Will You Marry Me #08

0
52
views

SURABAYA

Andre menarik nafas dalam-dalam seraya mengamati hasil goresan kuasnya di atas kanvas. Beban yang selama ini dirasakan menghimpit dada seakan sedikit terangkat. Melukis telah menjadi ajang curahan hati untuk mengungkapkan semua yang ia rasakan, juga menjaganya tetap dalam kewarasan.

Kadang ia berpikir untuk mengakhiri hidupnya atau malah menghabisi orang-orang yang dianggap nya bertanggung jawab akan situasi yang ia alami. Namun ia sadar, ia tidak pernah punya keberanian untuk melakukan hal semacam itu.

Waktu menunjukkan hampir jam dua pagi, namun belum ada tanda-tanda Susan, istrinya, pulang. Sudah berulang kali Andre mencoba menyusun kalimat untuk mengingatkan agar Susan mengurangi kegiatan diluar. Tapi Berulang kali pula lidahnya menjadi kaku ketika sudah berhadapan dengan istrinya itu.

Ia tidak bisa menyalahkan Susan begitu saja. Sikap Susan juga karena ketidakmampuannya sebagai suami. Sebagai direktur cabang sebuah perusahaan pelayaran terbesar di Indonesia, Andre bisa menyediakan kebutuhan materi, namun tidak mampu memberikan nafkah batin.

Sepanjang hidupnya Andre selalu merasa tertekan. Sebagai anak kedua dari pemilik perusahaan, ia diharapkan bisa meneruskan usaha ayahnya. Tapi Andre sendiri tidak pernah menyukai hal itu. Ia hanya suka melukis. Ia pernah mengutarakan keinginannya untuk meneruskan sekolah di jurusan seni rupa. Tapi Ayahnya yang keras tidak mau tahu. Ia harus sekolah di jurusan bisnis.

Berbanding terbalik dengan Andre, kakaknya yang hanya berselisih satu tahun lebih tua selalu cemerlang, baik dalam prestasi akademik maupun di lapangan. Toni selalu aktif, sementara ia lebih banyak mengurung diri di kamar. Ketika Toni banyak meraih prestasi, ia harus berusaha sangat keras agar bisa sekedar menyelesaikan sekolah. Ketika Toni sudah dipercaya memimpin sendiri berbagai kantor cabang, kemampuanAndre dalam mengurus perusahaan tak lebih dari staff biasa. Semua itu membuatnya merasa semakin tertekan dan rendah diri.

Ingatannya melayang ke saat pertama ia mengenal Susan. Waktu itu ayahnya tengah menggelar pesta akhir tahun yang dihadiri para pemimpin perusahaan, rekan bisnis dan tamu-tamu penting.

Andre membenci setiap pesta. Seperti yang sudah-sudah, ia sealu duduk menyendiri di salah satu meja. Saat itu seorang wanita datang menghampiri.

“Hai. Boleh aku ikut duduk disini?”

Andre memandang perempuan yang barusan menyapanya. Susan bertubuh sintal dengan baju putih ditutup blazer dan rok selutut yang serasi. Rambutnya di cat pirang kecoklatan dan wajahnya seolah selalu tersenyum.

“S-silahkan,” Sahut Andre sambil memaksakan diri tersenyum canggung.

“Aku Susan, “ Katanya sambil mengulurkan tangan.

“Andre,” Andre menyambut tangan Susan.

Susan menggenggam tangan Andre dengan hangat, “Oh. Kau putra Pak Hardian Chandranaya?”

Andre mengangguk. Sebutan itu lebih memberi beban daripada kebanggaan buatnya.

“Aku sebetulnya hanya mewakili atasanku. Dia tidak bisa hadir karena sudah lebih dulu pergi berlibur bersama keluarganya.” Ujar Susan.

Andre hanya terdiam mendengarkan.

“Aku agak canggung. Belum pernah aku menghadiri pesta seperti ini. Yang hadir banyak sekali orang penting dan pimpinan perusahaan.” Susan berkata lagi.

