Villa Berhantu #04

0
74
views

Aku mencoba mendekati Ningsih, namun Abi menahanku, dan menggelengkan kepalanya. Dia seolah memberi isyarat agar aku tak ke sana.
Abi menarik tanganku untuk menjauhi dapur, tempat Ningsih berdiri.
Perlahan dan dengan sangat hati-hati, kami meninggalkan dapur. Saat aku menoleh ke belakang, Ningsih sudah tidak ada di sana.
Aku terkejut, ini sangat-sangat aneh.

Kami semua berkumpul di taman belakang, suasananya tidak seperti biasa. Mencekam, keheningan pun terjadi, kami membungkam, tanpa suara sedikit pun.
Tiba-tiba, tercium bau amis memenuhi rongga hidung.
“Uh … bau apa ini?” ujarku sambil menutup hidung.
“Iya, bau sekali,” ucap Cindy, sepertinya dia ingin muntah dengan bau ini.
“Mari, kita cari asal bau amis ini,” ajak Abi.
Lalu Abi melangkahkan kakinya untuk mencari asal bau tak sedap ini.
Saat mendekati meja makan, bau amis itu semakin kuat. Aku mual dengan bau itu, isi perutku seakan ingin keluar.

Betapa terkejutnya kami saat melihat apa yang ada di atas meja makan.
Belatung, cacing, dan ulat-ulat lainnya, terdapat juga cairan merah di beberapa gelas di sana, itu kemungkinan adalah darah.
“Apa, itu?” tanyaku terkejut.
“Gue, mau muntah ngeliatnya,” ujar Cindy sambil menutup mulut dan hidungnya.

“Silahkan, makan Neng, Mas.” Tiba-tiba Mang Tirta muncul di belakang kami.
“Apa? kamu menyuruh kami makan ini semua!” pekik Roy
“Apa, semua ini Mang Tirta?” sergahku.
“Kenapa, Neng? bukannya selama ini kalian menikmatinya?” jawab Mang Tirta.
“Menikmatinya? berarti selama ini ….” Rini menggantungkan ucapannya.
“Iya, kalian sangat menyukainya. Kenapa sekarang kalian terkejut?” tanya Mang Tirta
“Wah, ada yang gak beres nih?” ujar Roy.
“Mending, kita pergi dari sini,” ujarku
“Iya, gue setuju,” ucap Cindy.
Lalu kami semua kembali ke kamar masing-masing untuk mengemasi barang bawaan kami.

“Percuma, kalian tidak akan bisa keluar dari sini, kalian juga tidak akan selamat dari kematian!” Ucapan Mang Tirta, serta merta membuat kami mematung.

“Apa, maumu?” tanyaku.
“Ya, apa salah kami?” tanya Cindy.
Belum lagi Mang Tirta menjawab pertanyaan kami, tiba-tiba Ningsih muncul dengan kondisi wajah bersimbah darah. Kami sangat terkejut dengan rupa Ningsih, yang awalnya cantik berubah menjadi menyeramkan. Belum lagi ketakutan kami hilang, nenek Ningsih juga muncul, dengan keadaan yang sama dengan Ningsih.

“Ada, apa ini?” tanyaku.
“Luna, kenapa villa elo mendadak angker begini?” tanya Rini.
“Gue, juga nggak tau.”
Ningsih dan neneknya, mendekati kami.
Kami juga mengatur strategi untuk menghindarinya.
Kini jarak antara kami, Ningsih dan neneknya tak begitu jauh, sampai akhirnya kami memutuskan untuk lari, mencari jalan keluar dari villa ini.

Tanganku berpegang erat pada tangan Abi, begitu juga dengan Roy, Cindy, dan Rini.
Kami berusaha mencari pintu keluar villa ini. Namun, sialnya, semua pintu terkunci. Jendela-jendela juga terkunci dari luar.
“Ayo, kita semua lari ke atas!” teriakku.

