Wanita Kedua #05

0
1068
views

Malam ini angin bertiup kencang membawa butiran debu terbang menempel di mataku. Aliran hangat air mata keluar saat kuusap ujung mata. Alih-alih berhenti air mata yang turun semakin deras bersamaan dengan ingatan video call Mas Akbar tadi.

“Humaira.”

“Kau tadi ke rumah?” Aku mengangguk meskipun aku tak tahu maksudnya rumah yang mana. Dia telah memiliki banyak rumah selama ini. Rumah Bapak Ibunya, rumah mertuanya yang dihuninya bersama Ning Aliya dan sekarang rumahku, tapi aku mengangguk saja.

“Kenapa tidak masuk?” Pertanyaannya menggelitik sanubariku. Benar kata pepatah kalau masalah rasa dan perasaan maka otak lelaki selalu ditaruh di dengkul.

“Tak enak sama Ning Aliya,” jawabku jujur.

“Kenapa tak enak?” Antara menimbang jawaban jujur atau tidak, akhirnya aku menjawab apa adanya.

“Karena Ning Aliya pasti tak ingin aku hadir di antara kalian.”

“Saat kalian sedang bercumbu mesra.”

Suara tawa Mas Akbar tak berhenti terdengar, di depanku lewat gawai yang menampilkan panggilan video dia menutupi mulutnya yang terbuka lebar karena tertawa. Wajahnya yang halus, hidungnya yang mancung membuatnya terlihat beratus-ratus kali lebih tampan. Aku merasa menyesal menerima pinangan Ning Aliya kemarin, karena bagaimanapun hati ini ingin, mas Akbar tetap tak bisa kumiliki sendiri.

“Humaira,

“Banyak wanita hadir di hadapanku
“Merengkuh rasa di pucuk asa
“Kaulah wanita pertama
“Yang memenuhi relung hati
“Pun, detik ini
“Kau tetap muara segala rasa.”

Dia memandangku lama, sebuah tanya muncul darinya.

“Ini puisiku yang keberapa?”

“Lima.” Dia mengangguk.

“Dan aku sudah meninggalkanmu begitu lama, maaf.” Seketika hati yang sepi ini menangis pilu. Aku matikan panggilan videonya, memeluk bantal di kamar dan mengurung diri berteman sepi.

Mengingat kejadian tadi jujur hati merasa sesak, padahal aku hanya sendiri di rumah tak akan kekurangan oksigen. Mungkin malam dapat menghiburku, kulesatkan pikiran itu dalam hati. Kukirimkan watsapp ke ponsel Mas Akbar seketika tanda kirimannya berubah hijau yang kuartikan dia membacanya tapi tiada balasan. Ya sudah, kuputuskan untuk jalan-jalan di sekitar rumah saja, kebetulan bunga sedap malam peninggalan Bude Rahmah sewaktu tinggal di rumah sedang bermekaran dan indah. Warna ungu sedikt pink, kuning, serta putih memenuhi halaman belakang rumah baunya harum dan ketika awan hitam berarak pergi rembulan bulat sempurna menyapa alam. Malam ini bulan purnama yang seharusnya menjadi purnama pertama yang kunikmati bersamanya.

***

Ujung kakiku merasa dingin tertiup angin, segera saja aku terbangun hendak menggapai selimut di ujung ranjang, namun belum sempat aku menggapai sebuah tangan meraihnya, membuka selimutnya dan menyelimutkannya di atas tubuhku. Dipandanginya wajahku lama, tangannya menyentuh pipiku hingga bibir. Dia akhirnya ikut berbaring di sampingku, saling pandang dalam satu selimut yang sama. Titik air mata tak bisa kubendung, kucubit pipinya yang tebal memastikan bahwa ini bukan mimpi.

Malam itu, dia menunaikan nafkahnya yang pertama kepadaku.

Malam itu, benar-benar menjadi purnama pertama yang kuhabiskan dengannya. Malam itu berlangsung dengan sangat indah.

Dia, menjadi milikku sepenuhnya. Meskipun esok aku harus siap berbagi. Lagi.

