Dua Kepribadian #22

0
91
views

Masa Lalu Reynaldi.


Saat ini Resty dan Ashara sedang menikmati makan malam berdua di rumah seperti biasanya, tidak ada obrolan yang terjadi antara mereka.
Keadaan dibiarkan sunyi, yang terdengar hanya lah suara jarum jam, garpu dan sendok yang beradu dengan piring. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.
Resty menyudahi makannya, lalu manatap wajah Ashara di depannya. Sedari tadi ada yang ingin dia tanyakan pada gadis itu dan saat ini adalah waktu yang tepat untuk bertanya.
“Asha!” panggilnya membuat Ashara menoleh.
“Ya, Ma?” tanyanya.
“Ada yang ingin Mama tanyakan ke kamu.” beritahu Resty membuat Ashara terdiam.
‘Mama ingin bertanya apa? Jangan-jangan ini soal Nathala lagi.. iih, awas aja tu anak besok kalau memang benar Mama bertanya soal itu’ Ashara hanya bisa menggerutu dalam hati dan menyalahkan Nathala.
“Asha, kamu dengar Mama?”
“Ah, eh, hmm … dengar kok, Ma. Emangnya Mama mau bertanya apa ke Asha?”
“Ini menyangkut dengan hal-hal yang terjadi pada kamu akhir-akhir ini.”
“Emangnya apa yang terjadi pada Asha, Ma?”
“Hal ini berkaitan dengan kejadian yang menimpa Nathala tadi pagi di sekolah.”
Ashara tidak segera menjawab, dia diam dengan tatapan mengarah ke bawah. Sibuk mencari jawaban yang tepat untuk menghindar agar Mamanya tidak lagi mencurigai mereka.
“Terus hubungannya dengan Asha, apa Ma?” tanyanya pura-pura tidak mengerti.
“Jadi begini, sejak kematian Arkilla, kejadian aneh selalu saja terjadi pada kamu. Mama tidak tahu apa yang sudah terjadi, tetapi kejadian yang menimpa Nathala tadi siang membuat Mama curiga pada kalian.”
“Curiga kenapa, Ma?” tanya Ashara mulai tidak tenang.
“Jawab dengan jujur, apa kalian yang bunuh Arkilla?”
Brraakk.
Ashara mengebrak meja setelah pertanyaan itu terlontar dari bibir Mamanya, bangkit berdiri, dia pun menatap wajah Mamanya geram.
“Kenapa kamu mengebrak meja?” tanya Resty bingung dengan sikap Ashara yang tiba-tiba mengebrak meja.
“Mama yang kenapa? Kenapa bertanya seperti itu? Maksud Mama apa?” tanyanya sinis.
“Mama hanya ingin bertanya, jawab saja dengan jujur.”
“Apa yang harus Asha jawab jujur, Ma? Jangan menuduh seperti itu. Di sekolah Asha memang terlihat kejam, tetapi tidak sepicik itu kami sampai menghilangkan nyawa seseorang. Lagipula, bagaimana bisa kami membunuh Arkilla, sedangkan saat itu terjadi kami tidak berada di sekolah.”
Resty terdiam mendengar penjelasan Ashara barusan, tapi tatapannya masih menatap wajah Ashara, mencari kejujuran dari ucapan gadis itu.
“Lalu berada di mana kalian malam itu?”
“Mall.”
“Ngapain kalian di sana?”
“Orang ke Mall ngapain biasanya, Ma? Ih, Mama kenapa banyak tanya sih?”
“Mama hanya ingin tahu mengapa arwah Arkilla mengganggu kalian? Mama menduga kalian yang sudah membunuh Arkilla dan dia kembali menuntut balas akan kematiannya. Biasanya orang yang mati dibunuh arwahnya tidak pernah tenang sebelum pembunuhnya juga ikutan mati.”
“Jadi hanya karena kami diganggu, Mama jadi menuduh kami seperti ini?”
Resty tidak segera menjawab, melainkan diam menatap wajah Ashara yang terlihat marah.
“Asha kecewa sama Mama. Bisa-bisanya Mama menuduhku seperti itu.” sambil bangkit dari duduknya, kemudian berlalu pergi dari situ.
“Asha, Mama belum selesai bicara.”
“Asha nggak mau dengar lagi.” teriaknya tanpa menoleh ke belakang.
Resty hanya menghela napas setelah bayangan tubuh Ashara tidak terlihat lagi. Apa dia salah sudah mengatakan hal ini?.
Jujur, dia hanya takut sesuatu yang buruk akan terjadi pada Ashara. Dan dia sangat takut jika Ashara memang terbukti bersalah, tetapi dilihat dari sikap gadis gadis itu yang tidak terima dengan ucapannya tadi. Mungkin, Ashara berkata benar.
Klotak, klotak, klotak.
Resty mendongak ketika telinganya menangkap suara berisik dari arah tangga, pandangannya melihat Ashara menuruni tangga dengan membawa koper. Melihat itu, dia segera bangkit dan menghampiri Ashara.
“Mau kamu apa kan koper itu?”
“Mulai malam ini Asha akan tinggal sama Papa. Itu keputusan Asha, Mama tidak akan bisa mencegahku untuk pergi dari sini.”
“Ya, sudah. Kamu boleh pergi.”
“Oke.”
Ashara pun berlalu keluar dari rumah meninggalkan Resty yang hanya mampu menghela napas. Jujur, dia sedih Ashara meninggalkannya seperti ini, tetapi menahan Ashara untuk tetap tinggal bersamanya? Itu tidak akan mungkin. Ashara juga keras kepala, sama seperti dirinya.
‘Semoga Mas Reynaldi bisa mendidikmu menjadi anak yang lebih baik lagi.’ doa Resty dalam hati.

