Perjuangan Seorang Wanita. Siapakah Dia?

0
561
views
Kartini dan suaminya

M

asuknya Islam dan Pendudukan Belanda selama 300 tahun tampaknya menghasilkan reposisi terhadap kedudukan wanita di wilayah nusantara. Jika selama berabad-abad sebelumnya wanita memiliki posisi yang sejajar dengan pria, setelah era kerajaan Hindu-Buddha berakhir, wanita ditempatkan di bawah laki-laki.   

Berdasarkan adat-istiadat yang berlaku saat itu, seorang gadis harus menjalani masa-masa pingitan. Ia tidak diperbolehkan keluar rumah. Selain itu pendidikan tidaklah penting bagi wanita. Kalau pun wanita diperbolehkan mengenyam pendidikan paling-paling hanya sampai sekolah rendahan saja dan setelah menikah ia hanya boleh tinggal di rumah, mengurus rumah tangga.

Adat-istiadat seperti itulah yang membuat Raden Adjeng Kartini dan wanita pribumi lainnya di zamannya terpuruk dalam posisi yang rendah. Melihat kondisi yang memprihatinkan seperti itu, RA Kartini tergerak memperjuangkan emansipasi wanita lewat surat-suratnya kepada tokoh-tokoh Belanda yang menjadi teman korespondensinya dan juga lewat tulisan di media massa.

Perjuangan RA Kartini tidak hanya berhenti sebatas wacana saja. Di tengah segala keterbatasan yang membelenggunya ia sempat mendirikan sekolah wanita yang mengajarkan baca tulis kepada kaum wanita pribumi.

Perjuangan wanita kelahiran 21 April 1879 di Jepara Jawa Tengah itu tidak hanya dihormati bangsa sendiri tapi juga oleh orang-orang Eropa. Namanya diabadikan dalam berbagai buku yang membahas surat-suratnya yang berisi ide-ide perjuangan emansipasi wanita. Buku itu awalnya disusun oleh orang Belanda tapi kemudian diikuti buku-buku serupa, karya penulis lainnya. 

[artikel number=5 tag=”science” ]

Ia mendapatkan gelar Pahlawan Nasional dari pemerintah. Selain itu setiap tahun namanya selalu diperingati di sekolah-sekolah dan kampung-kampung lewat berbagai perayaan. Namanya juga dipakai untuk nama jalan, majalah, museum, nama sekolah, perguruan tinggi, dan sebagainya.

Emansipasi Wanita

RA Kartini adalah putri dari Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, seorang patih yang diangkat menjadi Bupati Jepara segera setelah Kartini lahir. Kartini adalah putri dari istri pertama, tetapi bukan istri utama. Ibunya bernama M.A. Ngasirah, putri dari Nyai Haji Siti Aminah dan Kyai Haji Madirono, seorang guru agama di Telukawur, Jepara. 

Dari sisi ayahnya, silsilah Kartini dapat dilacak hingga Hamengkubuwana VI. Garis keturunan Bupati Sosroningrat bahkan dapat dilacak hingga masuk ke lingkungan istana Kerajaan Majapahit. Semenjak Pangeran Dangirin menjadi bupati Surabaya pada abad ke-18, nenek moyang Sosroningrat mengisi banyak posisi penting di pemerintahan.

Ayah Kartini pada mulanya adalah seorang wedana di Mayong. Peraturan kolonial waktu itu mengharuskan seorang bupati beristerikan seorang bangsawan. Karena M.A. Ngasirah bukanlah bangsawan tinggi, maka ayahnya menikah lagi dengan Raden Adjeng Woerjan (Moerjam), keturunan langsung Raja Madura. Setelah perkawinan itu, maka ayah Kartini diangkat menjadi bupati di Jepara menggantikan kedudukan ayah kandung R.A. Woerjan, R.A.A. Tjitrowikromo.

Kakeknya, Pangeran Ario Tjondronegoro IV, diangkat menjadi bupati dalam usia 25 tahun dan dikenal pada pertengahan abad ke-19 sebagai salah satu bupati pertama yang memberi pendidikan barat kepada anak-anaknya. 

Kartini adalah anak ke-5 dari 11 bersaudara kandung dan tiri. Dari kesemua saudara sekandung, Kartini adalah anak perempuan tertua. Dia dinikahkan ayahnya dengan bupati Rembang, K.R.M Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada tanggal 12 November 1903.

Walau posisinya sebagai istri keempat, Bupati Rembang itu mengerti keinginan istrinya. Ia memberi dan mendukung upaya Kartini mendirikan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang kompleks kantor kabupaten Rembang, atau di sebuah bangunan yang kini digunakan sebagai Gedung Pramuka.

Sebenarnya keluarga RA Kartini termasuk golongan ningrat. Tapi seperti gadis-gadis yang lain ia harus tunduk pada budaya pingitan dan tidak boleh mengenyam pendidikan. Mungkin karena dia dari keluarga ningrat, dia masih diperbolehkan menempuh pendidikan sampai usia 12 tahun oleh orangtuanya.  Ia sempat menikmati pendidikan di ELS  (Europese Lagere School). Di sini antara lain Kartini belajar bahasa Belanda.
Begitu lulus ELS, ia tidak boleh melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi sesuai cita-citanya.  Ia harus tinggal di rumah saja untuk memasuki masa pingitan. Tugas seorang gadis pada masa pingitan hanyalah menunggu pinangan seorang pria dan sesudah menikah tak boleh keluar rumah untuk bekerja. Saat itu tugas wanita hanyalah mengurus rumah tangga saja. 

Demi menghilangkan rasa bosan berada di rumah terus, Kartini menghabiskan sebagian besar waktunya untuk membaca buku. Ketika membaca buku, RA Kartini tidak segan untuk bertanya kepada ayahnya bila ada hal yang tidak dimengertinya. Lambat laun pengetahuannya bertambah dan wawasannya pun meluas.

Berkat hobi membaca dan penguasaannya terhadap Bahasa Belanda, ia mengenal karya dan pemikiran wanita Eropa yang dikaguminya. Terlebih kebebasan mereka untuk bisa terus bersekolah. Rasa kagum itu menginspirasinya untuk memajukan wanita Indonesia. Dalam pandangannya, wanita tidak hanya harus bisa menjalankan urusan “belakang” rumah tangga saja. Wanita juga harus bisa dan punya wawasan dan ilmu yang luas. 

Meski ada batasan-batasan gerakan fisik yang ditentukan adat tapi Kartini berusaha memperluas pergaulannya hingga batas-batas di luar rumah dan bahkan di luar batas kebangsaan dan negara. Dia menjalin persahabatan dan sering berkomunikasi dengan orang-orang Belanda lewat surat. Salah satunya teman korespondensinya dari Belanda adalah Rosa Abendanon yang sering mendukung gagasan-gagasannya. 

Tak hanya itu ia juga gemar sekali melahap buku-buku, koran, dan majalah Eropa. Kartini tertarik pada kemajuan berpikir perempuan Eropa. Timbul keinginannya untuk memajukan perempuan pribumi, karena ia melihat bahwa perempuan di negerinya sangat tertinggal dan berada pada status sosial yang rendah.

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here