“Humaira,” panggilnya setelah merasa lelah dan mengantuk.

“Hmm.”

“Bangunkan aku sebelum shubuh,” pintanya sambil melirikku yang terbaring di sampingnya. Aku mengangguk. Mencium keningnya dan melihatnya hingga terlelap. Nafasnya pelan dan teratur sungguh mendebarkan. Kusentuh dadaku sambil memejamkan mata, suara debarnya masih bergemuruh tak segera reda. Ujung bibirku menyunggingkan senyum. Aku sekarang sudah resmi menjadi seorang istri.

***

Menjelang shubuh saat aku selesai mandi dan bertahajjud kuhampiri tepi ranjang, lelakiku masih tertidur pulas, dadanya naik turun seirama dengan hembusan nafasnya.

Merasa penasaran jam berapa saat itu, kugapai gawai di atas nakas, bersamaan dengan layar yang terbuka kulihat sembilan panggilan Ning Aliya tertera di sana.

Satu pesan watsapp ditinggalkannya di nomerku. Ragu dengan apa yang akan kulihat di sana tapi, rasa ingin tahuku ternyata lebih besar.

“Huma,

“Apakah Mas Akbar di sana?

“Tolong kembalikan dia kepadaku.

“Memilihkan dia mempelai lain ternyata bukan jalan terbaik.

“Aku semakin jauh dari hatinya.

“Sementara kau, mereguk cintamu kembali.

“Sudilah kau kembalikan dia padaku.”

Kuremas gawai di tangan. Hatiku serasa dipermainkan. Apa maksud pesannya?

Siapa yang meminangku lebih dahulu.

Siapa yang mengatakan bahwa semua keluarga setuju?

Siapa yang mengatakan bahwa Mas Akbar setuju?

Dia.

Namun sekarang dia memintanya kembali? Hanya untuknya.

“Aku memiliki masalah yang tak bisa kuungkapkan padamu, Huma.”

“Menikahlah dengannya.”

“Tak ada wanita lain yang pantas, kecuali kamu. Kau cinta pertamanya.” Kata-kata itu begitu lantang kau ucapkan malam itu. Bude Rahmah dan aku sampai berkeringat dingin mendengar pintamu.

Sekarang ….

Kau hendak menyuruhku mengembalikannya?

‘Ning, aku sedang tidak bermain boneka kertas. Saat tak cocok dengan lakon A maka harus dipasangkan dengan B,’ ratapku.

Karena sejak dia menerima akad yang diucapkan penghulu maka aku membuka kembali taman asmara di hatiku. Untuknya, lelaki yang terpaksa kurelakan meminangmu dulu, lelaki yang kutaruh di sudut hatiku dengan harapan melupakannya seiring hari, lelaki yang tak pernah kuusik lagi hidupnya, kaulah yang membawanya kembali dalam hidupku dan sekarang kau pula yang hendak mencerabutnya.

Tidak.

Meskipun aku harus menjadi yang tersingkir, hatiku sudah bulat. Aku ingin menjadi istri Mas Akbar sampai maut memisahkan.

Aku tak hendak memperjuangkan keadilan lelaki beristri lebih dari satu. Kau, Ning yang membuatku ingin menunjukkan bagaimana rasanya dicintai.

Ini hidupku.

Kali ini saja aku ingin egois. Mungkin inilah jalan hidupku, kembali mendapat cinta Mas Akbar karenamu.

***

“Mas, bangun.”

“Sudah menjelang shubuh.” Lelakiku mengerjapkan mata. Menyipit dan terkaget.

“Mas kesini tak izin Ning Aliya, kan?” Dia mengangguk kemudian memelukku erat. Sekali lagi dia mereguk nikmat purnama bersamaku, seblum azan shubuh berkumandang dan membawanya kembali ke ranjang istri pertamanya.

Bau tubuhnya yang harum masih tercium bersama angin, selepas dia membuka pintu. Bau harum itu akan mengingatkan Ning Aliya bahwa ada hakku atas diri Mas Akbar mulai detik ini. Suka atau tidak. Mau atau tak mau.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here