Will You Marry Me #07

0
96
views

Ardi menarik nafas lega ketika akhirnya dia bisa menyelesaikan pekerjaan lima belas menit sebelum jam bubar kantor. Hari ini benar-benar dirasa sangat berat. Biasanya pekerjaan itu bisa selesai tidak sampai setengah hari.

Ponsel-nya bergetar dan sebaris pesan tampil di layar.

[Hai]
[Cuma mau mengingatkan janji makan malam kita]
[sampai ketemu]

Dari nomor yang sama dengan pesan tadi pagi, Anna.

Ardi merasa semua semangatnya bangkit mengingat tak lama lagi ia kembali akan bertemu Anna. Tanpa dia sadari, rupanya seharian dia juga merasa cemas kalau sampai malam Anna membatalkan janji. Tepat jam bubaran kantor, Ardi segera mematikan komputer, mengemasi tas, dan beranjak bangkit.

“Tumben, kau langsung cepat pulang?” Nurul, senior yang duduk diseberangnya tersenyum sambil bertanya.

“Eh. Aku ada perlu, Mbak.” Sahut Ardi, mukanya memerah.

“Cewek?” Tanya nurul lagi.

“Ah..” Ardi hanya ‘nyengir’. Seniornya tertawa kecil.

“Duluan ya, Mbak.” Ardi akhirnya berkata sambil beranjak meninggalkan mejanya.

“Ya. Salam buat cewek barumu.” Goda Nurul lagi.

Satu jam kemudian, Ardi sudah berada di jalan menuju Rumah Makan. Sambil bergegas, diliriknya jam di pergelangan tangan, dan ia baru tersadar kalau Ia akan tiba setidaknya lima belas menit lebih awal.

Kalau Anna datang pada waktu seperti kemarin, tentu saat ini dia belum datang. Lantas, buat apa dia berjalan tergesa-gesa seperti sekarang? Sadar akan kekonyolannya, Ardi mengurangi kecepatan langkah saat mendekati rumah makan.

Tapi kemudian ia melihat Anna sudah duduk di tempat mereka kemarin. Hanya saja kali ini Anna mengambil tempat duduknya menghadap ke arah luar.

“Hai, akhirnya kau datang juga.” Kata Anna sambil tersenyum,”Eh. Maaf aku mengambil kursimu.” Lanjutnya.

“Tidak apa. Maaf kau sudah menunggu.” Sahut Ardi sambil mengambil tempat duduk dihadapan Anna, “Sudah lama?” Lanjutnya bertanya.

“Tidak juga, belum sampai satu gelas. “ Jawab Anna sambil menunjukkan gelas minumnya yg tersisa kurang dari separuh.

“Ah, lumayan lama juga.” Sahut Ardi, “Tapi sesungguhnya, paling cepat aku baru bisa datang jam segini sepulang kerja.”

Anna tersenyum, “Ya. Kau datang lebih cepat. Malah kulihat kau seperti habis berlari.”

Ardi yang sekarang jadi rikuh. Anna seolah bisa menebak, betapa dia juga menginginkan pertemuan kedua ini.

Ia hanya bisa tersenyum kecil. Mereka langsung segera memesan makanan.

“Kenapa kau tidak mebalas satu pun pesanku?” Tiba-tiba Anna bertanya lagi.

“Oh, maaf.” Ujar Ardi, “Eh, tapi darimana kau tahu nomorku?” Ardi balik bertanya.

“Rahasia.” Anna tersenyum simpul.

“Uh. Kau sudah terlalu banyak rahasia. Tak perlu ditambah lagi.” Balas Ardi

“Aku tidak bisa mengatakan sekarang, tapi nanti semuanya pasti aku jelaskan,” Jawab Anna lagi

Ardi tidak mendesak lagi. “Aku bingung mau balas apa.” Ia berkata, “Baru kali ini aku mendapat pesan dari seorang gadis untuk menyuruhku cepat-cepat bangun.”

Terdengar tawa Anna pelan namun renyah. “Jadi kau benar-benar lambat bangun hari ini?”

“Ya. semalaman aku tidak bisa tidur.” Sahut Ardi.

“Kenapa?” Anna bertanya sambil mengulum senyum. Ardi tahu gadis itu sudah tahu jawabannya.

“Banyak PR” Balas Ardi singkat sambil ‘nyengir’.

Anna hanya tertawa mendengar jawaban Ardi. Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan datang.

“Kau tidak bekerja?” Tanya Ardi sambil mulai menyantap hidangan.

“Mm… aku membantu Ayahku, dan aku mendapatkan uang untuk itu. Jadi secara teknis, aku rasa aku bekerja.”

“Oh, Ayahmu punya usaha sendiri?”

Anna mengangguk

“Dalam bidang apa?”

“Aku belum bisa bilang.”

“Rahasia lagi.” batin Ardi. Ia sungguh penasaran ingin tahu latar belakang Anna. Tapi gadis itu cukup cerdas untuk menghindari setiap pertanyaan jebakan Ardi.

“Tapi sekarang ini aku sedang cuti.” Lanjut Anna lagi

“Eh, kenapa.” Tanya Ardi.

“Kan aku sedang bersamamu.”

“Oh. Orang tuamu tidak keberatan?”

“Aku selalu punya cara agar ayah menuruti keinginanku,” Sahut Anna, lalu ia melanjutkan sambil tersenyum. ”Biarpun sebetulnya ayahku galak.”

