Wanita Kedua #02

0
172
views

Bau aroma obat-obatan tercium saat kulangkahkan kakiku di lingkungan salah satu rumah sakit bergengsi di kotaku. Benar kata Ibu, semewah apapun sebuah rumah sakit tetap bau obatlah yang tercium.

Buah-buahan dalam keranjang kubawa di tangan kananku sementara tangan kiriku menekan tombol panggilan ke luar untuk menghubungi Mas Akbar. Semalam mas Akbar memintaku tetap di rumah sementara dia pulang ke rumah orangtuanya untuk melihat keadaan Ning Aliya. Baru tadi pagi pesan kocaknya masuk ke watsapku.

“Purnama tersenyum malu
Daun beluntas berulat hijau
Harusnya semalam kita buat kesebelasan
Apa daya cedera tak bisa dinyana-nyana”

Pesan berikutnya mengabarkan bahwa Ning Aliya dirawat di kamar 201, ketika aku menyampaikan niat untuk menjenguk dia mengirimkan emoticon orang tersenyum dan gambar hati sebagai jawaban. Aku artikan itu Iya.

“Namaku adalah Akbar al-Ikram.” Dia membukan percakapan di depan kelas saat pertama kali dia pindah ke sekolahku.

“Nama ini tersemat sebagai tanda kesukaan abahku terhadap tokoh Akbar The Great, sultan Moghul yang terkenal dengan sembilan permata tersohornya.”

“Selepas meninggalnya ayah sultan Akbar dia langsung menjalankan taktik kepemimpinannya, termasuk menikahi putri dari kerajaan Hindu yang bernama Jodha Bai.” Aku memperhatikan wajahnya saat dia bercerita di depan. Semilir angin yang menerobos jendela kelas mengenai depan wajahnya dan membuat rambut pendeknya bergerak indah. Seperti adegan di banyak film akupun terpesona dengannya saat itu.

” Selain itu Sultan Akbar juga merubah sentralitas pemerintahan tidak hanya di Delhi tapi juga di Agra. Adapun kesembilan permatanya adalah orang-orang pilihan yang ahli di bidangnya masing-masing.”

” Salah satunya Abul Fadzl, dialah yang menuliskan kisah kebesaran raja Akbar dalam buku Akbar Nama, yang berkisah tentang kemakmuran India saat dibawah kekuasaan Sultan Akbar.” Sementara dia bercerita Raja Akbar di deapn kelas entah kenapa kami saling bersitatap dan saling mengagumi pada pandangan pertama.

Aku berada di bangku paling depan sementara dia berdiri di depanku. Mungkin saat itulah waktu yang paling manis bagi kami, sejauh yang bisa kuingat.

Kutepiskan bayanganku akan masa lalu saat langkah kaki berhenti di depan kamar 201. Mas Akbar tak jua mengangkat teleponnya jadi aku nekat naik sendiri. Ternyata inilah awal petaka selanjutnya. Budenya Ning Aliya yang membukakan pintu dan serta Merta dia memakiku di depan kamar.

“Oh, kamu.” Wajahnya menatapku tak suka. Siapa aku yang bisa membuatnya suka, aku hanya wanita kedua.

“Iya, Bu. Saya mau menjenguk Ning Aliya.”

“Cih.”

“Kenaap pakai jenguk. Mau tahu Aliya masih sehat atau sudah tidak mampu begitu?” tanyanya kejam menusuk hatiku.baru sehari aku menikah dengan Mas Akbar ternyata tentangan keluarga Ning Aliya sangat terbuka.

“Tidak seperti itu, maaf boleh saya masuk.”

“Tidak.”

“Kau hanya akan membuat Aliya semakin jatuh. Pergi.” Dia berkacak pinggang kepadaku, jangan lupa matanya pun ikut melotot ke arahku. Aku tetap menunduk akhirnya karena sosok yang berdiri di belakang bude Ning Aliya adalah Bu Nyai Salamah, guru mengaji saya sewaktu mondok di pesantren.

“Mbakyu Hani, biarkan dia masuk.” Aku melangkah masuk ke dalam setelah bude Ning Aliya merengut memberiku jalan dengan tak rela. Kucium tangan Bu Nyai Salamah dengan merendah. Pegangan tanganku dingin, begitupun Bu nyai. Kami berdua memiliki pikiran sendiri-sendiri. Mungkin saat itu dalam pikiran beliau adalah ‘oh ini yang membuat Aliya begini’ tapi kedatangan Bu Nyai Salamah dan pAk Kyai kemarin ke pernikahan kami kukira adalah sebuah restu.

“Tadi dia minum obat, sekarang sedang tidur.”

“Dik Humaira, sebaiknya nanti menjenguk Aliya saat di rumah saja ya.”

“Kau lihat, di sini ada Budenya yang galak,” kata Bu Nyai sambil berbisik.

“Sedangkan ini rumah sakit. Gak enak akali ad ribut-ribut.” Aku mengangguk dan memahami kata-kata bijak Bu Nyai. Setelah melihat lebih dekat wajah Ning Aliya yang tertidur akupun sedikit lega dan memutuskan untuk kembali pulang.

“Lalu, Mas Akbar dimana, Bu Nyai?” tanyaku dengan nada takut menyinggung. Kulihat Bude Ning Aliya melengos dan bibienya dimonyongkan.

“Pulang.”

“Ke rumahmu.” Kalimat terakhir Bu Nyai membuat hatiku terlonjak bahagia. Jujur.

“Bagaimanapun ini tak adil bagimu jika dia di sini, sementara kalian masih pengantin baru.” Sekali lagi Bu nyai Salamah meneduhkan hatiku.

“Pulanglah. Dia akan membutuhkanmu.” Kucium tangannya yang halus, kali ini hawa tubuhnya sudah menghangat begitu juga diriku. Setelah kututp pintu kamar itu segera langkah kakiku kupercepat agar segera sampai di rumah.

Hingga ….

Kedua orang tua Gus Akbar memanggil namaku di depan lobi rumah sakit. Mereka ingin berbicara berdua denganku. Harusnya aku bahagia karena berjumpa mertua, namun kenyataannya perbincangan mereka membuatku lebih sakit lagi. Ternyata pernikahan ini hanya kami berdua yang bahagia.

Lalu, kenapa Ning Aliya dulu yang melamarku sendiri?

Sibuk dengan pikiranku sendiri, akhirnya aku mengacuhkan panggilan Mas Akbar yang berdering di ponselku. Seratus puisinya saja baru dua yang diberikan kepadaku, haruskah aku menyerah? atau menunggu hingga puisi yang keseratus?

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here