Will You Marry Me #05

0
155
views

HONG KONG
Toni baru keluar dari ruang kerjanya sekitar jam sembilan malam. Kantor sudah sepi, semua staf-nya sudah lebih dulu pulang. Toni sendiri terbiasa pulang pada jam-jam seperti ini untuk menghindari kepadatan jalan.

Kantor itu terletak di lantai 7 sebuah gedung perkantoran di distrik Kowloon. Toni dipercaya ayahnya untuk menjalankan kantor cabang Hong Kong yang mengurusi jalur pelayaran ekspor dari Jakarta – Singapura – Hongkong – Shanghai.

Sebelum ke pulang ke apartemen, ia berencana untuk mencari Wendy ke tempat kerjanya, di sebuah klub malam tidak jauh dari pelabuhan Victoria. Sudah beberapa bulan Toni berhubungan dengan gadis itu, namun hari ini ia sedikit gelisah. Dari siang tadi ia mencoba menghubungi, namun telepon Wendy tidak aktif. Semua pesan yang ia kirim juga tidak dibalas.

Sebelumnya Toni hanya pergi ke klub malam untuk menjamu rekan-rekan bisnis. Ia mengenal Wendy ketika dalam salah satu kunjungan, gadis itu menemaninya menjadi pemandu lagu karaoke. Toni tertarik karena Wendy berbeda dengan gadis-gadis lain yang biasa ia kenal di klub malam. Sejak pertemuan itu, ia sering menemui Wendy dan hubungan mereka bertambah dekat.

Baru sepuluh menit ia mengendarai mobil ketika dirasakan hentakan kuat dari belakang. Dari kaca spion ia melihat sebuah sedan berwarna hitam dengan lampu sign kiri menyala berkedip-kedip. Rupanya mobil itu yang barusan menabraknya dan terlihat akan berhenti di pinggir jalan.

“Sial, ada-ada saja.” Batin Toni seraya ikut meminggirkan mobil. Ia berharap kejadian ini tidak sampai membuat keributan. Masalah kerusakan bisa diurus asuransi. Toni turun dari mobil untuk memeriksa bagian belakang mobil. Dilihatnya dua orang juga turun dari sedan hitam itu.

Ia membungkuk untuk memeriksa kerusakan ketika dua orang itu datang menghampiri. Tanpa diduga, salah seorang dari mereka mencengkeram tangannya kuat-kuat dan memilinnya kebelakang .

“Hey. Apa-apaan ini?!” Protes Toni, “Kita bisa bicara baik-baik.”

Toni berusaha melepaskan diri, tapi cengekeraman orang itu begitu kuat. Tangannya merasakan sakit yang amat sangat sehingga tak kuasa melawan ketika tubuhnya diseret dan didorong masuk ke dalam mobil yang telah menabraknya.

Di dalam mobil, seorang yang lain sudah menanti dan langsung menempelkan sepucuk pistol di pelipisnya.

“Lebih baik kau diam kalau tidak ingin otakmu berhamburan.” Ancam orang itu.

Toni tidak bisa berkutik. Dadanya berdebar-debar dan keringat dingin mulai mengalir membasahi sekujur tubuh. Ia tidak mengenali satupun dari orang-orang itu dan tidak bisa menduga apa yang mereka inginkan.

Mobil melaju cepat menyusuri jalan, lalu berbelok memasuki sebuah kompleks pergudangan di dekat pelabuhan. Suasana tempat itu tampak lengang, hanya beberapa tempat yang menampakkan aktifitas pekerjaan. Kemudian Mobil berhenti di salah satu gudang yang tereletak paling ujung.

Orang-orang itu menyeret Toni masuk kedalam sebuah ruangan dan mendudukkannya di sebuah kursi. Tak berapa lama kemudian, seorang yang bertubuh tinggi besar masuk.

“Selamat malam Mr. Toni.” Sapa orang itu sambil tersenyum

“K-kau…apa maksudnya semua ini?” Toni mengenali orang itu.

“Toni, Big Boss sangat kecewa padamu”. Toni mengerti yang dimaksud ‘Big Boss’ adalah Song Zuomin, pemilik sebuah casino di Macau. Toni berhutang lumayan besar pada Song, dan orang di hadapannya adalah Raymond Chong, orang kepercayaannya.

“A-aku tidak mengerti,” Sahut Toni terbata.

“Kau berhutang banyak pada Big Boss, tapi beliau masih berbaik hati memberimu kesempatan. Malahan beliau merekomendasikan perusahaanmu pada teman-temannya.” Sahut Raymond, “Tapi kemudian kapalmu malah pergi meninggalkan beberapa kontainer milik teman beliau.”

“Tapi…kapal itu memang sudah waktunya berangkat. “ Tutur Toni, “Kontainer itu yang terlambat masuk. Tapi juga seharusnya tidak terlalu masalah, masih bisa dikirim di kapal berikutnya,”

“Toni…Toni..Toni… Big Boss sudah meyakinkan temannya bahwa barang itu akan terkirim. Karena beliau pikir pemilik kapal, yaitu kau, adalah temannya.” Raymond berkata, “Namun sekarang kau telah mebuat beliau sangat malu. Kau tahu apa yang dilakukan Bigboss terhadap orang yang sudah mempermalukannya?”

Toni mulai bisa mengira-ngira duduk perkara yang ia hadapi. Ia memang punya alasan tersendiri menginggalkan ontainer-kontainer itu. Namun hal ini tidak mungkin bisa dikatakannya pada Raymond.

