Will You Marry Me #20

0
42
views

JAKARTA

Pikiran Inspektur Polisi Haris terpusat pada berkas laporan yang sedang dibacanya. Kasus kriminal biasa, kekerasan terhadap pekerja seks komersial. Namun dari penyelidikan awal, kasus ini sepertinya bisa melebar kemana-mana, bisa menjadi skandal nasional.

Ia menoleh kearah pintu ketika terdengar suara ketukan.

“Masuk.” Katanya mempersilahkan.

Bripka Agus yang menyelidiki kasus itu berjalan menghampiri meja kerjanya.

“Duduklah.”Kata Inspektur Haris lagi.

Bripka Agus mengambil kursi yang di depan meja komandannya.

“Aku ingin memastikan laporanmu, “Kata Inspektur Haris, “Coba kau ceritakan lagi awal mula kasus ini.

“Siap Pak, “Sahut Bripka Agus, “Pagi itu ketika kami menerima laporan dari petugas hotel akan adanya tindak kekerasan yang dialami salah satu tamunya. Kami langsung menuju TKP. Disana kami menemukan seorang perempuan, masih muda, tergeletak tanpa busana. Di wajah, leher dan beberapa bagian tubuhnya tampak ada bekas pukulan. Rupanya dia masih pingsan. Kami segera memanggil tim medis untuk memeriksa kondisi perempuan itu.”

“Dari hasil pemeriksaan di TKP, kami juga menemukan subuah amplop kecil, dalam posisi terlipat di sela-sela tumpukan uang. Didalamnya ada plastik yang berisi semacam serbuk putih, yang isinya tinggal sedikit. Dari hasil pemeriksaan rupanya serbuk itu adalah Heroin.”

Inspektur Haris mengangguk-angguk. “Bagaimana dengan perempuan itu?”

“Hasil penyelidikan kami menunjukkan bahwa perempuan itu adalah seorang pekerja seks yang biasa mangkal dipinggir jalan. “ Papar Bripka Agus. “Jadi kemungkinan pelakunya adalah orang yang memakai dia pada malam kejadian.

“Hmm. Perempuan itu bukan tipe orang yang sanggup membeli Heroin.” Inspektur Haris bergumam. “Jadi kemungkinan milik terduga pelaku.”

“Betul Pak.” Berkata Bripka Agus. “Hasil tes darah perempuan itu juga menunjukan negatif. Tidak ada tanda menggunakan narkoba.”

“Pengguna heroin tentu punya cukup uang. Tapi dia justru mengambil perempuan dipinggir jalan.“ Kata Inspektur Haris. Lalu ia bertanya “Apakah perempuan itu mengenali ciri-ciri pelaku?”

“Sepertinya perempuan itu masih sedikit trauma Pak. Dia belum bisa memberikan keterangan jelas.” Jawab Bripka Agus. “Ia hanya mengatakan pelaku bertubuh sedang dan cukup tampan.”

“Bagaimana dengan petugas hotel, yang menerima kedatangan orang itu?”

“Menurut pengakuannya, Dia tidak bisa mengenali dengan jelas Pak. Orang itu memakai topi, kacamata gelap, dan tidak meninggalkan identitas. Petugas hotel mengijinkannya karena orang itu memberikan sejumlah uang.”

“Hmm. Aku tidak akan heran kalau petugas itu kemudian dipecat.” Inspektur Haris mendengus. “Lalu bagaimana dengan nomor mobil yang dipakai orang ini? Apa tercatat di buku petugas keamanan?”

“Tidak Pak. Terduga pelaku cukup berhai-hati. Ia memarkir mobil beberapa puluh meter dari hotel dan masuk berjalan kaki. Justru wanita itu yang masih mengingat nomor mobilnya.” Jelas Bripka Agus.

“Heh. Bagaimana seorang yang masih trauma bisa mengingat nomor mobil?” Tanya Inspektur Haris lagi.

“Wanita itu rupanya ingat betul Pak. Katanya nomor mobil itu cocok dengan tanggal pernikahan dia dengan mantan suaminya.”

“Oh. Kenapa dia bercerai?”

“KDRT Pak. Dia lari dari suaminya dan terpaksa jadi pekerja seks.”

“Hmm…, unik juga. Bagaimana serangkaian nomor seolah membawa sial, membuat dia mengalami perlakuan kekerasan berulang kali.” Desis Inspektur Haris.

