Will You Marry Me #09

0
111
views

JAKARTA
“Apa sih sebenarnya yang dia lihat.” Ardi membatin sambil melihat bayangannya di depan cermin. Pikiran itu terus menerus muncul di kepalanya setiap ia mengingat Anna.

Setelah beberapa hari mengenal gadis itu, Ardi tidak bisa ingkar bahwa ia sudah jatuh hati. Cantik, cerdas, percaya diri tapi bisa juga polos, spontan dan kadang-kadang manja, membuatnya selalu terpesona setiap mereka bertemu. Namun ketika kesadarannya datang, ketika ia harus menilai diri sendiri, ia juga tidak bisa mengingkari kecemasan yang makin sering muncul.

Apa sebetulnya yang dilihat Anna dari dirinya? Bagaimana kalau ternyata Anna salah menilai? Apa yang harus ia lakukan setelah menerima tawaran Anna? Bagaimana jika setelah tahu siapa ia yang sesungguhnya lalu Anna berubah pikiran? Dengan keadaan sekarang, bisakah ia membahagiakan gadis itu? Bagaimana cara mempertahankan Anna setelah ia mendapatkannya?. Ardi mengaruk-garuk kepala sambil memikirkan hal itu.

Tiba-tiba, rasa gatal di kepala dirasakan seolah menular ke badannya. Ia menggaruk dan hidungnya mencium bau yang tidak wajar. Secara spontan ia mencium baju yang baru saja dipakai.

“Aneh, sepertinya baju ini belum dicuci. Jangan-jangan aku salah taruh di tumpukan pakaian bersih.” pikirnya seraya melepas baju dan menggantinya dengan yang lain.

Baru saja Ia merebahkan diri di atas kasur ketika ponselnya berbunyi, dan sebaris pesan muncul di layar.

[Kau mendingan ganti baju deh]
Dari Anna.

Kening Ardi berkerut “Ada apa tiba-tiba ia menyuruhku ganti baju?” Katanya dalam hati.
[Emang kenapa?]

[Gak cocok buatmu]

[kenapa?]

[Ah, tidak apa-apa]

[Emang baju apa yang kupakai?]

[Baju kaus, kotak-kotak hijau-hitam, ada risleting kecil yang gak jelas gunanya]

Ardi tertegun, baju itu adalah baju yang baru saja ia ganti, yang tadi terasa gatal karena belum dicuci.

[Kalau itu aku baru saja ganti]
[Tapi bagaimana kau tahu aku punya baju semacam itu?]
Setiap bertemu, Ardi selalu memakai kemeja yang dipakainya dari kantor.

[Rahasia] disertai simbol ‘’senyum’.

“Rahasia lagi.” Batin Ardi , “Apa dia bisa melihatku?”

[Coba sekarang katakan, aku pakai baju apa?]

[Mana aku tahu]

[Tadi kau tahu]

[Tapi sekarang tidak]

[Coba tebak kalau kau tidak tahu]

[Biru]

“Salah”
[putih]

[Aku kan sudah bilang tidak tahu]
[Ah. Sudah ya. Aku mau tidur. Kau juga sebaiknya tidur]
[Selamat tidur]
[Sampai jumpa besok]

[Kau juga. Selamat tidur. Sampai besok]

“Aneh, bagaimana dia bisa tahu?” Pikir Ardi, “Jangan-jangan bapaknya dukun.” Ardi tersenyum sendiri, ia tidak terlalu percaya urusan perdukunan.

“Tapi kalau anaknya seperti Anna, gak masalah kalau kemudian mertuaku ternyata seorang dukun.” Batinnya lagi sambl memejamkan mata, berusaha untuk tidur.

—–

Sementara itu, Anna berbaring di kamar hotel sambil tersenyum. Ketika melihat gambaran tentang Ardi yang tiba-tiba saja datang, ia tidak dapat menahan diri untuk menggodanya.

Ana tidak ingat kapan pertama kali ia mengalami fenomena yang tidak dimengerti ini. Yang jelas, beberapa lama setelah ibunya meninggal, ia mulai melihat tayangan atau gambaran tentang suatu peristiwa tertentu yang seolah muncul di kepalanya. Peristiwa itu biasanya melibatkan orang-orang yang ia kenal.

