Will You Marry Me #25

0
78
views

SURABAYA

Sepanjang perjalanan pulang dari kantor, perasaan Andre gelisah tanpa ia mengerti. Ia memang belum bisa mendapatkan keberanian pergi menghadap ayahnya untuk menyelesaikan masalah Susan. Namun kegelisahan yang dirasakannya terasa lebih dari biasa.

Dengan lega dilihatnya mobil istrinya terparkir di garasi. Selesai menyimpan mobil, Andre langsung memasuki rumah yang terasa lebih sepi, tidak tampak tanda-tanda keberadaan istrinya. Ia bergegas menaiki tangga menuju kamar.

“Susan!!” pekik Andre sesaat setelah ia membuka pintu kamar.

Alangkah terkejutnya ia mendapati Susan tergeletak tak bergerak di lantai. Darah berwarna merah gelap masih mengucur dari pergelangan tangan, sementara sebatang pisau berlumuran darah tergeletak disampingnya.

Andre berlari mendekap istrinya. Dirasakan tubuh itu masih hangat, lalu dirabanya leher Susan. Ia merasa sedikit lega merasakan denyutan lemah di leher itu. Cepat ia mengeluarkan ponsel untuk menelepon ambulan. Setelah itu ia menyambar handuk yang tergeletak di atas kursi untuk ditekankan di atas luka istrinya.

Perlahan darah yang mengalir mulai berhenti, dan handuk itu telah menjadi basah dengan darah. Andre tetap memeganginya, sambil menjaga tangan susan lebih tinggi dari posisi jantung.

“Susan…” Andre berbisik di telinga istrinya. Susan tidak bergerak, wajahnya tampak pucat namun nafasnya masih mengalir pelan. Setitik harapan tumbuh bahwa istrinya masih dapat diselamatkan.

Dibelainya rambut Susan dengan penuh kasih, sementara Andre merasakan air mata mulai tergenang di pelupuk matanya. Ia memang belum memenuhi keinginan susan meminta bantuan ayahnya, namun sedikitpun ia tidak menyangka istrinya akan berbuat senekat ini.

Hatinya bergejolak, selama ini ia merasa tidak ada orang lain yang lebih peduli selain Susan. Kini istrinya tergeletak tak berdaya, tanpa bisa dipastikan bisa selamat atau tidak. Dan tindakan Susan dikarenakan dirinya yang tidak mampu membantu mengatasi masalah.

Andre mengatupkan gigi rapat-rapat. Jarang sekali ia bisa merasakan amarahnya naik seperti sekarang. Tapi Susan adalah pusat kehidupannya. Ia bertekad akan melakukan apapun agar Istrinya selamat dan terlepas dari masalah. Ini berarti ia harus secepatnya menemui sang Ayah.

——
Di kediaman Hardian Chandranaya, Ardi baru saja menyelesaikan makan malam bersama Anna. Sesuai rencana, selesai makan mereka beranjak menuju ruang kerja ayah Anna itu.

“Kau tunggu disini, aku akan panggil ayah.” Anna berkata sambil menyediakan sebuah kursi di depan meja kerja ayahnya. Ardi mengangguk dan duduk di kursi yang sudah disediakan, sementara Anna kemudian berjalan menuju pintu yang terhubung dengan kamar ayahnya.

Ruang kerja itu tidak terlalu besar. Selain meja kerja dihadapannya, Ardi melihat sebuah meja lagi yang kemungkinan merupakan meja kerja Anna. Dinding ruangan dipenuhi gambar peta yang menunjukkan rute-rute pelayaran yang dikelola perusahaan. Di salah satu sisi tampak sebuah rak kaca penuh berisi replika kapal kargo.

Tak lama kemudian Anna kembali memasuki ruangan bersama ayahnya. Ardi bangkit berdiri sambil mengangguk hormat. Ia pernah melihat profil Hadrian Chandranaya beberapa kali di media. Walau telah melewati usia 60 tahun dan diberitakan kesehatannya mulai terganggu, namun terlihat orang tua ini tampak cukup segar. Rambut yang hanya tersisa di bagian sisi kepalanya sudah tampak memutih, demikian juga kumis dan alisnya.

“Duduklah!” Katanya pada Ardi, lalu kepada Anna ia berkata, “Aku mau bicara berdua dengan anak ini. Kau pergilah dulu ke kamarmu.”

