Kerajaan Sriwijaya atau Sekarang Dikenali sebagai Palembang di Sumatera

0
7702
views
Kerajaan Sriwijaya

Bukti awal mengenai keberadaan kerajaan Sriwijaya ini berawal dari abad ke-7, I Tsing, seorang pendeta Tiongkok, menuliskan bahwa ia tinggal selama 6 bulan saat mengunjungi Sriwijaya tahun 671. Prasasti sejarah yang paling tua mengenai Kerajaan Sriwijaya juga berada pada abad ke-7, di Palembang yaitu prasasti Kedukan Bukit, pada tahun 682.

Dikarenakan terjadi beberapa peperangan diantaranya serangan dari raja Dharmawangsa Teguh di tahun 990 dari Jawa menjadikan pengaruh Kerajaan Sriwijaya terhadap daerah bawahannya mulai berkurang, dan serangan Rajendra Chola I dari Koromandel di tahun 1025, selanjutnya di tahun 1183 Sriwijaya dibawah kendali kekuasaan kerajaan Dharmasraya.

Pengaruh budaya

Kerajaan Sriwijaya banyak dipengaruhi budaya India, pertama oleh budaya agama Hindu dan kemudiannya diikuti pula oleh agama Buddha. Agama Buddha diperkenalkan di Srivijaya pada tahun 425 Masehi. Sriwijaya merupakan pusat terpenting agama Buddha Mahayana. Raja-raja Sriwijaya menguasai kepulauan Melayu menerusi perdagangan dan penaklukan dari kurun abad ke-7 hingga abad ke-9.

Kerajaan Sriwijaya juga membantu menyebarkan kebudayaan Melayu ke seluruh Sumatra, Semenanjung Melayu, dan Borneo Barat.

Pada masa yang sama, agama Islam memasuki Sumatra menerusi Aceh yang telah disebarkan menerusi perhubungan dengan pedagang Arab dan India. Pada tahun 1414 pangeran terakhir Majapahit, Parameswara, memeluk agama Islam dan berhijrah ke Semenanjung Malaya dan mendirikan Kesultanan Melaka.

Agama Buddha aliran Buddha Hinayana dan Buddha Mahayana disebarkan di pelosok kepulauan Melayu dan Palembang menjadi pusat pembelajaran agama Buddha. Pada tahun 1017, 1025, dan 1068, Sriwijaya telah diserbu raja Chola dari kerajaan Colamandala(India) yang mengakibatkan hancurnya jalur perdagangan. Pada serangan kedua tahun 1025, raja Sri Sanggramawidjaja Tungadewa ditawan. Pada masa itu juga, Sriwijaya telah kehilangan monopoli atas lalu-lintas perdagangan Tiongkok-India. Akibatnya kemegahan Sriwijaya menurun. Kerajaan Singhasari yang berada di bawah naungan Sriwijaya melepaskan diri. Pada tahun 1088, Kerajaan Melayu Jambi, yang dahulunya berada di bawah naungan Sriwijaya menjadikan Sriwijaya taklukannya. Kekuatan kerajaan Melayu Jambi berlangsung hingga dua abad sebelum akhirnya melemah dan takluk di bawah Majapahit.

Masa Kejayaan Kerajaan Sriwijaya

Kerajaan maritim menjadi ciri Kemaharajaan Sriwijaya, mengandalkan kekuasaannya pada kekuatan armada lautnya dalam langkah menguasai alur pelayaran, jalur perdagangan, dan membangun beberapa kawasan strategis sebagai pangkalan armadanya dalam melindungi kapal-kapal dagang, mengawasi, mengambil cukai serta menjaga wilayah kekuasaan dan kedaulatannya.

Sejarah dan bukti arkeologi mencatat, pada abad ke-9 Sriwijaya telah melakukan rebut kekuasaan di hampir seluruh kerajaan-kerajaan wilayah Asia Tenggara, antara lain: Jawa, Sumatera, Semenanjung Malaya, Kamboja, Thailand, Vietnam, dan Filipina.

Keruntuhan Kerajaan Sriwijaya

Keruntuhan kerajaan Sriwijaya bermula saat Raja Rajendra Chola yang merupakan penguasa Kerajaan Cholamandala menyerang kerajaan Sriwijaya pada tahun 1007 dan 1023 masehi.

Penyerangan ini berhasil merebut bandar-bandar kota Sriwijaya. Penyerangan ini bisa terjadi karena kedua kerajaan tersebut bersaing dalam bidang pelayaran dan perdagangan.