“Kalau betul ini nomor mobil yang dipakai pelaku, aku kenal cukup baik pemiliknya.” Lanjut Inspektur Haris pada bawahannya, “Tapi ia orang baik-baik dan cukup terpandang. Salah satu yang terkaya di negri ini, banyak relasi dengan pejabat pula. Mustahil rasanya dia atau keluarganya yang melakukan.”

Bripka Agus tidak menanggapi perkataan terakhir atasannya. Kasus ini sebenarnya cukup sederhana, tinggal mendatangi pemilik mobil dan mengkonfrontasi dengan korban.

“Tapi kita memang harus membuka semua kemungkinan. Coba kau selidiki apakah mobil ini pernah dijual atau dialih tangan. Cek juga CCTV lalu lintas di dekat lokasi kejadian, coba lacak posisi terakhir.” Tutur Inspek Haris, “Sementara itu, kau minta pos terdekat mengirim anggota untuk megamati alamat pemilik 24 jam, untuk melihat apakah mobil itu keluar masuk lokasi.”

Setelah terdiam sejenak, ia melanjutkan lagi, “Untuk sementara, jangan bicara apapun kepada pers. Aku tidak mau kasus ini terlanjur menjadi heboh sebelum waktunya.”

“Siap Pak.” Jawab Bripka Agus.

HONG KONG

MV. White Flower tengah bersandar di pelabuhan Victoria untuk melakukan pembongkaran muatan. Kapal dengan pajang sekitar 250 meter dan lebar 30 meter itu bisa memuat sampai 3.000 kontainer. Toni sudah memutuskan untuk menyewakan kapal ini kepada Song Zuomin. Dengan didampingin seorang staf dari kantor, ia menyempatkan diri untuk memeriksa seluruh bagian kapal.

Bagian bangunan atau ‘upper’structure’ kapal terletak di buritan, bagian belakang kapal, terdiri dari 4 lantai. Lantai paling atas terdapat anjungan, tempat ruang kemudi dan navigasi, juga ruang kapten. Di bawah anjungan ada beberapa kamar untuk perwira kapal dan di bawahnya lagi terletak ruang makan, dapur utama, ruang pertemuan merangkap ruang santai dan rekreasi. Kamar-kamar untuk awak kapal berada di bagian paling bawah sejajar geladak. Semua lantai ini terhubung dengan tangga di bagian samping.

Toni memeriksa salah satu kamar awak kapal yang tereletak paling dekat dengan tangga.

“Aku mau tempat tidur tingkat ini ditukar dengan tempat tidur biasa.“ Ia berkata, “Tolong siapkan kasur yang empuk.”

“Baik, Pak.” Sahut staf yang mendampinginya.

“Aku juga mau disiapkan sebuah meja kecil, lemari, dan kompor listrik.” Lanjut Toni lagi. Kemudian ia berjalan menghampiri lemari pendingin yang ada di sudut kamar.

“Aku akan mengisi penuh kulkas ini dengan makanan dan minuman. Daftarnya akan kuberikan kemudian” Ujarnya seraya memastikan lemari pendingin itu berjalan baik.

Staf itu mengangguk sambil mencatat semua instruksi yang diberikan. Toni memang berencana menempati kamar ini untuk perjalanan nanti. Ia masih suka merinding membayangkan dirinya sendirian selama seminggu di tengah laut bersama anggota kelompok Song. Jadi paling tidak ia ingin merasa nyaman saat berada di kamar itu.

Selanjutnya Toni turun ke geladak bawah melalui tangga, melewati sebuah lorong kecil yang menuju ke arah kamar mesin. Seorang operator tengah bekerja mengamati panel kontrol yang ada diruangan itu.

Ia berbincang sejenak dengan operator untuk memastikan generator dan mesin-mesin kapal berjalan baik. Selain diawasi operator, mesin kapal itu juga secara berkala mengirimkan data-data performa kerjanya secara otomatis setiap 10 menit ke pusat data melalui hubungan satelit agar jika terjadi penyimpangan bisa segera diantisipasi.

Keluar dari kamar mesin, Toni berjalan ke arah ruang penyimpanan bahan bakar. Di situ ia berhenti sebentar mengamat-amati sekeliling, kemudian berlanjut ke bagian penyimpanan kargo curah ke arah haluan kapal.

Selama beberapa saat ia memandang berkeliling seolah sedang memikirkan sesuatu. Setelah dirasa cukup, ia mengajak stafnya untuk kembali naik ke geladak atas dan turun dari kapal.

“Peter sudah mendapatkan barang-barang yang aku butuhkan. Dari pengamatan hari ini, sepertinya aku bisa menyusun rencana lebih matang lagi.” Sambil berjalan, pikiran Toni terus berputar.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here