Raymond megambil sesuatu dari kantung baju dan diberikannya pada Toni. Toni menerima benda yang ternyata tiga lembar foto. Dalam foto-foto itu terlihat gambar wanita tanpa busana yang tergeletak tak bergerak. Wajah dan beberapa bagian tubuhnya tampak bekas-bekas penganiayaan.

“Wendy!!” Toni menjerit ketika mengetahui siapa wanit dalam foto itu, “ Apa yang terjadi? Kalian apakan dia?”

Raymond tersenyum, “Kau tidak perlu terlalu khawatir. Untuk sementara, kekasihmu itu masih hidup. Tapi, jangan sekali-kali kau mempermalukan Big Boss lagi.”

“T-tidak. A-aku berjanji akan mengikuti keinginan Big Boss. Asal tolong, jangan kalian sakiti Wendy. Dia tidak ada urusannya dengan ini” Jawab Toni gemetar.

“Dia sebagai garansi agar kau tidak macam-macam.”Kata Raymond, “Sekarang karena pengkhianatanmu ini, Big Boss minta hutang-hutangmu segera dibayar. Kau punya waktu satu bulan,”

“Satu bulan? Tidak mungkin aku mengumpulkan uang sebanyak itu dalam satu bulan.” Kata Toni, “Tolonglah, beri aku waktu lebih lama. Enam bulan.”

“Terlalu lama.” Raymond menggeleng.

“Tiga bulan.” Sahut Toni lagi.”Kalaupun kalian bunuh, mustahil dalam waktu satu bulan aku bisa mengumpulkan uang sebanyak itu.”

“Kau direktur cabang di Hong Kong ini, tentu bisa mengeluarkan uang untuk membayar hutangmu.” Sahut Raymond

“K-Kantor cabang ini tidak bisa mengeluarkan uang sesukanya. Semua otoritas keuangan diatur ayahku dari kantor pusat di Jakarta.” Tutur Toni.

“Hmmm. Big Boss tidak mau menunggu lebih lama lagi.” Raymond berkata.

Toni terdiam sesaat. Tanpa meminta bantuan ayahnya, mustahil ia bisa mendapatkan uang untuk melunasi hutang dalam waktu satu bulan. Tapi jika ia harus meminta bantuan, ayahnya pasti kecewa bahwa anak yang paling dibanggakan dan jadi harapan utama keluarga untuk meneruskan usaha ternyata malah terlibat dalam perjudian.

Walaupun berwatak sangat keras, tapi Toni amat mengagumi ayahnya dan selama ini ia berusaha keras membuatnya bangga. Ia sudah bertekad untuk mengatasi masalahnya sendiri daripada membuat sang Ayah kecewa. Tapi waktu satu bulan memang terlalu sempit.

“Ada cara lain.” Didengarnya Raymond kembali bicara.

“Maksudmu?” Tanya Toni.

“Kami membutuhkan kapal untuk pengiriman dalam jumlah besar. Kau bisa memberikan salah satu kapalmu untuk kami pakai sendiri tanpa muatan lain. Rutenya langsung dari Hong Kong menuju Jakarta tanpa melewati Singapura atau pelabuhan lain.” Papar Raymond. “Biaya sewa nantinya bisa diperhitungkan dengan hutang-hutangmu.”

Toni berpikir sejenak, kemudian ia mengangguk kecil, “Kalau itu aku bisa mengaturya.”

“Kami akan mengoperasikan sendiri kapal itu, jadi seluruh kru termasuk kapten akan kami sediakan.” Lanjut Raymond.

“Kapal itu hanya bisa dioperasikan dengan syarat dan kualifikasi tertentu” Toni menjelaskan.

“Kami punya orang-orang yang memenuhi syarat yang diperlukan.” Sahut Raymond.

Toni bisa menduga barang apa yang akan dikirim dalam jumlah besar, sampai Song harus menyewa kapal khusus dan memastikan pengiriman barang itu benar-benar bisa mereka kontrol sendiri

“Baiklah.” Jawabnya pendek.

“Kapal itu harus siap dalam tiga minggu.” Raymond berkata lagi, “Dan kau akan ikut dalam pelayaran itu nantinya.”

Hati Toni bergetar mendengar keterangan itu. Rupanya Song juga ingin memastikan kapal yang ia pesan benar-benar bisa sampai di Jakarta, dan ia sebagai jaminan. Terbayang bagaimana berada di tengah laut bersama orang-orang ini. Mereka bisa berbuat apapun yang mereka mau terhadapnya.

“Baik.” Toni memang tidak punya pilihan lain kecuali memenuhi semua permintaan Raymond.

Raymond mendekatkan wajahnya ke arah Toni, “Ingat! Jangan berbuat bodoh, “ Ia berkata, “Kalau kau berkhianat sekali lagi, nasibmu dan gadis itu akan sangat buruk.”

Toni kembali mengangguk. Posisinya betul-betul terjepit. Wendy masih berada ditangan mereka, selain itu ia juga tidak bisa melapor kepada polisi. Kalau Song melapor balik tentang hutangnya, bisa-bisa malah ia yang dipenjara.

“Aku akan menghubungimu tiga minggu lagi.” Raymond berkata seraya memberi isyarat kepada anak buahnya yang tadi membawa Toni.

Kali ini orang-orang itu tidak menyeretnya. Dengan gontai Toni mengikuti mereka berjalan keluar. Ia sadar ia tengah terlibat masalah besar tanpa tanda-tanda akan ada jalan keluar.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here