Wanita Kedua #20

0
191
views

Malam sunyi aku impikan
Kulukiskan kita bersama

Namun selalu aku bertanya
Adakah aku di hatimu

Telah kunyanyikan
Nyanyian-nyanyian cintaku

Telah kubisikkan
Cerita-cerita gelapku

Telah kuabaikan
Mimpi-mimpi dan ambisiku

Tapi mengapa
Ku takkan bisa
Sentuh hatimu

Namun tak henti
Aku bertanya
Adakah aku di hatimu

Aku berdiri di depan cermin besar yang menggantung di dinding kamarku, rambut hitamku sudah mulai diselingi uban putih yang panjang. Tak terasa wajah dua puluh tahunku berubah lebih matang. Hampir menyentuh angka kepala empat. Kubelai pipiku yang masih kemerah-merahan, dulu pernah ada sentuhan mesra di sana, kecupan hangat serta gairah.

Kini, setiap malam terasa begitu panjang,, walau akhirnya aku memutuskan mengubur kenangan ternyata melupakan adalah hal yang sangat sulit dilakukan.

Hingga sekarang aku masih sering membayangkan sentuhan, senyuman serta puisi-puisi Mas Akbar. Untukku.

Kenangan atasnya membuatku merintih di kala sepi. Semua hal yang berkaitan dengannya menjadi candu yang tak mudah diobati.

Untunglah waktu menjadi penyembuh luka yang ampuh.

Waktu memberiku kesempatan untuk mengejar kembali mimpi yang telah lama kuenyahkan. Butuh waktu memang, tapi sekarang menjadi masa yang cukup bagiku menuai hasilnya.

Aku beranjak dari depan cermin menuju ranjang empuk bak dalam dongeng. Tinggal di sebuah apartemen mewah selama ini tak pernah terbayang bagi perempuan desa sepertiku. Tapi Tuhan memberi semuanya sekarang. Meskipun aku bisa melihat hiruk pikuk kota, tapi hati ini masih terasa sunyi.

Sudah bertahun-tahun rasa cinta di hatiku kutitipkan di atas langit, menggantungkannya di atas awan yang berarak hingga memendamnya di bawah lautan Nun.

Namun tetap saja, cinta menjadi perasaan yang mudah datang namun sulit untuk dibuang.

Frustasi, aku beranjak meninggalkan kamar mengambil air wudhu kemudian sholat di penghujung malam. Aku mengadukan semua rasa kepada-Nya. Bukan aku takut kembali jatuh cinta, hanya saja aku resah jika suatu saat karma yang sama harus kembali kujalani.

Sembilan tahun lalu bude Rahmah pernah mengungkapkan bagaimana sebenarnya perjalanan hidupnya. Rahasia kelamnya terpaks dibongkar agar aku tahu bahwa kasih sayangnya kepadaku begitu besar.

Rahasia hidupnya begitu menyayat hati. Ibuku sendirilah yang merebut kebahagiaan Bude Rahmah. Sedangkan bude bukan orang asing dalam kehidupan Ibu. Mereka kakak-beradik.

Ibuku merebut kebahagiaan Bude Rahmah, membiarkannya nelangsa dalam lara. Pada akhirnya aku menuai karma itu dalam kehidupan pernikahanku, meskipun dengan lelaki yang kucintai.

Sungguh, sebenarnya aku tak ingin memercayai semua itu sebagai karma tapi lihatlah, semua perjalanan hidupku bagai roda kehidupan yang berputar. Dulu Bude Rahmah yang memerankan lakon duka lara sedangkan sekarang akulah yang menjalaninya.

Terlalu sedih dengan semua yang pernah kulalui, aku beranjak ke arah dapur membuat segelas teh hangat dan menikmati semuanya sambil berharap akan datangnya kebahagiaan. Tenggorokanku yang kering karena tercekat air mata berangsur rileks dan lega.

Pandanganku kemudian Beralih ke atas meja yang terdapat sebuah kalender duduk di atasnya. Ada satu tanggal yang kulingkari di sana.

12 Desember

Hari terakhir di mana aku bisa memegang tangannya.

Hari terakhir saat dia meminta maaf untuk kesekian kali. Dan pada hari itu aku akhirnya memaafkannya setelah lebih dari ratusan kali dia meminta.

Setahun setelah perpisahan kami, dia jatuh sakit berkali-kali. Kata orang dia sakit karena dirundung penyesalan.

Bahkan kelahiran putranya kala itu hanya menjadi pelipur lara sesaat.

Sungguh, walaupun sakit hatiku karenanya aku tak pernah sepatah katapun menyumpahi hidupnya.

Tangisanku bahkan menemaninya saat-saat terakhir hidupnya.

***

12 Desember 2000

“Kau yang buat hatiku selalu bergetar, Humaira,” katanya saat itu dengan tubuh terbaring lemah dan selang infus menancap di tangan.

