Misteri Hutan Jati #01

0
355
views

“Allahu Akbar!”

Ya Tuhan … jeritan itu kembali terdengar. Memaksaku terbangun kala jarum jam menunjukkan pukul satu dini hari. Suara itu sangat jelas berasal dari hutan jati yang menghampar di belakang rumah.

Dalam keheningan kucoba menajamkan pendengaran. Ya … kini jeritan itu telah berubah menjadi rintih kesakitan yang menyayat hati.

Ini bukan kali pertama aku mendengar suara-suara misterius itu. Sejak kecil aku sudah sering mengalaminya. Biasanya terjadi setiap malam Jum’at atau Selasa. Yang bagi sebagian masyarakat pulau Jawa dianggap sebagai malam keramat.

“Tolooong … Toloooong … Ampuuuun!”

Ya Tuhan, suara rintihan itu kembali terdengar. Kali ini diiringi suara sosok lain yang berteriak-teriak meluapkan amarahnya. Memaki dengan bahasa binatang diiringi riuh nyanyian wanita-wanita dengan lagu yang sama sekali tak aku pahami.

Di dalam kamar, aku meringkuk ketakutan dengan bulir keringat yang terus mengaliri pelipis. Entah mengapa suhu udara yang biasanya dingin malam ini terasa sangat panas dan pengap.

Angin bagai berhenti berhembus. Bahkan para binatang malam yang biasanya riuh bernyanyi malam ini seperti mendadak bisu. Sama sekali tak terdengar suaranya. Seperti sengaja bersembunyi di sarangnya masing-masing.

Triiiiing … crash!

Mataku terbelalak kala mendengar suara seperti ayunan benda tajam. Lalu … ooogghhhrrrr!

Ya Tuhan, tanpa bisa kukendalikan terbentuk satu pemikiran dalam benak. Di hutan jati itu sedang terjadi pembantaian manusia.

Kupejam mata serapat mungkin kala terbayang darah-darah yang muncrat dan kepala yang menggelinding terlepas dari badannya.

Ingin rasanya aku berteriak, memanggil bapak dan ibu yang tidur di kamar sebelah. Anehnya, suaraku tak keluar. Tertahan di tenggorokan. Ah … jangankan untuk berteriak, sekedar menggerakkan tubuh pun aku kesulitan.

Dalam kekalutan kupaksa diri ini untuk terus mengingat Allah. Memusatkan pikiran pada satu titik dan memerintahkan setiap panca indra untuk berdzikir.

‘Subhanallah, wal hamdulillah, wa laa illa ha illallahu allahu akbar.’

Sulit … sungguh sulit. Mata, hidung, bibir, hati, dan seluruh bagian tubuhku sudah mulai memasuki kekhusukan. Sayangnya, telinga ini tak juga mau diajak kompromi. Apalagi kala terdengar suara langkah kaki yang tersaruk-saruk mendekati kamarku, lalu tok … tok … tok.
Ada seseorang yang mengetuk jendela kamar dan berkata, “Gayatri … tolooong aku.”

*****

Pagi merekah, kicau burung perkutut peliharaan bapak dan kicau prenjak yang berasal dari pohon petai samping rumah saling bersahutan menyambut matahari.

Sesaat aku duduk di bibir ranjang. Mengumpulkan kesadaran yang terserak. Mengingat-ingat apa yang terjadi semalam dan menyebabkan aku bangun kesiangan.

Jantungku langsung berdegup kencang, kala teringat semalam ada sosok yang mengetuk jendela kamar dan memanggil namaku. Siapa lelaki itu? Manusiakah? atau setan?

Tanpa merapikan tempat tidur, aku bergegas ke luar kamar. Tak kudapati ibu di dapur. Yang terlihat hanya tungku yang dibiarkan tetap menyala dengan kayu berbara yang mulai keluar dari mulut tungku. Sebuah panci stainles serta wajan berisi ayam yang telah dibumbui terjerang di atasnya. Harum aroma masakan ibu menguar mengusik penciuman. Memancing cacing-cacing di dalam perut berdemo meminta asupan makanan.

“Heh, perawan jam segini baru bangun. Bukannya mandi malah ngalamun. Piye to Trii, Gayatri.”

Teguran ibu yang tiba-tiba muncul sambil membawa kayu-kayu kering membuatku terlonjak kaget. Sotil yang kupegang untuk membalik ayam agar tidak gosong terlepas dan jatuh menimpa abu yang menumpuk di sisi tungku.

“Ah Ibu itu lho, ngagetin wae. Lagian kok ya ndak mbangunin. Untung Gayatri lagi gak sholat.”

“Huuu … dasar kamu itu, malah nyalahin Ibu. Udah mandi dulu sana.” Ibu mengacak-ngacak poniku.

