Wanita Kedua #18

0
543
views

Padamu
Pemilik Hati yang
Tak pernah kumiliki

Yang hadir sebagai
Bagian dari kisah hidupku

Engkau aku cinta
Dengan segenap rasa di hati
Selaluku mencoba
Menjadi seperti yang
Engkau minta

Aku tahu engkau
Sebenarnya tahu
Tapi kau memilih
seolah engkau tak tahu

Kau sembunyikan
Rasa cintamu
Dibalik topeng persahabatan
Yang palsu

Kau jadikan aku
Kekasih bayangan
Yang menemani saat
Kau merasa sepi

Bertahun lamanya
Kujalani kisah
Cinta sendiri…

Bunyi nada dering ponselku terdengar sedih di telinga. Sesedih ucapan yang baru saja kudengar tadi sore. Aku sudah sadar sepenuhnya tapi mataku sengaja kupejamkan karena aku takut ketika membukanya ternyata aku tak sedang bermimpi.

Sebuah sentuhan pelan di tanganku membuatku menangis dalam diam. Aku tahu siapa yang menyentuhku seperti itu. Sentuhan dengan maksud memberiku dukungan. Tetapi hanya sebentar selebihnya dia keluar. Kata-kata cerainya kepadaku tadi di awal pertemuan memberi jarak yang sangat jauh sekarang.

Aku ingat. Saat Kyai Hanafi menanyaiku tentang keseriusanku menerima talak, aku mengangguk mantap hingga akhirnya Mas Akbar mengucapkan Kata itu. Selepas ucapan cerai mas Akbar, Kyai Hanafi menanyaiku lagi apakah aku sudah rela? Itulah maksud mediasi ini. Tetapi aku malah membongkar banyak hal yang membuatku sakit sendiri.

Benarlah kata pepatah, kadang kita harus menahan diri untuk tahu sebuah rahasia, jika tidak ingin sakit sendiri.

Aku mengerjapkan mata beberapa kali sebelum akhirnya kuputuskan untuk membuka mata. Kuperhatikan sekeliling kamar tempatku berada, kamar ini begitu teduh dan hangat. Sebuah foto dalam pigura yang berada di atas meja sebelah kiriku cukup memberiku informasi kamar siapakah ini.

Foto bergambar Kyai Hanafi dengan Bu Nyai Salamah yang sedang duduk berdua membuatku tersenyum. Lutut mereka Saling menempel, wajah mereka saling memandang serta satu sama lain tersenyum tulus dan bahagia.

Sungguh. Melihat potret indah itu aku merasa tertampar. Ada sebuah rasa penyesalan yang membuat hatiku perih. Jika aku menjadi kedua orang yang ada dalam potret itu maka hatiku pasti sakit melihat putrinya memiliki madu.

Aku menangis dalam diam, kepalaku berdenyut kembali, pusing melanda dan dadaku bergemuruh.

Air mataku tak lagi tertahan, awalnya hanya menitikkan setetes air mata, kemudian mulai mengalir deras, apalagi saat teringat ucapan seseorang yang tak pernah kusangka datangnya, tadi sore. Semua ucapannya menghancurkan kenangan Indah yang telah kami lalui bersama.

Semua kenangan indah itu akhirnya kandas, berganti lara.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan takdir hidupku?

Apa sebenarnya yang telah kumiliki hingga membuat mereka tak pernah bisa menyukaiku?

Apa, apa dan apa?

Satu persatu pertanyaan dalam kepala berloncatan untuk keluar.

***

“Humaira, kau tahu?”

“Mencari pasangan itu susah-susah gampang.” Bude Rahmah memberiku sebuah nasehat ketika hari itu Mas Akbar mengantarku sampai rumah untuk pertama kalinya. Aku hanya mengangguk sambil mendengarkan kata-katanya disambi mengupas kulit kelapa tua yang hendak diparut.

“Terkadang apa yang kita cintai saat ini sebenarnya bukan apa yang ditakdirkan untuk kita.”

“Makanya jangan terlalu memaksa dalam cinta.” Aku terkekeh mendengar nasihatnya. Bijak sekali.

“Cie… cie… cie….”

“Pengakuan nih, Bude?” tanyaku menggoda.

“Iya.” Bude menjawab dengan serius. Pandangan matanya tajam ke depan seolah menembus bayangan masa lalu.

“Aku pernah menjaga jodoh orang lain.” Beliau mengambil jeda sebentar.

“Sembilan tahun,” lanjutnya. Mulutku menganga, tak percaya dengan apa yang baru saja kudengar.

“Maksud Bude?”

“Bude pernah ditinggalkan oleh kekasih bude?” Aku bertanya dengan agak tak enak. Beliau mengangguk.

“Tapi itu sudah berlalu.”

“Biarlah jadi kenangan,” lanjut Bude membesarkan hatinya sendiri.

“Karena itu, jangan terlalu mencintai Nak Akbar.”

“Sewajarnya saja. Siapa tahu dia bukan jodoh Yang disiapkan Tuhan untukmu.” Aku mengangguk mendengarkan pesan beliau, meskipun hatiku sebenarnya sangat tidak rela.

Ingatan Akan ucapan Bude Rahmah dulu membuatku mereka jawaban atas pertanyaanku sendiri.

Kenapa Bude Rahmah tega memfitnahku di Mata masyarakat?

Apakah karena aku masih mau dinikahi Mas Akbar yang telah beristri, atau adakah alasan lain yang beliau sembunyikan?

Namun, semua itu tidak seharusnya menjadi alasan bagi Bude untuk memfitnahku. Keponakannya sendiri yang sudah dianggapnya anak. Tidak.

Tangisku pecah lagi.

Aku marah karena Mas Akbar lebih memilih kembali kepada Ning Aliya.

Aku marah karena Bude Rahmah menusukku dari belakang.

Namun, aku tak bisa membenci mereka.

Karena, cintaku pada mereka sudah sangat dalam. Hanya Ada cinta yang kumiliki untuk mereka. Meskipun sekarang cinta ini harus membuatku menjauh dari mereka semua.

Sudah cukup ketololanku, kepolosanku, ketidakbecusanku membaca sikap mereka. Karena aku masih bisa berdiri dengan kakiku sendiri.

Walaupun Berat, akan tetap kujalani.

***

Aku berdiri di ambang pintu pagar Kyai Hanafi saat sebuah suara mencegah langkah kakiku.

“Jangan pergi!”

“Bude belum selesai denganmu.” Suara itu memasung langkahku.

Saat aku berbalik menghadapnya sebuah rahasia baru terungkap darinya.

Alasan kenapa Bude menusukku dari belakang.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here