jayakatwang, baru ia bisa bertemu Gayatri kembali.

Pararaton menyebutkan, Raden Wijaya bersekutu dengan bangsa Tatar (Mongol) untuk dapat mengalahkan Jayakatwang. Konon Raja Tatar bersedia membantu Majapahit karena Arya Wiraraja menawarkan Tribhuwana dan Gayatri sebagai hadiah. Tapi keduanya tidak jadi diserahkan setelah Raden Wijaya berhasil mengusir tentara Mongol.

Raden Wijaya menjadi raja pertama Majapahit sejak tahun 1293. Ia meninggal tahun 1309 dan digantikan putranya, yaitu Jayanagara. Ketika Jayanegara meninggal pada tahun 1329, menurut Nagarakretagama, sebagai sesepuh keluarga kerajaan yang masih hidup, Gayatri berhak atas takhta. (Mungkin karena Gayatri merupakan satu-satunya istri Raden Wijaya yang masih hidup?)  Akan tetapi karena sudah mengundurkan diri dari kehidupan duniawi, Gayatri menunjuk putrinya, Tribhuwana Wijayatunggadewi  naik takhta mewakilinya pada tahun 1329.

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here