Tips Hindari Kebiasaan Minum Obat dengan Pisang

0
148
views

befren.com – Mungkin hal ini sudah banyak terjadi bagi sebagian orang minum obat dengan cara-cara unik yang menurut mereka dianggap benar, seperti halnya menutup hidung, dan menggunakan bantuan pisang.

Memang, pisang bisa membantu proses menelan obat, khususnya yang bentuknya tablet atau pil. Namun, cara ini rupanya tidak dianjurkan secara medis.

Faktanya, minum obat dengan pisang justru dapat berbahaya. Seperti apa maksudnya? Yuk, cari tahu!

Dampak Buruk Minum Obat dengan Pisang

Menurut ahli diet Morton Tavel, MD, pisang kaya akan kalium. Mineral ini berfungsi mengendalikan sel saraf dan otot, terutama otot jantung.

Mengonsumsi pisang bersama obat tertentu, seperti obat tekanan darah dan penghambat enzim, ACE inhibitor dapat menyebabkan penumpukan kalium.

Obat yang hanya dapat dikonsumsi dengan resep dokter itu juga menyebabkan terhambatnya kalium keluar melalui urine. Akibatnya, sejumlah gangguan kesehatan dapat terjadi.

“Penumpukan kalium berlebih dapat menyebabkan ritme jantung berdetak tidak teratur,” jelas Morton, dikutip dari Singlecare.

Menilik laporan Kidney Fund, hiperkalemia adalah kondisi gawat darurat lantaran dapat menyebabkan penderitanya mengalami serangan jantung bahkan kematian.

Pengidap hiperkalemia pun dapat mengalami sejumlah gejala sebelum kondisinya memburuk. Gejala tersebut, yakni detak jantung tidak teratur, kelelahan, kesemutan, mual dan muntah, sulit bernapas, hingga nyeri dada.

Apa yang Harus Dilakukan?

Mengetahui bahaya minum obat dengan pisang, Anda sebaiknya tak lagi melakukannya. Hal ini penting, apalagi jika Anda termasuk orang yang mesti rutin mengonsumsi obat-obatan.

Untuk mencegah hiperkalemia di kemudian hari lantaran harus mengonsumsi obat–seperti ACE inhibitor, obat penghambat reseptor angiotensin, dan obat antiradang nonsteriod, Anda mesti membatasi atau menghindari makanan lain yang berkalium tinggi, seperti grapefruit, asparagus, bayam, ubi jalar, dan kentang.

Cara Minum Obat yang Benar

Agar obat dapat bekerja dengan efektif dan aman, ikutilah panduan cara minum obat yang baik dan benar berikut ini:

1. Minum obat sesuai waktu yang telah ditentukan

Obat umumnya diberikan dengan beberapa jenis aturan pakai, misalnya 3 kali sehari, dengan pembagian waktu yang tepat. Hal ini berarti obat diminum setiap 8 jam sekali dalam 1 hari.

Sebagai contoh, bila dosis pertama dikonsumsi jam 7 pagi, maka dosis berikutnya dikonsumsi pada jam 3 sore dan dosis terakhir pada jam 11 malam. Minumlah obat pada waktu yang sama setiap harinya.

Jika Anda lupa mengonsumsi obat, disarankan untuk segera melakukannya bila jeda dengan jadwal konsumsi obat berikutnya tidak terlalu dekat. Namun jika jedanya sudah dekat, abaikan dosis tersebut dan konsumsilah obat pada jadwal berikutnya untuk mengganti dosis yang terlewatkan.

Selain itu, beberapa jenis obat ada yang dianjurkan untuk dikonsumsi sebelum, setelah, atau bersamaan dengan waktu makan. Pastikan untuk mengikuti petunjuk penggunaan obat tersebut agar obat dapat bekerja dengan efektif.

2. Konsumsi sesuai dosis yang dianjurkan

Sebagian orang mungkin ada yang beranggapan bahwa menggandakan dosis obat dapat mempercepat penyembuhan penyakit, padahal anggapan ini tidak benar. Alih-alih membuat Anda sembuh lebih cepat, minum obat dengan dosis berlebihan dapat menyebabkan kerusakan organ tubuh hingga overdosis.

Anda juga tidak boleh mengurangi dosis obat tanpa anjuran dokter karena mengurangi dosis obat bisa membuat obat bekerja dengan tidak efektif. Oleh karena itu, konsumsilah obat sesuai dosis yang ditentukan oleh dokter atau sesuai petunjuk pemakaian obat.

3. Gunakan sesuai dengan cara yang direkomendasikan

Obat yang diminum terdiri dari beragam sediaan, mulai dari tablet, kapsul, puyer, sirop, dan obat tetes (oral drops).

Untuk obat tablet atau kapsul, hindari membelah, menghancurkan, atau mengunyah obat sebelum menelannya, kecuali jika obat tersebut memang dikonsumsi sebagai obat kunyah.

Untuk obat cair, Anda bisa menggunakan sendok takar khusus yang telah tersedia di dalam kemasan untuk mengukur dosis obat. Bila tidak tersedia, Anda bisa menggunakan sendok teh sebagai takarannya. Untuk obat tetes oral, Anda bisa menggunakan pipet khusus yang tersedia dalam kemasan obat.

4. Perhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi bersama dengan obat

Beberapa jenis obat dapat menimbulkan efek interaksi obat jika dikonsumsi bersamaan dengan makanan atau minuman tertentu. Selain itu, interaksi obat juga bisa terjadi jika obat diminum bersamaan dengan obat jenis lain atau suplemen tertentu.

Sebagai contoh, mengonsumsi suplemen zat besi bersamaan dengan susu bisa menurunkan penyerapan zat besi oleh tubuh. Contoh lainnya adalah mengonsumsi obat hipertensi ACE inhibitor bersamaan atau berdekatan waktunya dengan konsumsi makanan tinggi kalium, seperti pisang, dapat menurunkan efektivitas obat tersebut.

Oleh karena itu, obat sebaiknya diminum bersamaan dengan segelas air putih agar risiko terjadinya efek interaksi obat dapat berkurang. Saat mendapatkan resep obat, Anda juga disarankan untuk menanyakan kepada dokter yang meresepkan obat terkait minuman atau makanan apa yang perlu dihindari ketika mengonsumsi obat tersebut.

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here