Will You Marry Me #21

0
289
views

JAKARTA

Ardi berhasil mengerjakan tugasnya beberapa hari lebih cepat dari jadwal. Sore itu ia langsung mempresentasikan hasil kerjanya dihadapan Pak Indra, sang General Manager.

“Hmm… perhitunganmu masuk akal juga.”Gumam Pak Indra sambil mengelus-elus belakang kepalanya, “Tapi disini kau belum menentukan pelabuhan singgah yang pasti. Apa pertimbanganmu, Ambon? Sorong? Atau keduanya?

“Saya usulkan Sorong dan Jayapura Pak.” Sahut Ardi, “Lalu lintas barang Ambon-Sorong tidak terlalu banyak. Itupun sebagian besar barang-barang transit dari dan ke pelabuhan di Jawa. Ambon bisa difokuskan untuk mengumpulkan barang-barang dari sekitar kepulauan Maluku dan dibuatkan trayek khusus.

“Kita sudah ada rute yang melayani Jakarta-Surabaya-Jayapura, tapi saya lihat belum efisien. Masih timpang antara barang yang dikirim dan yang kembali. Bahkan kalau saya hitung lebih jauh, Kapal Utama sebaiknya berakhir sampai Sorong. Kapal yang selama ini melayani Jayapura bisa diganti kapal penghubung, feeder, yang lebih kecil untuk membentuk rute Manokwari-Jayapura-Sorong, sepanjang pantai Timur Papua. Feeder lain bisa dioperasikan di pantai Barat seperti Kaimana-Biak-Sorong. Dengan begini, seluruh barang dari dan ke Papua bisa dilayani sekaligus.” Papar Ardi lagi.

Pak Indra mengangguk-angguk mendengar keterangan Ardi, “Baiklah. Laporan ini akan aku teruskan ke beberapa orang kepala bagian dan manager yang akan terlibat. Mereka bisa mempelajari dan mengkonfirmasi dengan data aktual di lapangan. Minggu depan kita akan meeting lagi dengan mereka.”

Kemudian sambil melirik jam ditangannya Pak Indra melanjutkan, “Aku rasa hari ini cukup, jam kerja juga sudah hampir selesai.”

“Baik, Pak.” Jawab Ardi seraya bangkit dan mengemasi alat-alat presentasinya.

“Oh ya Ardi, aku tidak mau melihat tampangmu di kantor ini sampai Senin depan.” Kata Pak Indra tiba-tiba.

Ardi menghentikan gerakannya, dengan wajah kebingungan ia memandang ke arah Pak Indra sambil berkata, “Maaf Pak, saya kurang mengerti.”

“Tampangmu belakangan ini kusut, tidak enak dilihat. Matamu sayu, rambut acak-acakan, bahkan aku taksir tiga hari ini kau ke kantor pakai kemeja yang sama.” Sahut Pak Indra datar, “Kau ambil cuti dua hari, masuk lagi senin, biar segar lagi. Kau mau liburan kek, jalan-jalan kek, terserah.”

Ardi menundukkan wajahnya yang memerah. Selama mengerjakan tugas ini, ia harus pulang menjelang tengah malam, hanya pulang untuk tidur beberapa jam sebelum kembali berang kat kerja. Untuk mengurusi cucian saja ia memang tidak sempat.

“Baik Pak, saya mengerti. Terima kasih.”

Pak Indra tidak menjawab. Ia langsung beranjak keluar ruang pertemuan. Ardi melanjutkan berkemas, perasaannya mulai terasa ringan, beban pikiran akan tugas ini seolah terangkat. Sesaat kemudian pikirannya mulai beralih pada Anna, bayangan gadis itu kini ganti memenuhi semua sisa memori di otaknya.

Jam di dinding ruangan menunjukkan waktu kerja telah berakhir. Ardi bergegas kembali ke meja kerjanya, selanjutnya setelah memindahkan semua barang diatas meja ke dalam laci, ia segera beranjak pulang.

Dalam perjalanan, ia tidak bisa menahan diri lagi untuk segera menghubungi Anna.

“Halo. Tumben jam segini kau sudah menelepon?” Suara Anna terdengar diujung telepon.

“Tugasku selesai. Aku sudah tidak perlu lagi pulang malam”

“Oh ya. Gimana hasilnya?”

“Baik. GM-ku keliatan puas. Minggu depan akan ada meeting lagi dengan manager lain.”

“Selamat deh kalau gitu. Aku ikut senang.”

“Anna, aku ingin ketemu besok. Kau bisa?” tanpa sadar suara Ardi bergetar.

“Mmm… sebentar aku pikir-pikir dulu”

Untuk sesaat Ardi tertegun. Ia merasakan kerinduan yang sangat dalam, tapi apakah gadis itu tidak merasakan hal yang sama?

Tapi kemudian didengarnya suara tertawa kecil. “Tentu saja aku bisa. Kita bertemu makan malam seperti biasa?”

Ardi tersadar, rupanya Anna menangkap getaran dalam suaranya dan sedang mengoda, “Ah. Kau….” Ia mendesah, “Kau bisa datang lebih awal, sebelum makan siang? Aku besok cuti sampai akhir pekan. Kita bertemu di taman yang di sudut kota.”

“Baik. Aku akan datang jam 10.”

Esoknya, jam 9 pagi Ardi sudah duduk di bangku taman tempat mereka pernah bertemu. Sambil menunggu, disusunnya kata-kata yang akan disampaikannya pada Anna. Ia sudah bertekad memberikan jawaban pada hari ini. Terserah apa yang akan tejadi kemudian.