Setibanya di atas, kami segera menuju balkon, berharap dari sana kami bisa berteriak meminta pertolongan. Namun, semuanya sia-sia, mang Tirta sepertinya sudah mengunci semua pintu dan jendela di rumah ini.
Terdengar dari bawah suara tawa yang menggelegar.
“Kalian, tidak akan bisa lolos!” teriak Mang Tirta dari lantai bawah.
Tiba-tiba Ningsih dan neneknya sudah berada di hadapan kami. Abi dan Roy berada di posisi depan, sementara aku, Cindy, dan Rini berada di belakang mereka. Kaki mereka tak menapak di lantai, mereka terus mendekati kami.
Hingga akhirnya, tak ada lagi ruang di belakang kami. Saat jarak antara kami dan Ningsih sudah begitu dekat, kami semua berpencar, lari kesetiap penjuru lantai atas ini. Aku tetap bersama Abi, sementara Cindy dan Rini bersama Roy.
Abi terus berusaha mencoba membuka setiap pintu yang ada di sini, dan salah satu pintunya tidak terkunci. Aku dan Abi bersembunyi di dalamnya, mustahil bisa lari dari kejaran hantu, tapi setidaknya untuk saat ini kami aman.

“Lun, elo tenang aja. Kita semua pasti selamat,” bisik Abi sambil membelai rambutku.
“Iya, tapi, bagaimana dengan mereka?”
“Pasti, mereka bisa menyelamatkan dirinya juga,” ujar Abi.

Cukup lama kami di ruangan itu, tiba-tiba mataku tertuju pada sebuah gundukan besar di atas ranjang. Seperti seseorang yang tengah berselubung di dalam selimut.

“Bi, itu apaan?” tanyaku sambil menunjuk arah ranjang.
“Enggak tau,” ujar Abi.
Perlahan kami mendekati gundukan itu, dan menyingkap kain yang menyelimutinya.
Kami terperanjat, saat melihat dua jasad terbujur kaku dan pucat.
Nafasku tersengal-sengal, aku memegang erat tangan Abi.

Kedua jasad itu adalah Ningsih dan neneknya.
“Berarti, mereka berdua memang sudah meninggal, lalu Mang Tirta?” tanyaku.
“Mungkin, Mang Tirta juga termasuk dari mereka berdua. Bisa jadi jasadnya juga berada di ruangan ini.” Abi mencari setiap sudut kamar ini.

Beberapa menit melakukan pencarian, tapi kami tidak ada menemukan apa-apa.
“Sepertinya, jasad Mang Tirta tidak ada di sini,” ujar Abi.
Aku tak merespon ucapan Abi, karena aku sangat takut, satu ruangan dengan dua jasad.

“Abi, di luar sepertinya sudah tenang. Apa mungkin, Mang Tirta sudah pergi?” tanyaku.
“Entahlah, Lun.”
Abi mendekatkan telinganya ke pintu.

“Iya, Lun. Tidak terdengar apapun di luar,” ujar Abi.
“Jadi, kita harus apa? tanyaku.
“Kita, tunggu sebentar lagi. Kalau keadaan sudah benar-benar tenang, baru kita keluar.”
Aku menganggukkan kepala pertanda setuju dengan ucapan Abi.

***

Cukup lama kami berada di ruangan ini, dan kami memutuskan untuk keluar dari sini.
Perlahan Abi membuka pintu, dengan sangat hati-hati kami melangkah keluar.
Sepi, senyap suasana di lantai atas.
“Kemana, yang lain, Bi?” tanyaku.
“Entah, mungkin mereka sudah di bawah atau sudah keluar dari villa ini. Semoga saja jika sudah selamat, mereka mencari pertolongan untuk kita.”

Kami menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati, suasana di bawah sama.seperti di atas, sepi, seperti tak pernah ada kejadian apapun.
Mang Tirta, Ningsih, dan neneknya juga tidak kelihatan.
Kami berlari menuju pintu utama villa ini.
Namun, masih dalam keadaan terkunci.

“Ha … ha … ha … kalian tidak akan selamat.” Terdengar suara tawa puas di salah satu kamar dan terdengar juga jerit tangis Cindy dan Rini.
Kami pun mencari keberadaan mereka, dan kami menemukannya.
Di kamar yang digunakan Abi dan Roy selama menginap di sini.
Pintunya sedikit terbuka, sehingga kami dapat melihat apa yang terjadi.

