Sering Dengar Lagu dengan Headset? Ini Akibatnya

0
606
views
Gadis remaja mendengarkan musik dengan smartphone

I

ndera pendengaran merupakan karunia diberikan Tuhan kepada kita supaya kita dapat mendengarkan berbagai suara yang ada di muka Bumi ini.

Hal ini sudah sepatutnya kita syukuri karena jika salah satu indera tidak berfungsi dengan baik, maka tubuh juga akan mengalami penurunan kinerja.

Berdasar penelitian, efek buruk datang jika menggunakan Headset selama lima jam dalam seminggu. Dampaknya adalah kerusakan permanen pada telinga, kemungkinan terbesar hal itu terjadi pada usia muda.

American Osteopathic Association menyebutkan, 1 dari 5 remaja memiliki gangguan pendengaran. Tanda bahwa kemampuan pendengaran Anda bermasalah adalah adanya dengungan di telinga usai menggunakan headset

[artikel number=5 tag=”health” ]

Pastikan bahwa Anda tidak menaikkan volume suara di atas 60 persen. Aturan praktisnya, Anda harus bisa mendengar percakapan yang terjadi di sekitar. Headset gaya lama yang menutupi telinga dianggap lebih aman untuk pendengaran daripada headset yang langsung mengarah ke gendang telinga.

Sementara itu, Medical Research Council Institute of Hearing Research mengungkapkan, mendengarkan musik lebih dari 105 desibel selama 15 menit bisa merusak pendengaran. Suara keras yang ditimbulkan dari headset bisa menyebabkan rusaknya stereosilia (bulu-bulu mungil yang berada di atas sel-sel rambut di telinga bagian dalam).

Kebisingan ini membuat stereosilia bergetar sehingga mengubah voltase di sel rambut, yang kemudian mengirimkan pesan kimia melalui saraf ke otak untuk merusak stereosilia.

Bahkan, Occupational Safety and Health Administration telah lama mengetahui bahwa polusi suara adalah salah satu penyebab gangguan pendengaran yang paling umum terjadi pada orang dewasa. Dalam beberapa dekade terakhir, polusi suara yang berlebihan ini berasal dari headset. Polusi suara yang dihasilkan oleh headset tampaknya lebih merusak ketimbang mendengarkan suara dari sound system.

David A. Schessel, MD, PhD dari Otolaryngology-Head and Neck Surgery Division mengungkapkan, anak-anak atau remaja yang mendengarkan musik melalui headset dalam jangka waktu yang lama lebih rentan mengalami gangguan pendengaran permanen.

Kotoran telinga menghalangi kotoran, debu, dan partikel kecil masuk ke bagian terdalam telinga — mendorong mereka kembali keluar dari liang telinga. Penggunaan headset yang salah (terlalu lama, terlalu masuk ke dalam) dapat memblokir proses ini dan akibatnya menyebabkan pengerasan kotoran telinga. Penumpukan kotoran telinga dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan bahkan menyakitkan. Hal ini juga akan mencegah suara mencapai gendang telinga. Anda bisa kehilangan pendengaran (sementara, tentu saja) jika penumpukan kotoran telinga begitu besar sehingga benar-benar menutupi saluran telinga.

Mendengarkan musik dengan headset yang dianggap aman adalah di bawah 85 desibel. Menurut Schessel, seseorang yang terkena suara lebih dari 90 desibel selama 8 jam per hari, kemungkinan besar akan mengalami gangguan pendengaran.

Ilustrasi mendengarkan musik

Beberapa cara untuk mengurangi kerusakan pendengaran adalah dengan mengurangi volume suara dan mengurangi waktu untuk mendengarkan dengan Headset. Namun seringkali juga orang-orang menggunakan Headset pada tempat-tempat yang ramai seperti stasiun kereta, terminal bus ,dan sebagainya, jadinya tanpa sadar cenderung untuk meningkatkan volume Headset lebih keras lagi.

.

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here