Wanita Kedua #01

0
1249
views

Lembayung senja meniupkan ujung kerudungku di dekat pusara Bapak. Tangis tertahan hanya menyisakan tanda merah di dalam mata. Hari itu aku pamit, esok hari seorang lelaki yang lama kucintai meminangku. Bahagia, tentu saja. Hanya saja mulai besok aku akan menjadi wanita kedua dalam rumah tangganya. Bukan permaisurinya.

***

Suara tabuhan rebana menyambut lelaki pujaan hari ini, beberapa anggota keluarga sudah bersiap menyambutnya dengan senyum bahagia, meskipun tak diingkari bahwa ada kesedihan disebalik wajah mereka.

Raut wajah mereka menyiratkan kekhawatiran.

“Saya nikahkan dan kawinkan ananda dengan seorang wanita Humaira Syam binti Syamsuri dengan mahar seratus puisi cinta dan seperangkat alat sholat.”

“Terhutang.” Suara pak Modin Sabri membahana di tengah ruangan kecil rumah bapak. Dua saksi duduk bersebelahan di dekat meja yang juga kecil dengan tutup taplak bersulam bunga. Tangan lelakiku erat memegang tangan Modin.

Aku terdiam di belakangnya menahan perasaan yang berkecamuk.

“Saya terima nikah dan kawinnya Humaira Syam binti Syamsuri dengan mahar di atas.”

Suaranya mantap. Nadanya menyalurkan rasa cintanya yang lama terpendam.

Aku menangis lega saat semua orang berteriak sah. Semua wajah bahagia kecuali satu wanita cantik dengan baju kurung berwarna biru muda. Kerudungnya tersemat Bros bermotif kembang. Senyum terukir di wajahnya yang cantik tapi sorot matanya memancarkan kesedihan.

Dia istri pertama lelakiku. Ning Aliya.

Semua mata memandang kami saat kukecup tangannya dan dia mengecup mesra dahiku. Adegan yang dulu kuimpikan setiap tidurku sekarang nyata adanya. Aku bahagia, tapi Ning Aliya mengalihkan pandangannya, ujung lengannya terlihat mengusap air mata.

Aku menatap wajah lelakiku seolah berkata kenapa dia begitu di depan istrinya, tapi dia semakin erat memegang tanganku. Wajahnya tersenyum bahagia. Kami bersalaman dengan kedua orangtuanya, kedua orang tua Ning Aliya dan akhirnya membawaku ke hadapan Ning Aliya, akupun mencium tangannya kemudian kami saling berpelukan.

“Mulai sekarang kalianlah, wanitaku,” ucapnya lirih hanya kami yang mendengar. Hatiku berdebar merasakan aura ketidaksetujuan, tapi Mas Akbar pernah mengatakan bahwa Ning Aliya sudah setuju untuk memberi restu. Meski hati wanitaku tahu bahwa hari ini kulihat dengan jelas sinar kekalahan di matanya dan itu membuatnya tidak suka.

Siapa sih wanita yang mau disandingkan dengan wanita lain dalam rumah tangganya? Tidak ada. Ning Aliya maupun aku akan berusaha mendapatkan perhatian Mas Akbar. Lihat saja, tapi ketika aku menerima lamaran Mas Akbar janji hati ini tak ingin menjadi wanita kedua yang merugikan wanita pertama. Tidak semua wanita pertama akan menderita, tunggu saja.

***

Semua tamu sudah meninggalkan rumah saat malam mulai menjelang, sebagai seorang wanita yang tak lagi memiliki orang tua Bude Hamdah bertugas menjadi Ibuku selama ini. Beliau kakak almarhum bapak. Malam itu menjadi malam terakhir bude Hamdah mengurusku, dia memberikan kunci rumahku dan segala isinya kepadaku kembali.

“Nduk, tunai sudah tugas Bude.”

“Hari ini kau telah memiliki imam untuk kehidupanmu.”

“Meskipun tak seperti yang kuharap,” suaranya sendu terputus isakan.

“Belajarlah mengalah. Tak semua orang menganggap mulia istri kedua.”

“Kau harus bisa menata hati,” lanjutnya sambil menyeka air mata.

“Jika kau tak kuat. Ingat ada Bude untukmu pulang.” Kami berpelukan malam itu, semua wejangan dari Bude kusimpan dalam-dalam. Belajar mengalah.

