Wanita Kedua #19

0
540
views

Kunci rumahku masih menggantung di lubang kunci, bahkan belum sempat kubuka pintunya tapi jendela air mataku sudah jebol. Alirannya seperti air bah yang tak bisa ku-bendung.

Benakku masih terbayang semua duka lara Bude. Meski aku kecewa tetapi pada akhirnya aku merasa sedih karena meresapi betapa nelangsanya Bude Rahmah di masa muda.

***

“Ayahmu adalah lelaki yang sangat kusayangi. Kami berdua tumbuh dalam lingkungan yang sama. Bahkan sejak awal kami sudah saling dijodohkan.” Bude Rahmah duduk di tepian luar pagar rumah kyai Hanafi. Matanya sembab karena banyak menangis, sama sepertiku.

“Lantas, kenapa Ayah bisa menikah dengan ibu?”

“Jadi, yang dimaksud menjaga jodoh orang lain itu menjaga Ayah untuk Ibu?” kataku memberondong Bude Rahmah dengan banyak pertanyaan. Beliau mengangguk.

“Ya Allah, Bude ….” Aku menangis kembali dan ikut duduk di sampingnya.

“Aku dan Ibumu berjarak lima tahun saja. Saat Bude sudah semakin dewasa Ibumu sedang ranum-ranumnya. Selain itu pesona Ayahmu memang sering menarik hati banyak wanita.”

“Pada mulanya aku tak tahu kalau Ibumu tertarik dengan Ayahmu yang saat itu adalah kekasihku,” terang Bude sambil terisak.

“Dan … Kau tahu? Saat kedua orang tua memiliki kecondongan kasih sayang kepada anak-anaknya maka akan muncul pula pihak yang harus dikalahkan.” Bude berhenti sejenak, membenarkan letak kerudungnya yang melorot karena sering dipakai untuk menyeka air mata.

“Ayahmu sudah akan melamarku, saat Bapak tahu kalau Ibumu juga mencintai lelaki yang sama denganku.”

“Bapak mendatangi kamarku saat aku baru saja membaca sepucuk surat cinta dari Ayahmu. Dia mengatakan bahwa dia akan sangat menerima dengan segenap hati jika besok Bapak mau menerima lamarannya atas putri-nya.”

“Aku tersenyum bahagia tentu saja. Karena lanjutan surat itu mengatakan bahwa Bapak telah melamarnya untuk putrinya. Kukira itu aku, saat Bapak mengatakan bahwa dia melamar ayahmu untuk Ibumu ….”

“Disitulah aku merasa duniaku telah runtuh. Impianku segera sirna dan yang ada hanya air mata,” lanjutnya sambil terbata-bata.

“Sejak kelahiran Ibumu aku merasa kasih sayang mereka berkurang. Awalnya kukira karena ibumu masih bayi maka mereka lebih menyayanginya. Tetapi lambat laun, saat dia tumbuh semakin cantik, lincah dan selalu berprestasi maka nampaklah nyata bahwa mereka berat sebelah,” ucapnya dengan lirih seperti menahan sakit yang sangat.

“Lalu, kenapa Ayahku setuju menikah dengan Ibu?”

“Karena sifatnya sangat mirip denganmu,” terangnya.

“Dia paling tidak tega jika melihat orang lain mengiba, apalagi sampai menitikkan air mata,” lanjutnya.

“Aku tahu itu, karena sejak kecil kami berteman, hingga remaja kami saling jatuh cinta dan pada akhirnya saat kami harus memilih melepaskan satu sama lain, kamipun terisak bersama.” Suara tangisannya sungguh menyayat. Hatiku merasa sakit, karena teganya Ibu mengambil ayah untuknya sendiri.

“Apakah Ibu tahu kalau Bude mencintai Ayah?”

“Iya,” jawabnya yang langsung membungkam semua kata-kataku.

“Bahkan dulu, dia pernah mengajakku bertaruh bahwa sesungguhnya dalam hati kecilnya, ayahmu juga mencintainya. Jika saja dia lahir lebih dulu.”

“Tapi, sebelum sempat kami bertaruh dia berlaku culas dengan mengatakan perasaannya kepada Bapak, sedangkan selama ini Bapak hanya menganggap rasa cintaku padanya hanya sisa cinta monyet kami.”

“Hati mana yang tak sakit jika diperlakukan seperti itu?” Bude Rahmah berkata dengan terbata-bata sambil memegangi dadanya yang kurasa terasa sangat sakit.

