Wanita Kedua #10

0
189
views

Pukul sepuluh pagi, saat burung Lovebird berwarna merah biru milik bude Rahmah yang dititipkan di rumahku sedang lapar dan sedang kusuapi seorang wanita berkerudung kuning datang mengunjungi. Matanya memakai celak dengan sempurna menambah cantik wajahnya yang putih. Aku pribadi tak pernah bisa memakai celak, meskipun itu disunnahkan.

“Lagi sibuk, Humaira?” sapanya. Aku menyambut kedatangannya, menyalaminya dan mempersilahkan duduk.

“Monggo, Ning.”

“Masuk mriki,” kataku sambil mengajaknya masuk ke dalam rumah. Foto besar dengan bingkai kayu terpajang di dekat tempatnya duduk. Wanita itu memandang lama, entah apa yang ada dalam benaknya.

“Aku juga punya foto seperti itu Humaira,” katanya sambil menunjuk foto pernikahanku dengan Mas Akbar.

“Bahkan mempelai lelakinya sama, kan?” Pandangannya tak beralih dari foto itu.

“Iya,” jawabku setengah ketus.

“Aku bingung dengan sikap jenengan Ning.”

“Sudah jelas saya tak pernah mengganggu kehidupan Ning Aliya, meskipun Ning Aliya menikah dengan lelaki yang mencintaiku,” ujarku setengah meluapkan kejengkelan.

“Namun, kenapa Ning Aliya seolah-olah memposisikan aku sebagai perebut.” Ning Aliya diam mendengarkan kekesalanku.

“Ning Aliya ingatkan? Apa yang sampean omongkan di cafe waktu itu?” tanyaku mencoba mengingatkan kata-katanya dulu.

“Iya.”

“Lantas?”

“Aku takut Humaira. Takut Abah Ibu tak setuju.” Isaknya menyelingi pembicaraan kami.

“Jenengan sendiri yang bilang, kalau posisi janda dalam agama boleh memiliki hak pilih sendiri.”

“Makanya Ning Aliya merencanakan semuanya, kan?” Lagi-lagi dia mengangguk.

“Namun, semuanya ternyata tak semudah itu Humaira. Maaf.”

“Maksudnya, Ning?”

“Saat kau sudah mengiyakan tawaranku, Mas Akbar juga sudah rela, ternyata aku yang berat melepas.”

“Cinta pertamaku mendadak tidak menarik, tapi Mas Akbar.”

“Aku merasa berat melepaskannya,” katanya dengan nada sedikit meninggi.

“Egoku menginginkan Mas Akbar, lebih. Bahkan, terbersit keinginan menggagalkan pernikahan kalian,” lanjutnya dengan menatap wajahku.

Sekarang aku tahu bagaimana perasaan dua orang wanita yang memperebutkan satu pria. Hal yang dulu kukira gila dan konyol. Bahkan bisa berakibat adu cakar.

“Astaghfirullah, Ning. Sadarkah yang jenengan omongkan?”

“Iya.”

“Berarti malam itu saat Ning Aliya masuk rumah sakit karena overdosis obat sakit kepala?”

“Hmm.”

“Itu hanya akal-akalan, kan?”

“Iya.” Dia menjawab dengan lantang.

“Walau itu dosa, tidak ada dalil agama yang menghalalkan bunuh diri. Tapi, aku gelap mata.” Dia menundukkan pandangan.

“Jadi, sekarang Ning Aliya mau bagaimana?” Konyol. Baru kali ini ada dua wanita dengan satu suami yang sama bernegosiasi.

“Maksudnya?”

“Maksudnya sampean sekarang maunya apa? Ndak jadi minta cerai?”

Ning Aliya menggeleng.

“Ndak jadi mengejar cinta lama?” Dia juga menggeleng.

Aku semakin terkesiap.

“Lantas …?” tanyaku menggantung di udara.

“Aku ingin memiliki mas Akbar sepenuhnya. Menjadi istrinya, ya kau tahulah, yang seperti kau lakukan dengannya.”

“Sepasang lelaki dan perempuan yang halal, apalagi kalau bukan itu.” Nada bicaranya semakin menjadi membuatku naik pitam. Meja di depannya kugebrak dengan sedikit keras hingga membuatnya terlonjak.

“Dua tahun, Ning.”

“Sampean anggurkan Mas Akbar. Dan sekarang, Ning Aliya hendak nganu … Incip?”

“Ning, sebelum kesabaran saya habis, lebih baik Ning Aliya kembali ke rumah.” Aku memandang ke luar mengalihkan perhatian. Aku takut semakin memandangnya hatiku bisa khilaf dan memakinya.

Namun, aku tak mungkin mengatakan kepada Mas Akbar untuk menolaknya, kan?

Ya Tuhan.

Mungkin aku bisa menahan cemburu jika mereka sekedar bercengkrama, tapi jika membayangkan pergumulan mereka di ranjang. Aku tetaplah wanita layaknya yang lain pasti akan merasa sakit. Dulu ketika pertama kali Ning Aliya mengatakan tak pernah bersama Mas Akbar di atas ranjang, aku masih bisa menahan rasa cemburuku, tapi sekarang, ini seperti tantangan perang yang terbuka.

Walaupun Ning Aliya sah meminta itu, tapi dua tahun kemarin ke mana saja?

Mendadak hatiku limbung, aku tak mungkin mencegah hal yang halal dilakukan oleh keduanya.

“Ingat, Humaira. Mas Akbar memang selama ini segan kepadaku. Tapi, jika aku persilahkan … Lelaki mana yang menolak.” Perkataannya sebelum pulang tadi membuat kepalaku berkunang-kunang.

Aku tak tahu lagi apa yang Ning Aliya inginkan. Dia mendadak seperti anak kecil yang bergairah merebut mainan saat ada pesaing lain. Sekarang aku merasa benar-benar dipermainkan.

***

Malam datang menyapa bumi membawa rasa dingin yang menusuk tulangku.

Duduk sendiri di sudut kamar dengan beberapa buku di atas rak tak bisa membuat pikiranku beralih. Memikirkan Mas Akbar yang sekarang satu kamar dengan Ning Aliya sementara dia sedang ingin merasakan indahnya malam bersama Mas Akbar membuatku menggigil.

“Rasa resah berayun-ayun
Membawa keluh dalam nadi
Teringat dikau Dinda Hati
Membawa aroma wangi
Tenangkan diri

Rasa Indah mengayun tenang
Mendekap tubuh
Berbagi rasa
Menatap waktu yang berlalu
Bagai butir debu hilang terbawa angin.”

Tiba-tiba ingatanku akan puisi Mas Akbar yang ke sepuluh kemarin membuat senyum tersungging di mulutku. Kemarin saat dia bersamaku hanya aku yang memadu kasih dengannya, jika dia sudah menyentuh Ning Aliya maka ceritanya akan lain. Akan berbeda.

Haruskah aku bertahan hingga lunas seratus puisinya?

Namun terbayang wajah teduh Mas Akbar yang mengiba, membuatku menggelengkan kepala tak tega.

Beberapa menit kemudian aku teringat ketidaksukaan Bude Ning Aliya, keluarganya, ketidaksetujuan Mertuaku, dan perkataan Ning Aliya yang mencabut tujuan pertamanya membuat hatiku berada dalam Medan pertarungan yang akan sulit kumenangkan. Aku pasrah akan jalannya pernikahan ke depan. Tapi bukankah wanita kedua sudah selalu di cap salah? mungkin sebaiknya aku tak lagi mengalah, kan sudah terlanjur basah.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here