Wanita Kedua #11

0
151
views

“Nduk, Humaira,” panggil Bude Rahmah dengan suara sedikit melengking terdengar dari arah luar kamarku.

“Dalem, Bude,” jawabku atas panggilannya. Kitab Safinah karya Syeikh Salim Bin Samir Al-Hadlrawi yang sedari tadi kubaca kutinggalkan di atas meja samping ranjang. Langkahku bergegas keluar kamar.

“Ya Allah, Hum.”

“Nduk, sampean iku ngopo neh?” Bude Rahmah bertanya kepadaku. Sungguh pertanyaan Bude kali ini membuatku mengernyitkan dahi.

“Sebentar, Bude. Duduk dulu,” ajakku sambil menggamit lengannya dan membawanya duduk di bale-bale kecil belakang rumah. Hamparan sawah yang menguning terlihat sepanjang mata memandang.

“Ngene lho, Nduk.”

“Tadi Bude habis dari pasar Turah, eh kok Mbok Jum, juru masak pondoknya Nyai Salamah sinis banget sikape, Nduk.”

“Bude wis Ndak mikir opo-opo, selain kamu.” Bude mengambil nafas dalam kemudian dihembuskan pelan-pelan.

“Kamu bikin ulah apa, Nduk?”

Aku memandang Bude Rahmah dengan sedikit melotot, tanda heran.

“Saya? Berulah?”

“Maksud Bude?”

“Kamu menyinggung hati Ning Aliya lagi?”

“Bude ndak percaya Humaira?” tanyaku dengan sedikit sebal.

“Jelaskan dulu, baru nanti Bude ambil sikap.”

“Ingat, bude sudah mewanti-wanti kamu agar menjadi istri nak Akbar yang santun.”

“Bukan seorang istri yang serakah.”

“Termasuk serakah atas cinta?”

“Iya. Meskipun kau perempuan pertama yang dicintai suamimu, tetap saja. Kamu perempuan kedua dalam dinamika rumah tangga nak Akbar dengan Ning Aliya.” Aku sangat sedih mendengar kata-kata Bude Rahmah barusan, tapi perkataan Bude tidak sepenuhnya salah.

“Tadi Ning Aliya ke sini.”

“Ya Salam, Humaira,” kata Bude memotong penjelasanku.

“Bude, dengarkan dulu. Humaira belum selesai bicara.”

“Maaf, Nduk. Ayo lanjutkan,” ucapnya sambil memakan ote-ote yang mulai dingin hasil buruannya di pasar.

“Dia ingin meminta kembali Mas Akbar?”

“Ya Rabbi.”

“Astaghfirullah. Iki pernikahan bukan barang dodolan.”

“Nak Akbar insyaallah tak bercacat maka tak selayaknya dikembalikan.” Bude Rahmah mengucapkan kata-katanya dengan anda tinggi. Memang dalam pernikahan boleh mengembalikan mempelai jika terdapat cacat bawaan yang disembunyikan, atau baru ketahuan. Tapi tidak dengan Mas Akbar yang dianggap Bude tak bercacat.

“Bude, maaf Humaira tak sanggup berkata jujur dengan Bude sebelum ini.”

“Sebenarnya Ning Aliya memiliki niat lain dengan pernikahan ini, tapi sekarang niatnya berubah.”

“Humaira, kamu tidak melakukan hal-hal aneh, kan dengan Ning Aliya.”

“Maksudnya bersekongkol?” Bude mengangguk.

“Ingat, mengenai pelajaran talak. Bagaimana talak itu tidak boleh direkayasa.” Bude membuka kembali pelajaran lama.

“Perceraian itu dibenci Tuhan. Maka jangan merekayasa.”

“Suami istri yang sudah bercerai tiga kali, juga tidak boleh merekayasa perceraian setelah pernikahan baru pasangannya sebagai syarat rujuk pasangan lama yang ingin merajut kembali pernikahan.”

“Kau melakukan yang mana?” Aku terdiam lama. Mataku terpejam membayangkan bahwa perencanaan pernikahan ini salah. Ya Allah, aku mendukung Ning Aliya merencanakan perceraiannya dulu, dan aku tak memikirkannya sebelumnya. Pun Ning Aliya, tidakkah dia juga faham hukum ini?

“Bude …. ”

“Jika Humaira melakukannya bagaimana?”

“Kau mau merencanakan perceraian dengan Akbar?”

“Istighfar yang banyak, sholat taubat dan benahi diri,” katanya tanpa memberiku kesempatan menjelaskan lagi.

“Satu lagi, jangan dekat-dekat Ning Aliya dulu. Mungkin dia mengadu kepada lingkungannya kalau kamu berbuat salah kepadanya.”

“Sementara ini jauhi Akbar dulu.”

“Maksud Bude?”

“Jangan minta jatah dulu sama Akbar. Redakan dulu amarahmu.” Aku mengangguk pasrah sambil melihat punggung Bude Rahmah yang semakin menjauh ke arah luar.

Sepeninggal Bude aku kembali ke kamar menuntaskan air mata yang tiba-tiba tak terbendung. Sudah hampir Maghrib dan malam-malam kesepian akan melanda nasib pengantinku.

Meskipun hatiku terasa lega karena sudah pelan-pelan mengakui konspirasiku secara tak sengaja dengan niat Ning Aliya dulu, tapi aku tak mungkin bercerita lebih lanjut kepada Bude siapa sebenarnya otak perencanaan perceraian itu. Aku merasa kotor, mungkin karena inilah Tuhan tidak memuluskan rencana Ning Aliya, melainkan saling menghadapkan kami kepada keputusan sulit.

Namun, manusia tidak boleh berprasangka buruk kepada takdir Tuhan. Bude Rahmah benar. Kali ini aku harus mengambil wudlu, membaca istighfar sebanyak mungkin dan benar-benar bertaubat dengan melakukan sholat taubat.

Pada penghujung salamku suara dering gawai membuatku terlonjak. Terdengar suara Mas Akbar di ujung ponsel, nadanya marah suaranya menggema.

“Humaira! Sampai kapan kau mengusik ketenangan Ning Aliya!”

“Bukankah aku sudah pernah menyuruh agar membuatnya tenang!”

Bagai petir di malam hari. Ungkapan kemarahan Mas Akbar menjadi penanda suramnya malam-malam yang akan kurindukan ke depan.

Perkataan Bude Rahmah benar lagi, sementara ini aku tak boleh merindukan jatah kehangatan mas Akbar, karena ada bara api yang akan tersulut lebih besar.

Aku harus bersabar, laksana kesabaran Ratu Jodha saat bermain biduk kehidupan melawan Ratu Ruqayya yang lebih memiliki dukungan kemenangan.

Papan catur ku dikelilingi pion biasa, sementara Ning Aliya dikelilingi benteng yang kokoh, perdana menteri yang handal dan prajurit biasa yang rela membela, meskipun Mas Akbar adalah raja yang harus ditaklukkan tapi sang ratu di kubunya tak mudah untuk SKAK MATT!

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here