Will You Marry Me #22

0
61
views

Sekitar satu jam kemudian mobil yang mereka tumpangi mengambil arah ke luar kota. Walaupun terlihat masih baru, mobil itu adalah mobil kebanyakan. Supir yang membawa mobil tampak sangat berpengalaman dan bersikap sangat hormat. Ardi masih sibuk menduga-duga bagaimana keadaan keluarga Anna yang sesungguhnya.

Selanjutnya mereka melintasi jalan berkelok dan mendaki di sebuah area pegunungan. Pemandangan sekeliling berganti dari rumah dan gedung menjadi di satu sisi dan lembah disisi lain. Sepanjang perjalanan ini Anna lebih banyak berbicara, sementara kepala Ardi terlalu sibuk mebayangkan apa yang akan ia lakukan kemudian. Kadang terbersit keinginan untuk bertanya tentang tempat tinggal Anna dan keluarganya. Tapi niat itu ia urungkan, toh tidak lama lagi ia akan tahu dengan sendirinya.

Matahari sudah mulai rendah di ufuk barat ketika mobil kemudian berbelok melalui jalan mendatar, melintasi area perkebunan sayur mayur dan palawija. Di tengah area perkebunan itu terlihat sebuah rumah besar dan mewah yang dibatasi pagar berkeliling. Dengan penuh heran Ardi melihat mobil yang ditumpanginya menyusuri jalan kecil menuju rumah itu dan berhenti di depan pintu gerbang.

Seorang petugas keamanan bergegas membuka pintu. Mobil kemudian meluncur masuk, memutari sebuah kolam dengan air mancur ditengah-tengahnya, kemudian menuju ke arah bangunan rumah. Jarak antara gerbang dan rumah itu sekitar seratus meter dan di sekeliling jalan masuk dihiasi taman-taman yang tertata asri.

Jantung Ardi mulai berdebar kencang dari ketika ia melewati pintu gerbang. Kalau betul rumah ini tempat tinggal Anna, apa yang ia perkiraan akan keluarganya amat jauh meleset. Sesaat sebelum mobil mencapai depan rumah besar itu, ia menoleh kepada gadis yang duduk disampingnya.

“Anna, boleh aku tahu nama lengkapmu?” tanya Ardi.

Anna menoleh kearahnya sambil tersenyum. “Chandranaya. Nama lengkapku Anna Chandranaya.”

Ardi terhenyak mendengar nama itu. Penampilan dan mobil yang dipakai Anna sama sekali tidak menunjukkan kalau ia putri salah satu orang paling kaya di negeri ini. Terlebih lagi, keluarga Anna adalah pemilik perusahaan tempat ia bekerja.

Ardi masih belum sepenuhnya pulih dari rasa kaget ketika mobil berhenti di depan rumah besar itu.

“Kita sudah sampai. Ayo turun.” Anna berkata.

Ardi tidak menjawab, ia mengikuti Anna turun dari mobil. Seesat kemudian mobil berjalan pergi meninggalkan mereka berdua.

Melihat Ardi masih termangu-mangu, Anna menarik tangannya.

“Ayo.” Ajaknya seraya menarik Ardi berjalan menuju pintu depan.Dalam situasi lain, Ardi akan merasa senang bisa menggenggam tangan gadis itu. Namun sekarang pikiran dan perasaannya tengah berkecamuk, ia tidak bisa merasakan apa-apa.

Pada waktu berangkat, ia sudah bertekad akan menghadapi apapun untuk bisa mendapatkan Anna. Kemampuannya untuk menyelesaikan proyek baru di kantor memberinya harapan posisi lebih baik sebagai bekal kehidupannya bersama gadis itu kelak. Namun sekarang ia merasa apa yang telah dilakukannya sama sekali tidak berarti, dirinya terlalu kecil dibandingkan kenyataan yang ada dihadapannya.

Ardi mengikuti langkah Anna seolah tanpa sadar. Seorang petugas resepsionis bangkit berdiri dan mengangguk hormat menyambut kedatangan mereka. Anna membimbingnya berjalan melewati ruang tamu yang luas menuju tangga dan naik ke lantai dua rumah itu.

“Lantai dasar ini merangkap kantor. Ada beberapa orang staf yang utamanya mengerjakan urusan keuangan.” Papar Anna sambil berjalan menaiki tangga.

“Bagian kanan lantai dua ini adalah tempatku dan kedua kakakku tinggal kalau pas mereka ada disini. Kamarku paling ujung sana.” Ujar Anna saat sampai di ujung tangga, sambil menunjuk ke sebelah kiri, atau sayap kanan rumah itu.

Ardi tidak menjawab, otaknya masih kesulitan mendengar semua kata-kata Anna. Ia hanya mengangguk kecil.

“Di depan ini ruang makan.” Anna berkata lagi seraya berjalan ke bagian kiri bangunan, melintasi jalan kecil beralas karpet berwarna merah dan diapit kamar-kamar yang saling berhadapan layaknya kamar hotel. “Di bagian ini ada beberapa kamar tempat menginap kalau ada tamu.” Anna melanjutkan sambil terus berjalan dan berhenti di depan kamar paling ujung.

“Kalau malam, jalan yang kita lalui tadi gelap dan agak berbahaya. Jadi sebaiknya malam ini kau menginap disini saja ya? Aku sudah menyiapkan kamar buatmu.” Lalu tanpa menunggu jawaban, Anna masuk ke dalam sambil tangannya tetap menyeret tangan Ardi. Dibiarkannya pintu kamar terbuka lebar.