***

Dalam kamar berukuran tak lebih dari lima kali lima meter itu tak banyak perkakas yang ada di dalamnya. Kasur baru yang empuk dengan seprai juga baru sememrbak menyebarkan keharuman. Sementara aku menunggu Mas Akbar keluar kamar mandi, wajahku tersipu malu mengingat maharnya yang pertama.

Seratus puisi yang akan dibayarnya secara kredit alias mencicil. Dalam Islam mahar tunai dan kredit diperbolehkan selama jelas akadnya dan dibicarakan terlebih dulu.

Puisi pertamanya dibacakan di depan khalayak tadi pagi seusai acara akad nikah.

‘Mentari Pagi di ujung pulau
‘Menyapa lelaki dengan segenap rasa
‘gemerlap cinta dalam sanubari
‘Menemukan pelabuhan rasa yang tertahan
‘Senyum murni tertawa riang
‘Menyanbut pelukan dua insan
‘Dalam rengkuhan takdir pernikahan’

Senyuman bahagianya tak henti tersungging di wajahnya. Lelakiku yang tampan bersyair dengan riang. Sementara kuperhatikan wajah Ning Aliya berubah menjadi masam.

‘Ilalang pantai melambai-lambai
‘Redup pelita menyambut malam
‘Wahai kekasih pujaan hamba
‘Marilah kita mencercap rasa’

Tiba-tiba Mas Akbar masuk ke dalam kamar tanpa permisi. Mengagetkan.

“Mas, kenapa masuk tak permisi,” kataku sambil memukul pelan lengannya.

“Eh, kan kita sudah jadi suami istri.”

“Masak perlu izin?” tanyanya genit. Aku lupa.

“Iya, lupa.” Kekehku sambil bergerak menjauh darinya. Merasa sungkan.

Dia semakin mendekat, membuatku tersudut di pinggir kasur dekat tembok.

“Loh, kok tambah menjauh.”

“Kan, waktunya ngumpulin pahala.”

“Anu, Mas. Malu.” Aku menutup mukaku dengan kedua telapak tangan. Mas Akbar tidak membukanya malah mencium mesra kedua tanganku. Sedetik kemudian dia sudah merengkuhku. Hatiku berdebar semakin kencang. Bahkan seolah debaran itu terdengar dari luar saking kerasnya. Bau harum rambut Mas Akbar begitu harum, aroma sampo ekstrak lemon membuatku ingin memilikinya selalu hanya untukku saja, dan aku mendadak teringat Ning Aliya.

“Loh dek, kok Aku di dorong?” tanyanya kaget saat tiba-tiba kudorong tubuhnya menjauh.

“Eh, anu, Mas. Maaf tak sengaja.”

“Kenapa?” Dia kembali merengkuhku, memegang kedua pipiku dan bertanya tepat ke dalam mataku.

“Ada apa?” Aku tak bisa berpaling untuk membohonginya.

“Aku teringat Ning Aliya.”

Wajah teduh Mas Akbar yang awalnya penuh senyum mendadak muram.

“Ini malammu, malam kita.”

“Jangan kau ingat Aliya.”

“Dia sudah memberi izin kepadaku, jadi ….” Mas Akbar tak meneruskan kata-katanya. Dia mendekat langsung kepadaku dan mengecup pelan bibirku, hingga lama-lama gerakannya semakin tak tertahan, begitu pula aku. Saat kami hendak melanjutkan pada bagian yang lebih intim dering bunyi ponselnya menyala dengan nyaring. Tak berhenti.

Mas Akbar terpaksa menjauh dariku untuk menggapai ponselnya. Suara kagetnya membelah malam.

“Dek, kita ke rumah sakit. Aliya tiba-tiba tak sadarkan diri.”

Malam itu nasehat Bude Rahmah kulakukan untuk yang pertama kali. Aku harus belajar mengalah. Meninggalkan kamar pengantin dan bersama-sama Mas Akbar menuju rumah sakit.

Ternyata malam itu dan malam-malam berikutnya menjadi ujian bagiku. Karena babak pertama drama pernikahanku di mulai. NIng Aliya ternyata pingsan bukan karena sebab alami, dokter menemukan dosis obat penghilang sakit kepala yang belrbihan dalam darahnya.

Ning Aliya kemungkinan berusaha bunuh diri.

Semua mata yang hadir di sana memandangku, mereka seolah menuduhku sebagai biang keladi. Ucapan bude Rahmah kali ini benar lagi.

Baca selanjuntya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here