Will You Marry Me #04

0
179
views

Ardi mengerutkan kening, “Maksudmu?”

“Kau kan belum mengenalku, jadi untuk sementara waktu kita bisa berteman dulu.” Sahut Anna.

Ardi mengangguk kecil mendengar usulan Anna. Dari suami menjadi teman, level-nya turun lumayan jauh. Tapi istilah ‘teman’ dirasa tidak terlalu menyeramkan dibandingkan titel ‘suami’.

“Kau ijinkan aku menemanimu makan malam. Nanti kau boleh bertanya banyak hal tentangku.” Anna berkata lagi, “Setelah kau tahu lebih banyak, kau bisa memutuskan jawabanmu.”

Ardi berpikir sejenak, “Tentu saja aku senang kalau kau temani makan malam.”Sahut Ardi, “Sebetulnya aku pikir bodoh sekali kalau ada laki-laki yang sampai menolak permintaan untuk menjadi suamimu. Tapi memang, supaya adil kita bisa saling kenal dulu. Kau juga bisa lebih banyak mengenalku. Aku tidak mau jika ternyata permintaan itu kau ajukan karena salah paham.”

Anna menggeleng, sambil tersenyum ia menjawab, “Tidak. Aku tidak salah paham.”

Dari tadi Ardi memang tidak mengerti apa yang menyebabkan gadis itu begitu yakin. Tapi sekarang ia memutuskan untuk mengikuti saja apa rencana Anna. Percuma berkutat dengan pertanyaan-pertanyaan yang sekarang ini tidak ada penjelasannya.

“Tapi selama pertemuan kita nanti, aku punya beberapa syarat,” Anna berkata lagi.

“Hmm, dia yang meminta tapi dia juga yang mengajukan syarat.” Batin Ardi. “Apa syaratnya?” Ia bertanya.

“Pertama, kita berteman sampai akhir minggu ini. Setelah itu kau bisa berikan jawabanmu,” Sahut Anna.

“ Kedua, kau harus kurangi kecepatan makanmu. Aku susah mengikuti kalau kau makan begitu cepat.” Ia melanjutkan.

Mau tak mau Ardi tertawa mendengar syarat itu. “Oke, oke. Aku berjanji, betapapun laparnya, selama bersamamu aku tidak akan makan secepat tadi.”

Anna tersenyum, lalu katanya.”Syarat yang lain, aku berhak untuk tidak menjawab pertanyaan tentang keluarga, tempat tinggal atau pertanyaan-pertanyaan lain yang aku tentukan kemudian.”

Ardi mengerutkan kening, “Bagaimana aku bisa mengenalmu lebih jauh kalau tidak boleh bertanya tentang keluargamu?”

“Kau kan perlu tahu tentang aku, bukan keluargaku.” Sahut Anna,”Soal itu aku pasti akan memberitahu. Tapi nanti, bergantung jawabanmu atas permintaanku.”

Ardi heran kenapa Anna seolah menyembunyikan perihal keluarganya, “Apa jangan-jangan bapaknya seorang penjahat, “ ia berkata dalam hati. Kemudian pikiran lain melanjutkan, “Tapi kalau anaknya secantik ini, biar saja kalau dia anak gembong mafia sekalipun.”

“Baiklah, aku setuju syaratmu.” Sahut Ardi.

“Nah, silahkan kau bertanya.” Kata Anna.

Ardi teringat sesuatu, “Apa Zodiakmu?” Ia bertanya.

“Mmm..kalau berdasarkan astrologi seharusnya Sagitarius,” Jawab Anna.

‘Asmara: Si Dia mengharap jawaban darimu. Jodoh: Sagitarius’
Ardi teringat ramalan bintang yang tadi dibacanya.

“Kau percaya ramalan bintang?” Anna balik bertanya.

“Tidak. Aku tidak percaya kalau nasib seseorang ditentukan dari posisi bintang ketika ia lahir.” Sahut Ardi.

“Lalu kenapa kau tanyakan itu?” Tanya Anna lagi.

“Ya….aku hanya bertanya, “Sahut Ardi, “Bukankah aku bebas bertanya apapun diluar syarat yang kau tentukan.”

Anna tertawa lagi, “Ya deh. Kau benar.”

“Kau sendiri percaya ramalan bintang?” Ardi balik bertanya.

“Tidak juga. Bahkan aku pikir zodiakku harusnya ‘ophiucus’, karena kalau menurut tanggal lahir posisi matahari harusnya di rasi bintang itu.” Sahut Anna

“Hmm…pengetahuannya boleh juga.” Ardi berkata dalam hati. Ia bisa mengira-ngira tanggal lahir Anna. Namun ditekannya kuat-kuat keingingan bertanya untuk memastikan hal itu. Belum saatnya.

“Mungkin karena astrolog maunya cuma ada dua belas zodiak, jadinya ‘ophiucus’ tidak masuk hitungan.” Tutur Ardi.

“Mungkin juga. “ Jawab Anna, “Tapi setelah ribuan tahun, waktu matahari ketika melewati rasi binatang yang termasuk zodiak pasti sudah berubah. Jadi sekarang hitungan astrologi sudah tidak relevan lagi.