Simpati Andre timbul, ternyata bukan cuman dia yang merasa tersiksa dengan pesta ini.

“Aku sendiri juga sebetulnya kurang mengenal orang-orang itu.” Sahut Andre

Selanjutnya mereka berdua berbincang-bincang. Pembawaan Susan yang ramah dan periang sedikit mengatasi rasa canggung Andre.

“Rupanya kita harus berbaur sekarang. Ayahmu akan mulai memberikan sambutan. Kau mau menemaniku?” Kata Susan beberapa saat kemudian,” Kalau bersama tuan rumah, aku mungkin bisa sedikit mengatasi kecanggunganku.” Lanjut Susan sambil tersenyum.

Andre menganggukkan kepala. Setelah sekian lama, ia juga senang mendapatkan teman untuk melewati pesta itu. Susan terus menemani Andre sepanjang pesta dan bersamanya Andre mulai bisa berinteraksi dengan tamu-tamu lain. Pertemuan itu membuatnya terkesan. Baru kali itu Andre merasa ada orang yang betul-betul perhatian padanya.

Semenjak kejadian itu, Andre beberapa kali menghubungi Susan dan ia selalu membalas dengan ramah. Sampai akhirnya Andre memberanikan diri menemuinya dan pergaulan mereka menjadi semakin rapat.

Dari cerita Susan Andre mengetahui kalau ia pernah jadi perawat. Tak heran jika pembawaannya selalu ramah dan penuh perhatian. Susan juga bercerita kalau ia pernah menikah, tapi kemudian bercerai sebelum ia mempunyai anak. Tapi Andre tidak peduli dengan masa lalu gadis itu. Susan telah menjadi pusat kehidupannya. Andre hanya merasa bahagia ketika mereka bersama. Setelah beberapa lama berkenalan, Andre memberanikan dari melamar Susan, dan Susan menerimanya.

Hari itu menjadi hari paling membahagiakan buat Andre. Mereka melakukan pernikahan secara sederhana karena Andre sendiri benci dengan pesta. Setelah menikah, untuk sementara waktu mereka masih tinggal di rumah ayahnya.

Andre mulai merasakan masalah di malam pertama pernikahan mereka. Ia berbahagia berada dekat Susan dan menikmati saat-saat mereka bersama. Tapi hasratnya tidak bisa ditingkatkan lebih dari itu.

Susan berusaha memaklumi , terus membesarkan hati Andre, dan berusaha keras mengatasi masalah suaminya. Andre mulai merasakan perasaan bersalah karena tidak bisa melayani istrinya, namun sekaligus juga rasa sayangnya makin dalam melihat usaha dan perhatian Susan.

“Mungkin sebaiknya kita pindah dan mulai hidup sendiri.” Kata Susan setelah beberapa bulan mereka tinggal bersama ayahnya.

Dalam hati, Andre menyetujui usul itu. Tapi sepanjang hidupnya ia selalu bergantung pada orang tua. Ia belum bisa membayangkan jika kemudian mereka harus hidup sendiri.

“Bagaimana dengan ayah?” Ia bertanya.

“Kau lebih baik keluar dari bayang-bayang ayahmu.” Tutur Susan, “Aku yakin beliau mengerti.”

Ayahnya menolak usulan itu ketika pertama kali mereka sampaikan, ia tidak yakin putera keduanya bisa mengurus diri sendiri. Tapi Susan terus berusaha meyakinkan mertuanya, sampai pada akhirnya ia setuju dan mengirim mereka ke Surabaya untuk memimpin kantor cabang disana. Terlebih dulu kantor itu dipersiapkan sehingga dengan atau tanpa Andre, kegiatan perusahaan akan tetap berjalan baik.

