Bidan Desa Diamankan, Karena Diduga Praktik Aborsi

0
707
views

befren.com – Diduga bidan ini menjalankan praktik aborsi terhadap pasiennya, sehingga diamankan polisi dari rumah dinasnya dini hari.  Seorang bidan desa berinisial AR ini malam itu juga sekitar pukul 00.00, AR langsung dibawa polisi ke tempat pratiknya di poliklinik desa (polindes) di Dusun Topeng, Desa Kajen, Kecamatan Ceper.

Berdasarkan pantauan, garis polisi terpasang pada pagar Poliklinik Desa (Polindes) yang berada di Dukuh Topeng, Jumat (1/3/2019). Pintu alumunium serta dua jendela yang berada di bagian depan polindes tertutup rapat. Polindes yang menjadi tempat praktik bidan berinisial Ar tersebut bersebelahan dengan kantor Desa Kajen dan berada di tepi gang masuk kampung.

Polisi kemudian melakukan olah kejadian perkara (TKP dengan membawa sejumlah barang bukti.

Salah satu perangkat desa yang menyaksikan olah TKP itu adalah Kaur Tata Usaha dan Umum Desa Kajen, Bondan Ari Sungkawa. Dia saat itu bersama Sekretaris Desa Sidik Purnawan sedang mengerjakan tugas di kantor desa. Tiba-tiba didatangi beberapa personel polisi dan diminta menjadi saksi dalam olah TKP tersebut.

Polisi membawa sejumlah barang bukti dari dalam ruangan polindes. Seperti gunting, baskom, plastik yang berisikan obat-obat serta gunting khusus yang diketahui untuk menarik bayi.

Ia melihat jika peralatan yang diambil oleh pihak kepolisian tersebut masih terdapat bercak darah dan berbau anyir. Tetapi saat itu dirinya belum mengetahui pasti maksud olah TKP yang dilakukan kepolisian tersebut.

Diketahui AR sudah praktik di polindes itu selama 10 tahun melayani masyarakat sekitar.

Jam praktik mulai pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Di sisi lain, AR tidak tinggal di Polindes lagi karena satu tahun belakangan ini menetap di rumah dinasnya di kota Kecamatan Ceper.

Berdasarkan informasi yang dihimpun jika pemasangan sudah dilakukan seusai olah TKP tersebut. Sedangkan AR langsung dibawa ke Polres Klaten untuk diperiksa lebih lanjut.

Kapolres Klaten AKBP Aries Andhi mengungkapkan jika pemeriksaan kepada yang bersangkutan belum selesai. Karena itu belum ada penetapkan tersangka. “Minggu depan akan kami informasikan lebih lanjut untuk penetapan tersangkanya. Karena ini masih diperiksa. Ada lima orang yang kami periksa dalam kasus ini,” jelasnya singkat.

“Jika nantinya benar melanggar pasti ada sanksi tegas dari keprofesiannya. Sedangkan kami akan bertindak lebih ke sisi kepegawaiannya,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten Cahyono Widodo mengaku malah belum tahu secara mendalam terkait kasus yang menjerat salah satu bidannya itu. Ia lebih memilih menunggu dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Polres Klaten. (PJ)

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here