Will You Marry Me #24

0
81
views

HONG KONG

Sore itu Toni mengikuti Raymond berjalan memasuki lobi hotel Peninsula, hotel terbesar yang berada dekat dengan pelabuhan Victoria. Sudah seharian ini dia bersama tangan kanan Song Zuomin itu mempersiapkan ‘White Flower’ untuk membawa 1500 kontainer barang-barang mereka yang akan dikirim ke Jakarta. Semua kru kapal yang dipilih Song juga sudah bersiap dan mulai menempati kapal.

Baru ketika pekerjaan selesai, Raymond mengatakan bahwa Song sudah datang di Hong Kong dan meminta Toni untuk bertemu. Rupanya sang Big Boss berkepentingan turun gunung untuk langsung mengawasi pengiriman itu. Walaupun terselip sedikit rasa jeri untuk bertemu dengan Song, namun ia tidak bisa mengelak permintaan itu.

Mereka naik ke lantai 6 menuju ke salah satu ruang pertemuan. Di dalam ruangan itu tampak Song tengah berbicara dengan beberapa orang.

“Ah, kau sudah datang Toni. Duduklah.” Song mempersilahkan ketika melihat mereka memasuki ruangan.

Toni mengambil salah satu kursi di sekeliling meja pertemuan dengan dada berdebar-debar. Sikap Song masih ramah seperti dulu. Orang tidak akan menyangka kalau orang ini sorang boss Triad yang ditakuti.

“Bagaimana kabarmu?” tanya Song lagi.

“Hidupku bagai di neraka karena ulahmu,” batin Toni. Namun ia sadar bahwa ia harus bersikap tenang. “Saya baik-baik saja Mr. Song, terima kasih.” Jawabnya pendek.

“Bagus! Aku senang mendengarnya,” kata Song sambil tersenyum, “Aku tahu di antara kita pernah ada sedikit salah paham, tapi hari ini baiknya kita lupakan semua. Ada beberapa orang yang ingin aku perkenalkan yang akan menyertaimu dalam perjalanan nanti.

“Kau tentu sudah mengenal Raymond, aku harap dia tidak terlalu kasar padamu selama ini,” lanjut Song sambil tertawa pendek.

“Anak buahmu ini pernah menculikku dan entah apa yang sudah ia lakukan terhadap Wendy,” batin Toni lagi. Ia memaksakan diri untuk tersenyum, namun tidak berkata apa-apa.

“Di sebelahku ini William Koi. Dia adalah deputy-ku, biasa juga dipanggil ‘Little Bill’,” papar Song sambil menunjuk seorang bertubuh kecil.

Toni menganggukkan kepala ke arah William, yang membalasnya sambil tersenyum. Sorot mata orang itu terasa tajam dan terkesan licik. Toni berpikir orang ini tentu sangat pintar sampai bisa menjadi deputy atau wakil sang Big Boss. Pasti seorang strategist, yang sanggup memikirkan cara apapun untuk mencapai tujuan kelompoknya. Toni memutuskan untuk ekstra hati-hati di hadapan orang ini.

“Aku sebetulnya ingin ikut, tapi masih banyak urusan yang harus diselesaikan di Macau. Jadi untuk kali ini biarlah Little Bill yang mewakiliku.” tutur Song, matanya terarah kepada sang Deputy.

Toni sebetulnya juga berharap agar Song ikut dalam perjalanan nanti. Ini akan menjadikan rencana yang sudah disusunnya lebih sempurna. Tapi ia memilih untuk tidak berkomentar, hanya menyimak semua penjelasan Song,

“Yang di sebelah Raymond itu Qiao Yong,” Song berkata sambil pandangannya mengarah pada seorang bertubuh kekar di sebelah Raymond, “Dia akan membantu Raymond mengatur orang-orang di atas kapal nanti. Terutama untuk urusan keamanan.”

Toni menganggukkan kepala seraya tersenyum pada Qiao, namun orang itu hanya meliriknya sekilas.

“Dia mirip tukang pukul.” Pikir Toni, pandangannya beralih kembali kepada Song.

“Hahaha. Kau harus maklum. Qiao lebih banyak berada di lapangan, jadi memang agak kaku,” ujar Song sambil tertawa, “Tapi dia bisa jadi teman yang baik kalau kau sudah lebih kenal nantinya.”

“Kalau Charles ini yang mengurusi masalah bisnis dan administrasi,“ Song berkata sambil menoleh orang yang bertubuh kurus dan berkacamata di sampingnya, “Selama kalian pergi, dia akan menemaniku menjalankan pekerjaan di Macau.”

Charles lebih dulu mengangguk kepada Toni sambil tersenyum.

“Orang ini cukup ramah, seperti boss-nya,” batin Toni. Tapi ia berpikir, seperti juga Song, bisa jadi dibalik keramahan itu tersimpan yang lain lagi.

“Ada hal lain yang ingin kusampaikan padamu Toni,” Song merapatkan jari-jari di kedua tangannya, “Sekarang ini aku tengah mengembangkan bisnis ekspor. Aku butuh orang-orang yang bisa membantuku mengembangkan bisnis ini.”

“Terus terang aku menyukaimu sejak awal. Kau cerdas, penuh perhitungan, namun juga berani mengambil resiko,” lanjut Song, pandangannya tak lepas dari Toni, “Oleh karena itu, walaupun kita pernah salah paham, aku harap kita tetap berteman.”

Nada suara Song mulai berubah serius. Jantung Toni terasa berdebar lebih kencang sambil menduga-duga arah pembicaraan Song.

“Namun hal ini tidak terlalu mudah. Kau tahu aku menerapkan aturan keras pada orang-orangku untuk menjaga disiplin,” papar Song lagi. Nada suaranya makin berat, “Aku bukan tipe orang yang bisa membiarkan begitu saja jika terjadi pelanggaran.”

