Will You Marry Me #19

0
86
views

JAKARTA

Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh malam. Suasana kantor sudah sangat sepi, namun Ardi masih terpekur menatap layar komputer dengan kedua tangan meremas rambut kuat-kuat. Seolah ia tengah memaksa otak yang sudah mulai lelah agar terus bisa menerima informasi dari angka-angka yang tengah ditelitinya. Sudah hampir dua minggu dia mengerjakan proyek ini, perasaan hatinya tengah berubah naik turun.

Awalnya ia merasa ragu kalau ia bisa menyelesaikan tugas ini sesuai waktu yang sudah ditetapkan. Namun setelah melewati minggu pertama, ia merasa senang dan amat bersemangat ketika menyadari perkerjaan ini membuat kemampuannya ikut berkembang pesat melebihi apa yang ia bayangkan. Dari perkiraan waktu satu bulan untuk mempelajari seluruh aspek perusahaan yang ia butuhkan, ia hanya butuh waktu satu minggu.

Memasuki minggu kedua ini, ia berencana menyelesaikan perhitungan akhir dari semua data yang telah dikumpulkan. Selanjutnya di minggu terakhir ia bisa menyusun laporan dan presentasi sehingga seluruh tugasnya bisa selesai dalam tiga minggu.

Namun sekarang pikirannya menemui jalan buntu. Ia sudah membuat simulasi berbagai rute yang mungkin untuk menghubungkan Jakarta, Surabaya, melewati beberapa pilihan pelabuhan singgah sebelum berakhir di Manokwari sesuai rancangan proyek yang diberikan. Namun dari semua rute yang telah ia kaji, belum ada formulasi yang efisien dan menguntungkan.

Kalau ia harus menggunakan jumlah armada minimal untuk menekan biaya operasi, waktu tempuh rute tersebut menjadi terlalu lama sehingga jumlah barang yang diangkut per satuan waktu menjadi sedikit. Pengembangan rute ini akan menjadi lambat. Sebaliknya jika ia mempercepat waktu tempuh dengan menambah armada untuk mengurangi waktu singgah, biaya operasi menjadi terlalu besar untuk bisa ditutupi dengan jumlah barang yang bisa dibawa.

Ia bisa saja merekomendasikan bahwa proyek ini tidak terlalu layak untuk dibuka. Terserah keputusan perusahaan nantinya. Bisa saja rute ini tetap dijalankan dengan memberikan subsidi selama tahun-tahun pertama, dengan harapan rute ini akan semakin ramai dan menguntungkan di tahun berikutnya.

Tapi Ardi sendiri tidak puas dengan kesimpulan itu. Selama menjalankan tugas ini, setiap hari Ia harus bekerja sampai tengah malam tanpa libur, bahkan di akhir pekan. Hatinya mengiinginkan rute ini bisa dijalankan dengan baik, agar ia bisa mendapat andil lebih besar di perusahaan nantinya.

Namun kini kenyataan yang ada berbicara lain. Semangatnya mulai pudar. Badan dan pikirannya mulai terasa lelah.

Dering suara ponsel yang terdengar tiba-tiba membuatnya terperanjat. Dalam kondisi tengah merenung di suasana hening seperti malam ini, suara itu terasa amat nyaring. Kening Ardi berkerut ketika melihat nama pemanggil dari layar ponsel. Tidak biasanya Anna meneleponnya malam-malam.

Di lain pihak ia juga merasa senang, ingatan akan gadis itu lah yang selama ini selalu menjadi penambah semangat.

“Halo”

“Hai. Kau masih di kantor?”

“Iya. Kerjaanku masih belum selesai.”
“Mmm…. Kau baik-baik saja?”

Ardi tertegun sejenak. Saat ini perasaannya memang sedang galau memikirkan hasil akhir dari proyek yang sedang ia kerjakan. “Apa ia juga bisa meraba perasaanku?” Gumamnya dalam hati.

“Aku baik-baik saja. Memang kenapa?”

“Kau yakin?”

“Hahaha. Tadi aku memang merasa capek dan mengantuk. Tapi mendengar suaramu, aku jadi segar lagi.”

“Uh. Kau…”

Terdengar Anna mendengus, kemudian dilanjutkan dengan tertawa kecil. Ardi tidak berdusta, suara gadis itu selalu membuatnya bersemangat, apalagi suara tawanya yang renyah. Lebih-lebih jika ia membayangkan wajah Anna saat ini tengah bersemu merah mendengar godaannya.

“Mungkin kau memang terlalu memaksakan diri, kerja sampai larut malam terus tiap hari. Baiknya kau istirahat sejenak.”

“Ah. Aku masih kuat kok. Lagian waktuku tidak banyak tersisa.”

“Bagaimana kalau kau sakit?”

Dada Ardi berdesir. Gadis itu sungguh-sungguh memperhatikannya.

“Hahaha. Jangan khawatir. Kalau aku sudah merasa tidak kuat, pasti aku akan istirahat. Aku juga tidak mau kau mendapatkan suami yang sakit-sakitan.”