Setelah mereka hidup berdua, Susan mendorong Andre untuk memeriksakan diri. Dari situ Susan mengetahui kondisi Andre memang berhubungan dengan kondisi kejiwaan. Rasa rendah diri yang menumpuk terlalu dalam dan lama menyebabkan Andre kesulitan membangkitkan gairah seksualnya.

Atas usaha keras Susan, mereka mulai berhasil beberapa kali menjalin hubungan suami-istri. Rasa sayang Andre pada istrinya semakin dalam. Namun pula rasa bersalah setiap melihat usaha Susan membuat Ia tidak banyak mengalami kemajuan, sampai akhirnya Susan terlihat mulai jenuh. Sesekali mereka berusaha mencoba, tapi setelah satu tahun, kehidupan seksual mereka berakhir.

Setelah itu Andre mulai merasakan perbedaan sikap istrinya. Susan tetap berusaha menjaga perhatian dan penghormatan pada dirinya, namun ia mulai lebih sering melakukan kegiatan di luar rumah.

Ada setitik kecurigaan kalau Susan mulai bertemu laki-laki lain. Namun yang paling ditakutkan Andre adalah jika Susan sampai pergi meninggalkannya. Oleh karena itulah, ia tidak bisa berbuat banyak. Ia masih merasa bersyukur, walaupun semakin hari semakin larut, Susan masih tetap kembali ke rumah.

Andre tersadar dari lamunan ketika didengarnya suara mobil mendekat. Bergegas ia merapikan peralatan lukis, mencuci tangan dan turun ke ruang tamu. Ia hampir sampai di depan pintu ketika pintu itu terbuka, dan istrinya masuk.

“Eh, kau belum tidur?” Tanya Susan.

“Aku menunggumu.” Sahut Andre, mencoba tersenyum.

“Ah. Kau sebetulnya tidak perlu menunggu.” Kata Susan seraya mendekat dan mengecup pipi suaminya. Lalu berjalan ke arah tangga menuju kamar.

Andre tidak menjawab, ia berjalan mengikuti istrinya.

“Malam ini aku bertemu banyak client. Mereka mengadakan pesta kecil, terpaksa aku ikut” Kata Susan sambil berjalan tanpa menoleh.

“Hmm, kau kan bisa minta ijin pulang lebih awal, tidak selarut ini.” Andre berkata dalam hati.

“Mereka client penting. Aku sungkan pulang lebih dulu, jadi aku menunggu sampai pesta selesai.” Kata Susan lagi, seolah membaca pikiran suaminya, sambil masuk ke dalam kamar.

Andre duduk diatas pembaringan, sementara istrinya melepas sepatu dan pakaian yang dikenakannya, kemudian berjalan masuk ke kamar mandi. Pandangan Andre tak lepas dari istrinya. Ia menikmati pemandangan ini, namun sedikitpun ia tidak merasakan gairahnya bangkit.

Tak lama Susan berjalan keluar dari kamar mandi. Masih dengan kondisi yang sama seperti saat ia masuk, langsung berjalan ke arah tempat tidur.

“Aku lelah sekali, ayo tidur.” Kata Susan seraya merebahkan diri, miring membelakangi Andre.
Lagi-lagi Andre tidak menjawab. Iapun ikut berbaring, menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka. Tangannya dilingkarkan di tubuh Istrinya.

Susan tidak bereaksi, ia membiarkan Andre memeluk dirinya.
“Laki-laki yang menjadi suamiku ini terlalu lemah. Ia benar-benar tidak berdaya, apalagi dihadapan ayahnya. Tapi sepertinya dia sudah dapat kukuasai bulat-bulat.Tinggal butuh sedikit dorongan agar aku bisa mendapat apa yang aku rencanakan” Batin Susan.

Tak lama kemudian Andre mendengar dengkuran halus istrinya. Ia masih bisa menikmati kehangatan tubuh Susan, tapi tidak pernah bisa lebih dari itu. Perlahan dikecupnya bagian belakang kepala istrinya, sebelum ia pun memejamkan mata.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here