Setengah jam kemudian mobil yang biasa ditumpangi Anna tiba. Dada Ardi berdebar kencang melihat gadis itu turun dari mobil, melihat kerahnya lalu tersenyum seraya melambaikan tangan. Ardi bangkit dari tempat duduknya , balas melambai. Anna tampak lebih cantik dari terakhir kali ia mengingatnya. Wajahnya cerah, sesekali rambutnya yang tergerai lepas melambai tertiup angin saat ia berjalan menuju ke arahnya. Sesaat dunia di sekeliling Ardi seolah berhenti, yang ada hanya gerak langkah Anna yang anggun mendekati dirinya.

“Hey! Kok melamun? Kau datang lebih dulu ya? Sudah lama?” Suara Anna membuyarkan lamunan Ardi.

“Eh… a-aku… t-tidak, aku belum lama kok” Ardi terbata, dia tidak sadar kalau gadis itu sudah berdiri di depannya. “Aku juga baru sampai.” Lanjutnya berusaha tersenyum untuk menguasai diri.

Keduanya duduk bersebelahan. Semua kata-kata yang telah disusun Ardi mendadak lenyap tersapu pesona gadis itu tatkala ia melihatnya. Untuk beberapa saat keduanya terdiam.

“Aku senang melihatmu tampak segar. Aku membayangkan kau pasti kelelahan sudah berkerja begitu keras.” Anna membuka percakapan.

Ardi tersenyum, “Semalam aku sudah cukup beristirahat. Aku juga senang melihatmu. Kau…” Ardi tidak melanjutkan kata-katanya.

“Kenapa?” Tanya Anna.

“Kau tampak jauh lebih cantik dari terakhir kali aku melihatmu.” Kata-kata ini hanya sanggup Ardi ucapkan dalam hati.

“Tidak apa… aku jadi teringat ketika beberapa minggu yang lalu seorang gadis cantik tiba-tiba datang padaku.” Jawabnya sambil tersenyum.

Wajah Anna memerah, “Dan aku ingat kau macam orang kebingungan waktu itu.” Balasnya.

Ardi tertawa pelan, lalu kemudian berkata, “Apa aku tetap harus mengatakan jawabanku? Aku pikir tanpa kukatakan kau sudah tahu.”

“Aku ingin mendengarnya langsung dari mulutmu.” Anna berkata pelan seraya menundukkan wajah.

Ardi memutar tubuhnya menghadap Anna. Diraihnya sebelah tangan gadis itu lalu digenggamnya erat-erat. “Anna, maukah kau jadi istrku?”

Anna tidak segera menjawab. Wajahnya makin tertunduk. Ardi merasakan tangan gadis itu meremas tangannya, seolah ia sedang berusaha mengatasi gejolak perasaan.

Sesaat kemudian ia mengangkat wajahnya ke ara Ardi, “Itu sebuah pertanyaan, bukan jawaban.” Ujarnya.

“Tapi itu lebih dari sebuah jawaban.” Ardi membalas.

Kembali Anna menundukkan wajah sambil berkata lirih, “Tapi aku tidak bisa menjawabnya sekarang.”

Sesaat jantung Ardi berhenti berdetak. Setitik kecemasan timbul bahwa Anna mulai beruba pikiran. Tapi Ia tidak mau diombang-ambing perasaan lebih lanjut, “Mengapa?” desakknya.

“Kau harus bertanya pada ayah lebih dulu.” Jawab Anna masih dengan suara yang lirih.

Ardi baru tersadar. Selama mengenal Anna, ia masih belum bisa menebak sepenuhnya sikap gadis itu. Sebagai laki-aki, ia lebih bisa menentukan sikap, apalagi kedua orang tuanya telah tiada. Namun sebagai seorang wanita, terlepas dari sikapnya yang polos dan spontan, Anna rupanya masih memegang teguh aturan keluarganya.

“Ah. Tentu saja. “Ardi mendesah, lalu tanpa berpikir panjang ia melanjutkan, “Kapan aku bisa menghadap ayahmu.”

Anna tersenyum, seolah menangkap ketergesa-gesaan Ardi, “Kalau kau mau, hari ini juga boleh.”

Ganti Ardi yang terhenyak mendengar jawaban Anna. Ia memang belum berpikir sejauh itu. Tiga minggu yang lalu ia belum mempunyai teman dekat lawan jenis. Sekarang ia dihadapkan pada kemungkinan untuk melamar seorang gadis kepada orang tuanya.

“Apakah ayahmu tidak keberatan? Terus terang aku sendiri tidak ada persiapan apapun.” Ia bertanya.

“Butuh waktu beberapa jam untuk sampai di rumahku. Aku bisa memberi tahu ayah kalau kau akan datang. Ayah dan kau akan punya waktu yang sama untuk bersiap. Aku rasa cukup adil.”

Mau tak mau Ardi tertawa mendengar jawaban yang spontan dan seenak sendiri itu. Tapi ia sendiri memang sudah terlanjur nekat. Ia tidak mau mempertimbangkan hal lain lagi. Apapun yang akan terjadi ia kan terus maju untuk mendapatkan gadis yang telah mengikat hatinya.

“Baik. Aku bersedia.” Jawabnya, “Sebaiknya kita makan siang dulu sebelum berangkat ke rumahmu.”

Anna mengangguk setuju.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here