Rahasia Dibalik Khasiat dan Manfaat Alpukat

1
510
views
Avocado di atas meja

Alpukat adalah buah yang cukup populer di Indonesia. Biasanya buah ini digunakan sebagai campuran es teler atau jus alpukat. Anda bisa memperolehnya mulai dari gerobak kaki lima sampai restoran. Buah ini juga tersedia di supermarket serta pasar tradisional di seluruh daerah di Indonesia.

Banyak negara di dunia, terutama yang sedang berkembang, mencoba memanfaatkan alpukat sebagai salah satu sumber makanan yang kaya gizi. Itu pula sebabnya mengapa buah ini banyak dimanfaatkan oleh para vegetarian.

Alpukat adalah salah satu buah yang paling direkomendasikan, baik sebagai makanan bergizi untuk tubuh maupun obat untuk penyakit jantung yang berhubungan dengan kolesterol.

Selain itu, tahukah Anda bahwa alpukat atau sari alpukat sangat baik untuk mencegah atau mengobati kanker payudara dan kanker prostat? Beberapa studi menyatakan bahwa zat toksin dalam alpukat dapat membunuh sel kanker.Para ahli percaya bahwa toksin memiliki efek yang sangat besar terhadap miokardium (jaringan otot jantung) seperti juga halnya terhadap jaringan kelenjar susu pada payudara.

[artikel number=5 tag=”health” ]

Buah alpukat yang lembut seperti krim yang kaya ini dianggap sebagai buah yang paling sehat di dunia, karena pada kandungan gizinya antara lain terdapat vitamin K, serat, potasium, asam folat, vitamin B6, vitamin C, tembaga, dan kalori yang cukup.

Berbagai Penelitian terhadap Alpukat

 

Buah alpukat telah lama menarik perhatian para peneliti. Uraian di bawah ini akan memberikan gambaran lengkap kepada Anda mengenai berbagai bidang yang telah dan akan diteliti sehubungan dengan manfaat buah alpukat bagi kesehatan.

Sebelum mengkaji berbagai bidang kesehatan secara khusus di mana alpukat benar-benar teruji sehubungan dengan manfaatnya bagi kesehatan, marilah kita melihat gambaran besarnya terlebih dahulu. Itulah yang dilakukan oleh Victor Fulgoni dan rekan-rekan penelitinya di Nutrition Impact, LLC, ketika mereka mempelajari data dari National Health and Nutrition Examination Study (NHANES 2001-2006) yang dilakukan oleh pemerintah pusat Amerika Serikat. Mereka juga mempelajari asupan gizi 14.484 orang dewasa Amerika Serikat. Sangat mengherankan, hanya 273 orang dewasa yang berpartisipasi dalam penelitian ini mengaku telah mengonsumsi alpukat dalam 24 jam terakhir. Di antara ke-273 partisipan yang mengaku baru mengonsumsi alpukat, ternyata asupan nutrisinya lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan partisipan lain untuk beberapa vitamin (vitamin E dan vitamin K), beberapa mineral (potasium dan magnesium), dan paling tidak satu makronutrien yang sangat bermanfaat (asupan berserat total). Yang mengonsumsi alpukat juga lebih rendah berat badannya serta indeks massa tubuhnya daripada yang tidak mengonsumsi alpukat. Asupan lemak total, asupan lemak tak jenuh tunggal total, dan asupan lemak tak jenuh jamak total lebih tinggi di antara pengonsumsi alpukat, meskipun asupan kalori mereka secara keseluruhan tidak berbeda secara signifikan dari bukan pengonsumsi alpukat. Perbandingan antara pengonsumsi dan bukan pengonsumsi alpukat ini tidak membuktikan bahwa pengonsumsi alpukat mendapatkan manfaat kesehatan dari alpukat. Juga tidak membuktikan bahwa konsumsi alpukat membuat berat badan kita lebih rendah. Namun ini menunjukkan pada kita untuk memandang alpukat sebagai makanan penunjang kesehatan yang memberi kita “bahan pemicu” sehubungan dengan kesehatan dan makanan yang bergizi. 