***

Ashara menyetir mobil dalam diam, membawanya menyusuri jalanan di malam hari menuju kediaman Reynaldi yang tak lain adalah Papa kandungnya. Dia sengaja mengambil keputusan itu hanya untuk menghindari Mamanya.
“Sebenarnya gue malas banget tinggal bareng Papa. Namun, gue nggak ada pilihan lain. Moga setelah ini Mama tidak lagi menaruh curiga pada kami.” gumam Ashara.
Tiba di hadapan rumah Reynaldi, gadis itu segera membunyikan klason berkali-kali, meminta seseorang membukakan gerbang untuknya.
Tiiiiiiinnnnnnnnn!!
Tiiiiiiinnnnnnnnn!!
Tiiiiiiinnnnnnnnn!!
Ashara tidak lagi membunyikan klason setelah melihat gerbang mulai terbuka. Setelah gerbang sudah terbuka sepenuhnya, dia pun menjalankan mobilnya masuk ke perkarangan rumah.
“Lama banget sih bukain gerbang, lumutan gue nunggu. Kerja kok nggak becus.” dampratnya saat melewati seorang Scurity yang barusan membukakan gerbang untuknya.
Asep hanya mampu terdiam mendapat dampratan seperti itu, sama sekali tidak berani membalas ucapan Ashara. Dia lebih memilih menutup kembali gerbang dan menguncinya. Setelah dipastikan gerbang sudah terkunci dengan aman, dia pun kembali ke Pos.
“Eh, lo!” Ashara berseru memanggil Scurity itu.
“Iya, Non. Nona manggil saya?” tanya Scurity itu setelah tiba di hadapan Ashara.
“Papa ada di rumah?”
“Ada, Non.”
“Oke. Bawa koper gue ke dalem,” ucapnya sembari melangkah menjauhi garasi.
Asep hanya mengangguk, kemudian mengeluarkan koper dari bagasi mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah.
“Pa!” panggil Ashara saat melihat Papanya akan menaiki tangga.
Panggilan itu membuat Reynaldi berpaling lantas terkejut saat melihat Ashara sedang melangkah ke arahnya.
“Asha, kamu ke sini?” tanya Reynaldi dengan senyuman.
Dia senang melihat Ashara ada di rumahnya.
“Iya. Mulai malam ini Asha akan tinggal di sini.” jawabnya.
“Kamu serius ingin tinggal sama Papa?”
“Iya, Pa.”
“Kenapa tiba-tiba? Biasanya kamu selalu menolak ketika Papa ajak tinggal bersama.”
“Udahlah, Pa. Asha capek, pengen istirahat. Udah ya, Asha ke atas dulu,” ucapnya sembari berlalu pergi meninggalkan Renyaldi yang menghela napas.
“Papa pikir, kamu sudah memaafkan Papa, Sha. Melihat sikapmu yang dingin ke Papa, sepertinya kamu masih marah.” gumamnya pelan. “Tidak apa-apa, setidaknya kamu ada di sini bersama Papa. Kamu mau tinggal di sini saja Papa sudah senang banget.” gumamnya lagi.
#Flashback_On