Aku beranjak hendak ke kamar mandi, tapi kuurungkan kala teringat kejadian semalam. Aku kembali menghampiri ibu yang duduk di atas dipan kayu, tempat biasanya wanita terkasihku itu meracik bumbu atau menyiangi sayuran.

“Bu, Gayatri mau cerita.”

“Ono opo? Tumben kamu mau cerita sama Ibu. Ada yang naksir kamu, po?” tanyanya, sambil memarut kelapa. Seulas senyum menghiasi bibirnya.

“Ah, Ibu. Gayatri belum kepikiran punya pacar. Sekolah juga belum lulus. Jangan mbahas itu melulu, to,” sahutku, mbesengut.

Ibu tertawa menanggapi ocehanku. Hendak kembali menggoda tapi tertahan saat pinggangnya kukelitikin. Tawa kami berdua pecah di pagi yang cerah itu.

“Yo wes cerita, ada apa, Cah Ayu?”

Kuungkapkan peristiwa menyeramkan yang terjadi semalam secara lengkap tanpa ada yang terlewat sedikitpun. Ibu serius menyimak ceritaku dari awal sampai akhir tanpa sekalipun menyela. Lalu terdiam cukup lama saat aku sudah selesai bercerita.

“Bu, ada apa ya sebenarnya di hutan jati itu.”

“Udah, gak usah dipikirin. Ibu pesan, kamu jangan sampai ke sana ya, Nduk. Bahaya.”

“Emang kenapa to, Bu?”

“Pokok e manut wae sama Ibu. Udah jangan banyak tanya. Itu cucianmu sudah nungguin.”

Aku mendengkus mendengar perkataan ibu. Tak ada sedikitpun penjelasan yang aku terima. Sejujurnya, larangan itu membuatku semakin penasaran dengan hutan jati itu. Ada apa sebenarnya di sana?

Karena tak mendapatkan jawaban yang memuaskan, kuputuskan untuk segera mandi dan mencuci pakaian. Rutinitasku setiap pulang kampung.

Aku memang jarang di rumah. Sehari-hari lebih sering tinggal di kota kabupaten karena harus bersekolah. Bapak dan Ibu memintaku ngekos agar tak kecapekan karena harus pulang pergi setiap hari.

O iya, namaku Gayatri. Putri tunggal seorang kepala dusun yang tinggal di pelosok kabupaten Madiun. Rumahku berada di tepi hutan jati yang menyimpan segudang misteri. Sebenarnya kejadian demi kejadian aneh itu sudah sering kutemui sejak kecil. Namun, belakangan, sejak akil balig, semakin intens. Bahkan seperti rutinitas. Hutan Jati itu seperti ingin menunjukkan sesuatu padaku.

Dulu, kala kakung masih sugeng (hidup) dengan beliaulah aku sering bercerita, mengungkapkan segala hal yang aku lihat. Kakung selalu tekun menyimak. Dan yang paling seru, tak bosan-bosannya beliau menceritakan perjuangan rakyat Madiun kala merebut kemerdekaan dari tangan penjajah.

Sejak beliau tiada, aku kehilangan teman bertukar pikiran. Bapak dan Ibu kurang mau menanggapi setiap ceritaku. Seringnya beliau berkata, “Sudah jangan dipikirkan.”

Sayangnya, semakin dilarang aku semakin penasaran. Seperti pagi ini, saat selesai mencuci dan sedang menjemur pakaian di halaman belakang yang menghadap langsung ke arah hutan jati, mataku menangkap bayangan sesosok laki-laki yang sedang mengintipku dari balik pohon.

Deg … penasaran aku balik menatapnya. Daan … di luar perhitunganku, lelaki itu malah menampakkan sosoknya dengan jelas. Membuatku tercekat dan mundur beberapa langkah dengan mata terbelalak tak percaya.

Dalam jarak kurang dari sepuluh meter, terlihat sesosok laki-laki berbaju khas pejuang zaman dahulu sedang menatapku dengan sorot mata menghiba. Bajunya berlumuran bercak merah, dan … Astaghfirullah … di leher lelaki itu terdapat bekas sayatan melingkar benda tajam yang terus mengucurkan darah. Demikian juga pelipisnya. Darah kering menggumpal menutupi separuh wajahnya. sangat menyeramkan.

Aku bagai terhipnotis, terus saja lekat memandangnya. Hingga tiba-tiba dia melambaikan tangan, memintaku untuk mendekat.

Perlahan aku berjalan, baju basah yang hendak kujemur terlepas begitu saja. Lelaki itu tersenyum. Terus melambai dan memanggilku dengan suaranya yang serak, “Gayatri ….”

Part selanjutnya akan terbit tgl 30 Mei 2020

Penulis: Nirmala Ayu

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here