Will You Marry Me #03

0
110
views

“Mmm…begini Mbak. Nama saya Ardi, A-R-D-I,“ Kata Ardi mengeja namanya. “Maksud saya, barangkali Mbak ini,…eee…salah orang.”

“Oh. Jadi namamu Ardi.” Seru gadis itu.

Ardi sedikit heran, nada gadis itu menunjukkan seolah-olah ia senang mengetahui namanya.

“Saya Anna,” Gadis itu memperkenalkan diri, namun tidak mengulurkan tangan. Kemudian sambil menggelengkan kepala ia berkata, “Tapi saya yakin saya tidak salah orang.”

Ardi mengerutkan kening, jelas-jelas gadis ini baru mengetahui namanya, tapi dia bilang yakin tidak salah orang.

Kembali otaknya bekerja mencari kemungkinan lain. Pandangan Ardi ditebarkan berkeliling ruangan rumah makan itu.

Lalu sambil mencondongkan tubuh ke arah Anna, ia berbisik, “Mbak ini sebetulnya artis ya? Kita sekarang sedang direkam buat acara TV. Seperti acara realita, buat nyari tahu respon seorang lelaki kalau tiba-tiba diminta jadi suami wanita cantik yang belum dikenal, seperti Mbak ini?”

Anna tertawa geli mendengar pertanyaan itu. Ardi merasakan separuh lagi sisa jiwanya melayang pergi mendengar suara tawa yang renyah.

“Kalau terus-terusan begini, aku harus siap-siap pesan ambulan.” Katanya dalam hati.

“Saya bukan artis,” Anna berkata sambil menggelengkan kepala, “Dan panggil saya Anna, jangan ‘Mbak’, saya kan tidak lebih tua dari kamu.”

“Uh. Saya pikir bakal masuk TV.” Kata Ardi sambil menggaruk-garuk kepalanya.

Ia mencoba mengingat-ingat apakah ia pernah mengenal atau bertemu dengan gadis ini sebelumnya. Tapi dari semua gadis yang pernah ia kenal, yang jumlahnya tidak melebihi hitungan jari di kedua tangan, ia yakin tidak ada yang seperti Anna, mirip pun tidak.

Ardi sekarang berpikir jika ia ada di posisi gadis itu. Bagaimana jika ia mendatangi seorang gadis yang namanya saja ia tidak tahu, lalu tiba-tiba meminta gadis itu jadi istrinya?.

“Hmm..iya kalau gadis itu belum punya suami atau pacar. Kalau sudah bisa berabe.” Batinnya,
“ Aku sendiri boro-boro istri, pacar saja belum, tapi masak dia tidak tanya dulu? Dia seperti yakin kalau aku masih sendiri, tahu dari mana?”

Pikirannya terputus dengan kedatangan seorang pelayan rumah makan membawakan pesanan. Sambil meletakkan sepiring nasi goreng di hadapan Ardi, pelayan itu berkata, “Tumben nih Mas Ardi, biasanya sendirian. Sekarang sudah punya pacar ya?”

Ardi mengutuki pelayan itu dalam hati. Apa yang barusan dipikirnya jadi tidak relevan lagi. Ia melirik ke arah Anna, gadis itu tampak sedang menahan senyum.

“Ah. Kau ada-ada saja.” Sergah Ardi, lalu ia berkata pada Anna, “Kamu mau pesan apa?”

Gadis itu tampak ragu sejenak, lalu menggelengkan kepala, “saya makan nanti saja.”

“Ah mana bisa begitu. Masak saya makan sementara kamu hanya menonton?” Balas Ardi.

“Mmm..baiklah.” Anna akhirnya menurut, lalu berkata pada pelayan itu “Saya pesan nasi goreng putih, tidak pedas, minumnya jus jeruk”

“Kau tidak perlu khawatir, makanan disini aman. Kalau kau sampai sakit perut, kau bisa tuntut si Tika nih.” Kata Ardi lagi, jempolnya menunjuk pada pelayan bernama Tika itu.

“Ah. Mas Ardi ini ada-ada saja. Yang masak kan bukan saya.” Tika membalas, “Lagian gak pernah ada yang makan disini sampai sakit perut kok Mbak,” Katanya lagi pada Anna.

Anna hanya tersenyum pada pelayan itu. Kemudian setelah Tika berlalu, Ia berkata pada Ardi, “Kau cukup akrab ya, dengan karyawan disini?”

“Aku memang tiap malam makan di sini,” Jawab Ardi. Kedatangan Tika sedikit banyak mengurangi kecanggungan di antara mereka, “Masakannya cocok dengan lidahku. Harganya juga cocok dengan isi kantongku.” Ia tertegun sejenak menyadari kata-kata yang baru saja diucapkan, kemudian melanjutkan, “Dan itu bisa jadi tambahan informasi, kalau kau memang betul-betul tidak salah orang.”