Hari ini tepat tanggal 20 Oktober Reynaldi dan Resty resmi bercerai dengan hak asu anak jatuh pada Resty. Ashara yang saat itu berumur 10 tahun hanya bisa menangis melihat perpisahan yang terjadi antara kedua orangtuanya. Sebagai seorang anak dia ingin kasih sayang yang lengkap dari kedua orangtuanya, tetapi perpisahan itu sudah tidak bisa dihindari lagi.
“Asha, sayang. Papa pergi, ya!” pamit Reynaldi.
Dia jongkok di hadapan putri kecilnya dan menghapus air mata gadis cilik itu.
“Anak Papa jangan nangis dong, nanti cantiknya hilang lho,” ucapnya lagi, menghibur Ashara kecil.
“Kenapa? Hiks … hiks….” Ashara terisak pelan dengan tatapan mengarah ke wajah Reynaldi. “Mengapa Ayah melakukan ini? Kenapa kalian berpisah?”
“Maafkan Papa,” ucap Reynaldi pelan.
“Huhuhu … huhuhu … Kenapa Mama ingin bercerai dari Papa? Kenapa, Ma?” sambil menatap Resty dengan linangan air mata.
“Maafkan Mama. Ini jalan yang terbaik untuk kita semua.”
“Asha tidak ingin begini. Asha ingin keluarga yang utuh. Hiks … hiks ….”
“Mas!”
Reynaldi menoleh ketika mendengar seseorang memanggilnya, ternyata orang itu adalah Amber, kekasih hatinya. Gadis berbalut dress di atas lutut berwarna biru itu tersenyum begitu manis.
“Ayo, kita pergi. Kalian sudah resmi bercerai ‘kan?” tanyanya seraya tersenyum sinis ke arah Resty yang tampak tidak peduli.
“Tunggu sebentar, Mber.”
“Pa, dia siapa?” tanya Ashara kecil menatap Amber dengan heran.
“Hey, adek manis. Tante adalah kekasih Papa kamu, sebentar lagi Tante akan jadi Mama baru buat kamu.”
“Tidak. Tante bukan Mama ku.” tolaknya tegas.
“Lho, kamu kok ngomong gitu, sih?”
“Sebentar lagi Tante akan menikah dengan Papa kamu, mau nggak mau kamu harus mau dong jadi anak tiri Tante.”
“NGGAK!” teriaknya tegas, lalu menatap Reynaldi yang masih bertahan jongkok di hadapannya. “Papa jahat! Asha benci Papa.”
“Asha….” Reynaldi ingin bersuara, tetapi keduluan oleh Resty.
“Sudah cukup. Ayo, kita pulang sekarang Asha!” ajak Resty sembari menarik tangan Ashara mendekat ke arahnya, lalu tanpa berkata apapun mereka pun pergi dari sana.

#Flashback_Off
Reynaldi hanya menghela napas saat mengingat lagi kenangan yang silam. Bodohnya dia, kenapa dulu tergoda pada Amber dan meninggalkan Resty demi perempuan itu yang bahkan tidak benar-benar menyukainya sama sekali. Amber hanya menginginkan hartanya saja. Beruntung hal itu terungkap sebelum dia menikahi wanita itu.
Sejak saat itu Reynaldi tidak lagi dekat dengan perempuan mana pun, dia lebih memilih hidup sendirian dan fokus mengurus ibunya yang sudah tua dan perusahaannya.