Toni masih belum bisa menerka arah pembicaraan Song. Tidak mungkin sang Big Boss mengundang hanya untuk mengajaknya tetap berteman.

“Jadi kalau aku membiarkanmu begitu saja, wibawaku akan jatuh di depan anak buahku. Mungkin mereka akan berpikir aku tidak bisa tegas dan akan ikut-ikutan melanggar aturan yang sudah ditetapkan.” Song berhenti sejenak, lalu melanjutkan, “Jadi saat ini aku tengah menghadapi dilema.”

Keringat dingin mulai mengaliri tubuh Toni membayangkan dirinya akan mendapat hukuman. Ia berusaha keras agar bisa tetap tenang.

“M-maafkan saya Mr. Song, “ Katanya terbata, “Kesalahan itu sama sekali tidak disengaja. Saya akan melakukan apa pun untuk memperbaikinya.”

“Toni, Aku punya pilihan lain, tapi itu semua tergantung padamu. Aku tidak perlu menghukummu dan aku tidak perlu sampai kehilangan kewibawaanku.” Kata Song perlahan,“Itu bisa terjadi jika kau mau bergabung denganku.”

Toni mulai tersadar, bicara Song yang berputar-putar itu ternyata untuk memaksa ia bergabung dalam organisasinya.

“Hmm… Apa kira-kira reaksi ayah kalau mengetahui anak sulungnya bergabung menjadi anggota Triad?” pikirnya dalam hati.

“S-saya berterima kasih sekali atas tawaran ini.” Jawab Toni, walaupun berusaha tetap tenang, tak urung perasannya tergetar, “Tapi bagaimana dengan pekerjaan saya?”

“Untuk hal itu kau tidak perlu khawatir. Kau masih bisa bekerja seperti biasa dan tidak perlu terlibat langsung dalam kegiatan organisasi” jelas Song,“Seluruh anggota akan saling mendukung dan melindungi layaknya keluarga. Kau hanya perlu mengangkat sumpah dan berjanji mematuhi semua aturan organisasi.”

“Aku butuh kelancaran distribusi barang-barangku,” Nada suara Song seolah memberikan tekanan pada kata-kata ini, “Kau memiliki perusahaan pelayaran terbesar di negaramu, dan ini bisa membantu usahaku. Di lain pihak, dengan barang-barang yang aku kirim, kau bisa mengembangkan perusahaanmu. Aku juga bisa menjamin keamananmu”

Sepintas tawaran itu cukup adil. Tapi toni paham barang apa yang sebetulnya akan diedarkan oleh Song. “Yang dia maksud tentu adalah opium, heroin,shabu, ecstassy dan sejenisnya.” Toni berkata dalam hati, “Tapi sebagai penyedia jasa, perusahaanku memang tidak bisa dituntut akan adanya barang-barang ini.”

“Hanya saja, saya harus berterus-terang, Mr Song. Saya berjanji akan menuruti semua perintah, tapi otoritas tertinggi di perusahaan ini masih dipegang ayah.” Toni berusaha menjelaskan posisi dia sesungguhnya.

“Aku mengerti hal itu,” sahut Song cepat, “Kau tidak perlu khawatir. Aku hanya perlu kepastian kalau distribusi barang-barangku aman.”

Toni terdiam beberapa saat seolah tengah berpikir. Saat itu jalan terbaik yang bisa ia lakukan adalah mengikuti kemauan Song dengan harapan orang itu menjadi lengah dan ia bisa menjalankan rencananya, Akhirnya sambil menganggukan kepala ia berkata, “Saya sudah paham sekarang Mr. Song,” katanya, “Saya bersedia.”

“Hahaha. Bagus… bagus!” Song tertawa senang, diikuti yang hadir di ruangan itu. “Upacara pengangkatan sumpah bisa dilakukan nanti setelah pekerjaan pengiriman ini selesai. Little Bill akan mengaturnya. Kalau perlu bisa dilakukan setelah kapal tiba nanti di Jakarta.”

“Terima kasih. Tapi izinkan saya bertanya sesuatu,” Toni berkata lagi, “Bagaimana dengan keadaan Wendy sekarang?”

Tawa Song terdengar semakin keras, “Hahaha. Tentu, tentu. Kau jangan khawatir. Kekasihmu itu baik-baik saja. Setelah kau menjadi bagian dari kami, tentu saja gadis itu akan dikembalikan kepadamu.”

Toni menundukkan kepala, wajahnya memerah. Tapi ia lega mendengar Wendy dalam keadaan baik. Untuk sesaat ia hanya terdiam. Sepertinya memang sulit untuk mendapatkan Wendy sebelum ia berangkat.

“Kalau sudah tidak ada yang dibahas lagi, aku kira sudah cukup, “ akhirnya Song berkata, “Bukankah kapal dijadwalkan berangkat besok? Kau bisa bersiap-siap, demikian juga orang-orangku.

“Kalau begitu saya mohon diri.” Sahut Toni, sambil beranjak meninggalkan ruangan. Raymond mengiringnya sampai di depan pintu. Sikapnya mulai terlihat lebih ramah.

Setelah Toni pergi, Song kembali mengumpulkan orang-orangnya.

“Raymond, kau hubungi Lee di Jakarta. Pastikan orang-orangnya sudah siap di lokasi. Sebelum kapal itu tiba, seluruh anggota keluarga itu harus disingkirkan. Toni akan menjadi pewaris tunggal perusahaan itu. Begitu kapal tiba dan dia sadar bahwa ia sendirian, akan lebih mudah bagi kita untuk menguasainya.”


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here