Kamar itu jauh lebih besar dari kamar kos yang biasa ditempati Ardi. Tempat tidur besar terletak di tengah, dan dihadapanya sebuah TV layar lebar menempel di dinding. Kamar itu dilengkapi meja, kursi, lemari pakaian dan lemari pendingin. Di ujung kamar, Ardi melihat pintu yang sepertinya merupakan pintu kamar mandi.

“Ardi, sebelumnya aku minta maaf, “ Anna berkata, “Aku tidak bermaksud lancang. Tapi dalam kamar ini, aku sudah berusaha menyiapkan segala hal yang mungkin kau butuhkan.” Lalu Ia berjalan menuju lemari pakaian dan membukanya.

Ardi melihat lemari itu sudah terisi pakaian pria. Tentu maksud Anna pakaian itu ditujukan untuknya. Dalam dada Ardi berkecamuk perasaan antara menghargai perbuatan Anna dan singgungan harga dirinya sebagai laki-laki untuk tidak begitu saja menerima pemberian gadis yang kemungkinan akan menjadi istrinya.

Hampir tanpa sadar ia bertanya, “Apa kau sudah memperkirakan sebelumnya kalau aku pasti akan datang kemari?” Segera setelah kata-kata ini tercetus, ia merasa menyesal, pertanyaan ini mungkin akan menyinggung perasaan Anna.

Tapi dilihatnya gadis itu tersenyum sambil berkata, “Kau pikir apa yang harus kulakukan selama tiga minggu menunggumu?” balas Anna, “Kau datang atau tidak, aku akan tetap menyiapkannya.”

Dada Ardi berdesir. Anna memang sungguh-sungguh perhatian padanya. Rasa rendah diri yang dari tadi ia rasakan sedikit menguap, ia merasa tidak selayaknya berprasangka negatif pada gadis yang tengah bersamanya ini.

“Kau nanti saja melihat-lihat isi kamarmu. Kau juga belum mau istirahat, kan?. Aku mau mengajakmu ke tempat lain.” Anna berkata. Lalu tanpa menunggu jawaban, ia ‘menyeret’ Ardi keluar ruangan.

Kembali mereka menaiki tangga menuju lantai atas. “Di ujung sebelah kanan itu kamar Ayah.” Tutur Anna, “Di sampingnya ada ruang kerja. Aku juga biasa bekerja di ruangan itu. Saat ini ayah masih ada urusan. Setelah makan malam kita akan bertemu di ruangan itu.”

Selanjutnya mereka berjalan lurus memasuki sebuah ruangan besar di lantai itu. “Ayah biasa mengundang pertemuan atau perayaan dengan staf perusahaan dan rekan bisnisnya di sini.” Kata Anna sambil berjalan melintasi ruangan, lalu keluar melalui pintu yang lain.

Di luar ruangan itu merupakan tempat terbuka. Di tengah-tengah terdapat kolam renang yang cukup besar, dan di sekelilingnya terletak beberapa gazebo tempat bersantai. Anna mengajak Ardi menuju di salah satu gazebo di pojok sebelah barat.

“Ardi, aku tahu. Kau mungkin kaget, bingung, tidak terima atau malah marah atas semua ini,” Anna berkata ketika keduanya sudah duduk di dalam gazebo, “Tapi aku sudah siap. Kau boleh bicara atau bertanya tentang apapun. Aku akan menjelaskannya.”

Perasaan Ardi belum sepenuhnya pulih. Sejenak ia terdiam memandangi wajah Anna. Pantulan sinar matahari senja yang makin rendah seolah membuat wajahnya yang putih bersinar kemerahan. Semilir angin segar udara pegunungan perlahan menjernihkan isi kepalanya. Terlepas siapapun adanya Anna,ia tidak bisa ingkar kalau dirinya benar-benar sudah jatuh hati pada gadis ini.

“Anna, aku tidak mungkin bisa marah padamu.” Katanya perlahan, “ Hanya saja, aku harus jujur pada diriku sendiri. Sejak pertemuan pertama kita, aku masih merasakan ini semua seperti mimpi. Mimpi yang terlalu manis, sampai membuatku takut untuk terbangun.”

“Sebelum aku tahu siapa dirimu sesunguhnya, aku sudah bertekad untuk tidak mempedulikan lagi apa yang menyebabkan kau datang padaku. ” Lanjut Ardi, “Tapi kini, setelah aku tahu kau dan aku bagaikan langit dan bumi, terus terang aku kembali ragu akan diriku sendiri.”

“Aku terlanjur mencintaimu Anna,” Ardi meneruskan, “Aku hanya tidak ingin pada akhirnya kau kecewa karena ternyata aku tidak sesuai dengan apa yang kau harapkan. Kalau itu sampai terjadi, akhirnya aku pun terpaksa harus bangun dari mimpi ini untuk menghadapi kenyataan.”

“Sekarang, sebelum aku menghadap ayahmu, aku harus meyakinkan sesuatu. “ Ardi terdiam sejenak sebelum melanjutkan, “Apa yang membuatmu yakin bahwa kau memang menginginkanku, bahkan mulai saat awal kita bertemu?”

Anna tidak langsung menjawab.Beberapa saat ia termenung seperti menyusun kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan Ardi.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here