Anna menangkat wajahnya, “Aku disini saja, Ayah.” Katanya mencoba membantah.

“Heh. Ini ada lelaki yang akan melamarmu, sebaiknya kau tidak disini. Kau pergi dulu sana.” Berkata Hardian Chandranaya, lalu sebelum Anna sempat membalas, ia melanjutkan,”Kau tidak usah khawaitr. Anak ini tidak akan aku apa-apakan.”

Dengan wajah merengut Anna bangkit dari dari duduknya, kemudian berlalu tanpa mengucapkan sepatah kata.

Setelah putrinya pergi, Hadrian Chandranaya berpaling ke arah Ardi,“Sekarang kau katakan, apa tujuanmu menemuiku,”Katanya, dingin.

Ardi mengumpulkan segenap keberaniannya,“Dengan segala kerendahan hati, saya menghadap Bapak untuk meminang Anna, putri Bapak menjadi istri saya,”

“Huh,” Orang tua itu mendengus, lalu dengan nada tajam bertanya“Apa yang kau punya hingga berani melamar putriku?.”

Ardi tertegun sejenak. Pertanyaan itu juga sesungguhnya yang selalu menjadi beban pikirannya. Ia memang belum punya bekal apapun untuk melamar anak orang. Justru semata-mata sikap Anna lah yang menjadi dasar keberanian untuk menghadap ayahnya ini. Kini ketika pertanyaan ini betul-betul muncul, ia sendiri menjadi bingung harus menjawab apa.

“Saat ini saya memang tidak punya apa-apa, Pak. Bahkan saya hanya karyawan tingkat paling rendah di perusahaan yang Bapak miliki. Saya juga hidup seorang diri, sehingga saya tidak bisa meminta siapapun untuk mewakili saya meminang putri Bapak.” Akhirnya Ardi berkata.

“Lalu, atas dasar apa kau berani meminta putriku satu-satunya?” potong ayah Anna itu sebelum Ardi selesai menjelaskan.

“Putrimu itulah yang lebih dulu memintaku jadi suaminya.” Dalam kebingungan mencari jawaban, hatinya berteriak. Namun Ardi sadar tidak mungkin ia mengatakan hal ini.

Setelah terdiam sesaat ia berkata, “Saya memang baru mengenal putri Bapak selama sekitar sebulan. Bahkan baru hari ini saya paham kalau Anna sebetulnya adalah putri pemilik perusahaan tempat saya bekerja.” Tutur ardi, “Namun dari perkenalan itu, saya dan putri Bapak sudah saling memahami dan merasa cocok satu sama lain.”

Ardi berusaha mengatur nafasnya, kemudian sebelum penjelasannya terpotong lagi, cepat ia melanjutkan, “Putri Bapak adalah seorang yang luar biasa. Dia tidak pernah bercerita kalau ia adalah anak dari salah satu orang terkaya di negeri ini. Selama saya mengenalnya, Anna selalu bisa menyesuaikan dengan gaya hidup saya. Sikap Putri Bapak lah yang memberi keyakinan bahwa saya harus memperjuangkan dia menjadi pendamping hidup saya. Tentu saja sebagai konsekuensinya saya akan berusaha membahagiakan Anna, bagaimanapun caranya.”

“Hmm… anak muda jaman sekarang memang suka berbuat seenaknya saja.”Hardian Chandranaya berkata.

Nada orang tua itu agak berubah, Ardi merasa perkataan barusan seolah tidak ditujukan untuk dirinya seorang.

“Aku tidak suka terlalu berbasa-basi, sebetulnyanya cerita tentangmu sudah kudengar sebelumnya dari Anna. Aku juga tahu putriku itu lah yang lebih dulu memintamu jadi suaminya. Hmmm…” Ia bergumam, lalu sesaat terdiam seolah memikirkan sesuatu kemudian melanjutkan, “Kadang anak itu memang bertindak semaunya sendiri.”

Dada Ardi masih berdebar-debar, ia masih belum mengerti arah perkataan ayah Anna ini.

“Putriku itu sebetulnya lahir karena keinginanku. Aku dan almarhum istriku pernah memutuskan untuk tidak mempnyai anak lagi setelah mendapatkan dua orang putra.” Ayah Anna berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “ Namun kemudian aku menginginkan seorang putri, sampai akhirnya lahirlah Anna. Itulah makanya usia dia berselisih agak jauh dengan kedua kakaknya.”