Anna kembali tersenyum, “Aku yakin, kok” sahutnya singkat.

Ardi tidak menjawab.Ia menunda makan,menunggu pesanan Anna. Otaknya masih berusaha mencari penjelasan dari situasi yang sedang ia alami.

Kemudian sebersit pikiran melintas di benaknya. Ia agak ragu untuk mengutarakan pada Anna. Namun karena merasa sulit menemukan penjelasan lain akhirnya ia berkata.

“Maafkan aku. Tapi aku harus bertanya sesuatu, “ Ia berhenti sejenak sebelum melanjutkan “Ketika kau memintaku jadi suami, apakah maksudmu sebenarnya kau membutuhkan seorang ayah, maksudku… buat… anakmu?”

Sesaat kemudian Ardi menyesal telah bertanya seperti itu. Dilihatnya Anna tertegun dan raut mukanya berubah.

Untuk beberapa saat Anna termangu-mangu, “Tentu saja….,” gumamnya lirih seolah ditujukan pada diri sendiri sambil menundukkan pandangan.

Rasa sesal Ardi berubah jadi keheranan. Biarpun lirih, tapi kata-kata Anna jelas terdengar.

“Tentu saja? Jadi, dia sudah punya anak? Atau baru akan punya alias hamil? Siapa laki-laki yang sanggup meninggalkan makhluk seperti yang ada di depannya? Kenapa?” Segudang pertanyaan berjejalan kepalanya.

Akhirnya dengan lega ia melihat raut muka Anna kembali seperti semula. Wajahnya kembali berseri dan sambil tersenyum ia berkata, “Ya… tentu saja wajar kau bertanya seperti itu. Aku memang merasa sudah sangat mengenalmu. Tapi kau sendiri kan memang baru pertama ini melihatku.” Anna berhenti sejenak sebelum melanjutkan, ”Tapi percayalah. Aku wanita baik-baik yang masih menjaga kehormatan.”

“Maafkan aku, bukan maksudku menuduhmu yang tidak-tidak,” Dengan tergesa-gesa Ardi menjawab, “Tapi… harus ku akui, aku sendiri masih belum mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi.”

“Aku mengerti. Permintaanku tadi itu memang terlalu.. tiba-tiba.” Sahut Anna, “Tentu saja kau jadi bingung.”

Sekarang Ardi yang menjadi cemas kalau gadis ini akan meralat permintaannya.

“Tapi aku tidak akan menarik permintaan itu,” Kata Anna lagi, “Aku memang yakin akan dirimu, tapi kau sendiri memang belum mengenalku.

“Kau yakin akan diriku, tapi aku sendiri malah makin bingung apa sebenarnya yang membuatmu begitu yakin?” batin Ardi. Tapi tak bisa dipungkiri kalau ia merasa lega mendengar Anna tidak mencabut permintaannya.

Pembicaraan mereka sementara terputus karena pesanan Anna tiba. Lalu keduanya mulai menyantap makanan masing-masing.

Sambil menyendoki makanan, otak Ardi terus berputar merenungkan apa yang tengah ia hadapi. Secara fisik, Ia sudah tertarik pada Anna sejak pertama melihat. Ia percaya Anna belum pernah terikat dengan siapapun. Ia juga yakin kalau Anna sepenuhnya waras, tidak sedang bercanda atau melakukan satu permainan..

“Makanmu cepat sekali.” Suara Anna mendadak menghentikan semua pemikiran Ardi.

Sontak ia menghentikan gerakan tangan, sementara tenggorokannya cepat-cepat menelan semua makanan yang tengah dikunyah. Terlihat isi piringnya sudah tinggal separuh, sementara Anna baru berkurang sedikit. Ternyata sambil merenung, tanpa sadar ia terus menerus menyuapi makanan tanpa henti. Ia melihat Anna memandang sambil tersenyum-senyum.

“Oh. Maaf.” Kata Ardi kikuk sekaligus merasa bersalah. Tadi ia meminta gadis itu makan bersamanya, tapi kemudian ia asyik makan sendiri seolah-olah Anna tidak ada disitu.

Anna tertawa kecil “Aku pikir kau sedang lapar sekali.” Katanya.

“Memang.” Ardi ikut tersenyum, “Biasanya aku makan sendirian. Sekarang ditemani seorang gadis cantik, nafsu makanku jadi bertambah.”

Anna tertawa kecil, “Aku mengerti kalau kau jadi bingung,” ia berkata, “Karena itu aku mau mengajukan usul.”


Jika bacaan ini layak untuk di bagikan/share. Silahkan klik tombol/menu media sosial di bawah ini dan jangan lupa like juga ya, agar penulis menjadi bersemangat dalam menghasilkan karya-karyanya yang berkualitas.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here