Will You Marry Me #26

0
1231
views

SURABAYA

Andre dengan setia menunggui istrinya yang tergolek lemah diatas tempat tidur rumah sakit, sementara sebuah selang infus menancap di pergelangan tangannya. Lewat tengah malam wajah Susan yang sebelumnya pucat pasi kini mulai membayang rona kemerahan.

Hatinya mulai terasa tenang, apalagi menurut keterangan dokter, urat nadi yang terpotong tidak sampai terlalu dalam. Kemungkinan karena rasa sakit, Susan melepaskan irisannya sebelum menjadi lebih parah. Secara fisik istrinya akan pulih dalam satu atau dua hari. Hanya saja disarankan untuk juga memeriksakan kesehatan mental istrinya ke psikolog.

Andre bergeser mendekati bibir pembaringan ketika dilihatnya jemari Susan bergerak. Selanjutnya bibir Susan ikut bergerak dan perlahan-lahan ia membuka matanya. Andre membelai dahi Susan dengan lembut.

Susan menoleh kearahnya, “Apakah aku sudah mati?” desisnya lirih.

“Tidak. Aku masih bersamamu disini,” Kata Andre lembut. Tangannya masih membelai dahi dan rambut istrinya.

“Aku sudah tidak tahan lagi. Lebih baik aku mati saja.” Desah Susan.

Hati Andre tersayat perih mendengar kata-kata istrinya. “Kau tidak perlu bicara begitu.” Bujuk Andre.

“Aku sudah putus harapan. Orang-orang itu terlalu sering meneror-ku, sementara aku sendiri tidak tahu bagaimana harus keluar dari masalah ini.” Susan mulai terisak.

“Aku berjanji akan menyelesaikan masalahmu. Aku akan menemui ayah dan aku akan berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan uang itu agar hutang-hutangmu bisa dilunasi.” Sahut Andre

“Kau yakin?” tanya Susan.

Andre mendengar suara Susan bernada pengharapan. Ia tersenyum meyakinkan istrinya, “Aku yakin.”

“Waktuku untuk bisa membayar hutang-hutang itu tidak lama lagi.” Desah Susan

“Aku akan secepatnya menghadap ayah. Tapi aku ingin memastikan keadaanmu lebih dulu.” Sahut Andre.

Sesaat Susan menarik nafasnya. Matanya menerawang ke langit-langit kamar rumah sakit. Lalu ia berkata,“ Kalau kau bisa mengupayakan ayah untuk membantu, aku rasa aku akan baik-baik saja.” Kata Susan, kemudian ia berkata lagi, “Bagaimana kalau besok saja kau pergi untuk bertemu dengan beliau?”

Andre mengerutkan kening, “Aku rasa kau masih perlu beristirahat.”

Susan menggeleng,“ Aku rasa setelah mendengar keyakinanmu, aku merasa lebih kuat.” Katanya sambil menoleh kearah Andre dan tersenyum, kemudian ia melanjutkan, “Bahkan besok aku ingin pulang saja. Aku tidak suka berada disini.”

Andre berusaha membantah, “Disini ada yang merawatmu, bagaimana kalau dirumah nanti?”

“Aku mengerti keadaanku sendiri, aku yakin akan baik-baik saja. Bukankah aku dulu seorang perawat?” Sahut Susan.

“Dokter mengatakan paling tidak satu hari ini kau harus dirawat. Kalau sudah betul-betul pulih, baru bisa pulang.” Kata Andre, tegas.

Untuk sesaat Susan tertegun. Belum pernah suaminya setegas ini, apalagi sampai harus berbantah dengannya. Ia memang sudah tidak sabar menunggu Andre mendapatkan keberanian menghadap ayahnya. Ia harus mencari cara untuk ‘mendorong’ suaminya itu mendapatkan uang yang ia butuhkan. Tapi ia juga tidak mau jika dengan ‘dorongan’ ini kemudian Andre menemukan keberanian, tapi sekaligus lepas dari kontrol.

“Tapi aku tidak mau sendirian di sini.” desah Susan.

“Jangan khawatir, aku akan terus ada di dekatmu.” Sahut Andre.