Manfaat  Anti-radang
Kemampuan alpukat untuk membantu mencegah radang sudah tidak dipertanyakan lagi dalam dunia penelitian kesehatan. Istilah “anti-radang” adalah sebuah istilah yang benar-benar dapat dikenakan pada buah yang lezat ini. Zat anti-radang pada alpukat bisa digolongkan menjadi lima kategori dasar:

  • fitosterol, termasuk beta-sitosterol, stigmasterol, and kampesterol.
  • antioksidan karotenoid, termasuk lutein, neoxanthin, neochrome, chrysantemaxantin, beta-cryptoxantin, zeaxantin, violaxantin , beta-karoten dan alfa-karoten.
  • antioksidan lainnya (non-karotenoid), termasuk flavonoids epicatechin dan epigallocatechin 3-0-gallate, vitamin C dan E, dan mineral mangaan, selenium, dan seng.
  • asam lemak omega-3, dalam bentuk asam alfa-linolenat (kira-kira 160 miligram per cangkir irisan alpukat).
  • polyhydroxylated fatty alcohols (PFA)s.

Artritis—baik osteoartritis maupun artritis reumatoid—adalah masalah yang telah mendapatkan perhatian khusus dalam penelitian kesehatan yang dikaitkan dengan asupan buah alpukat. Semua kategori zat anti-radang yang tertera di atas besar kemungkinannya berperan dalam kemampuan alpukat untuk membantu mencegah osteoartritis dan artritis reumatoid. Satu mekanisme pencegahannya yang sangat menarik tampaknya melibatkan fitosterol yang terdapat dalam alpukat (stigmasterol, kampesterol, dan beta-sitosterol) serta pencegahan agar tidak terlalu banyak terdapat pro-radang sintesa PGE2 (prostaglandin E2) oleh jaringan yang terkena.


Penyerapan Karotenoid yang Optimal
Tak ada satu pun kategori nutrisi dalam alpukat yang lebih mengesankan daripada karotenoid. Kita cenderung berpikir bahwa karotenoid paling banyak terkonsentrasi pada sayuran yang berwarna oranye cerah atau merah seperti wortel atau tomat.Memang kedua jenis sayuran ini merupakan sumber karotenoid yang luar biasa, namun alpukat, meskipun kulitnya berwarna hijau gelap dan dagingnya pun berwarna kuning kehijauan, sekarang dikenal mengandung berbagai macam karotenoid yang luar biasa. Para peneliti percaya bahwa banyaknya macam karotenoid yang terkandung dalam alpukat adalah faktor kunci sehubungan dengan anti-radang yang dimiliki oleh buah ini.


Berikut adalah daftar yang merangkum antioksidan karotenoid utama yang dimiliki oleh alpukat:
•    alfa-karoten
•    beta-karoten
•    beta-kriptoxantin
•    krisantemaxantin
•    lutein
•    neokrome
•    neoxantin
•    violaxantin
•    zeaxantin

Agar terjadi penyerapan sempurna terhadap fitonutrien yang larut dalam lemak, dibutuhkan lemak dalam jumlah dan kombinasi yang tepat. Dan alpukatlah yang menyediakan kombinasi yang tepat itu! Di dalam buah alpukat terdapat asam oleat dalam jumlah yang banyak, asam lemak tak jenuh tunggal sehingga alat pencerna makanan akan lebih mudah membentuk molekul-molekul transpor (kilomikron) yang dapat membawa karotenoid ke dalam tubuh. Kombinasi luar biasa dari kandungan lemak serta karotenoid dalam alpukat juga meluas pada hubungan antara alpukat dengan makanan lainnya. Sebagai gambaran, misalnya,ketika kita memakan salad yang sederhana yang kaya akan karotenoid, kita akan mendapatkan manfaat karotenoid yang penting. Namun penelitian terakhir menunjukkan bahwa jika satu cangkir alpukat (150 gram) ditambahkan pada salad ini, penyerapan karotenoid akan meningkat menjadi 200-400%!

