Benarkah Ratu Shima Termasuk Wanita Paling Berpengaruh dalam Sejarah Indonesia

0
6189
views
1300 tahun sebelum Kartini memperjuangkan emansipasi wanita, sudah ada Ratu Shima yang memerintah Kerajaan Kalingga

befren.com – Benarkah sebelum era Kartini di Indonesia tidak ada emansipasi wanita? Sejarah membuktikan 1300 tahun sebelum Kartini memperjuangkan emansipasi wanita, sudah ada Ratu Shima yang memerintah Kerajaan Kalingga. Saat itu wanita tidak hanya bebas dari pingitan dan posisinya sejajar dengan kaum pria, tapi bisa menjadi pemimpin negara.

Kalingga atau Ho-ling adalah sebuah kerajaan bercorak Hindu di Jawa Tengah, yang berdiri pada abad ke-6 Masehi. Pusat kerajaan itu berada di daerah Kabupaten Jepara sekarang. Keberadaannya diketahui dari sumber-sumber Tiongkok. 

Kerajaan Kalingga cukup kaya karena tanahnya subur. Rakyatnya hidup makmur, tentram, dan damai. Kotanya dikelilingi pagar kayu. Raja tinggal di dalam sebuah bangunan besar dan bertingkat yang beratap daun palm.

Pada tahun 674, kerajaan ini diperintah oleh Ratu Shima, yang dikenal sebagai penguasa yang adil dan bijaksana. Pemerintahannya sangat keras dan berlandaskan kejujuran dan keadilan sehingga tidak ada seorangpun dari rakyatnya yang berani melanggar peraturan yang telah dikeluarkan oleh kerajaan.

 Berita dari China mengabarkan bahwa hukum dan keadilan di kerajaan ini diterapkan dengan sangat tegas oleh Ratu Shima. Siapa yang terbukti melakukan perbuatan yang tidak terpuji akan dihukum sesuai dengan kesalahannya. Bahkan pelanggar akan menghadapi hukuman walaupun berasal dari kalangan istana sendiri.

Peraturan yang sangat terkenal untuk menggambarkan ketegasan Ratu Shima adalah: “Barang siapa yang mencuri akan dipotong tangannya.” Untuk kita yang hidup di zaman modern hukuman seperti ini tentu sangat mengerikan. Tapi Ratu Shima membuat aturan ini untuk menciptakan ketertiban dan rasa aman di negerinya.

Berita keadaan Ho-Ling itu sampai juga ke telinga orang-orang Arab yang dikenal dengan sebutan Ta-Shih. Raja Ta-shih ingin menguji ketaatan rakyat Kalingga terhadap aturan yang dibuat pihak kerajaan. Ia mengirim pundi-pundi berisi emas dan diletakkannya di tengah jalan. Ternyata setiap orang yang melewatinya menyingkir dan tidak ada orang yang berani mengambilnya. 

Selama tiga tahun pundi-pundi itu tak tersentuh. Sampai pada suatu waktu, putra mahkota Kerajaan Kalingga tidak sengaja mengginjak pundi-pundi itu. Ratu Shima amat marah dan memerintahkah hukuman mati kepada putra mahkotanya itu. Beruntung atas permohonan para menteri, akhirnya Ratu Shima hanya memotong jari-jari kaki putra mahkota. Tindakan Ratu Shima ini menjadi salah satu bukti ketegasannya dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu. 

Kalingga adalah kerajaan ketiga terkuno yang pernah tercatat dalam sejarah Indonesia. Nama Ratu Shima berasal dari kata Simo (di Jawa Simo sama artinya dengan singa). Dia memiliki karakter yang cenderung keras, namun disiplin dalam menegakkan hukum. Tidak mengherankan jika rakyat hidup dalam kemakmuran dan kedamaian karena keadilan ditegakkan. 

Pamor Ratu Shima dalam memimpin kerajaannya memang amat luar biasa. Mulai dari wong cilik sampai lingkaran elit kekuasaan amat mencintai dan segan kepadanya. Bahkan konon tak ada satu warga anggota kerajaan pun yang berani berhadapan muka dengannya. 

Situasi ini justru membuat Ratu Shima amat resah. Ia menilai kepatuhan rakyat terlalu berlebihan. Ia selalu bertanya-tanya  kenapa wong cilik,  para pejabat mahapatih, patih, hulubalang, jagabaya, jagatirta, ulu-ulu, menteri, dan mahamenteri, tak ada yang berani berbeda pendapat dengan dirinya.

Sekali waktu, Ratu Shima menguji kesetiaan lingkaran elitnya dengan menukar posisi penting di lingkungan istana. Namun puluhan pejabat yang dimutasi di tempat yang kering, maupun yang dipensiunkan, tak ada yang mengeluh sedikitpun. Semua mengaku bersyukur atas  kebijakan Ratu Shima itu. Betapapun tak menguntungkan mereka, kebijakan Ratu Shina dianggap memberi barokah.

