Villa Berhantu #03

0
66
views

Kami semua saling berpandangan, sama-sama bingung dengan apa yang kami alami. Mungkinkah, Ningsih punya kembaran?
Aku rasa tidak mungkin, sebab dengan nama yang sama.
Akhirnya kusimpan rasa penasaranku, hingga nanti aku menanyakannya kepada mang Tirta.

Malam itu, aku memilih untuk beristirahat di kamar. Mungkin karena kelelahan berjalan di kebun teh. Sementara itu, Cindy dan Rini berada di taman belakang, menikmati dinginnya air di kolam renang.
Aku, melihat foto-fotoku bersama Abi.
Senyum-senyum sendiri, aku menyadari bahwa aku tengah jatuh cinta. Seandainya Abi menyatakan cintanya kepadaku, ah … betapa bahagiannya aku.

“Ayo … lagi ngebayangin apa itu?” ejek Cindy. Aku tak menyadari kedatangannya.
Secepat kilat kusembunyikan gawai, agar tak terlihat oleh mereka, kalau aku tengah melihat foto Abi.
“Ah, gak ngebayangin apa-apa,” ujarku.
“Dari tadi, kamu senyam-senyum aja, masa iya, gak ngebayangin apa-apa?” ucap Cindy lagi.
Kulirik Rini yang sepertinya terbakar api cemburu.
“Udah ah, Cin. Jangan ngawur deh,” tukasku.
“Ha … ha … ha … jangan grogi dong, kalau memang gak ngebayangin sesuatu, santai.” Cindy makin mengejekku.
“Eh, temenin gue ke dapur dong, gue haus nih,” ujar Rini.
“Ya udah, yuk gue temenin.” Aku menawarkan diri untuk menemaninya ke dapur.
“Cin, ikutan yuk.” Rini juga mengajak Cindy. Kurasa dia marah padaku, karena kedekatanku dengan Abi.
“Udah, elo berdua aja.” Cindy menolak ajakkan Rini.
“Ayok ….” Rini menarik tangan Cindy.
Lalu kami bertiga keluar kamar dan berjalan menuju dapur.

Saat berada di dapur, tiba-tiba Roy muncul dari pintu belakang. Dia terkejut dengan keberadaan kami.
“Roy, elo dari mana?” tanyaku
“A … a … anu, aku … a … aku dari belakang,” jawabnya gelagapan.
“Kamu, kenapa gugup begitu? Kamu nggak ngeliat hantu, kan?” tanya Cindy.
“Enggak, kok. Ya udah ya, aku mau kembali ke kamar,” ujar Roy yang meninggalkan kami di dapur.

“Kenapa, tuh si kucing garong?” tanyaku heran.
“Nggak tahu tuh, gak biasa-biasanya dia gugup seperti itu,” ucap Rini.
“Kira-kira Abi ….” Kuhentikan ucapanku, karena Rini spontan memandangku ketika kusebut nama Abi.
“Ya udah, besok kita tanya sama Abi aja,” ujar Cindy.
Aku dan Rini mengangguk.

***

Selesai sarapan, kami tak menemukan mang Tirta.
Saat sarapan juga, mang Tirta tidak ada di sana. Biasanya, dia yang selalu menyambut kami di ruang makan.
“Mang … Mang Tirta ….” Aku terus memanggil.
Lalu, ibu mang Tirta datang menghampiriku.

“Tirtanya, lagi ke kota Neng. Keperluan di rumah ini sudah mulai habis, jadi dia pergi berbelanja,” ujar wanita tua itu.
“Oh gitu, pantes saja gak ada kelihatan,” jawabku.
“Neng, butuh apa?” tanya ibu mang Tirta
“Gak kok, saya gak butuh apa-apa, cuma heran saja, mang Tirta gak kelihatan, biasanya dia yang menyambut kami di meja makan. Oh ya, saya sama teman-teman mau keluar dulu ya, Nek.”
“Baik, Neng. Silahkan,” ucapnya.

***

Tak mau membuat Rini makin terbakar api cemburu, akhirnya kuputuskan untuk menjauhi Abi, kutak mau kalau rasa cinta ini merusak persahabatan kami.
Namun, setiap kali aku menjauhinya, Abi malah terus mendekatiku. Aku tak mampu menolak, karena aku takut menyakiti hatinya.
Maka, dengan tidak berkomunikasi dengannya bisa menetralkan suasana seperti semula antara aku dan Rini.

“Hai … pasangan romantis, lagi berantem, ya?” ejek Cindy
Membuatku semakin tak enak hati terhadap Abi dan Rini.
“Lun, elo kenapa sih? Kayanya elo ngejauhin gue, emang gue ada salah, ya?” bisik Abi.
“Ada, hati yang gue jaga, Bi.” bisikku lirih.
Abi mengerutkan keningnya, pertanda kebingungan di otaknya.
Kulirik mataku ke arah Rini yang tengah melamun, Abi juga mengikuti arah lirikkanku
Kurasa, sekarang dia sudah mengerti dengan maksudku.

Suasana hening terjadi antara aku, Abi, dan Rini, namun, tidak dengan Cindy dan Roy, mereka menceracau terus.

“Lihat … itu Ningsih,” pekik Roy.
Kami semua melihat ke arah yang ditunjuk Roy, terlihat Ningsih tengah berdiri di atas bukit. Kami semua berlari menuju tempat dimana ia berdiri. Saat hampir mendekatinya, tiba-tiba Ningsih melompat dari atas bukit, sontak kami semua terkejut dan berteriak. Abi dan Roy mendekati puncak bukit itu, melihat ke arah bawah. Ningsih terkapar di sana, lalu kami semua berlari ke arah bawah.

Sesampainya di bawah, tubuh Ningsih tak ditemukan lagi. Kami semua merasa heran dengan kejadian ini, dari atas tadi terlihat tubuh Ningsih yang terkapar, tapi sekarang sudah tidak ada. Dari kejauhan Rini melihat sosok seorang wanita yang wajahnya menyerupai Ningsih.

“Gaes, itu Ningsih bukan?” tanya Rini.
Kami semua memandang ke arah yang ditunjuk Rini.
“Iya, itu Ningsih,” ujarku.
“Itu, juga Ningsih,” ujar Roy di arah lainnya.
Kami semua dibuat takut dengan kejadian ini, dan berlari menuju villa.

Sesampainya di villa kami kembali dikejutkan dengan kehadiran Ningsih yang tengah memasak.
Tak lama kemudian mang Tirta muncul.
“Kenapa, Neng?” tanya mang Tirta.
“Mang, kapan sampainya?” tanyaku balik.
“Baru sampai, Neng. Neng butuh sesuatu? tanyanya lagi.
“Ningsih, Mang,” ujarku.
Lalu mang Tirta menghadap ke arah Ningsih.
“Iya, Ningsih tengah memasak,” jawab mang Tirta.
“Tapi, tadi ….” Kuhentikan ucapanku.
“Kenapa, Neng?” tanya mang Tirta.
“Enggak ada apa-apa, mang,” ujar Abi.
Untuk sesaat suasana menjadi hening.

“Saya, kembali bekerja, Neng,” mang Tirta membuka suara setelah keheningan itu.
Aku tak menjawab ucapannya, mataku hanya terfokus pada Ningsih yang sibuk di dapur, ia tak bereaksi atas kehadiranku dan teman-temanku.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here