“Sudah barang tentu aku mengharapkan yang terbaik bagi putriku satu-satunya itu.” Lanjut Orang tua itu lagi, “Terus terang, aku sudah pernah mengenalkan Anna pada putra beberapa rekan usahaku. Tapi rupanya dia tidak berminat, malah sekarang ternyata dia memilih kau.”

Ardi melihat orang tua itu mendesah dan kemudian menarik nafas panjang. Ada rasa khawatir kalau ia menyesali pilihan putrinya.

“Aku sudah melihat laporan pekerjaanmu. “ Ayah Anna itu berkata lagi, “Terus terang aku yang sebetulnya menyuruh Indra memberikan tugas itu. Tentu saja aku ingin tahu kemampuan laki-laki yang tiba-tiba saja dituju oleh anakku.”

“Aku sempat ragu, “Pandangan orang tua itu lekat menatap Ardi, seolah betul-betul ingin mengukur kelayakan anak muda yang telah berani melamar putrinya, “Tapi kau rupanya punya potensi juga. Perhitunganmu cukup matang, apalagi untuk ukuran seseorang yang masih terhitung baru. Aku juga mendengar dari Indra kau sudah bekerja cukup keras untuk menyelesaikan tugas itu.”

“Aku pikir, apa yang kau tulis dalam laporan itu layak diterapkan, aku berharap kau sendiri yang nanti menjalankannya. Tapi untuk itu masih ada beberapa hal yang perlu kau pelajari lebih lanjut.”

“Besok siang, Robert, asistenku akan datang. Dia bisa mengajarimu, kau tidak usah kembali ke kantor Jakarta. Aku akan minta Indra mentransfermu kemari. Kau juga bisa bertanya pada Anna apa saja yang dikerjakan di kantor ini.” Lanjutnya lagi.

“Baik Pak.” Akhirnya ia hanya menjawab singkat. Tapi ia masih belum bisa memastikan jawaban Orang tua di hadapannya ini akan lamaran untuk puttrinya.

“Mengenai permintaanmu, aku akan mengikuti kemauan putriku.” Seolah mendengar isi hati Ardi, Ayah Anna itu berkata lagi.

Hati ardi seakan bersorak mendengar perkataan Ayah Anna yang terakhir. Terasa betapa semua beban didadanya seolah terangkat. Darahnya mengalir lebih lancar. Suasana disekelilingnya menjadi terasa cerah ceria. Nafasnya yang selama ini terasa berat menjadi sangat ringan. Namun sekuat tenaga ditahannya agar ia tidak sampai tersenyum.

“Saya sangat berterima kasih atas restu Bapak.” Ardi berkata. Walaupun sudah berusaha, suaranya tetap bergetar.

Hardian Chandranaya tidak menjawab, ia mengangkat telepon di atas meja, “Aku sudah selesai, kau bisa kembali ke sini.” Ujarnya. Ia berbicara untuk memanggil Anna.

“ingat, Kau belum resmi menjadi menantuku.” Kata Orang tua itu beralih pada Ardi lagi, “Dan aku punya aturan sendiri akan hubungan laki-laki dan perempuan yang tidak boleh dilanggar. Terutama oleh anak-anakku sendiri. Aku rasa kau paham maksudku.”

“Saya mengerti, Pak.” Ardi menjawab sambil membungkukkan badannya.

Tak berapa lama Anna muncul, kepalanya masih tertunduk.

“Aku sudah selesai, “Kata Ayah Anna pada putrinya, “Kau lihat dia masih utuh.” Katanya lagi.

Anna hanya tersenyum tipis sambil melirik Ardi, kemudian cepat-cepat menyambut ayahnya ketika melihat orang tua itu bangkit dari tempat duduk. Ardi ikut berdiri dari kursinya, terlihat Anna menoleh ke arahnya sambil menganggukan kepala. Tanpa berkata, Ardi mengerti maksud Anna.

Tak lama kemudian gadis itu kembali ke ruang kerja menghampiri Ardi.

“Ardi, kau istirahat dulu ya,” katanya. “Malam ini aku mau menemani ayah.”

Ardi mengerti, sambil tersenyum ia menganggukan kepala.

“Hey. Bajumu basah.” Tiba-tiba Anna berkata.

Secara refleks Ardi meraba bajunya. Rupanya tanpa disadari, dari tadi bajunya basah kuyup oleh keringat.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here