Mendukung Kesehatan Kardiovaskular
Manfaat alpukat untuk jantung dan pembuluh darah mungkin mengherankan bagi sementara orang yang mengira bahwa alpukat mengandung terlalu banyak lemak sehingga tidak baik untuk kesehatan jantung. Namun, berdasarkan penelitian, banyak aspek metabolik dari kesehatan jantung—termasuk tingkat faktor risiko inflamatori, tingkat faktor risiko oksidatif, dan tingkat lemak dalam darah (termasuk tingkat kolesterol total)—menjadi lebih baik dengan mengonsumsi alpukat. Lebih dari itu, kita tahu bahwa kesehatan jantung menjadi lebih baik dengan asupan asam oleat (asam lemak utama dalam alpukat) dan oleh asupan asam lemak omega-3 (terdapat dalam alpukat dalam bentuk asam alfa-linoleat dalam jumlah 160 gram per cangkir). Karena tingkat homokistein yang meningkat juga meningkatkan risiko penyakit jantung, dankarena vitamin B sangat penting untuk menjaga tingkat homokistein, jumlah vitamin B-6 dan asam folat yang terdapat dalam alpukat dalam jumlah yang signifikan akan menunjang kesehatan jantung.


Penelitian terhadap alpukat dan penyakit jantung masih berada dalam tahap awal. Penelitian ini sebagian besar terbatas pada penelitian-penelitian di laboratorium terhadap sel-sel atau hewan yang diberi ekstrak alpukat. Namun kita bisa mengharapkan adanya penelitian terhadap manusia dalam skala besar sehubungan dengan manfaat buah yang unik ini bagi kesehatan jantung. 


Membantu Mengendalikan Gula Darah
Salah satu penelitian terhadap alpukat yang paling penting—yang juga akan menjadi penunjang kesehatan yang paling penting—berhubungan dengan pengendalian karbohidrat dan gula darah. Alpukat adalah bahan makanan yang relatif rendah-karbo, dengan hanya 19% dari kalorinya berasal dari karbo. Alpukat juga bahan makanan yang rendah gula karena mengandung kurang dari 2 gram gula total dalam setiap cangkirnya, dan memiliki indeks glisemik yang sangat rendah. Selain itu, satu cangkir alpukat mengandung 7-8 gram serat, sehingga menjadi sumber makanan yang penting ketika pengendalian gula darah diperlukan. Dengan mengetahui kandungan karbonya secara menyeluruh, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa alpukat tidak akan menjadi makanan yang bermasalah dalam pengendalian gula darah kecuali buah ini dimakan dalam jumlah yang berlebihan (beberapa cangkir sekali makan).


Namun, dengan kandungan karbonya yang relatif kecil, alpukat memicu komponen karbo yang tidak biasa yang ada dalam bahan makanan lain. Ketika masih berada di pohon, 60% kandungan karbo dalam alpukat berupa 7-karbon gula. Dalam jumlah yang dapat diukur, 7-karbon gula (seperti manoheptulosa, karbo utama yang terdapat dalam alpukat yang belum matang) jarang terdapat dalam bahan makanan lain. Karena keberadaannya yang jarang, para ahli makanan sangat tertarik pada 7-karbon gula (manoheptulosa, sedohoptulosa, dan alkohol gula yang berkaitan seperti perseitol) yang ditemukan dalam alpukat. 7-karbon gula seperti manoheptulosa bisa membantu mengatur cara gula darah (glukosa) dimetabolisasi dengan menghentikan kerja sebuah enzim yang bernama heksokinase dan mengubah tingkat keaktifannya melalui cara metabolik yang dinamakan glikolisis. Penelitian dalam bidang ini masih dalam perjalanan jauh untuk bisa menentukan manfaat kesehatan potensial bagi manusia melalui asupan makanan yang mengandung 7-karbon gula. Namun, ini adalah bidang yang sangat menarik dalam hal manfaat kesehatan potensial yang terdapat dalam alpukat, terutama karena bahan makanan ini dikenal memiliki indeks glisemik yang rendah.