Yang ia lihat itu kadang-kadang berupa tayangan klip video pendek, ada pula yang berupa gambar, simbol atau foto baik tunggal maupun dalam rangkaian seperti slide presentasi. Gambaran itu datang dan pergi begitu saja tanpa dapat ia kontrol. Waktu kedatangannya pun tak tentu, terkadang dalam bisa beberapa kali dalam satu hari, terkadang pula berselang sampai berminggu-minggu dari satu gambaran ke gambaran berikutnya. Sering kali setiap gambaran itu membawa kesan tersendiri, baik itu perasaan senang, bahagia, cemas, juga sedih. Namun kesan yang ia rasakan biasanya langsung hilang ketika tayangan yang dilihatnya selesai.

Setelah beberapa kali mengalami penglihatan itu, baru ia sadari kalau beberapa gambaran peristiwa yang ia lihat, kemudian betul-betul terjadi.

Anna tidak pernah percaya pada ramalan atau hal-hal yang sering disebut supranatural. Sifatnya yang cenderung terbuka, spontan, aktif dan terkadang semaunya sendiri, membuatnya tidak terlalu peduli dengan fenomena yang tidak bisa ia pahami, walaupun fenomena itu ia alami sendiri. Sehingga sejauh ini ia tidak pernah bercerita pada siapapun tentang gambaran-gambaran yang dilihatnya.

Namun belakangan gambaran-gambaran itu memperlihatkan hal yang berbeda, tidak hanya melibatkan orang lain, tapi justru melibatkan dirinya sendiri dengan seorang pria.

Sebelumnya ia banyak mengenal pria lain, beberapa malah sengaja diperkenalkan oleh ayahnya, namun tak ada satu pun yang berkesan di hatinya. Yang ia heran, ia justru tertarik pada pria yang tampak dalam gambaran itu.

Awalnya ia juga tidak terlalu peduli, namun gambaran pria itu berulang kali muncul dalam berbagai tayangan berbeda. Bahkan dalam beberapa gambaran, ia seolah-olah bisa berinteraksi, saling bertatap mata atau bercakap-cakap.

Sampai akhirnya ia merasa kalau lama-lama kewarasannya bisa hilang karena merasa tertarik pada seorang pria yang bahkan nama atau dimana ia tinggal saja tidak tahu. Ia pernah mendengar cerita tentang dukun atau ilmu pelet, yang bisa mempengaruhi perasaan seseorang. Tapi ia tidak sepenuhnya percaya. Justru ia tertantang untuk mencari tahu siapa pria itu sesungguhnya

Selanjutnya Ia mulai fokus mengamati latar belakang tempat atau petunjuk lain yang bisa ia dapat setiap gambaran itu muncul. Setelah beberapa lama melakukan pengamatan, akhirnya ia mulai bisa mengenali jalan, pertokoan, rumah makan dan beberapa petunjuk lain untuk memastikan lokasi pria itu.

Pipi Anna memerah mengingat satu tayangan dimana ia melihat pria itu bersama dirinya dalam satu kamar. Situasi yang hanya mungkin terjadi jika ia dan pria itu sudah terjalin dalam satu ikatan. Kesan yang dibawa tayangan itu begitu kuat, sampai terbawa pada saat pertama kali ia menemui pria itu di alam nyata.

Rasa senang yang meluap-luap ketika pada akhirnya berhasil menemukan pria itu sempat membuatnya kesulitan menguasai diri. Hingga tanpa disadari terluncur permintaan pada pria itu untuk menjadi suaminya.

Dan Pria itu adalah Ardi. Anna bersyukur ternyata respon Ardi wajar dan logis. Ardi tidak berusaha merendahkan atau memanfaatkan kelemahannya. Tapi tentu saja ia tidak bisa serta merta menceritakan apa yang ia alami kepada Ardi.

“Aku tidak tahu bagaimana respon Ardi kalau nanti aku menceritakan hal ini. “Batin Anna. “Apakah ia akan menganggap aku gadis yang aneh?”

“Biar bagaimanapun, pada saatnya nanti aku harus menceritakan segalanya.” Anna menarik nafas dalam-dalam dan mulai memejamkan mata.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here