Mereka bertiga diikat oleh Mang Tirta, mereka juga mengalami penyiksaan yang dilakukan mang Tirta, tapi hanya Roy yang disiksa habis-habisan.

“Kau, laki-laki durjana. Kau menjamah setiap wanita yang kau anggap cantik.” Mang Tirta marah sambil melayangkan pukulan-pukulan ke arah Roy.

Aku menahan setiap hembusan nafasku, agar keberadaanku tak diketahui oleh Mang Tirta.

“Aku, membenci laki-laki sepertimu. Kau, lelaki perusak kehidupan para wanita, rasakan ini!” Cambukkan demi cambukkan dilayangkan kepada Roy.
Abi tidak tahan melihat semua ini dan ingin menolong Roy, tapi aku menahannya.
“Waktunya, belum tepat, Abi. Kita tunggu Mang Tirta lengah dulu, baru kita menolong mereka,” bisikku.

Akhirnya, kami terus menyaksikan setiap penyiksaan yang dilakukan Mang Tirta.
“Kau, di sini hanya sebagai pendatang, tapi kau berani menodai anakku!”
Aku terkejut dengan ucapan Mang Tirta.
‘Roy menodai anak Mang Tirta? Kapan?’ batinku.

Dengan satu hentakkan kuat, yang dilayangkan Mang Tirta tepat di kepala Roy, membuat Roy tak sadarkan diri.
Tak ada reaksi apapun setelah pukulan itu.
“Satu persatu, dari kalian akan mati!” pekik Mang Tirta.

Saat Mang Tirta akan mengayunkan kayu ke arah Cindy dan Rini, dengan sigap Abi memukul kepala mang Tirta dengan kursi yang berada tak jauh dari persembunyian kami tadi. Mang Tirta pingsan, Abi segera mencari tali dan mengikatnya.
Sementara aku melepaskan tali yang mengikat tangan Cindy dan Rini.

“Kalian berdua gak apa-apakan?” tanyaku sambil memeluk mereka.
“Iya, untung saja kalian datang tepat pada waktunya, bagaimana keadaan Roy?” tanya Rini.
Kami semua mendekati Roy, yang terkulai setelah mendapat hantaman yang begitu kuat oleh mang Tirta.
Abi melepaskan talinya dan memanggil nama Roy.
“Roy, sadar. Kita sudah selamat. Roy, bangunlah.” pinta Abi.
“A … bi, maafkan gue. I … ni salah gue,” ujar Roy terbata-bata.
“Sudah, jangan dibahas lagi, yang terpenting kita harus bisa keluar dari sini,” ujar Abi.
“Ti … dak, kalian keluar saja dari sini, tinggalkan sa … ja gue di sini.”
“Enggak, Roy. Kita akan keluar sama-sama dari sini,” ujarku.
“Cepat, sudah tak ada waktu la … gi. Pergilah lewat pintu yang ada di dapur. Sekarang!”
“Abi, elo bisa angkat tubuh Roy, kan? tanyaku.
“Ya, bisa.”
“Su … dah, jangan pedulikan gue. Mereka akan datang. Tinggalkan gue!” perintah Roy sambil melepaskan tangan Abi yang memegang tubuhnya.
Tak lama kemudian hantu Ningsih dan neneknya muncul, kami semua berlari ke arah dapur, mencari pintu yang dimaksud Roy.
Saat itu juga, hantu gentayangan itu terus mengejar kami, namun kami berhasil keluar dari villa itu.

Saat di depan pagar, segerombolan warga sudah berkumpul.
“Syukurlah, kalian bisa selamat.” ujar salah seorang warga.
“Tapi, di dalam masih ada teman kami, dia terluka parah,” ujar Abi.
“Sudahlah, itu sudah takdir dia.” ujar warga itu lagi.
“Maksud, Bapak apa?” tanyaku heran.
“Villa ini, adalah villa berhantu. Siapapun yang menginap di sini, akan mendapatkan gangguan-gangguan dari penghuninya.”

“Kenapa, mereka mengganggu setiap penghuni villa? Ini villa milik Nenek saya, dan tidak pernah ada kejadian seperti ini sebelumnya,” ujarku.

