Will You Marry Me #27

0
147
views

Setelah beberapa kali berkeliling, Daisy mulai terlihat tenang. Ia seolah mengerti Ardi telah menjadi majikannya.

“Sepertinya Daisy sudah rela kau tunggangi,“ seru Anna sambil tersenyum, “Coba kau mulai kendalikan dia sendiri.” Lanjutnya sambil melangkah mundur membiarkan Ardi berkendara sendirian.
“Kau sentuh perutnya perlahan dengan kakimu, dia akan berjalan pelan-pelan. Aku akan mengikuti kalian.” Tuturnya lagi.
Ardi mengikuti arahan Anna. Disentuhnya perut kuda itu, dan Daisy pun mulai melangkah perlahan-lahan.

Anna mengikuti sambil menjaga jarak dengan Ardi dan kuda yang ditungganginya. Rupanya Daisy memang kuda penurut yang sudah terlatih. Ardi tidak mengalami banyak kesulitan mengendalikannya.
“Ah. Kau sudah mahir menunggang kuda sekarang, “ Teriak Anna,”Tunggu aku menyusul.” Serunya lagi seraya berlari ke arah shadowfax lalu dengan lincah melompat kepunggungnya. Dibawanya kuda itu menyusul Ardi. Kini berdua mereka berkuda berputaran.

Ardi menemukan sisi lain dari calon istrinya. Selama ini hanya satu kali ia melihat Anna melakukan aktifitas fisik, ketika mereka berada di arena bermain. Namun saat menungang kuda, Anna juga ternyata sangat tangkas dan lincah.

“Hey, kau mau berkuda keluar?” Tanya Anna, setelah mereka berputaran beberapa kali.
“Boleh.” Sahut Ardi.
“Ayo ikuti aku. “ Ajak Anna.
Ia membawa Shadowfax keluar lapangan, Ardi mengikutinya. Mereka menyusuri jalan diantara taman, kemudian menuju jalan di samping kanan rumah.

Jalan di samping, antara rumah dan tembok pagar itu cukup lebar untuk memungkinkan mobil berputar balik. Di sebelah menyebalah tampak berjejer pohon palem di sela-sela taman yang rapi di sepanjang jalan. Ardi megamati pohon bunga di taman samping itu didominasi oleh bougenville beraneka warna.

Beberapa puluh meter kemudian, mereka tiba di gerbang samping. Seorang petugas keamanan melompat dari pos di dekat gerbang.
“Mau keluar, Non?” Tanyanya pada Anna.

“Iya Pak. Tolong bukakan pintunya, ya,” pinta Anna.
Pekerja itu mengangguk tanda mengerti. Gerbang itu rupanya tidak dikunci, Ardi menduga Anna pasti sering lewat di gerbang samping itu.
Di luar pagar ada jalan kecil yang memisahkan pagar dengan kebun jagung yang cukup luas. Mereka berdua berjalan perlahan menyusuri jalan disamping pagar, membelakangi rumah Anna.

“Kita jalan pelan-pelan saja.” Kata Anna.
Matahari sudah mulai naik. Namun di daerah pegunungan itu tidak terasa panas. Angin berhembus lembut menyegarkan. Cahaya matahari tampak memantul dari pipi Anna. Ardi masih merasa apa yang dia alami sampai saat ini seperti di alam dongeng.

“Pintu samping itu tidak pernah dikunci?” Tanya Ardi.
“Tidak.” Sahut Anna, “Petugas keamanan semuanya hanya berjumlah 9 orang, dibagi 3 grup. Mereka bergantian jaga setiap 8 jam.”
“Daerah ini cukup aman.” Tutur Anna lagi, “Kami berhubungan baik dengan warga desa di sekitar sini. Tanah yang dijadikan kebun ini masih terhitung milik ayah, tapi ayah menyerahkan pada penduduk desa untuk mengolahnya. Begitu pula dengan tanah yang di sebelah barat rumah. Aku suka turun ke kebun, utamanya kalau waktu panen.” Lanjutnya lagi.
Ardi melihat di sebelah timur kebun jagung itu masih terdapat kebun sayur dan kacang-kacangan. Di ujungnya dia juga bisa melihat beberapa rumah milik warga desa. Mereka berbelok di ujung selatan memutari kebun, menjauhi rumah. Daerah di samping kebun sebagian besar masih berupa hutan. Tampak ada jalan kecil menembus ke dalam hutan.

“Ayah dulu suka berburu. Di dalam hutan sana masih ada babi hutan. Toni dan Andre selalu diajak. Kalau Toni sepertinya memang suka juga berburu. Tapi kalau Andre, aku rasa dia terpaksa.” Anna bercerita.
“Kau sendiri?” Tanya Ardi. Ia membayangkan calon istrinya menunggang kuda memegang senapan buru. Pasti seperti jagoan wanita dalam film-film cowboy.

“Aku sesekali ikut dengan mereka. Aku lebih suka jalan-jalan di hutan itu, tapi tidak suka berburu. Aku kasihan belihat babi hutan yang ditembak. Walaupun kadang mereka suka mengganggu kebun warga.” Sahut Anna sambil tersenyum.

Ardi sudah menduga, walaupun tangkas, lincah dan semaunya, tapi pada dasarnya Anna seorang yang lembut.

“Hanya ayah kadang keras, suka memaksa. Kami anak-anaknya diharuskan belajar menembak, supaya dapat sertifikat dan mendapat ijin memiliki senjata api.” Lanjut Anna lagi.

“Oh. Kau bisa menggunakan senjata api?” tanya Ardi.
“Aku pernah belajar, tapi sudah lama sekali aku tidak pernah menggunakannya.” Jawab Anna, “Kau sendiri?” tanyanya kemudian.
Ardi tertawa kecil, “Hehehe. Melihat pistol sungguhan saja aku belum pernah.”