KONTAK DENGAN ORANG ASING

Bila dilihat dari berbagai peninggalan yang berasal dari zaman Kerajaan Kalingga, pada zaman pemerintahan Ratu Shima sering terjadi kontak  perdagangan dan keagamaan dengan dunia luar. Antara lain orang-orang dari Gujarat, Arab dan Persia. Lalu ada juga kontak dengan Cina sebagaimana tergambar dalam cerita Dinasti Tang dan cerita I-Tsing.

Kontak Kerajaan Kalingga dengan kawasan Arab yang bercorak Islam terjadi pada tahun 30 Hijriyah atau 651 M. Saat itu Khalifah Ustman bin Affan pernah mengirimkan utusanya ke Daratan Cina dengan misi mengenalkan Islam. Waktu itu hanya berselang 20 tahun dari wafanya Rasulullah SAW. Selain ke Cina utusan tersebut juga singgah di Nusantara.

Pemerintahan Utsman bin Affan ( 644-657 M) juga pernah mengutus delegasi yang dipimpin Muawiyah bin Abu Sufyan untuk berkunjung ke tanah Jawa yaitu ke Jepara (pada saat itu namanya Kalingga). Hasilnya, Raja Jay Sima, putra Ratu Sima dari Kalingga, masuk Islam. Kemudian kalangan bangsawan Jawa yang memeluk Islam adalah Rakeyan Sancang seorang Pangeran dari Tarumanegara, Rakeyan Sancang hidup pada kekhalifahan Ali bin Abi Thalib (656-661).

Rakeyan Sancang diceritakan, pernah turut serta membantu Imam Ali dalam pertempuran menalukkan Cyprus, Tripoli dan Afrika Utara, serta ikut membangun kekuasaan muslim di Iran, Afghanistan dan Sind (644-650 M). Kemudian yang tercatat dalam sejarah raja Sriwijaya yang masuk Islam adalah Sri Indravarman. 

Terjadinya kontak dagang dan keagamaan ini adalah wajar mengingat kerajaan Kalingga adalah kerajaan yang besar yang terletak di daerah Pantai Utara Jepara. Dengan adanya kontak itu Ratu Shima berhasil menyerap berbagai informasi dari dunia luar baik dari Tanah Arab dan Persia (Iran) maupun dari Daratan Cina.

Mungkin Ratu Shima sudah mengetahui agama tauhid yang dibawa Nabi Muhammad SAW. Ratu Shima hanya satu generasi di bawah Nabi Muhammad SAW, yang lahir pada 20 April 571 dan meninggal pada 8 Juni 632 M. Sebagaimana diketahui Ratu Shima mulai memerintah Kerajaan Kalingga pada tahun 674 Masehi.  

Mungkinkah hukuman potong tangan yang diterapkan di Kalingga merupakan hasil pengaruh Islam? Kalaupun ada pengaruh tampaknya Ratu Shima tidak menerapkan hukum Islam secara keseluruhan. Ia tidak memberlakukan hukuman mati/penggal leher pada rakyatnya, tapi hanya sebatas hukuman potong anggota badan bagi mereka yang benar-benar melakukan tindak kejahatan. Ini untuk menciptakan efek jera bagi siapa saja yang melakukan tindak kejahatan tanpa pandang bulu.

Hukuman keras seperti ini tidak hanya diberlakukan untuk kalangan rakyat jelata saja, tapi juga untuk anaknya sendiri dan para pegawai kerajaan agar mereka senantiasa bersikap jujur dan adil pada diri sendiri, keluarga dan negaranya.

Kondisi penerapan hukum yang adil, tegas dan tidak pandang bulu berimplikasi terhadap turunnya tindak kejahatan di wilayah Kerajaan Kalingga yang mendorong terwujudnya pola tatanan pemerintahan yang stabil, kondusif, aman, nyaman dan sejahtera. 

Masa kepemimpinan Ratu Shima menjadi zaman keemasan bagi Kalingga. Sang Maharani, Ratu Shima dikenal sebagai wanita yang ayu, anggun, adil, pemberani dan tegas. Raja-raja lainnya dibuatnya segan, hormat, kagum sekaligus penasaran. Pada gilirannya itu membuat namanya dan juga nama Kalingga menjadi harum. 

Masa-masa itu adalah masa yang sangat kondusif bagi perkembangan kebudayaan apapun. Agama Budha juga berkembang secara harmonis, sehingga wilayah di sekitar kerajaan Ratu Shima juga sering disebut Di Hyang (tempat bersatunya dua kepercayaan Hindu Budha). 