[artikel number=5 tag=”science” ]

Tujuan penyerangan ini adalah untuk meruntuhkan armada Sriwijaya, jadi bukan menjajah. Keruntuhan ini membuat kondisi ekonomi Sriwijaya berangsur melemah sebab para pedagang yang sebelumnya berdagang di Sriwijaya semakin berkurang.

Keadaan inilah yang membuat kekuatan militer Sriwijaya juga melemah, kondisi ini membuat para prajuritnya melepaskan diri. Hingga akhirnya kerajaan Sriwijaya ini runtuh pada abad ke-13.

Raja-Raja Kerajaan Sriwijaya

Berikut adalah raja-raja yang pernah memimpin kerajaan Sriwijaya:

  1. Dapunta Hyang Sri Jayanasa
  2. Sri Indravarman
  3. Rudra Vikraman
  4. Maharaja Wisnu Dharmmatunggadewa
  5. Dharanindra Sanggramadhananjaya
  6. Samaragrawira
  7. Samaratungga
  8. Balaputradewa
  9. Sri UdayadityavarmanSe-li-hou-ta-hia-li-tan
  10. Hie-tche (Haji)
  11. Sri CudamanivarmadevaSe-li-chu-la-wu-ni-fu-ma-tian-hwa
  12. Sri MaravijayottunggaSe-li-ma-la-pi
  13. Sumatrabhumi
  14. Sangramavijayottungga
  15. Rajendra Dewa KulottunggaTi-hua-ka-lo
  16. Rajendra II
  17. Rajendra III
  18. Srimat Trailokyaraja Maulibhusana Warmadewa
  19. Srimat Tribhuwanaraja Mauli Warmadewa
  20. Srimat Sri Udayadityawarma Pratapaparakrama Rajendra Maulimali Warmadewa

Peninggalan Kerajaan Sriwijaya

Seperti kerajaan-kerajaan lainnya, kerajaan Sriwijaya ini juga memiliki peninggalan. Berikut adalah peninggalan-peninggalan kerajaan Sriwijaya:

Prasasti Palas Di Pasemah

Prasasti Palas Di Pasemah Prasasti ini juga tidak berangkat tahun, ditemukan di Lampung Selatan yang berisi tentang keberhasilan Sriwijaya menduduki Lampung Selatan.

Prasasti ini ditemukan di Lampung namun tidak diketahui keterangan tahunnya. Prasasti tersebut berisi perihal keberhasilan Sriwijaya menguasai Lampung Selatan.

Demikianlah sekilas tentang sejarah kerajaan Sriwijaya beserta peninggalan-peninggalan kerajaan Sriwijaya. Semoga bisa menambah pengetahuan kita semua.

Prasasti Ligor

Prasasti Ligor ditemukan pada tahun 679 SM / 775 M

Prasasti Ligor Berisi tentang kisah semasa Sriwijaya berada di bawah kekuasaan Darmaseta.

Prasasti Talang Batu

Prasasti Talang Batu ini ditemukan di Palembang

Prasasti Talang Batu di palembang namun, tidak ada keterangan tahunnya. Sementara itu, prasasti ini berisi kutukan terhadap pelaku tindak kejahatan serta mereka yang melanggar perintah raja

Prasasti Karang Birahi

Prasasti Karang Birahi ini ditemukan pada tahun 608 SM / 686 M di Jambi. Isinya serupa dengan prasasti Kota Kapur.

Prasasti Kota Kapur

Prasasti Kota Kapur ini ditemukan di Bangka pada tahun 608 SM / 686 M. Prasasti ini berisi tentang permohonan yang diajukan kepada Dewa untuk meminta keselamatan kerajaan Sriwijaya beserta seluruh rakyatnya.

Prasasti Kedukan Bukit

Prasasti Kedukan Bukit ditemukan pada tahun 605 SM / 683 SM di Palembang.

Prasasti ini berisi ekspansi 8 hari yang dilakukan oleh Dapunta Hyang bersama 20.000 tentara yang akhirnya berhasil menakhlukkan beberapa daerah sehingga kerajaan Sriwijaya menjadi makmur.

Prasasti Talang Tuo

Prasasti Talang Tuo ini ditemukan di sebelah barat Palembang pada tahun 606 SM / 684 M.

Berisi tentang Dapunta Hyang Sri Jayanaga yang mana telah membuat Taman Sriksetra untuk kemakmuran semua makhluk.

 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here