Will You Marry Me #23

0
30
views

“Kau ingat waktu pertama kita jumpa dan kau bertanya tentang ramalan zodiak?” Tanya Anna.

Ardi tersenyum mengingat betapa konyolnya ia ketika pertama kali Anna mendatanginya. “Tentu saja aku ingat.” Jawabnya singkat.

“Waktu itu aku bilang bahwa aku tidak percaya ramalan. Bukan semata-mata karena alasan ilmiah, tapi juga karena pengalamanku sendiri.” Lanjut Anna.

Ardi menaikkan kedua alis matanya. Ia masih belum paham arah pembicaraan Anna.

“Kau juga ingat aku pernah mengatakan beberapa hal yang membuatmu bingung, tentang baju yang kau pakai, kapal yang kau tumpangi, dan juga tentang Makasar?” tanya Anna lagi.

“Ya. Untuk yang terakhir, tentang Makasar, aku sangat berterima kasih. Tapi sampai sekarang aku pun masih penasaran, bagaimana caranya kau bisa mengatakan hal-hal seperti itu.” Jawab Ardi.

Sesaat Anna terdiam seolah tengah merenungi sesuatu. Kemudian setelah menarik nafas dalam-dalam ia melanjutkan, “Kau mungkin tidak percaya atau menganggap aku ini aneh. Tapi terkadang aku memang suka melihat semacam gambaran tentang peristiwa yang dialami orang lain.”

“Aku tidak tahu apa penyebabnya, tapi seingatku, aku mulai mengalami hal ini tidak lama setelah ibu meninggal,” lanjut Anna, “Sebelumnya aku tidak terlalu peduli, lagi pula gambaran itu datang dan pergi begitu saja. Aku tidak bisa mengontrolnya. Hanya yang aku tahu, beberapa peristiwa yang aku lihat itu kemudian memang betul-betul terjadi.”

Ardi menganguk-anggukkan kepalanya.”Ya, hal-hal yang kau katakan padaku juga memang betul-betul terjadi. Walaupun peristiwa sesungguhnya tidak tepat betul seperti yang kau ceritakan.”

“Itulah kenapa aku bilang aku tidak percaya ramalan,“ Anna menjelaskan, “Aku tidak tahu bagaimana cara orang lain meramal. Tapi menurut pengalamanku, walaupun aku bisa melihat gambaran tentang suatu peristiwa, yang aku lihat hanya gambaran sekilas. Penafsiranku atas gambaran itu malah sering kali salah.

“Aku melihat gambaran kau sedang memandang bajumu dengan pandangan aneh, lalu aku mengartikan kau tidak suka dengan baju itu. Lalu aku mengartikan kau bepergian naik kapal setelah melihat kau memang berada diatas sebuah kapal yang tengah melaju. Terakhir aku melihatmu tengah merenung memandangi layar komputer dan di situ aku melihat peta kota Makasar, aku berpikir kau berniat pergi kesana. Dengan gambaran sepotong-sepotong seperti itu, tentu saja amat mungkin aku salah tafsir ”

Ardi mulai paham tentang hal-hal yang agak aneh yang pernah Anna katakan padanya. Kalau orang lain yang mengatakan, mungkin ia tidak akan percaya begitu saja. Tapi sekarang ini ia tidak melihat alasan kalau Anna hanya tengah mengarang-ngarang cerita.

“Apa kau juga selalu bercerita pada orang lain tentang gambaran yang kau lihat?” tanya Ardi.

Anna menggelengkan kepala. “Tidak. Aku tidak tahu tanggapan orang lain kalau aku bercerita. Mungkin saja aku akan dianggap aneh. Jadi aku biarkan saja. Kecuali kau.”

“Kenapa?” tanya Ardi lagi.

“Biar saja kau anggap aku aneh. Tapi kadang aku memang ingin menggodamu.” Jawab Anna sambil tersenyum.

Ardi tertawa perlahan, “Aku pikir malah menarik. Apalagi ceritamu itu malah sudah membantuku.”

“Aku juga pernah satu kali terpaksa bercerita pada ayah. Sewaktu minta ijin untuk mencarimu.” Anna kemudian berkata.

“Ah ya. Kau belum menjelaskan kenapa kau harus mencariku.” Balas Ardi.

Anna terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Kalau aku ingat hal itu, aku merasa konyol sendiri,“ tuturnya seraya tersenyum. Semburat merah walaupun tipis tersamar pantulan cahaya matahari yang semakin rendah tergambar di pipinya.

“Biasanya yang aku lihat itu melibatkan orang-orang yang aku kenal. Tidak terlalu sering dan untuk satu peristiwa hanya muncul satu kali. Tapi sekitar dua bulan yang lalu, gambaran yang datang itu polanya berubah. Aku justru melihat seorang laki-laki yang belum aku kenal.”

“Awalnya aku juga tidak terlalu peduli, tapi gambaran laki-laki itu malah semakin sering datang. Lebih aneh lagi, dalam kedatangan berikutnya, kadang aku melihat diriku sendiri terlibat di dalamnya.” Anna kemudian terdiam seolah telah selesai dengan ceritanya.

“Bagaimana kemudian kau bisa menemukanku?” tanya Ardi.

“Huh, ge-er. Aku kan belum bilang kalau laki-laki itu adalah kau.” Balas Anna dengan mata sedikit melotot.

Ardi hanya tertawa melihat tingkah Anna, salah satu yang paling ia suka dari Anna adalah matanya yang jernih dan indah, namun juga menunjukkan sorot yang tajam dan cerdas.

