Will You Marry Me #11

0
771
views

Pada awalnya Toni merasa hari itu sebagai hari keberuntungan. Kartunya selalu bagus, ditambah lagi ada seorang pemain baru yang sepertinya berasal dari timur tengah. Orang itu terlihat sangat kaya, mungkin keluarga kerajaan atau pengusaha minyak.

Tapi ia bermain sangat ceroboh. Seolah tidak peduli kartu apa yang dipegangnya, ia selalu menaikkan taruhan dan selalu kalah.Toni bisa mengambil keuntungan, dan beberapa kali memenangkan putaran. Dan karena si Ceroboh selalu menaikkan taruhan, uang yang dimenangkan di atas meja pun jumlahnya lebih besar dari biasa.

Tiba satu putaran dimana Toni berposisi sebagai ‘dealer’, berarti dia yang akan bertaruh paling akhir dari deluruh delapan pemain, ia punya keuntungan bisa mempelajari lawan yang lain sebelum menentukan taruhan.

Kartu mulai dibagikan dan masing masing pemain mendapat 2 kartu. Toni melirik kartunya, ‘Ace’ dan ‘King’. Lagi-lagi dewi keberuntungan berpihak padanya.

Semua pemain sesuai giliran menyatakan ‘call’, ikut taruhan awal sesuai ‘big blind’, 5 ribu dollar.

Gadis pembagi kartu kemudian membuka 3 kartu pertama, ‘flop’. Tampak tiga kartu terbuka di atas meja, berturut-turut ‘Ace’, ‘King’, dan ‘Ace’.

Hati Toni bersorak, namun ia menjaga raut mukanya tetap datar. Dengan sebuah ‘Ace’ dan ‘King’ ditangannya, dia sudah mendapat full house , 3 ‘Ace’ dan 2 King. Hampir pasti dia menang, kecuali jika ada pemain lain yang mempunyai kartu sama ‘Ace’ dan ‘King’, tapi kemungkinan itu sangat kecil.

Posisi kartu seperti itu sangat riskan. Dan sesuai perkiraan Toni, ketujuh lawannya menyatakan ‘check’, bahkan si Ceroboh tidak berani menaikkan taruhan. Toni tinggal memastikan siapa kira-kira diantara lawan yang memegang sisa satu kartu ‘Ace’ dan dua ‘King’.

Ia menaikkan taruhan, ‘bet’, 15 ribu dollar, berharap siapapun yang memegang ‘As’ ,’King’ atau kartu sepasang, ‘pair’, masih akan ikut bertaruh, sehingga uang yang akan dimenangkan lebih besar.

Pemain pertama ‘call’,
Dua pemain berikutnya langsung menutup kartu, ‘fold’.
Pemain ke-4 dan ke-5 ‘call’.
Pemain ke-6 ‘fold’.
Tiba giliran si Ceroboh.
Diluar dugaan ia malah menaikkan taruhan tidak tanggung-tanggung, 100 ribu!

Seperti putaran sebelumnya, si Ceroboh selalu main gertak. Namun karena masih ada empat lawan yang masih bertahan, Toni menduga sisa ‘Ace’ dan ‘King’ pasti tersebar, tidak berkumpul di satu orang. Nilai taruhan di meja bernilai 215.000 dollar. Bisa dibilang ia sudah memenangi putaran itu. Ia memutuskan untuk mengakhiri putaran lebih cepat dengan balas menaikkan taruhan menjadi 200.000.

Pemain pertama dan ke-4‘fold’.
Pemain ke-5 dan si Ceroboh ‘call’.

Ternyata dua lawannya masih bertaan. Kini Toni berpikir pemain ke-5 kemungkinan memegang satu kartu ‘Ace’ sehingga tetap ikut taruhan. Biasanya si Ceroboh akan mundur kalau gertakannya dibalas, tapi karena kali ini masih ikut bertaruh, Toni memperkirakan Si Ceroboh memegang satu kartu ‘King’, membuatnya mendapat ‘two pair’, ‘Ace’ dan ‘King’.

Tanpa kartu ‘pair’ si Ceroboh suka main gertak gila-gilaan, dengan dua kartu ‘pair’, Toni tidak heran kalau ia lebih gila lagi.

Kartu ke empat, ‘turn’, dibuka dengan angka ‘4’

Pemain ke lima ‘check’
Si Ceroboh main gila lagi dengan menaikkan taruhan 500.000!

Kalau mau ikut, Toni harus memesan chips baru. Ini berarti dia harus berhutang, setidaknya 400.000 dollar.

Jantungnya mulai berdebar-debar, Toni curiga kalau si Ceroboh memegang dua kartu ‘King’, mendapat ‘full house’ 3 ‘King’ dan 2 ‘Ace’. Untuk saat itu kartunya lebih baik, tapi kalau kartu terakhir, ‘river’, adalah ‘King’, si Ceroboh mendapat ‘four of a kind’, empat ‘King’ dan ia akan kalah.

Toni berhitung kemungkinan ia akan kalah 1:1000, atau bahkan mungkin lebih kecil mengingat sebelumnya masih ada empat lawan yang bertahan. Ia memutuskan memesan chips baru dan ‘call’

Pemail kelima menyerah, ‘fold’.

Tinggal Toni berhadapan dengan si Ceroboh.

‘River’ dibuka, angka ‘2’.

Baru saja debaran jantung Toni sedikit mereda karena kartu terakhir bukan ‘King’, dengan mata terbelalak ia menyaksikan si Ceroboh menaikkan taruhan lagi , 2 juta!!

Susana ruangan menjadi riuh. Jantung Toni berdebar lebih kencang.