Satu pengamatan terakhir yang menarik dari penelitian terhadap alpukat dan karbo adalah sebagai berikut: setelah lima hari pematangan (pascapanen, dimulai dengan pemetikan alpukat dari pohon), komposisi karbo pada alpukat berubah secara signifikan. 7-karbon gula berubah dari posisinya yang dominan, 60%, menjadi komponen minoritas meskipun masih cukup tinggi (antara 40-50% dari karbo total). Dengan pematangan, 5-karbon gula—terutama sukrosa—menjadi karbo yang dominan. Meskipun terlalu awal untuk menarik kesimpulan mengenai kesehatan dari penelitian ini, penemuan-penemuan ini akan membuat kita lebih memperhatikan tingkat kematangan alpukat sebagai faktor penting dalam manfaat kesehatannya. Kita sudah tahu bahwa kita harus menghindari alpukat yang terlalu matang yang sudah menjadi sangat empuk dan sudah berbercak-bercak gelap di kulitnya. Mungkin di masa depan kita akan mampu untuk menentukan tingkat kematangan alpukat yang tepat untuk berbagai manfaat kesehatan tertentu, termasuk manfaatnya yang berhubungan dengan karbo.

Manfaat Kesehatan Mata
Cobalah melindungi kesehatan mata dengan mengonsumsi beberapa potong Alpukat saat makan siang atau makan malam. Alpukat kaya akan lutein dan zeaxanthin, antioksidan yang ditemukan dalam retina. Kedua antioksidan ini berfungi menjaga kesehatan mata dan mencegah gangguan mata terkait penuaan, seperti katarak dan penyakit degenerasi lainnya seiring dengan bertambahnya usia.

Manfaat Antikanker 

Kemampuan alpukat untuk membantu mencegah munculnya kanker di mulut, kulit, dan kelenjar prostat telah diteliti oleh para peneliti meskipun masih dalam tahap awal, yang sebagian besar melalui penelitian di laboratorium terhadap sel-sel kanker atau penelitian di laboratorium dengan menggunakan hewan yang diberi ekstrak alpukat. Meskipun penelitian antikanker ini belum dilakukan terhadap manusia, hasil-hasil yang ditemukan sangat mengesankan. Zat antikanker yang terdapat dalam alpukat dipastikan berhubungan dengan kombinasi yang tidak biasa antara kandungan anti-inflamatori dan anti-oksidannya. Hubungan itu bisa terjadi karena faktor-faktor risiko kanker hampir selalu melibatkan inflamasi yang berlebihan (yang dikarenakan kurangnya zat anti-inflamatori). Dalam hal ini buah alpukat menjadi sangat menarik. Dalam sel-sel yang sehat, alpukat bekerja untuk memperbaiki inflamatori dan tingkat stres oksidatif. Tetapi pada sel-sel kanker, alpukat bekerja untuk meningkatkan stres oksidatif dan mengubah sel-sel kanker ke dalam siklus kematian sel (apoptosis), sehingga mengurangi jumlah sel kanker. Dengan perkataan lain, alpukat secara selektif mendorong sel-sel kanker “ke jurang kematian” sehubungan dengan stres oksidatifnya dan meningkatkan kecenderungannya untuk mati. Sementara itu, pada saat yang sama alpukat secara aktif meningkatkan kesehatan sel-sel non-kanker dengan meningkatkan pasokan zat anti-oksidan dan anti-inflamatori. Sekarang kita sedang menantikan penelitian-penelitian dalam skala besar di bidang ini yang melibatkan manusia serta konsumsi alpukat.

Silahkan Komentar

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here