“Kau bisa juga belajar kalau mau. Ayah punya teman polisi, guru menembak. Toni bahkan ikut di klub menembak asuhannya.” Tutur Anna lagi.

Ardi hanya tersenyum. Ia tidak tahu apakah penting baginya harus bisa menggunakan senjata api.
“Hey, kapan-kapan kita bermain ke dalam hutan sana. Jalan masuk kesana bisa juga dilewati kuda.” Kata Anna lagi.
“Sepertinya menyenangkan.” Sahut Ardi, lalu ia melanjutkan dalam hati, “Tentu saja, taman kecil yang pernah kita kunjungi di kota saja terasa menyenangkan kalau bersamamu.” Tanpa sadar ia tersenyum.
“Kenapa kau tersenyum sendirian?” tiba-tiba Anna yang berkuda di sampingnya bertanya.

“Eh, tidak, “ Ardi tersentak, senyumnya melebar “Aku hanya menikmati perjalanan ini. Berkuda ternyata asyik juga, apalagi udara di tempat ini amat segar.”

“Aku senang kau juga suka berkuda,” Anna balas tersenyum, “Tapi sepertinya hari mulai siang. Ayo kita coba berlari memutari kebun ini, lalu kembali ke rumah melalui pintu depan.” Ajak Anna, “jangan terlalu cepat, tidak perlu berpacu.”

Ardi mengangguk setuju. Anna berjalan mendahului dan mulai meyuruh shadowfax berlari. Ardi menekan perut daisy sedikit lebih keras. Kuda itu mengerti dan berlari menyusul shadowfax di depannya.

Ardi melihat Anna melambaikan tangan pada setiap warga desa yang dilewatinya, dan mereka membalas lambaian Anna sambil tersenyum. Rupanya gadis itu cukup dikenal akrab oleh penduduk di sekitar sini.
Mendekati pintu gerbang, mereka melewati lagi seorang warga yang tengah duduk dipinggir kebun memakai caping yang cukup lebar. Ardi merasa orang itu terus memperhatikan mereka berdua dari jauh. Namun ketika Anna mendekat dan melambaikan tangan, orang itu malah menundukkan kepala.

Ia merasa ada sesuatu yang tidak pada tempatnya ketika melihat orang itu. Tapi ia tidak dapat mnejelaskan kenapa. Sepintas, orang itu tak ubahnya petani kebanyakan.

Tak lama kemudian, keduanya sampai di istal dan mengembalikan kuda-kuda mereka ke kandang. Sambil berjalan ke rumah, Ardi masih sempat bertanya.

“Kau kenal petani yang kita lewati sebelum masuk gerbang tadi?” tanya Ardi.

“Hahaha. Tentu saja aku tidak bisa mengenali semua orang desa.” Anna tersenyum geli mendengar pertanyaan Ardi, “Emangnya kenapa?” Tanyanya kemudian.

“Ah. Tidak apa-apa.” Sahut Ardi, “Aku hanya melihat cuma orang itu yang tidak membalas lambaian tanganmu.”
Anna tertawa lagi, “Tentu saja tidak semua orang juga mengenalku. Yang aku kenal biasanya yang mengerjakan tanah ayahku saja, karena aku suka ikut mereka di kebun. Mungkin saja yang menggarap tanah di tempat lain tidak mengenalku.”

Ardi hanya balas tersenyum. Ia tidak menyahut, tapi ia masih memikirkan orang itu. Ibarat melihat angka-angka dalam tabel atau data, sekali melihat Ardi bisa mengenali jika ada diantar angka-angka itu tidak sesuai dengan yang lain. Dan biasanya ia akan terus teringat sampai ia bisa mendapat penjelasan tentang ketidaksesuaian itu.

Saat ini pikiran yang sama ia rasakan ia melihat orang itu. Tapi lagi-lagi ia sendiri tidak bisa menjelaskan kenapa.

“Ah. Mungkin hanya pikiranku saja yang berlebihan. Mungkin memang seperti penjelasan Anna, tentu ada warga desa yang memang belum mengenal keluarga ini.” Batin Ardi. Tapi dalam hati ia sendiri tidak yakin dengan penjelasan ini.

“Kita bisa bersih-bersih dulu sebelum makan siang. Ayah katanya akan ikut makan bersama kita, sekalian menunggu Robert.“ Tutur Anna.
Ardi mengangguk, “Baik.” Sahutnya singkat.

Ardi belum mengetahui siapa Robert. Tapi sepertinya posisi dia di perusahaan cukup tinggi, bahkan lebih tinggi dari Pak Indra, atasannya. Mungkin juga orang itu pernah berkunjung di kantornya yang lama, namun karena level dia sendiri hanya staf biasa, ia tidak mendapat kesempatan bertemu.

Mereka berpisah menuju kamar masing-masing. Kemudian ketika memasuki kamar, pikiran Ardi teringat kembali kepada petani yang dilewatinya barusan.

“Ah, ya, “ ia tersadar, “Aku baru ingat, petani itu duduk dengan cangkul yang diletakkan di samping. Hari sudah siang, harusnya dia sedang istirahat sehabis bekerja. Tapi aku yakin, cangkulnya masih bersih seperti belum dipakai.”

“Kalau dia bukan petani sungguhan, apa yang ia lakukan dekat pintu gerbang? Mengamati rumah ini? Siapa yang dia amati? Apa tujuannya?” otak Ardi penuh dengan pertanyaan.

“Ah. Aku sendiri belum mengenal daerah ini. Mungkin saja ia petani sungguhan. Coba besok aku lewat lagi di situ untuk melihat apakah orang itu masih ada seperti hari ini.” Pikirnya lagi.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Bersambung

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here