***

Nathala memperhatikan kedua orangtuanya yang sudah berpakain rapi. Tadi saat makan malam bersama, Papanya memberitahu mereka akan berangkat ke luar kota. Ada pekerjaan di sana.
Sejujurnya Nathala tidak ingin mereka pergi, selain hari ini adalah hari ulang tahunnya, dia juga takut pada teror Arkilla. Takut hantu Arkilla kembali datang dan membunuhnya.
“Pa.” panggilnya.
Adam menoleh lantas tersenyum saat melihat Nathala menghampirinya.
“Iya, sayang. Ada apa?”
“Kalian benaran akan pergi?”
“Iya, sayang.”
“Papa batalkan saja, ya?”
“Lho, kenapa?”
“Nat kan ulang tahun hari ini. Nat pengen deh rayain di luar bareng Mama dan Papa.”
“Ayo, Mas. Kita pergi sekarang. Ketinggalan pesawat lho ntar.” ajak Amber sembari melangkah menghampiri suami dan anaknya.
“Lain kali aja ya, sayang. Papa benaran sibuk kali ini.”
“Hmm … ada apa ini?” tanya Amber sembari menatap bingung kedua orang itu.
“Bukan apa-apa kok, Ma.” jawab Nathala, kemudian berbalik pergi dari situ.
“Ada apa, Mas?” tanya Amber menatap Adam minta jawaban.
“Bukan apa-apa kok, Ma. Oh ya, semua berkas sudah Mama bawa?”
“Udah semua kok. Ayo, kita pergi sekarang.”
“Ayo.”
Pada akhirnya mereka pun pergi meninggalkan Nathala di rumah bersama para pembantu.
Dari jendela kamarnya, Nathala memperhatikan mobil Lambhorgini hitam itu berlalu keluar dari perkarangan rumah. Kedua orangtuanya benar-benar pergi, sama sekali tidak memperdulikannya.
Tidak kuasa menahan air mata yang ingin jatuh, dia pun berlari ke tempat tidur dan menangis sekeras-kerasnya di sana.
Puas menangis, dia pun tertidur.
“Nathala.”
Nathala terbangun dari tidurnya. Bukan karena suara yang barusan memanggilnya, tapi karena sesuatu yang menetes di hidungnya, sesuatu yang basah, dingin dan anyir.
Menggunakan jari telunjuk, dia pun mencolek sesuatu yang lengket di hidungnya. Dia menatap ngeri cairan merah di jari telunjuknya. Itu darah.
‘Darah?’ getusnya dalam hati sembari berusaha menggerakan kepala secara perlahan mendongak ke atas.
“Hay Nat.”
Ternyata Arkilla yang bergelayutan di atasnya, posisi mereka yang sangat dekat membuat Nathala kaget lantas berteriak karena terkejut.
“Aaaaaarrrrrrgggghhhh!!”
Sementara itu ….
Ashara keluar dari kamar dengan wajah dibanjiri keringat, dia berlari ke arah tangga.
“Hihihihi.”
Ternyata Ashara berlari menghindari kejaran hantu Arkilla, lagi-lagi hantu itu datang menerornya.
“Pergi kau hantu sialan. Pergi, sana!”
“Aku akan pergi nanti, tapi sebelum itu aku akan membuat kau menyusul Nathala ke neraka. Hahaha!”
“Tidak!”
Syutttt….
Tubuh Ashara terseret kesana-kemari dan berulang kali menabrak tembok. Ashara merasakan kesakitan yang teramat sangat pada tubuhnya. Dia ingin berteriak meminta tolong, tetapi suaranya sama sekali tidak mau keluar. Ternyata hantu Arkilla benar-benar berniat membunuhnya.
BRRUGH!
BRRRUGH!
BRRRRUGH!
Darah segar mengalir dari kepala Ashara, menetes-netes membasahi lantai marmer. Ashara hanya terpaku menyaksikan darah itu mulai mengotori lantai.
“Sudah saatnya. Selamat tinggal Ashara. Hihihihi.”
Tubuh Ashara terseret dengan kasar ke arah tangga dan terjatuh. Arkilla hanya mampu tertawa saat menyaksikan tubuh Ashara yang tergolek jatuh menuruni tangga.
“Kau akan mati setelah ini. Hahaha.” ucapnya diiringi tawa, kemudian berlalu pergi dari situ.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here