“Aku pernah berniat meninggalkan rumah, tapi ayahmu datang dan meyakinkanku bahwa dialah yang akan pergi sambil membawa ibumu.”

“Kenapa ayah tak menolak saat dijodohkan dengan Ibu?” tanyaku sedikit belum rela.

“Karena hutang budi. Selama ini Bapaklah yang menyekolahkan Ayahmu yang berasal dari keluarga tak mampu hingga dewasa dan bisa mencari pekerjaan,” terang Bude.

“Baginya, menolak permintaan Bapak sama saja dengan kacang lupa kulitnya.”

“Bahkan dia membujukku agar rela melepasnya,” lanjutnya.

“Dia memintaku untuk tidak menjadikannya lelaki pengecut yang kabur dengan anak dari orang yang telah banyak menolongnya,” kata Bude Rahmah sambil mengambil nafas panjang.

“Dia terpaksa mengorbankan perasaannya dan mengorbankan diriku sebagai pihak yang paling terluka.” Bude terdiam. Tangisnya pecah kembali.

“Aku berdiri di depan banyak orang saat pesta pernikahan lelakiku dengan adikku. Kau bisa bayangkan? Sembilan tahun pertautan hati kami sirna, hanya menyisakan kenangan.”

“Ibumu tertawa di atas panggung oerni, beradegan mesra dengan Ayahmu seolah dia tak pernah tahu perasaanku.” Bude Rahmah menatapku sambil meminta pembenaran.

“Hingga akhirnya Hatiku sakit dan bertekad akan menghancurkan pernikahan mereka. Tapi takdir berkata lain. Kau hadir dalam pernikahan mereka, dengan nasib yang tragis.”

“Ayahmu pergi meninggalkanmu yang masih kecil, dan saat kau menginjak remaja Ibumu turut serta,” kata Bude melanjutkan ceritanya.

Kami masih duduk di depan pagar rumah Kyai Hanafi, kami bahkan masih menangis bersama saat kutanyakan kenapa Bude tidak membiarkanku sebatang kara kalau masih membenci kedua orang tuaku.

Jawabnya membuatku terdiam.

“Tidak ada dendam dalam hatiku hingga turun temurun.”

“Itu bukan sikapku.”

“Aku mungkin membenci orang tuamu, tapi tidak dengan dirimu,” kata bude sambil memegang tanganku.

“Terlebih saat aku akhirnya menikah juga, lambat laun perasaan itu terganti dnwgan cinta suami istri baru yang bertekad bersama-sama membangun rumah tangga dengan rasa persekawanan, bukan karena hubungan seksual semata.”

“Pak de-mu begitu ngemong sama Bude, hingga hatiku luluh dari hari ke hari.” Bude tersenyum membayangkan almarhum suaminya. Matanya kembali berbinar. Aku tahu dari pancaran matanya kalau bude akhirnya jatuh cinta dengan suaminya.

“Lantas kenapa Bude, masih memfitnahku?”

“Saat aku mengarungi bahtera kehidupan yang baru?” tanyaku.

“Apakah itu bukan namanya benci?”

“Jika kau hanya melihat dari sisimu anggaplah aku membencimu.”

“Tapi, jika kau melihat dari kacamata orang yang paling menyayangimu maka itu adalah sebuah usaha perlindungan.” Bude menatap mataku dalam.

“Bude bersyukur karena kau akhirnya bercerai.”

“Bude sangat lega.”

“Karena Bude tahu kebusukan Ning Aliya ketika memaksamu mengembalikan lelakinya,” lanjut Bude sambil berkata dengan nada agak tinggi.

“Dalam hati aku merutuki dirimu yang terlalu polos, tapi aku juga tidak tega untuk menyurumu secara langsung untuk menyerah,” katanya sambil menowel kepalaku.

“Kau terlalu baik hati untuk disakiti, Humaira.”

“Sangat terlalu baik hati,” lanjutnya.

“Sekarang terserah kau mau memandang bude seperti apa. Yang jelas bude akan selalu berada di pihakmu. Selalu mendukungmu, dan tidak akan berlaku berat sebelah sebagai orang tua.”

“Kau bisa pegang kata-kataku.”

Bude meninggalkanku sendiri dan berlalu.

Saat rembulan sudah mulai meredup aku baru bisa mencerna maksud kata-katanya.

Dia tulus mencintaiku.

Dia Bude Rahmah, budeku.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here