Dari segi perekonomian, Kerajaan Kalingga di zaman Ratu Shima, sangat maju. Pasar, pelayaran, pelabuhan sangat ramai. Pada abad ke tujuh kerajaan Kalingga mengalami perkembangan yang sangat pesat dan memiliki peradaban yang cukup maju, serta dikenal sampai di Semenanjung Malaya,Thailand dan negara-negara  Asia lainnya.

Dalam hal pertanian Ratu Shima mengaudopsi sistem bercocok tanam dari kerajaan kakak mertuanya. Ia merancang sistem pengairan yang diberi nama Subak. Kebudayaan baru ini yang kemudian melahirkan istilah Tanibhala, atau masyarakat yang mengolah mata pencahariannya dengan cara bertani atau bercocok tanam 

Pada tahun 1960 seorang petani di Keling Jepara menemukan benda-benda peninggalan Kerajaan Kalingga berupa cincin, gelang, liontin dan lain-lain. Kala itu benda-benda bersejarah tersebut sempat dipamerkan di kota. Benda-benda dari zaman Ratu Shima itu kemudian diserahkan ke Museum Jakarta. Penemuan benda purbakala itu membuktikan bahwa Kerajaan Kalingga yang diperintah oleh Ratu Shima, benar-benar ada di daerah Keling Jepara, bukan daerah Keling Malaya.

SILSILAH SINGKAT

Di Jawa Tengah, Ratu Sima atau Ratu Simo dengan Kerajaan Kalingganya relatif terkenal. Beberapa kota bahkan sempat mengabadikan nama Sima dan Kalingga sebagai nama jalan di kota-kota tersebut.

Bekas-bekas kerajaan Kalingga sampai saat ini masih banyak terlihat di daerah Dieng. Sementara itu nama Ratu Sima sendiri juga sering dikaitkan dengan sosok wanita yang sangat cantik. Namun siapa sesungguhnya Ratu Sima ini?

Menurut catatan sejarah, Ratu Sima adalah isteri Kartikeyasinga yang menjadi raja Kalingga antara tahun 648 sampai dengan 674 M. Ayahanda Kartikeyasinga adalah Raja Kalingga yang tidak diketahui namanya, yang memerintah antara tahun 632 sampai dengan 648.

Sementara itu ibunda Kartikeyasinga berasal dari Kerajaan Melayu Sribuja yang beribukota di Palembang. Raja Melayu Sribuja – yang dikalahkan Sriwijaya tahun 683 M – adalah kakak dari ibunda Prabu Kartikeyasinga Raja Kalingga .

Kalau nenek moyang suaminya diketahui asal-usulnya, maka siapa sesungguhnya leluhur Ratu Sima sendiri ? Apakah ia seorang wanita kebanyakan yang karena cantik lalu dipersunting oleh anak raja? Ataukah seorang puteri raja taklukan ? Ataukah mungkin anak raja negeri sahabat? 

Ada yang menyebut Shima adalah putri seorang pendeta di wilayah Kerajaan Sriwijaya. Ia dilahirkan pada tahun 611 M di sekitar wilayah yang disebut Musi Banyuasin. Tahun 628 ia dipersunting oleh pangeran Kartikeyasingha yang merupakan keponakan dari kerajaan Melayu Sribuja. 

Ketika beranjak dewasa Shima menyeberangi laut Jawa, melewati pantai utara Jepara. Ia kemudian hijrah ke daerah yang dikenal sebagai wilayah Adi Hyang (Leluhur Agung), atau Dieng sekarang. Di sinilah kemudian Shima, sebagai pemeluk Hindu Syiwa yang taat, kemudian tinggal. 

Walau tidak ada catatan lain yang menguatkan asal-usul Ratu Shima, namun dapat dipastikan, Ratu Sima dengan suaminya merupakan leluhur raja-raja di Jawa Tengah, Jawa Timur dan bahkan Jawa Barat pada periode-periode kemudian.

Ratu Sima, pemeluk Hindu Syiwa, semula adalah wanita di belakang layar sewaktu suaminya, Kartikeyasinga menjadi Raja Kalingga sejak tahun 648. Ratu Sima dengan Kartikeyasinga mempunyai dua orang anak, yaitu Parwati dan Narayana (Iswara) 

Putri Ratu Shima, Parwati, kemudian menikah dengan putra mahkota Kerajaan Galuh yang bernama Mandiminyak, yang kemudian menjadi raja ke-2 dari Kerajaan Galuh. Ratu Shima juga memiliki cucu yang bernama Sanaha yang menikah dengan raja ke-3 dari Kerajaan Galuh, yaitu Bratasenawa. Sanaha dan Raja Bratasenawa memiliki anak yang bernama Sanjaya yang kelak menjadi raja dari Kerajaan Sunda dan Kerajaan Galuh (723-732 M). 

