Wanita Kedua #07

0
93
views

Aku mematut wajahku di cermin. Kerudung Salem dengan renda di pinggirnya terasa manis saat kukenakan. Pipi merahku semakin merona saat teringat pujian Mas Akbar malam itu selepas melaksanakan kewajibannya.

“Tanpa blush on, pun pipimu merah menawan Dinda.” Kata-katanya malam itu menawan hatiku.

Belum lagi celak di mata, ah tak sabar rasanya hendak menyuguhkan untuknya, tapi riasan itu segera kuhapus. Tangisku meluncur deras. Untuk apa semua itu kulakukan kenyataannya sudah dua puluh hari ini aku tidak dijenguk. Hanya Bude Rahmah yang setia membuatku tenang, kata-kata teduhnya membuatku masih merasa dicintai. Walau semua mata masyarakat sekitar menganggapku perusak rumah tangga tapi aku berkukuh. Bukan, bukan aku yang mendatangi Mas Akbar meminta cinta lama.

Namun, wanita itulah yang datang menawarkan. Alasanku menerimanya adalah karena tangisannya di malam itu. Malam saat Ning Aliya memintaku untuk menjadi madunya.

***

Seorang santri muda datang mengetuk pintu rumahku, wajahnya masih imut ketika kutanya dia baru duduk di sekolah menengah atas kelas dua, pantas.

Anak itu menyerahkan sebuah amplop merah muda tanpa nama.

“Ini apa?” tanyaku membuka percakapan dengannya.

“Duko. Saya hanya disuruh,” jawabnya terbata dan segera pamit setelah aku menerimanya.

Kuteliti surat itu bagian demi bagian. Tidak ada petunjuk perkenalan maka segera kubuka dengan perlahan takut ada bagian penting yang tersobek. Mataku membelalak ketika sebuah kata di surat itu menuliskan nama wanita yang kukenal, tidak secara akrab tapi aku pernah datang ke pernikahannya dengan mempelai lelaki mantan terindahku, Mas Akbar.

_Aliya Hasan_

‘Mbak Humaira, bolehkah kita bertemu?’

‘kutunggu jenengan di kafe Anugrah besok siang.’

Aku menerawang memikirkan kemungkinan apa yang membuat Ning Aliya ingin menemuiku. Sedangkan aku sudah tak pernah lagi bertemu dengan Mas Akbar. Ada apakah gerangan?

Semua terjawab saat keesokan harinya kami berdua bertemu. Dia terlihat cantik dengan gaun berwarna ungu dengan kerudung berwarna senada.

Kami berdua duduk di sudut pojok kafe anugerah menjauh dari keramaian. Lampu temaram dengan lilin kecil di atas meja menambah syahdu suasana. Satu buah pot bunga euphorbia hias yang sudah di bonsai terlihat manis menggoda di sebelah kananku. Batang bunganya berduri tepat ketika Ning Aliya mengatakan keinginannya tanganku tertusuk durinya. Aku memekik tajam, antara kaget dan sakit.

“Aku ingin melamarmu, Mbak.”

“Untuk Mas Akbar,” katanya membuyarkan akal sehatku.

Tanganku gemetar ketika memegang gelas air minum di atas meja. Kerongkonganku tercekat. Aku tak sedang bermimpi. Untuk meyakinkan hatiku kucubit tangan kiriku dengan keras, mengerjapkan mata berkali-kali dan deal, ini bukan mimpi.

“Ning, jangan ngomong ngelantur.”

“Kenapa jenengan bisa berfikir aneh seperti itu?”

“Ah, kau pasti menganggapku sebagai lelucon kan?” katanya sambil menyeruput gelas berisi air jeruk nipis, pantas badannya masih tetap ramping dan cantik.

“Aku sudah berbicara dengan Mas Akbar, dan ….”

“Dia setuju.” Tatapan matanya tepat menatapku. Jantungku tak karuan melihat tatapannya, anganku membayangkan senyum manis Mas Akbar. Senyum termanis sebelum malam itu dia datang membawa surat undangan pernikahannya.

“Ning, ada masalah apa?” tanyaku masih mendesaknya mengatakan masalahnya sehingga memintaku menjadi madu.

“Aku, tak bisa bersamanya. Sudah dua tahun kami bersama tapi, hatiku susah menerimanya,” jawab Ning Aliya.

“Bahkan aku memintanya tidur di sofa selama dua tahun ini. Bagi banyak orang kami sangat romantis. Tapi itu hanya di luar, selebihnya kami hanya menjadi teman.”

Aku terkesiap. Mulutku kututup dengan tangan. Jadi selama ini Ning Aliya menarik diri dari Mas Akbar.

“Lalu, Mas Akbar menerima sikap Ning Aliya?”

“Sudah sejak awal dia menerimaku karena rasa sungkan dan hormatnya dia kepada abahku. Bukan karena cinta, kan?”

“Kurasa kau tahu itu,” lanjutnya sambil menatapku.

“Kau tahu, Humaira, aku sudah lama memimpikan menjadi diriku sendiri. Memintamu menjadi madu adalah kebebasan berfikir ku yang pertama, tanpa campur tangan Abah dan Ibu,” kata Ning Aliya sambil mengusap air matanya yang menetes.

“Selain itu,” katanya sambil mendekat padaku.

“Ada alasan lain.” Jantungku berdebar tak karuan, alasan apa yang akan diutarakannya.

“Aku, ingin mengejar cinta lamaku,” ujarnya.

“Mas Akbar belum tahu alasan ini. Aku hanya mengatakan bahwa aku sakit itu saja.” Dia memintaku menjawab segera setelah pertemuan itu. Tapi, aku meminta syarat harus Mas Akbar yang memintaku sendiri. Ning Aliya menyanggupi. Entah bagaimana dia merayu Mas Akbar tapi hari itu dia datang bersama Mas Akbar dan menyatakan pinangan.

Aku mematut wajahku di dalam cermin lagi, tetes air mata meluncur deras. Kenapa sekarang, saat aku sudah menjadi milik Mas Akbar tapi Ning Aliya seakan tak rela?

Mungkinkah sakitnya sekarang karena sebuah taktik? alasan belaka?

Kita tahu, bahwa kita akan merasa membutuhkan seseorang saat dia sudah menjadi milik orang lain? Sedangkan sebelumnya kita bahkan menyepelekannya.

Aku menangis meratapi pikiran konyol yang tadi muncul. Tekadku sudah bulat, sore ini aku akan datang ke ndalem Bu Nyai Salamah, aku ingin menjenguk Ning Aliya sekaligus menjemput rinduku.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here