“Terus terang, aku sendiri tidak mengerti mengapa aku merasa tertarik, “Anna melajutkan, “Aku suka setiap kali gambaran laki-laki itu datang. Tapi karena terlalu sering, lama-lama aku pikir aku bisa gila, menyukai laki-laki dalam bayanganku sendiri. Walaupun aku tidak sepenuhnya percaya, tapi aku malah sempat berpikir, jangan-jangan aku kena guna-guna atau sejenisnya.”

“Hmmm… mungkin juga.” Komentar Ardi.

“Heh. Apa kau memang begitu?” Tiba-tiba Anna bertanya.

“Lho, kau kan belum bilang kalau laki-laki itu adalah aku.” Balas Ardi.

Anna tertegun sejenak kemudian tetawa mendengar kata-kata Ardi, “Ya deh. Laki-laki itu memang kau.”

“Hahaha. Aku juga tidak percaya urusan perdukunan. Lagian, kalau laki-laki itu adalah aku, tidak mungin aku melakukanya. Sebelum kau datang, aku malah tidak pernah berpikir gadis macam kau ini memang ada.” Balas Ardi lagi.

“Ya… ya aku percaya,” Sahut Anna, “Aku juga yakin begitu, setelah aku mengenalmu.”

“Nah. Karena tidak mau konyol sendiri, setiap kau datang mengganggu, aku justru lebih memperhatikan lokasi ketika gambaranmu itu terlihat. Aku mulai mencatat semua petunjuk yang mungkin. Jalan, nama gedung, bahkan aku tahu taman di sudut kota itu sebelum betul-betul pergi ke sana denganmu. Begitu juga dengan nama rumah makan tempat kita biasa makan malam.”

“Lalu aku mulai mencari-cari lokasi asli tempat-tempat itu melalui aplikasi peta di internet, “lanjut Anna, “Eh, tahukah kau, entah berapa puluh rumah makan yang menggunakan nama ‘Sederhana’ di sekitaran Jakarta? macam tidak ada nama lain saja. Bikin susah harus mengeceknya satu per satu.”

Ardi hanya tersenyum melihat Anna berkata sambil bersungut-sungut. Dalam hati ia merasa kagum sekaligus tersentuh mendengar ‘perjuangan’ gadis itu menemukannya. “Apakah ketika kau pergi, ayahmu tidak keberatan?”

“Tentu saja ayah keberatan, “ tutur Anna, “Semua alasanku beliau tolak, sampai akhirnya aku terpaksa menceritakan tentang gambaran itu. Anehnya, setelah itu ayah malah mengijinkan. Aku tidak tahu kenapa, hanya saja aku tidak boleh pergi sendiri, harus ada yang mengawasi dan harus memberikan kabar setiap hari.”

“Aku masih belum mengerti, kenapa ketika pertama kali bertemu, kau langsung menawarkan aku… ee … menjadi suamimu?” tanya Ardi lagi.

Anna terdiam sesaat, guratan merah di wajahnya tampak makin jelas. “Untuk yang ini… aku agak susah menjelaskannya.”

“Ceritakanlah. Aku ingin tahu semuanya.” Pinta Ardi.

“Uh. Kau ini suka memaksa, “ dengus Anna, “Baiklah. Aku sudah bilang, dalam beberapa gambaran itu aku terlibat di dalamnya. Aku bisa melihat diriku sendiri, bersamamu. Bahkan terkadang kita berada dalam situasi…mmm..,” perkataan Anna terputus, sementara Ardi terus menatapnya dengan pandangan mendesak.

“Maksudku, kau jangan berpikiran macam-macam. Tapi yang aku tahu ada beberapa gambaran dimana situasi itu kurasa tidak mungkin terjadi kalau kita belum terikat secara resmi, “ tutur Anna. Lalu seolah menyadari ucapannya sendiri, wajahnya tambah memerah dan gadis itu memutar tubuhnya menghindari Ardi sambil berkata, “Ah. Sudah. Aku tidak mau bercerita lagi.”

Ardi mengerti, bagaimanapun perasaan kegadisan Anna pasti tersentuh ketika ia harus mengungkapkan seluruh isi hatinya. Diraihnya tangan gadis itu sambil berkata, “Aku paham sekarang, Anna. Apapun penyebab gambaran itu, aku bersyukur bahwa kita bisa bertemu.”

“Aku sekarang tidak ragu lagi untuk menghadap ayahmu.” Lanjut Ardi lagi.

Anna kembali memutar tubuhnya menghadap ke arah Ardi, “Kau yakin?” tanyanya.

Ardi menanggukkan kepalanya.

“Bagaimana kalau ayah menolak?”

“Aku akan berusaha meyakinkan ayahmu.”

“Bagaimana kalau tidak bisa?”

Ardi yang sekarang kebingungan atas desakan Anna. “Mmm… kalau tetap ditolak…. mungkin aku kan melarikanmu saja dari rumah ini,” ujarnya tanpa berpikir lagi.

“Huh. Enak saja. Bagaimana kalau aku tidak mau.” Dengus Anna, tapi di wajahnya terbayang senyuman.

“Kalau kau tidak mau, aku akan memaksamu ikut.” Sahut Ardi lagi, balas tersenyum.

Anna tertawa kecil, “Kau memang suka memaksa. Ayah memang keras, tapi kuharap kau bisa meyakinkannya.”

“Aku berjanji.” Sahut Ardi, tegas.

Sesaat keduanya terdiam. Matahari sudah menghilang di balik gunung. Pemandangan di luar mulai temaram dan lampu-lampu mulai dinyalakan. Suasana menjadi hening, hembusan angin perlahan mulai terasa dingin.

“Hari mulai gelap.” Desis Ardi.

“Ya. Sebaiknya kita kembali. Kau bisa bersiap-siap lebih dulu. Kita akan makan malam, setelah itu menemui ayah.” Anna berkata.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here