Wanita Kedua #04

0
188
views

If I don’t need you
Then why does
My hand fit yours

If I don’t need you
Then why do i dream of you as my wife

I don’t wanna run away
But i cant take it
I don’t understand

….

Lirik lagu Daniel Bedingfield yang terdengar melalui siaran radio kuno peninggalan bapak menyisakan luka di hati. Radio kuno itu disulap menjadi radio kekinian oleh Mas Bagio tetangga depan rumah. Siarannya tak lagi SW-MW tapi sudah dapat menerima gelombang FM.

Kalau dulu radio National itu membutuhkan banyak batrei yang kadang saat uang lagi cekak kita perlu menjemurnya di atas atap rumah agar menyerap tenaga matahari dan baterai bisa digunakan kembali. Ajaibnya itu berfungsi. Sekarang radio usangku sudah dicolokkan listrik jaadi lebih bisa berfungsi lama. Paling kalau sinyal lagi jelek saja maka suaranya akan kemresek.

Adanya suara dari radio itu menambah ramai suasana rumah yang sepi. Beberapa tetangga yang tilik manten lima hari ini sudah berkurang, mereka sering kembali dari rumah dengan raut kecewa karena tak bisa bertemu manten kakung. Dalam bayangan mereka aku serupa Dewi Arimbi yang masih ditolak oleh Bima. Keluarga Bude Rahmah juga sudah mulai kembali ke rumah masing-masing.

Di sinilah aku, sepi dan sendiri. Lima hari ini Mas Akbar memintaku bersabar dulu, karena Ning Aliya sedang masa pemulihan dia membutuhkan dukungan orang terdekatnya. Suamiku yang juga suaminya.

Dadaku merasa sesak. Seperti sesaknya hatiku di awal pernikahan, saat Ning Aliya mengatakan bahwa pernikahan ini adalah peperangan antara Angkara dan Cinta saat dia berjabat tangan dan memelukku. Di situlah dia membisikkan kata penuh tanda tanya itu.

Aku mengambil nafas dalam. Daripada terpuruk dengan semua ini kuputuskan berangkat ke pasar mencarikan pesanan daun Lamtoro Bu kades.

“Fabaceae.”

“Apa?”

“Lamtoro adalah bagian perdu yang masuk keluarga Fabaceae.” Kuingat kata-katanya saat muda. Memakai seragam putih abu-abu sedang berjongkok menemaniku memilih daun lamtoro yang sudah ditebang Pak Karyo, orang suruhan Kepala sekolah. Pohon lamtoro di dekat sekolah sudah semakin tinggi dan harus dipotong untuk mewaspadai roboh. Meskipun sejatinya pohon lamtoro yang bisa tumbuh hingga 12 meter bisa menahan serangan angin. Tapi siapa yang tahu, sekedar berjaga, kata Pak Kepala.

Berbekal izin kepala sekolah aku memilih daunnya yang muda dengan biji-bijinya yang mulai tercecer karena sudah kering.

“Kok tahu?” Dia memandangku heran.

“Kita kan belajar Biologi Sruntul,” katanya sambil memanggilku Sruntul, yang berarti gadis polos kurang peka. Kalau sudah begitu aku akan memonyongkan mulutku, cemberut.

“Biarin. Kalau bilang aku Sruntul lagi gak tak bikinin teh lamtoro.”

“Atau kopi lamtoro.”

“Emang bisa?” tanyanya kali ini.

“Nah, gantian sampean yang Sruntul.” Aku bertepuk tangan bahagia.

“Nih, perhatikan. Biji lamtoro kering yang sudah menghitam ini, bisa disangrai di atas wajan tanah liat untuk kemudian nanti setelah matang diseduh dengan air panas.”

“Persis seperti membuat kopi. Bahkan baunya juga harum.” Aku mendekatkan biji lamtoro di tangan dan membauinya persis seperti penguji kopi yang kompeten.

“Kaalau yang muda begini,” kataku sambil mengambil biji lamtoro muda yang hijau dan kuarahkan kepadanya.

“Biasanya direbus kemudian dibuat campuran pecel.”

“Enak,” kataku sambil membayangkan pecel khas buatan Bude Rahmah yang sering diberi taburan biji lamtoro.

“Rasanya seperti apa?” tanyanya. Matanya memandang wajahku lekat. Hatiku dah Dig dug tak karuan.

“Rasanya ya seperti kacang-kacangan pada dasarnya, sedikit tawar dan ada rasa pahit.”

“Tapi, khasiatnya sebanding dengan kedelai.” Dia bertepuk tangan saat penjelasan lamtoroku selesai siang itu. Dia membantuku menyeret daun Lamtoro yang besar-besar untuk diberikan kepada ternak Bude Rahmah. Kami pulang sekolah siang itu dengan sumringah.

Begitu kami sampai di depan rumah dia baru teringat kalau meninggalkan sepedanya di halaman sekolah. Alhasil dia harus kembali ke sana sendiri karena aku menolak menemaninya.

Hari ini, aku teringat akan peristiwa itu, lagi. Bedanya di depan tumpukan daun lamtoro di warung Mbak Marni aku mendadak terisak, menahan rindu untuknya.

Benar-lah kata Daniel Bedingfield dalam lagu tadi.

Kalau benar dia ditakdirkan hadir dalam kehidupanku lagi, kenapa rasanya kok berat. Karena untuk lari sekarang sudah terlambat.

Bolehkah aku sedikit saja egois, Tuhan?

Setelah kembali dari rumah Bu kades untuk memberikan pesanan lamtoro ya aku tergesa-gesa mencegat angkutan. Langkah kakiku kuarahkan ke pesantren Ning Aliya, namun saat aku baru masuk gerbangnya kulihat di sebelah ujung kanan dekat masjid lelaki yang memunggungiku itu menggendong seorang wanita di dekapannya. Wanita itu terlihat tersipu sambil mengeratkan pegangan. Sementara aku menangis terisak melihatnya.

Kuturunkan egoku untuk mendatangi kekasihku, aku berbalik pulang sambil menahan lara ati.

Satu bait puisinya yang diucapkan tadi pagi sewaktu menelepon sekarang terasa pahit adanya.

“Humaira.

“Deretan mawar berbaris rapi
“Kumbang dermawan mencium kuncupnya
“Telaga biru di ujung gunung
“Tak sabar untuk direngkuhnya pula.

“Humaira gadis berpipi merah
“Jika Abang pulang
“Bolehlah Abang merengkuhnya.

Aku tersipu membayangkannya tadi pagi. Tapi, sekarang hatiku panas, dada bergemuruh bagai menabuh genderang perang. Aku tak tahu sampai kapan harus bertahan.

Belum seminggu dan Ning Aliya sudah lupa janjinya padaku, janji yang diucapkannya saat melamarku untuk Mas Akbar.

Ah, beginikah rasa sakitnya kalau cemburu?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here