Susan tersenyum menganggukkan kepala. Selanjutnya ia berkata, “Kalau begitu, aku masih mau tidur lagi.”

“Tidurlah. Aku akan menemanimu disini.” Andre berkata.

Andre terus memandangi wajah istrinya yang mulai kembali tertidur. Saat-saat mereka berbagi perhatian ini mengingatkan ia akan masa-masa manis kala mereka baru berkenalan sampai saat awal pernikahan mereka. Dan Susan berjanji akan kembali kemasa seperti itu, jika ia bisa melepaskannya dari masalah yang sekarang ini ia alami.

Ia memang harus mendapatkan uang itu. Bagaimanapun caranya.

JAKARTA

“Kau sarapan roti ya?” Tanya Anna ketika melihat Ardi memasuki ruang makan.

Ardi tersenyum dan mengangguk. Dilihatnya Anna memasukkan beberapa lembar roti ke dalam pemanggang.

“Sini aku bantu.” Sahut Ardi.

“Tidak usah, kau duduk saja” Balas Anna sementara tangannya sibuk menata roti.

Ardi menurut walaupun dia masih merasa canggung dilayani seperti itu. Ia mengambil salah satu kursi di meja makan. Memperhatikan calon istrinya yang tengah sibuk menyiapkan sarapan.

Pagi itu Anna berpenampilan sedikit berbeda. Ia memakai topi putih, kaus berwarna biru, celana panjang dan rambutnya diikat ke belakang.

“Habis sarapan aku mau mengajakmu bertemu teman baikku.” Anna berkata lagi sambil meletakkan sepiring roti bakar.

“Oh ya. Dimana ia tinggal?” Tanya Ardi.

“Di sini, di belakang.” Jawab Anna seraya menuangkan susu ke dalam gelas lalu diserahkannya pada Ardi.

Ardi tidak bertanya lebih lanjut. Mungkin saja Anna berkawan dengan salah satu karyawan di rumah ini.

Selesai sarapan, Anna mengajaknya keluar melalui pintu belakang. Ardi baru menyadari bahwa pekarangan belakang rumah itu amat luas. Beberapa petak taman tampak terawat rapi. Sementara beberapa pohon besar yang menghiasi pekarangan itu membuatnya terasa sejuk dan rindang.

“Di sebelah sana itu bengkel, terus yang disampingnya itu menara untuk menangkap sinyal. Di daerah pegunungan sini, sinyal telekomunikasi memang tidak bisa ditangkap secara langsung. Harus di-rely melalui menara itu“ Tutur Anna sambil menunjuk sebuah bangunan di sebelah kanan.

Ardi melihat gadis itu lebih ceria pagi ini, membuat suasana terasa bertambah cerah. Ia sudah tidak ragu lagi menggenggam tangan Anna. Mereka berjalan bergandengan menyusuri jalan kecil di sela-sela taman bunga.

Di bagian belakang pekarangan terdapat sebuah lapangan berpagar rendah yang cukup luas dan di sebelah kiri tampak sebuah bangunan. Anna membawa Ardi memasuki bangunan itu, yang ternyata sebuah istal, kandang kuda.

“Halo shadowfax!” Seru Anna sambil menghampiri seekor kuda berwarna putih yang cukup besar.

“Dia ini teman baikku. Setiap hari aku menemuinya.” Anna berkata kepada Ardi.

Shadowfax meringkih pelan dan menurunkan lehernya. Kemudian Anna memeluk kuda itu dan membelai surainya yang lebat. Kuda itu seluruhnya berwarna putih, termasuk surai dan ekornya. Otot-ototnya tampak kuat dan kekar
Ardi berjalan mendekati shadowfax, mencoba membelai kuda itu. Tapi di luar dugaan, Shadowfax meringkih dan mengangkat lehernya, seolah tidak senang dengan kedatangan Ardi.

“Oh. Rupanya dia belum mengenalmu,” Kata Anna sambil tertawa.

Ardi ikut tertawa, “Aku rasa ia cemburu.”

“Shadowfax memang suka kurang ramah dengan orang lain, tapi ia sangat penurut padaku.” Kata Anna lagi.

