Penyebab Kuret terhadap Kesuburan Rahim, dan Apakah Berbahaya?

0
978
views

befren.com – Pasti Anda pernah mendengar istilah kuret, terutama bagi Anda kaum wanita yang sudah berumahtangga, di dalam medis kuret dikenal dengan istilah D&C (dilation and curettage) atau dalam Bahasa Indonesia disebut dengan dilasi dan kuretase, merupakan prosedur mengeluarkan jaringan dari dalam rahim. Kuret erat hubungannya dengan keguguran. Setelah ibu hamil mengalami keguguran, ibu akan dikuret untuk membersihkan rahim. Pada saat ini banyak orang mengatakan bahwa kuret dapat berdampak pada kesuburan. apakah betul?

Melalui kuretase, dokter biasanya memastikan bahwa tidak ada sisa jaringan yang tersisa di dalam rahim pasca keguguran. Tidak hanya itu, kuret juga dilakukan sebagai metode diagnosis pada beberapa kondisi seperti perdarahan rahim abnormal, perdarahan pasca menopause, ataupun kecurigaan adanya kanker.

Kapan kuret perlu dilakukan?

Banyak orang yang tidak mengetahui bagaimana prosedur tindakan kuret yang dilakukan untuk mengeluarkan sisa dari jaringan dari kehamilan tersebut. Kurangnya pengetahuan tentang tindakan kuret tersebut membuat masyarakat takut untuk melakukan kuret . Hal ini membuat mereka yang dianjurkan untuk melakukan tindakan kuret tidak mau melakukan tindakan kuret tersebut. Padahal jika rahim belum bersih, tindakan kuret sangatlah dibutuhkan untuk menghindari berbagai macam komplikasi yang terjadi akibat sisa dari kehamilan tersebut. Proses kuret saat ini sudah semakin berkembang dibandingkan sebelumnya. Dulu tindakan kuret tidak menggunakan tindakan anestesi, namun saat ini tindakan anestesi bisa dilakukan untuk menghilangkan rasa sakit.

  • Aborsi atau setelah melahirkan

    Dilasi dan kuretase perlu dilakukan untuk membuang jaringan dalam rahim selama atau setelah keguguran atau aborsi. Sedangkan, setelah melahirkan, dilasi dan kuretase perlu dilakukan untuk membuang sisa-sisa dari plasenta. Pembersihan ini dilakukan untuk mencegah infeksi atau pendarahan hebat.

  • Mendiagnosis atau mengobati kelainan rahim

    Dilasi dan kuretase dapat membantu mendiagnosis atau mengobati pertumbuhan kelainan jaringan pada rahim, seperti fibroid, polip, endometriosis, ketidakseimbangan hormonal, atau kanker rahim. Sampel dari jaringan rahim yang berhasil diambil akan diperiksa untuk mengetahui kelainan sel rahim.

Efek Samping Kuret

  • Terlambat Menstruasi atau Cepat Menstruasi
    Efek samping yang lainnya adalah wanita yang sehabis melakukan tindakan kuret akan mengalami terlambat menstruasi atau menstruasi datang lebih awal.
  • Kram
    Efek pertama yang akan dirasakan oleh ibu yang melakukan tindakan kuret adalah ibu tersebut akan merasakan kram. Kram itu biasanya terjadi di bagian bawah perut dan rasanya seperti tanda kehamilan atau seperti mau menstruasi. Kram ini akan terjadi dan berlangsung selama 30 menit sampai dengan 1 jam. Namun ada ibu yang mengalami kram tersebut selama berhari-hari.
  • Spotting
    Setelah melakukan tindakan kuret, ibu biasanya akan mengalami pendarahan ringan atau mengeluarkan flek bercak darah ringan. Flek itu akan muncul setelah beberapa minggu atau beberapa hari setelah tindakan kuret dilakukan.

[artikel number=4 tag=”health” ]

Apa saja risiko kuretase?

Segala prosedur medis tentu saja dapat menimbulkan risiko, termasuk kuretase.  Meskipun jarang terjadi, prosedur kuretase tetap berisiko menyebabkan hal-hal berikut:

  • Perforasi rahim
    Dapat terjadi jika alat bedah menusuk dan menyebabkan lubang di rahim. Hal ini lebih sering terjadi pada wanita yang baru pertama kali hamil dan pada wanita yang sudah menopause. Jika luka pada rahim mengenai organ atau pembuluh darah, kemungkinan akan dilakukan operasi untuk mengatasinya.
  • Kerusakan leher rahim
    Jika leher rahim robek saat prosedur kuret dilakukan, dokter dapat memberikan tekanan atau obat untuk menghentikan perdarahan atau menutupnya dengan jahitan.
  • Tumbuh jaringan parut pada dinding rahim
    Terbentuknya jaringan parut dalam rahim karena prosedur kuret, atau yang dikenal dengan nama sindrom Asherman, sebenarnya jarang terjadi. Kondisi ini dapat menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak normal, bahkan berhenti, dan juga dapat menyebabkan rasa sakit, keguguran di kehamilan selanjutnya, hingga ketidaksuburan. Umumnya kondisi ini dapat ditangani dengan operasi.
  • Infeksi
    Setelah tindakan kuret, salah satu efek samping yang dapat terjadi adalah infeksi. Untuk menanganinya dokter akan memberikan obat antibiotik.
  • Perdarahan parah
    Perdarahan akibat tindakan kuret jarang terjadi. Namun, perdarahan dapat terjadi apabila peralatan operasi melukai dinding rahim. Atau bila jaringan fibroid (miom) yang tidak terdeteksi dalam rahim, ikut terkikis sehingga menimbulkan perdarahan.

Setelah kuret apakah bisa hamil lagi?

Melakukan kuretase setelah keguguran tidak akan mengurangi kesempatan Anda untuk hamil lagi. Bahkan, kesempatan Anda untuk hamil lagi setelah mengalami keguguran dan melakukan kuretase akan sama seperti Anda tidak pernah mengalami keguguran. Berdasarkan penelitian American College of Obstetrics and Gynecology, sekitar 65% wanita yang telah mengalami keguguran sebanyak 4 kali berturut-turut berhasil untuk hamil lagi sampai ia melahirkan anak.

Para ahli menyarankan agar sebaiknya menunggu sampai tiga siklus menstruasi setelah melakukan kuretase sebelum Anda mencoba untuk hamil lagi. Hal ini bertujuan untuk memberikan waktu kepada rahim untuk membangun kembali lapisannya, sehingga keadaan rahim sudah sehat ketika Anda hamil lagi.

Dari kesimpulan di atas bahwa befren.com menyimpulkan memang kuret dapat berdampak terhadap kesuburan rahim. Meski demikian, angka kejadiannya itu sangat jarang sekali. Perlu dipertimbangkan dampak atau buruknya menggunakan prosedur kuret. Sebelum Anda melakukan prosedur kuret tersebut alngkah baiknya Anda berkonsultasi kepada dokter terlebih dahulu. Tidak perlu ditakuti, bila kuretase dilakukan secara benar.

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here