“Bukan, ini bukan milik Ibu Lestari Indah. Milik Nenek kamu masih sekitar 100 meter lagi dari sini. Villa ini selalu membuat pengunjungnya mengira sudah tiba di tujuannya. Dulunya, villa ini sama terkenalnya dengan milik Nenekmu. Namun, sejak kejadian waktu itu, villa ini jadi sepi pengunjung,” tuturnya.

“Kejadian, apa?” tanyaku.
“Kejadian memilukan dan sangat tragis. Waktu itu, ada segerombolan pemuda-pemudi yang menghabiskan liburannya, di villa ini. Mereka terlihat bukan orang baik-baik, mereka selalu membuat pesta minuman keras di sini bersama pasangannya masing-masing. Hingga pada malam itu, saat anak Mang Tirta tengah menyiapkan makan malam untuk mereka. Keberuntungan tidak berpihak kepada Ningsih, ia digilir oleh pemuda-pemuda yang telah terpengaruh minuman keras, kejadian itu diketahui oleh Neneknya. Karena mereka takut kalau perbuatannya diketahui oleh warga, Ibu Mang Tirta dipukul secara membabi buta, hingga meninggal dunia. Ningsih pun tak luput dari siksaan mereka, dan Ningsih menyusul kematian Neneknya. Saat Mang Tirta mengetahui anaknya dan Ibunya mati di tangan pemuda itu, ia pun membantai pemuda-pemudi itu. Namun, salah satu dari mereka berhasil lolos dan segera mencari pertolongan. Warga di sini tak ada yang berani menolong, sebab mereka semua takut, menjadi korban kekejaman Mang Tirta,” ujar warga itu.
“Semua jasad pemuda-pemudi itu dikubur di belakang villa ini,” ujar warga lainnya.

“Lalu, jasad yang di kamar itu?” tanyaku.
“Ya, jasad Ningsih dan Neneknya, sengaja tak ia kubur. Karena dia mengira Ibu dan anaknya masih hidup. Ia selalu memberikan cairan pengawet, supaya jasad itu tetap utuh dan tak mengeluarkan bau busuk.”

“Lalu, apa hubungannya dengan teman kami, Roy?” tanya Cindy.
“Gue, tau kenapa Roy yang menjadi korban utama Mang Tirta,” ujarku.
Aku pun menceritakan tentang kejadian malam itu, ketika gue, Cindy, dan Rini bertemu Roy yang tiba-tiba muncul dari belakang.
“Berarti, Roy bersetubuh dengan hantunya Ningsih?” tanya Rini heran.
“Sepertinya, begitu. Mang Tirta memang mengintai, siapa saja yang bersikap genit ketika menginap di villa ini.” Aku memandang ke arah villa yang tak lagi indah seperti pertama kami tiba di sini.

“Bapak-bapak, bagaimana kalau kita mengubur kedua jasad itu dengan layak, agar mereka tak bergentayangan dan supaya Mang Tirta juga bisa merelakan kepergian anak dan Ibunya,” ucap Abi.

“Iya, betul. Mari kita semayamkan kedua jasad itu dengan layak, sebelum Mang Tirta sadar dari pingsannya.” Terlihat seluruh warga yang ada di sini menyetujuinya.

***

Pemakaman jasad Ningsih dan neneknya sudah dilakukan, Mang Tirta yang awalnya pingsan, setelah itu siuman, meronta dan meminta untuk mengembalikan kedua orang tersayangnya itu.
Namun, setelah diberikan pencerahan oleh salah seorang warga, Mang Tirta akhirnya bisa tenang, dan menerima kalau Ningsih dan Ibunya sudah tiada.

***

Semua sudah selesai, Roy juga sudah dikubur secara layak.
Gawaiku berdering, nenek mengirimkan pesan untukku.

“Luna, katanya kamu mau menginap di villa Nenek? tapi, kata penjaga villa, kamu belum sampai di sana. Kamu, baik-baik sajakan, Sayang?”

Aku membalas pesan dari nenek.
“Luna, baik-baik saja, Nek. Banyak yang mau Luna ceritakan. Tunggu Luna di rumah ya, Nek.”

==TAMAT==

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here