“Apakah dia bisa berlari secepat kuda kepunyaan Gandalf?” Tanya Ardi teringat seorang tokoh dalam kisah Lord of the Ring.

Anna tertawa lagi, “Dia bukan kuda pacu. Aku hanya suka dengan nama itu.” Sahutnya.“Aku belum pernah ikut pacuan kuda, tapi aku rasa dia cukup cepat. Kadang aku suka membawanya keluar sampai ke desa di ujung sana.”

“Toni, kakak sulungku yang pernah ikut klub kuda pacu. Dia pernah beberapa kali menang lomba.” Tutur Anna melanjutkan,” Tapi sekarang sudah tidak lagi, dia sudah sibuk dengan pekerjaannya.”

Ardi sudah pernah mendengar sebelumnya kalau anak pertama pemilik perusahaan tempat ia bekerja ditempatkan menjadi direktur cabang di Hong Kong.

“Cuma Andre, kakakku yang kedua, yang tidak pernah berminat dengan kuda,” Kata Anna lagi.

Ardi juga sudah tahu kalau kakak Anna yang kedua ini memimpin kantor cabang Surabaya.

“Eh. Kau pernah menunggang kuda?” Tiba-tiba Anna bertanya.

Ardi tersenyum, “Pernah.”Jawanya, “Tapi tidak sebesar ini. Waktu kecil dulu, di desa aku pernah mencoba naik kuda. Tapi kuda penarik gerobak.”

Anna tertawa, “Hahaha. Tentu tidak jauh beda,” Katanya, “Hari masih pagi, ayo kita menunggang kuda.” Lalau tanpa menunggu jawaban Ardi, ia berjalan menghampiri kandang disebelah shadowfax,
“Kau bisa pakai Daisy. Kalau dia ini kuda yang ramah, cepat bergaul dengan siapa saja.”Anna berkata sambil membelai leher seeokor kuda yang juga berwarna putih, namun surai, ekor dan bawah kakinya berwarna kemerahan.

Ardi menghampiri Daisy dan mencoba membelai leher kuda itu. Betul saja, tidak seperti Shadowfax, Daisy membiarkan Ardi membelai lehernya.

“Kau bisa memasangkan pelana?” Tanya Anna lagi.

Ardi menggeleng sambil tersenyum, “Dulu aku naik kuda tanpa pelana.” Sahutnya.
“Kalau begitu, mari aku tunjukkan caranya.” Anna berkata. Lalu ia mengambil sebuah pelana dan perlengkapan lain.

Ardi memperhatikan Anna memasang pelana, tali kepala, tali kekang dan bagian lain. Ia kagum melihat calon istrinya itu begitu cekatan memasaang semua alat perlengkapan berkuda.Selesai dengan Daisy, selanjutnya Anna memasang pelana untuk Shadowfax. Selanjutnya kedua kuda itu dituntun keluar menuju lapangan.

“Kau naiklah dulu, aku pegangi Daisy.” Tutur Anna.

Ardi mengangguk. Ia mengerti, Anna perlu menjaga kuda itu agar tidak kaget sewaktu ia menaikinya. Dengan berpijak pada sanggurdi, Ardi melompat naik keatas punggung Daisy. Sesaat kuda itu tersentak, namun Anna dengan sigap menahan tali kekang kuda, sambil menepuk-nepuk leher kuda itu dengan lembut untuk menenangkannya.

“Rupanya kau masih harus berkenalan lebih banyak dengan Daisy.” Kata Anna sambil tertawa kecil, “Biar ku tuntun dia berkeliling beberapa kali supaya terbiasa.

Lalu tanpa menunggu persetujuan Ardi dia mulai menuntun Daisy berjalan. Ardi berusaha mempertahankan keseimbangan tubunya mengikuti irama berjalan kuda itu.

Ia tersenyum sendiri teringat kisah pangeran dan putri yang pernah dilihatnya. Hanya saja situasinya terbalik, harusnya sang Pangeran lah yang menuntun kuda sementara sang Putri naik diatasnya. Ia merasa canggung, namun karena dilihatnya Anna begitu bersemangat, ia ikuti saja semua arahan calon istrinya itu.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here