“Kalau anaknya macam kamu, biar mertua segalak apapun aku tidak takut,” Kata-kata ini hanya berani Ardi ucapkan dalam hati, “Lagian menghadapi makhluk cantik nan cerdas semacam ini, semua orang pasti memilih untuk lebih baik mengalah.” Batinnya lagi

Ardi hanya balas tersenyum, “Lalu, apa saja yang kau lakukan sehari ini?”

“Tidak banyak. Pagi aku mengahabiskan waktu membaca sampai siang. Sore aku sedikit berkeliling melihat-lihat situasi daerah ini, lalu langsung kemari, menunggu Kau. Aku coba kirim pesan, tapi tidak kau balas. “ Tutur Anna

Ardi menangkap nada minta diperhatikan ketika Anna kembali mengungkit masalah pesan. Ia tersenyum dalam hati.

“Baiklah. Aku janji kalau kirim pesan lagi, pasti aku balas.” Jawabnya

“Hanya membalas? Kenapa tidak sekalian kau berjanji mengirim aku pesan lebih dulu?” Sahut Anna

“Hahaha. Apa kau mau aku bangunkan pagi-pagi juga?” Tanyanya sambil tertawa.

Anna tertawa kecil, “Boleh juga” sahutnya

“Tapi aku tidak bisa janji. Bisa jadi malah kau bangun lebih dulu.” Jawab Ardi lagi.

Keduanya tertawa berbarengan.

“Ngomong-ngomong apa yang kau baca?” Tanya Ardi

“Jurnal sains.” Sahut Anna pendek.

Dahi Ardi berkerut dan matanya sedikit terbelalak, “Sungguh? Kau terbiasa dengan bacaan seperti itu?”

“Hahaha. Tidak, aku bercanda. Hanya sebuah novel. Ceritnya tentang seorang perempuan ambisius, berhasil membangun kerajaan bisnis. Dengan caranya, langsung atau tidak langsung dia bisa membuat orang-orang menuruti segala kehendaknya. Dia sama sekali bukan perempuan kejam, hanya pandai memanipulasi orang. Jadi tak ubahnya seorang tiran.” Tutur Anna

Ardi mengangguk kecil, hampir ia berpikir ayah Anna seorang peneliti. “Apakah kau juga seperti itu?” Ia bertanya.

“Hahaha.” Anna kembali tertawa renyah, “Kau jangan takut. Aku sama sekali bukan seorang tiran dan aku malah tidak peduli orang lain mau jadi apa.” Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan, “Kalau kau takut dengan apa yang kubaca, baiklah, nanti lagi aku baca roman percintaan saja, atau cerita tentang pelakor, atau mungkin lebih bagus aku baca jurnal sains?”

“Aku tidak takut. Aku justru ingin lihat, apakah kau sanggup memanipulasi aku,” Sahut Ardi.

“Eh. Kau menantang ya?” Sergah Anna

“Oo..Tidak. Mana aku berani.” Sahut Ardi.
“Emang sudah berapa banyak laki-laki kau taklukkan?” Ardi bertanya, tapi hanya dalam hati. Tidak berani ia menanyakan secara langsung.

Malam itu Anna bersikap lebih terbuka, malah terkesan manja. Mereka berbicara tentang banyak hal namun tak sedikitpun menyinggung hal-hal yang romantis. Benar-benar layaknya pembicaraan antar dua orang teman.

Namun Ardi justru merasa makin terkesan pada gadis itu. Ia menyadari, tanpa perlu manipulasi, dengan mudah Anna akan dapat menaklukkan dirinya.

“Aku senang sekali malam ini.” Anna berkata ketika makan malamnya telah selesai.

“Aku juga.” Ardi menjawab pendek.

“Tapi sebaiknya kita akhiri dulu malam ini,” Lanjut Anna

“Eh, kau ada keperluan lain?” tanya Ardi

“Tidak.” Sahut Anna, “Aku datang kemari khusus hanya untuk bertemu denganmu.”

“Lalu?”

“Bukankah kau kurang tidur kemarin? Matamu tidak bisa berbohong. Sebaiknya malam ini kau tidur lebih cepat.” Terang Anna, “Nanti kau sakit .” Lanjutnya perlahan.

Ardi menangkap perhatian gadis itu. Entah sudah berapa lama ia merasa tidak pernah diperhatikan seseorang. Sesaat dadanya merasa sesak, namun ia cepat menguasai diri.

“Tadi itu aku memang mengantuk sekali. Tapi setelah bertemu kau, kantukku hilang. Mungkin karena kau terlalu banyak bicara.” Papar Ardi.

“Huh. Kau mau aku diam saja?” Anna mencibir

“Hahaha. Jangan. Kalau kau diam, aku bakal ketiduran disini.” Sahut Ardi tertawa, kemudian melanjutkan, “Tapi baiklah, kurasa aku juga harus menurut apapun yang kau katakan.” Keduanya tertawa bersamaan dan beranjak bangkit keluar dari rumah makan.

Ardi merasakan perubahan sikap ketika mereka berada diuar. Kalau selama berbincang tadi Anna bersikap akrab dan manja, sekarang kembali ia menjaga jarak.

Ia mengantar gadis itu sampai ke mobil. Mereka berjalan beriringan, dan Ardi harus menekan kuat-kuat keinginannya untuk menggandeng tangan Anna.

“Sampai besok ya.” Anna berkata seraya berkata seraya masuk ke dalam mobil.

“Ya. Sampai besok.” Balas Ardi. Seperti kemarin, ia mengawasi mobil itu sampai hilang dari pandangan sebelum beranjak pulang.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here