Will You Marry Me #10

0
114
views

HONGKONG
Toni mengurut kedua belah pelipisnya dengan jari tangan. Kepalanya terlalu pening memikirkan masalah yang ia hadapi. Setelah pertemuannya dengan Raymond, sama sekali ia tidak dapat memusatkan pikiran untuk bekerja.

“Sepertinya memang tidak ada jalan lain selain ikut berlayar bersama gerombolan Song. Menjadi sandera di atas kapalku sendiri.” Batin Toni.

Ia merinding membayangkan berbagai kemungkinan yang akan terjadi. Selama seminggu ia akan berada sendirian di tengah laut bersama sekelompok anggota gang. Apapun yang akan dilakukan orang-orang itu, ia tidak akan dapat menghindar.

“Andai saja aku tidak pernah tergoda untuk berjudi, aku tidak akan pernah terlibat dengan Song” Batinnya lagi, “Ya…andai saja Wendy tidak pernah bercerita tentang Macau.”

Kepala Toni bertambah pening memikirkan Wendy.

“Gadis yang malang, tidak seharusnya ia menanggung akibat dari perbuatanku.” Batin Toni.

Toni mengenal Wendy hampir tanpa sengaja. Sewaktu menjamu empat orang kolega bisnisnya, mereka pergi ke sebuah klub malam dekat pelabuhan Victoria dan menyewa satu ruang karaoke khusus VIP, lengkap dengan lima orang gadis pemandu lagu untuk setiap orang.

Tidak berapa lama mereka menyanyi, seorang manager klub masuk ruangan, membungkuk-bungkuk meminta maaf sambil menerangkan bahwa gadis yang sedang menemani Toni harus segera pulang karena dicari keluarganya. Manager itu menawarkan gadis lain disertai diskon yang lumayan.

Tujuan Toni di tempat itu memang sekedar menjamu koleganya, ia sendiri tidak begitu berminat dengan karaoke. Jadi ketika ia harus menukar gadis yang menemaninya, ia sama sekali tidak keberatan.

Gadis baru ternyata jauh lebih menarik dari gadis yang semula menemani Toni. Tubuhnya ramping dibalut baju terusan yang ketat sebatas paha. Wajahnya cantik, putih bersih dengan hidung mancung, memakai make-up tipis yang tidak terlalu mencolok sebagaimana gadis-gadis klub yang lain. Yang paling membuat Toni terkesan adalah kaki gadis itu yang jenjang dan ramping berbalut stoking hitam. Toni sempat berpikir gadis ini lebih cocok menjadi model ketimbang gadis pemandu lagu.

Semakin malam suasana makin hangat, apa lagi ditambah pengaruh minuman beralkohol. Selanjutnya keempat rekan Toni minta diri membawa gadis masing-masing untuk ‘urusan privat’. Ia sendiri memilih menunggu mereka di ruang karaoke.

“Kita menunggu disini saja ya?.” Kata Toni

“Terserah tuan saja.” Sahut Gadis itu, lalu melanjutkan, “Tuan masih ingin menyanyi?”

“Boleh,” Sahut Toni, “Tapi saya tidak pandai menyanyi, kau harus bantu saya.”

“Tentu saja, “Gadis itu tersenyum manis,” Kita berduet.” Ajaknya.

Mereka menyanyikan beberapa buah lagu. Toni ikut larut dengan pembawaan gadis itu. Ia Bahkan ikut berjingkrak dan berjoget bersamanya.

“Kita istirahat dulu sebentar,” Kata Toni beberapa saat kemudian dengan nafas terengah-engah, “Tolong kau pesankan lagi minuman dan makanan kecil.”

Wendy menuruti permintaan Toni, selnajutnya mereka lebih banyak bercakap-cakap. Dari situ Toni baru tahu kalau nama gadis itu Wendy Kwan.

Wendy menyenangkan sebagai teman bicara. Toni merasa keramahan gadis itu jujur, tanpa dibuat-buat berbeda dengan gadis pemandu lain yang ia kenal. Wendy juga tidak menunjukkan sikap agresif atau mencoba merayu agar Toni mau memakai jasa pelayanan ‘lebih’. DI tempat seperti itu, biasanya Toni yang harus banyak menahan diri. Namun bersama Wendy, ia merasa bisa lebih lepas menikmati hiburan.

Sejak pertemuan itu, Toni jadi lebih sering berkunjung ke tempat itu untuk sekadar bertemu dengan Wendy.

“Boleh kutahu nomor teleponmu?” Tanya Toni dalam satu kesempatan.

“Tuan bisa menghubungi saya melalui kantor.” Jawab Wendy.

“Aku tahu itu. Tapi aku ingin tahu nomormu sendiri.” Kata Toni lagi.

Wendy tersenyum, ia mengambil secarik kertas lalu menuliskan nomor teleponnya.

“Apa kau bersedia kalau aku ajak makan malam.” Tanya Toni lagi.

“Maaf Tuan, saya biasanya tidak melayani pelanggan di luar tempat kerja.” Sahut Wendy, “Tapi kalau Tuan perlu teman, saya bisa rekomendasikan teman yang lain.”

“Ah. Aku hanya ingin mengajakmu.” Ujar Toni, “Eh. Apa kau sudah punya pacar?”