Kini ia melihat kemungkinan lain. Tiga kartu ‘heart’ diatas meja, ‘Ace’, ‘2’ dan’4’ terbuka di atas meja. Jika si Ceroboh memiliki ‘3’ dan ‘5’ ‘heart’, ia akan mendapat ‘straight flush’, kartu ‘full house’ Toni akan kalah.

Tapi jika si Ceroboh memegang kartu itu dari awal, peluang menangnya kurang dari 1:60,000. Dengan peluang sekecil itu, pemain paling gila sekalipun akan ‘fold’ ketika ia menaikkan taruhan di awal putaran. Jika mundur, ia sudah berhutang empat ratus ribu dollar.

Toni memutuskan untuk ‘call’, bukankah hari itu adalah hari keberuntungannya?.

Sesaat seisi ruangan menjadi hening menanti dua pemain yang tengah bertarung sama-sama membuka kartu di tangan masing-masing.

Sesaat kemudian suasana berubah riuh dengan desahan panjang dari semua yang menyaksikan pertarungan itu. Seluruh kartu telah terbuka di atas meja. Jantung Toni yang dari berdebar kencang mendadak berhenti berdetak melihat kartu lawannya.

Benar seperti yang ia khawatirkan, ‘3’ dan ‘5’ ‘heart’!. Keringat dingin mengucur deras di sekujur tubuh Toni, kepalanya berkunang-kunang dan badannya terasa lemas tak bertenaga. Ia kini berhutang 2,4 juta dollar!! Untuk beberapa saat Toni terpaku di kursinya. Diliriknya Wendy yang menundukkan kepala dengan raut muka menyesal.

Sesaat kemudian seorang bertubuh besar dan berkepala botak datang menghampiri. Ia memperkenalkan dirinya Song Zuomin, pemilik kasino itu. Song menyalami Toni dan menepuk pundaknya dengan ramah, kemudian ia diajak masuk ke sebuah ruangan.

Song mengatakan bahwa ia kagum dengan keberanian dan cara bermain Toni. Ia juga mengatakan agar Toni tidak terlalu risau akan hutangnya dan bisa dibayar kapan saja. Song bahkan berjanji akan merekomendasikan temannya untuk memakai jasa kapal Toni setelah ia mengetahui Toni adalah direktur cabang satu perusahaan pelayaran.

Toni merasa sedikit lega sekaligus heran melihat seorang bos judi yang sering diceritakan kejam, ternyata begitu baik hati. Mulai saat itulah ia mengenal Song Zuomin, atau biasa dipanggil Mr. Song, sementara anak buahnya memanggil dengan sebutan ‘Big Boss’.

Setelah kekalahan itu, Toni merasa trauma dan jadi malas berjudi. Untunglah Wendy bersikap sangat baik. Tak jarang Wendy yang malah lebih dulu menghubungi, menawarkan untuk menemani makan malam atau kemana pun Toni pergi. Toni jadi lebih sering bertemu dengan gadis itu. Berada bersama Wendy membuat Toni lebih terhibur dan sedikit melupakan masalahnya.

Song juga menepati janji untuk merekomendasikan temannya untuk memakai jasa pelayaran Toni. Ia melihat beberapa nama pelanggan baru yang menggunakan kapal-kapalnya.

Sesekali Toni berkunjung ke Macau untuk bertemu Song, sekedar mengucapkan terima kasih. Toni berterus terang bahwa untuk sementara ia masih trauma dengan kekalahan itu dan belum berminat berjudi lagi. Setiap Toni menyinggung masalah hutang, Song selalu menyatakan agar ia tidak perlu khawatir.

Toni mulai merasa ada keanehan ketika ia mencoba mencari keterangan perusahaan yang dikatakan sebagai teman-teman Song. Ia tidak memperoleh info apapun selain nama dan alamat yang tertera dalam dokumen pengiriman.

Kecurigaannya makin besar ketika mendengar peristiwa terungkapnya penyelundupan narkoba jenis shabu di Jakarta. Ia menduga kontainer yang mengangkut barang itu dikirim mengunakan armada kapalnya, dan yang mengirim adalah salah satu dari yang mengaku sebagai teman Song.

Walaupun sebagai pengangkut, perusahaannya tidak bisa dimintai tanggung jawab atas isi barang yang diangkut, Toni merasa ia tidak bisa diam begitu saja. Tadinya Ia menduga Song mungkin juga tidak mengerti, hanya dimanfaatkan teman-temannya memakai jasa pelayaran Toni dengan menyelundupkan barang ilegal.

Karena itulah Toni berani berinisiatif meninggalkan muatan salah seorang ‘teman’ Song ketika barangnya terlambat datang. Diluar perkiraan, hal itu ternyata membuat Song amat marah. Kini Toni menduga, pemilik barang ilegal itu sesungguhnya adalah Song sendiri.

Tersadar dari lamunannya, pandangan Toni kini terpaku pada artikel yang tampak di layar komputer. Tiga hari yang lalu terjadi perkelahian antar dua kelompok Triad di distrik Tai Po, wilyah New Territories di Hong Kong. Wilayah itu memang dikenal sebagai salah satu tempat operasi utama beberapa gang Triad.

Ia teringat salah seorang teman yang dikenalnya ketika masih sering berjudi di Macau. Teman itu kabarnya tinggal di Tai Po.

“Mungkin aku bisa mencari keterangan lebih jauh tentang Song, “ Batin Toni, “Mungkin juga aku bisa mencari tahu keberadaan Wendy.”

Toni belum terpikir untuk mencari jalan melawan Song dan orang-orangnya. Tapi ia berharap, ia dapat lebih memahami dengan siapa sesunguhnya ia berhadapan.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here