“Rasa yang dulu kulupa, kembali kurasakan karenamu,” dia melanjutkan ucapannya sembari menatap manik mataku lekat. Meskipun tatapannya tak setajam dulu. Sinar mata itu mulai redup.

“Humaira. Apakah kau menyesal pernah mencintaiku?” Aku memberanikan diri menggenggam tangannya. Rasa sakit karena perbuatannya memang masih ada tapi sejujurnya aku tak pernah benar-benar membencinya.

Aku tak pernah menyesali rasa cintaku kepadanya.

Hanya saja saat itu hatiku tak siap untuk terluka lebih dalam, maka kuputuskan untuk menyerah.

Sedangkan hidup adalah pilihan, bahkan berjalan pada saat kita tak pernah memilihnya.

“Tidak, aku tak pernah menyesal, Mas,” kataku akhirnya menjawab keresahnnya.

Dia tersenyum lega.

Senyumnya hari itu manis sekali, seperti senyuman pertamanya yang kulihat saat dia sibuk merapikan kemejanya setelah loncat dari pagar sekolah.

Senyuman seorang lelaki yang menawan hatiku untuk pertama kali.

“Maafkan aku Humaira. Maaf.” Aku mengangguk.

“Tolong jangan pergi sampai aku tertidur?” pintanya yang kujawab dengan anggukan.

“Janji?”

“Janji.” Aku terisak saat dia mulai memejamkan mata, bahkan akupun melihat sekilas ke arah pintu saat Ning Aliya yang mengintip dari luar menyeka air matanya.

Aku baru sampai di depan pagar rumah Bude Rahmah saat sebuah panggilan masuk ke nomerku.

Bukan nomer yang kukenal.

Saat aku mengangkatnya hanya suara tangisan dan isakan yang terdengar. Semenit kemudian suara Ning Aliya mengabarkan bahwa Mas Akbar telah berpulang.

“Humaira, dia telah pergi untuk selamanya,” katanya lemah. Dan aku masih menitikkan air mata untuknya.

Pagi itu aku datang ke rumah Kyai Hanafi bersama Bude Rahmah. Saat aku datang kuperhatikan rumah itu masih sama seperti terakhir kali aku menginjakkan kaki di sana. Pojok-pojok rumahnya pun tak berubah. Hanya saja sekarang rumah itu ramai pelayat bukan ramai karena perseteruanku dengan Ning Aliya.

Saat aku memasuki rumah itu semua mata memandangku seolah berkata ‘Hei, itukan wanita kedua itu.’

Aku tak begitu menggubris, langkahku terus menuju ke arah Ning Aliya yang sedang menangis diapit Bu Nyai Salamah. Kami bersalaman bahkan berangkulan. Tidak hanya itu, aku sempat memperhatikan wajah bayi lelakinya yang masih berusia satu setengah tahun, tertidur di dekatnya.

Wajahnya sangat mirip Mas Akbar. Hidung bahkan matanya.

Saat aku pamit pulang kudongakkan wajahku ketika kembali melewati para ibu-ibu yang berbisik tentangku.

Aku tak lagi perlu untuk malu. Kutunjukkan wajahku kepada mereka. Aku memang wanita kedua dulu, tapi sekarang aku sudah merasa bahagia dan merdeka.

***

Tuut … Tuut …

Dering ponselku memecah lamunanku malam itu. Saat kugapai ponsel yang tergeletak di tepi ranjang, nama Bude Rahmah terpampang di atas layar.

“Assalamualaikum, Bude,” sapaku lebih dulu.

“Waalaikumsalam.”

“Nduk, dua hari lagi jadi datang ke sini?” Bude bertanya dengan nada serak dan sedikit batuk.
Setiap kali hendak kuperiksakan beliau akan mengelak dengan alasan bahwa itu lumrah bagi orang yang sudah tua.

“Iya bude, besok Humaira datang,” jawabku.

“Lho kok lebih cepat?”

“Iya Bude, sudah kangen,” jawabku.

Bude terdengar tertawa di ujung telepon.

“Aku menunggumu ya, Nduk.”

Budepun menutup panggilannya.

Bersamaan dengan telpon yang diputus bude, aku memutuskan diri melupakan semua kenangan. Lingkaran merah di atas kalender yang kutandai sebagai hari kematiannya kucoret bagai titik hitam yang harus dibuang.

Sudah terlalu lama aku menutup diri dari Asmara, mungkin sekarang saatnya aku bisa merdeka. Meskipun tanpa seorang lelaki setidaknya aku harus bisa menikmati hidup.

Masih ada Bude Rahmah yang akan menggandeng tanganku.

Semoga masih ada jodoh untukku bisa bersanding dengan lelaki idaman yang melindungi keluarganya dengan tidak hanya cinta tapi sekaligus kehangatan.

***Tamat***

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here