Wendy menggeleng, “Saya tidak punya pacar, Tuan.”

“Nah, apa salahnya kau makan malam bersamaku,” Sahut Toni, “Hanya makan malam, aku janji tidak ada yang lain.”

Wendy tersenyum lagi, “Tapi malam ini sepertinya tidak bisa, Tuan.”

“Bagaimana kalau besok? Jam berapa kau biasa istirahat?” Tanya Toni.

“Saya biasa istirahat jam delapan malam, tapi saya belum bisa berjanji kalau bisa menemani Tuan besok.” Sahut Wendy lagi.

“Kalau begitu besok jam enam aku akan meneleponmu.” Balas Toni.

Penolakan-penolakan Wendy membuat Toni tambah penasaran. Setelah beberapa kali meminta, akhirnya Wendy bersedia juga. Selanjutnya, Toni selalu mengajak Wendy makan malam tiap ada kesempatan.

Ia jadi lebih sering bertemu Wendy diluar tempat gadis itu bekerja. Dari cerita Wendy, Toni mengetahui kalau ia terpaksa berhenti sekolah ketika kedua orang tuanya bercerai dan ayahnya pergi meninggalkan ia bersama ibu dan seorang adik. Wendy juga bercerita kalau ia pernah bekerja di sebua casino di Macau, namun ketika ibunya mulai terkena sakit, ia memutuskan kembali ke Hong Kong dan bekerja di klub malam.

“Bagaimana kalau akhir pekan kita ke Macau?” Ajak Toni, “Aku dengar tempat itu bagus.”

“Kalau akhir pekan, di klub justru ramai, banyak tamu. Saya tidak bisa, Tuan.” Jawab Wendy.

“Eh, kau tidak perlu lagi memanggilku ‘tuan’ terus-terusan. Panggil saja namaku, Toni.” Kata Toni.

Lalu ia melanjutkan,”Kau jangan tersinggung, aku tahu di akhir pekan kau bisa mendapatkan uang lebih banyak. Tapi kalau kau mau, aku bisa menganti ‘kerugianmu’.”

Wendy terdiam sejenak, “Tapi saya juga tidak bisa berjanji sekarang. Saya harus bicara dengan manager lebih dulu apa saya diperbolehkan absen di akhir pekan.”

Toni tersenyum, “Kalau perlu aku yang akan bicara dengan managermu. Aku kenal dia.”

“Kalau begitu terserah tuan saja.” Sahut Wendy

“Toni.” Potong Toni, “Jangan panggil aku ‘tuan’lagi.”

Wendy hanya tersenyum.

Di Macau, mereka mengunjungi berbagai tempat. Melihat landscape Macau melalui Macau Tower, berbelanja di City of Dream, megunjungi Venetian Macau, mencoba makanan di Rua du Cunha, melihat Panda di Giant Panda Pavillion dan tempat-tempat lain.

“Aku mau melihat casino tempatmu bekerja dulu.” Kata Toni.

“Kau mau berjudi?” Tanya Wendy, ”Sebaiknya hati-hati. Kalau sampai kecanduan bisa berbahaya.”

“Ah.Kita hanya melihat-lihat saja.” Sahut Toni, “Kalau mencoba sedikit-sedikit aku pikir tidak masalah.” Lanjutnya lagi.

Mereka mencoba beberapa permainan, ‘Slots’, ‘Baccarat’, ‘Bingo’, namun Toni paling tertarik dengan permainan di meja Poker berjenis Texas Hold ‘Em. Sehari-hari ia bergelut dengan resiko dan peluang, permainan ini cocok untuknya.

Ternyata ia memang cakap bermain kartu, keberuntungannya juga baik. Pertama kali mencoba langsung menang lumayan banyak. Toni sendiri lebih tertarik pada permainan itu dari pada uang yang ia dapat. Sebagian besar hasil kemenangannya ia berikan kepada Wendy.

Setelah itu, beberapa kali mereka berkunjung ke Macau. Di meja judi, Toni lebih sering menang daripada kalah. Merasa bisa menjaga keuangannya dengan aman, ia makin senang bermain. Sampai akhirnya hampir tiap pekan ia mengajak Wendy pergi ke Macau.

Karena sering berkunjung, Toni mulai dikenal di casino itu. Manager Casino kemudian menawarinya bermain di ruang VIP.

“Di ruang itu taruhannya lebih besar dan tanpa batas. Pemainnya juga hebat-hebat, rata-rata profesional. Kau sebaiknya berpikir ulang.” Wendy mengingatkan. Tapi Toni malah penasaran, ia menerima tawaran itu.

Bertarung di ruan VIP, Toni merasakan lawan-lawan yang dihadapinya jauh lebih tangguh. Ia jadi lebih sulit menang, tapi juga ia selalu berhati-hati untuk tidak kalah terlalu banyak. Walaukerap penasaran, ia masih bisa menahan diri dan tahu kapan harus berhenti. Kemudian perlahan-lahan Toni mulai dapat memahami karakter permainan lawan-lawannya, dan sedikit demi sedikit mulai mendapat kemenangan.

Lalu tibalah hari yang menjadi sumber malapetaka.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here