Sebelum Ratu Sima mangkat, Kerajaan Kalingga dibagi dua. Di bagian utara disebut Bumi Mataram. Yang menjadi raja adalah Parwati (695 M-716 M). Di bagian selatan disebut Bumi Sambara, yang dipimpin oleh Raja Narayana, adik Parwati, yang bergelar Iswarakesawa Lingga Jagatnata Buwanatala (695 M-742 M).

Sanjaya (cucu Parwati) dan Sudiwara (cucu Narayana) kelak menjadi suami isteri. Perkawinan antara sesama cicit Ratu Sima itu menghasilkan keturunan yang bernama Rakai Panangkaran,  yang lahir tahun 717 M. Dialah yang di kemudian hari menurunkan raja-raja di Jawa Tengah.

Sanjaya meneruskan kekuasaan ibunya, Parwati dan menjadi raja Kerajaan Kalingga Utara atau Bumi Mataram. Ia kemudian mendirikan Dinasti Wangsa Sanjaya di Kerajaan Mataram Kuno. Kekuasaan Ratu Shima di Jawa Barat diserahkan kepada putranya dari Tejakencana, yaitu Tamperan Barmawijaya alias Rakeyan Panaraban. 

Sebenarnya pernikahan Parwati dengan Mandiminyak (Amara) merupakan hasil perjodohan yang diupayakan Kartikeyasinga  dan Ratu Shima. Tujuannya adalah untuk menciptakan persekutuan dengan Kerajaan Galuh yang saat itu dipimpin oleh Raja Wretikandayun untuk menghadapi Sriwijaya yang saat itu beraliansi dengan Sunda. Dari perkawinan tersebut, lahirlah Sanaha pada tahun 661/662 M. 

Dengan perkawinan itu terbentuklah dua blok yang saling berhadapan, yaitu Blok Sriwijaya-Sunda dan Blok Kalingga-Galuh yang notabene sesungguhnya masih termasuk dalam satu rumpun keluarga.

Saat Kartikeyasinga wafat tahun 674, Ratu Sima mengambil alih posisi suaminya sebagai raja sampai dengan tahun 695 M dengan gelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara. Dalam pemerintahannya, menantunya, Mandiminyak dan putranya, Narayana, diangkat menjadi pembantu-pembantunya. 

Pemeritahan di pusat kerajaan oleh Ratu Sima didelegasikan kepada 4 orang menteri yang mengatur negara beserta 28 negara taklukan yang tersebar di Jawa Tengah dan Jawa Timur.  

Saat Ratu Sima menggantikan suaminya sebagai Raja Kalingga, Sriwijaya yang saat itu dipimpin Raja Sri Jayanasa (berkuasa antara tahun 669-692 M) sedang gencar-gencarnya melakukan ekspansi. Negeri Melayu Sribuja (beribukota di Palembang), asal ibu mertua Ratu Sima, diserbu oleh Sriwijaya sejak tahun 670 M. 

Lantas pada tahun 675, hampir separuh wilayah Kerajaan Melayu diduduki oleh Sriwijaya. Pada akhirnya tahun 683 M seluruh wilayah Kerajaan Melayu berhasil ditaklukkan Sriwijaya. Itu dicapai dengan mengerahkan tentara sebanyak 2 laksa (20.000 orang) . Dengan demikian Sriwijaya dapat menguasai seluruh Sumatera dan Semenanjung Malaya. Ketika Sri Jayanasa mengajukan tawaran damai dengan Kerajaan Kalingga, Ratu Sima menampiknya. 

Ratu Shima, yang telah menjadi janda, sempat dipinang oleh Sri Jayanasa, Raja Sriwijaya, namun Ratu Sima menolaknya. Ia tidak bisa mentolerir sikap kerajaan Sriwijaya yang telah melakukan ekspansi besar-besaran menyerbu Melayu Sribuja, kerajaan kakak mertua sang ratu.

Karena menolak pinangannya pada tahun 686 Sriwijaya bermaksud menyerang Kalingga. Mengetahui rencana ini, Tarusbawa, raja Sunda, turun tangan dan mengirim surat kepada Sri Jayanasa bahwa ia tidak setuju dengan rencana itu. Alasannya adalah agar jangan timbul kesan bahwa gara-gara pinangannya ditolak oleh Ratu Sima, maka Sri Jayanasa hendak menyerbu Kalingga. 

Sri Jayanasa menyetujui usul Tarusbawa, yang juga masih saudaranya sendiri. Kapal-kapal Kalingga, yang waktu itu sempat ditahan, dilepaskan setelah hartanya dirampas. Tindakan Sriwijaya hanya sekedar mengganggu keamanan laut Kalingga. 

Sri Jayanasa Raja Sriwijaya mangkat tahun 692 M dan digantikan oleh Darmaputra (692-704). Sedangkan Ratu Sima mangkat 3 tahun kemudian, yaitu tahun 695 M.

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here