Will You Marry Me #06

0
111
views

Ardi terbangun mendengar jeritan ponsel-nya. Nada ponsel menunjukkan ini adalah alarm ketiga alias terakhir. Tiga puluh menit sudah berlalu dari alarm pertama, ini berarti pagi ini tidak ada sarapan jika tidak ingin terlambat kerja.

Disambarnya ponsel untuk mematikan alarm, bersamaan dengan itu terdengar bunyi notifikasi pesan ‘whatsapp’. Ragu antara harus segera ke kamar mandi atau melihat pesan, Ardi menekan ponselnya.

[heiii!!! Bangun, kau hampir terlambat]
Sebaris pesan tampak di layar ponsel, dari nomor tak dikenal.
Pada saat ia masih mengira-ngira siapa pengirimnya, sebaris pesan lagi muncul

[Ini aku, Anna]
Ardi yakin, semalam ia tidak sempat bertukar nomor telepon dengan Anna.

[Ayo bergegas!]
[Jangan lupa janji kita makan malam]
[Semoga harimu menyenangkan] ‘senyum’

Seingatnya, tidak ada orang lain yang mengetahui peristiwa pertemuan dengan Anna. Jadi kemungkinan memang dari gadis itu. Tapi dari mana Anna bisa tahu nomor teleponnya?. Bayangan pertemuan dengan Anna kembali berputar di otaknya.

“Sial.” Ardi mengumpat dalam hati, ketika tersadar beberapa berharga pagi itu kembali hilang. “Lewat juga waktu mandi pagi,” batinnya. “Terpaksa hanya cuci muka dan gosok gigi.”

Ia beruntung masih bisa tiba di kantor dua menit sebelum jam masuk. Ardi bekerja di bagian analisa data di sebuah perusahaan pelayaran. Sehari-hari ia bergelut dengan angka. Kebanyakan orang mungkin tidak suka dengan angka yang membuat pusing, rumit dan membosankan. Tapi tidak bagi Ardi. Ia suka sekali dengan angka-angka, bahkan berteman baik dengan mereka.

Bagi Ardi, angka lebih banyak bercerita daripada kata-kata.Setiap layar komputernya dibuka dan menyuguhkan berbagai tabel penuh berisi angka tentang data-data pelayaran kapal, angka-angka itu mulai bercerita’.

Cerita tentang posisi, pergerakan, tujuan, muatan kapal dan info-info lain, seolah ia sedang menonton rekaman video yang menyuguhkan kisah perjalanan seluruh kapal yang dioperasikan perusahaannya pada saat itu. Dengan mudah Ardi merangkum seluruh data itu, menyajikannya dalam bentuk lain, agar kinerja untuk setiap kapal, trayek dan voyage dapat dianalisa.

Tapi hari hari ini Ardi harus bersusah payah untuk fokus memahami setiap cerita. Bayangan wajah Anna dan segudang pertanyaan tentang gadis itu tidak mau menyingkir dari benaknya.

Kalau hanya mengikuti perasaan, dengan mudah Ardi akan menerima saja tawaran Anna untuk menjadi suaminya. Namun kepalanya yang terbiasa berpikir logis juga berpikir apa yang harus ia lakukan kalau kemudian ia menerima tawan itu.

Di duna ini ia hidup nyaris seorang diri. Satu-satunya yang bisa di anggap saudara adalah sepasang paman dan bibi. Tapi kedua orang itu sepertinya malah menginginkan dia menjauh dari kehidupan mereka.

Mau tak mau, Ardi terkenang masa-masa yang selama ini berusaha ia lupakan.

Walaupun hidup di pedesaan, masa kecil Ardi hidup berkecukupan. Ayahnya seorang pedagang yang sukses, ibunya seorang pengajar. Rumah yang mereka tempati terbilang paling besar di desa, tanah yang mereka miliki pun cukup luas. Karena kesibukkan berdagang, ayahnya menyerahkan pengelolaan tanah pada adik lelaki satu-satunya, paman Ardi.

Namun semuanya berubah ketika belum lagi tamat sekolah dasar, kedua orang tuanya meninggal akibat kecelakaan.

Yatim piatu, ia kemudian dirawat oleh paman dan bibinya. Mereka berdua kini tinggal di rumah Ardi. Awalnya, mereka merawat dan mengasihi Ardi seperti anak sendiri. Tapi beberapa tahun kemudian, ketika dikaruniai seorang anak, sikap keduanya berubah.

“Ardi, bibimu sekarang sudah repot merawat adikmu. Kau sekarang harus membantu merawat rumah ini.” Ia ingat kata-kata pamannya waktu itu.

Yang ia tidak mengerti, pamannya justru memberhentikan beberapa orang yang memang dipekerjakan untuk merawat rumah, seolah tidak mau jika ada orang lain yang tinggal disitu. Ardi harus bekerja lebih keras mengerjakan semua pekerjaan rumah. Semua hasil sawah, kebun dan keuangan dikuasai sepenuhnya oleh sang Paman.

Beruntung sang Paman masih memberi keleluasaan untuk sekolah. Ardi anak yang anak cerdas dan selalu mendapat rangking pertama. Ingatannya yang kuat terutama terhadap angka membuat nilai matematikanya selalu sempurna.

Ia juga aktif di bidang olah raga. Gurunya kebetulan pindahan dari kota dan seorang pelatih bela diri Tae Kwon Do. Ardi ikut bergabung dalam kelompok bela diri bentukan gurunya itu.

Lulus sekolah menengah, ia bisa diterima masuk perguruan tinggi ternama tanpa tes. Awalnya Ardi ragu jika ia bisa mendapat ijin meneruskan kuliah di kota. Tapi diluar dugaan, pamannya menyambut baik, dan mau mempersiapkan semua kebutuhannya ketika pergi meninggalkan rumah.

Keheranan Ardi atas sikap pamannya terjawab ketika setelah beberapa bulan, kiriman uang untuk biaya kuliah terhenti. Upaya konfirmasi berujung amarah sang Paman dan pengusiran dari rumahnya sendiri. Ardi akhirnya mengerti sang Paman berkeinginan menguasai harta peninggalan ayahnya.

Selanjutnya dia bertahan dengan bekerja pada kantin kampus. Pengurus kantin menaruh simpati, dan ia diijinkan menempati ruangan yang memang disediakan untuk keperluan kantin. Uang yang ia dapat tidak seberapa, tapi untuk untuk sementara, urusan makan dan tidur bisa diatasi.

Tahun kedua kuliah Ardi berhasil mendapatkan bea siswa. Sebagai tambahan ia juga mengisi setiap waktu senggangnya dengan memberikan bimbingan belajar. Dengan demikian ia sanggup membiayai kuliah sendiri.

Ardi bersyukur bisa menyelesaikan kuliah dengan baik dan setelahnya tidak kesulitan mencari kerja. Masalah utamanya justru kemampuan untuk menguasai pekerjaan jauh lebih cepat daripada kesempatan karir yang ia peroleh. Dalam beberapa bulan, biasanya ia menjadi bosan dan berganti dengan pekerjaan lain. Alhasil selama dua tahun semenjak lulus kuliah, sudah tiga kali ia berganti pekerjaan.

Dengan gaji yang ia dapat, sejauh ini tidak ada kesulitan dalam menghidupi dirinya sendiri. Kenangan akan tempat asalnya perlahan mulai ia lupakan. Ia juga sudah bertekad untuk mengejar karir setinggi-tinginya sebelum berpikir untuk menjalin hubungan serius dengan lawan jenis.

Namun sekarang rencana hidupnya tengah tergoncang dengan kedatangan Anna.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here