“Ya. Kau benar.” Sahut Ardi, lalu melanjutkan, “Aku ingin tahu, apa yang membuat kau begitu yakin padaku?” Tanya Ardi lagi.

Anna tersenyum, “Aku akan menjelaskannya nanti, tapi bukan sekarang.”

“Aku penasaran, apa aku ini begitu transparan sehingga hanya dengan melihat, orang bisa langsung mengerti seluruh kepribadianku.” Tutur Ardi, “Padahal kata orang, manusia itu lebih dari apa yang bisa dilihat mata.” Lanjutnya lagi.

“Perkataan itu malah kudengar dari makhluk planet lain.“ Sahut Anna.

“Maksudmu?” Ardi mengerutkan keningnya lagi.

“humans, it’s more of them than meets the eye.” Sahut Anna mengutip kalimat dalam Bahasa Inggris, “ Itu kata Optimius Prime, leader of the Autobot.’Kita rehat sejenak’.” Lanjutnya kemudian sambil meniru gaya salah seorang pemandu acara diskusi di TV.

Ardi tertawa terbahak, “Ya, ya. Kau benar. Optimus juga bilang begitu. Rupanya kau suka film itu juga, ya?”

“Tentu saja.” Sahut Anna lagi, tersenyum.

Suasana keduanya menjadi lebih cair. Mereka terus berbincang sampai makan malam berakhir.

“Kurasa aku sudah cukup membuatmu bingung malam ini.” Akhirnya Anna berkata, “Sebaiknya aku pulang dulu. Besok kita ketemu lagi disini.”

Ardi sebetulnya ingin lebih lama lagi bersama Anna. Tapi ia sadar, gadis yang baru dikenalnya itu mungkin punya acara lain. Mereka beranjak pergi meninggalkan rumah makan.

Setibanya diluar Ardi bertanya, “Kau pulang ke arah mana?”

“Aku menginap dekat sini,” Anna menjawab, lalu sambil menunjuk sebuah mobil hitam yang terparkir tidak jauh dari situ ia meneruskan, “Aku ada yang mengantar.”

Ardi melihat mobil yang ditunjuk Anna. Ia kini mengerti, dari status sosial, gadis itu diatasnya.

“Menginap, maksudmu?” Tanya Ardi.

“Rumahku jauh dari sini. Jadi aku mencari penginapan yang cukup dekat agar bisa bertemu denganmu.” Anna menjelaskan.

Ardi tertegun, bagaimana bisa seorang gadis seperti Anna sampai rela meninggalkan rumah hanya untuk menemuinya.

“Kau sendirian? Apa tidak takut kalau terjadi apa-apa?” Ia bertanya lagi.

Anna tertawa kecil, ia menangkap kecemasan Ardi, “Aku senang kau perhatian, “ Katanya, “Tapi kau tidak perlu khawatir. Aku bisa menjaga diri.”

“Kau menginap dimana?” Tanya Ardi

Anna tersenyum, “Aku tidak bisa mengatakanya sekarang.” Sahutnya.

Ardi hanya balas tersenyum sambil mengangguk, rupanya gadis itu juga ingin membatasi tempat mereka bisa bertemu.

“Baiklah. Aku pergi sekarang. “Kata Anna lagi, “Aku senang bisa bertemu denganmu.”

“Aku juga.” Jawab Ardi pendek.

“Sampai besok.”Kata Anna lagi.

“Ya. Sampai besok. “ Ardi menjawab.

Anna berjalanke arah mobilnya, sementara Ardi ragu apakah ia harus mengantar gadis itu sampai ke mobil. Terlepas permintaan gadis itu untuk menjadi suaminya, Ardi bisa merasakan kalau sejauh ini Anna masih menjaga jarak. Akhirnya dia hanya diam di tempat, mengikuti kepergian Anna dengan tatapan mata.

Dilihatnya Anna melambaikan tangan sebelum masuk ke dalam mobil. Ia membalas dan berdiri ditempatnya sampai mobil itu hilang dari pandangan.

Sepanjang perjalanan pulang, Ardi merasa langkah kakinya seolah jadi melayang. Sesekali Ia menarik ujung telinganya kuat-kuat sampai terasa sakit, hanya untuk memastikan bahwa saat itu ia memang tidak sedang bermimpi.

Tiba di kamar, Ia langsung menghampiri cermin. Beberapa saat ia Ia mengamat-amati bayangan dirinya sendiri. Masih sulit ia pahami bagaimana gadis seperti Anna bisa tergila-gila pada sosok laki-laki yang tergambar dalam cermin itu.

“Ah. Tergila-gila bukan istilah yang tepat,” Batinnya.

Anna memang terang-terangan memintanya menjadi suami. Ia juga berulang kali mengutarakan keyakinannya. Tapi Ardi juga merasa Anna terlihat begitu percaya diri dan masih menjaga jarak. Ini yang justru membuatnya makin tertarik.

“Sepertinya yang sekarang ini mulai tergila-gila justru adalah aku,”pikirnya lagi.

Ia merebahkan diri di atas kasur, mencoba untuk tidur. Tapi setiap matanya terpejam, bayangan Anna selalu tampak. Kejadian pertemuan dengan gadis itu terus berputar dan berulang di otaknya. Setelah melewati subuh, Ardi baru bisa tertidur.


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here