“Ah…”

Desahan Anna membuat Ardi melupakan hampir semua pikiran tentang pekerjaannya. Ia tertawa berkepanjangan.

“Eh. Kau tidak berencana pergi ke Makasar?”

Tawa Ardi terputus. Entah apa yang menyebabkan Anna tiba-tiba bertanya tentang Makasar. Lalu ia teringat, beberapa kali Anna mengatakan sesuatu yang akan ia kerjakan, bahkan sebelum ia berniat untuk itu.

“Mmm…. Sepertinya tidak. Waktuku terlalu sempit untuk bepergian ke luar pulau. Emangnya kenapa?”

“Tidak apa-apa. Aku kira kau sedang berpikir untuk pergi ke sana.”

Berpikir? Tanpa sadar pandangan Ardi beralih ke layar komputer di depannya. Semua data dan angka yang tengah ia kerjakan terasa mengalir deras masuk ke otak, mengarah ke satu titik, Makasar!

Ya! Tentu saja. Itulah jawaban dari semua kebuntuannya dalam menyusun rute baru ini. Proyek ini memang menghitung biaya pengiriman dari Jakar-Surabaya-Manokwari. Hampir semua rute kapal di perusahaannya memang berawal dari dua pelabuhan besar di pulau Jawa, Jakarta dan Surabaya. Tapi untuk membuka rute baru ke arah timur, sesungguhnya dua pelabuhan itu tidak mutlak diperlukan.

Barang-barang yang akan dikirim ke Papua masih belum sebanyak rute lain. Dari data yang sudah ia kumpulkan, kapal yang melayani jalur Jakarta –Surabaya saat ini masih bisa menampung tambahan barang untuk Papua. Bahkan kalau perlu barang-barang itu bisa dikirim melalui jalur darat dengan truk atau kereta api. Begitu pula kapal yang beroperasi untuk jalur Surabaya-Makasar.

Makasar-lah yang seharusnya jadi pelabuhan awal agar rute baru yang akan dibuka ini lebih efisien, atau kalau perlu pelabuhan lain di sekitar itu. Ini berarti ia bisa memotong biaya operasi Jakarta-Surabaya. Ardi bahkan bisa melihat, seluruh rute lain dari armada di perusahaannya masih bisa diatur ulang dengan memperhatikan pengembangan pelabuhan-pelabuhan di luar Jawa. Dengan cara ini perusahaannya bisa melakukan efsiensi lebih banyak lagi.

Ia merasakan semangatnya kembali bangkit meluap-luap.

“Hey! Ardi! Kau masih disitu? Apa kau tertidur?”

Teriakan Anna menghentikan pikirannya.

“Y-ya. M-maaf, aku barusan melamun.”

“Huh! Kau ini. Aku sudah bicara panjang lebar, tidak kau dengar, malah asyik melamun.” Suara Anna terdengar gusar.

“T-tidak. Maksudku… aku harus berterima kasih padamu.”

“Kenapa? Apa yang sudah kulakukan?”

“Barusan kau bertanya tentang Makasar.”

“Huh. Apa hubungannya? Kau suka bilang kalau aku gadis aneh, misterius. Sekarang aku pikir kau lebih aneh lagi. Sepertinya kau memang perlu istirahat.”

“Hahaha. Aku sungguh-sungguh.“ Ardi sudah kembali bisa menguasai diri. “Terlalu panjang untuk dijelasakan. Tapi tadi itu aku sempat suntuk. Sepertinya proyek yang sedang aku hitung tidak begitu layak untuk dijalankan. Tapi pertanyaanmu memberi ide baru buatku.”

Anna tidak memberikan reaksi selama beberapa saat sebelum kembali menjawab.

“Ya sudah. Aku percaya padamu.” Suara Anna sudah kembali terdengar normal.

“Anna, aku selalu senang bisa bicara denganmu. Tapi sekarang ini aku masih punya waktu satu jam lebih untuk menyelesaikan perhitunganku.”

“Baiklah. Aku mengerti. Aku mau tidur saja.”

“Ya. Kalau begitu, selamat tidur.”

“Kau juga. Jangan terlalu bersemangat sampai lupa waktu.”

Ardi tertawa kecil, “Siap! Aku kan jadi suami penurut.”

Terdengar Anna mendesah pelan sebelum sambungan mereka terputus. Ardi tersenyum dalam hati, sambil kembali membayangkan wajah gadis itu tatkala tengah tersipu.

Sejenak ia merasa heran. Apakah Anna bisa membaca pikiran dan perasannya? Bukankah tidak menguntungkan kalau seorang laki-laki mendapatkan istri yang bisa membaca isi hati dan kepalanya? Bagaimana kalau harus menyimpan rahasia?

Tapi kemudian ia tersenyum sendiri. Biar saja Anna bisa membaca apa yang ia pikirkan, toh untuk gadis itu, ia juga tidak berniat menyimpan rahasia apapun juga.

Selanjutnya dengan menarik nafas dalam-dalam, ia mulai berkonsentrasi menyelesaikan pekerjaanya.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here