Villa Berhantu #02

0
67
views

Keesokan paginya, aku bangun terlebih dahulu. Teman-temanku masih tidur dengan nyenyaknya.
Kusingkap kain penutup jendela, agar sinar mentari masuk ke dalam kaman.

“Cindy, Rini, bangun.” Kumembangunkan kedua temanku.
“Ya,” jawab Cindy dengan suara seraknya.
Disusul juga dengan Rini yang langsung menepikan selimut yang tadi menyelubungi tubuhnya.

Aku meninggalkan mereka berdua, dan menuju kamar mandi yang ada di ruangan ini. Kuguyur tubuhku, dingin sekali yang kurasa. Namun, terasa sangat segar.

Mang Tirta ternyata sudah menyiapkan sarapan pagi untuk kami.
Wangi nasi goreng itu memenuhi ruang makan.
“Wah, Mang Tirta. Tahu aja kalau kita-kita lagi lapar,” ujar Roy.
“Iya, Mas. Sarapan paginya sudah siap. Anak perempuan saya tadi yang masak,” jawab mang Tirta.
Kulirik Roy, pasti telinganya berdiri maksimal, ketika mendengar kata perempuan. Benar saja, dia langsung memandang mang Tirta.

“Mana, anaknya Mang. Kok nggak pernah kelihatan. Namanya siapa Mang?” tanya Roy penuh semangat.
“Namanya, Ningsih. Dia sedikit pemalu, makanya dia jarang menampakkan wajahnya. Apalagi dengan orang-orang baru,” ujar mang Tirta
“Duh, kenalin dong Mang,” ucap Roy yang sedari tadi tidak henti-hentinya berkicau.
“Huuu ….” Aku melemparkan potongan timun yang ada di atas meja makan ke arah Roy.

“Apaan sih, Luna,” ujar Roy.
“Elo, kegatelan amat ya. Denger nama perempuan aja, genit lo bertambah berkali-kali lipat,” ucapku kesal.

Roy tampak membersihkan wajahnya yang terkena lemparanku tadi.
Sementara Abi, dia hanya tersenyum melihat kelakuan Roy. Abi terkenal dengan sifat dinginnya, tapi aku menyukainya.

“Gaes, setelah sarapan, kita berkeliling di sekitar villa ini yuk,” ajakku.
“Ide bagus tu,” tutur Rini.
“Ya udah, gue ngikut aja,” ujar Abi
Cindy dan Roy pun mengacungkan jempolnya, pertanda mereka setuju dengan ajakkanku.

***

Di luar villa, terhampar pemandangan yang menyejukkan mata. Ada padi di sawah, bahkan juga ada perkebunan teh.
Dulu tak seperti ini suasananya, sudah lama sekali aku tak mengunjungi tempat ini. Sebelumnya, daerah ini hanya semak belukar dan tidak seramai sekarang ini.
Aku terus berjalan menyusuri daerah di sekitar villa ini, yang pastinya Abi di sampingku. Ada rasa bangga yang kurasa, bisa jalan berdampingan dengan idolanya para wanita. Ya, walaupun hanya dalam status teman.

“Aduh!” Aku mengusap-usap kepalaku.
“Kenapa, Luna?” tanya Abi.
“Seperti, ada yang melempariku.”
Aku dan Abi melihat di sekeliling, tak ada siapapun. Cindy, Rini, dan juga Roy berada jauh dari kami, mereka sibuk dengan kameranya masing-masing, lalu siapa yang melempariku?

“Nggak ada siapa-siapa, Lun.”
“Iya, mungkin perasaanku saja,” ujarku. Aku yakin, itu bukan hanya perasaanku saja, aku merasakan benar ada suatu benda yang mengenai kepalaku.
“Yuk, kita lanjutin perjalanan, atau kita menyusul ke tempat Cindy, Rini, dan Roy saja?” ajak Abi.
“Ya sudah, kita ke tempat mereka saja,” jawabku.
Aku takut dilempari lagi, kuapit tangan lelaki idamanku ini. Abi tidak menolak, bahkan dia juga memegang kembali tanganku.

“Cie … romantisnya. Udah jadian ya?” ejek Roy.
“Apaan sih lo, Roy,” tukasku sambil melepaskan tangan Abi.
Aku memang malu ketika Roy mengejekku. Namun, pasti akan bahagia kalau seandainya kata jadian itu benar terjadi antara aku dan Abi.

“Eh, Lun. Elo nggak mau foto-foto gitu, buat kenang-kenangan kita liburan di sini,” ujar Cindy.
“Males, ah. Gue bisa kapan aja ke sini,” ujarku.
“Ayo dong, ini sebagai kenangan kalau kita semua pernah liburan bareng di sini,” ucap Roy.
“Mau, foto berdua?” tanya Abi
Seketika jantungku berhenti berdetak.
‘Abi ngajakkin foto bareng, oh my god’ batinku.
Aku hanya senyum, tersipu malu.

Abi mengambil dua petik foto kami berdua, lalu Rini menerobos ingin foto bersama.

“Udah, foto bareng-bareng yuk,” ujar Rini.
Rini bagaikan tembok besar yang memisahkan aku dan Abi, dia berada di tengah-tengah kami. Kurasa dia cemburu dengaan kedekatan aku dan Abi.

***

Sesampainya di rumah, waktu pun sudah menunjukkan pukul dua belas siang. Pantas saja, dari tadi perutku keroncongan. Ternyata memang sudah waktunya makan siang.

Lagi-lagi, di meja makan sudah siap sedia makanan yang akan disantap.
Berbagai lauk-pauk terhidang.

“Silahkan makan, Neng, Mas.” Mang Tirta mempersilahkan kami untuk makan siang.
“Baik, Mang. Oh iya, Mamang sudah makan?” tanyaku.
“Sudah, Neng. Tadi di belakang.”
“Anak dan Ibu Mamang gimana?” tanyaku balik.
“Mereka, juga sudah makan,” jawabnya.
“Oh, baiklah. Mamang bisa balik bekerja.”
“Baik, Neng. Permisi.”
“Ya, silahkan.”
“Ya udah gaes, yuk kita makan,” ajakku.

Siang itu, aku dan teman-teman yang lain bersantai di balkon atas villa, aku, Abi, Cindy, dan Rini mengobrol dan tertawa bersama. Sementara Roy, dia sibuk melihat hasil foto-foto di kebun teh tadi.

“Gaes, lihat ini.” Sambil Roy menunjukkan salah satu fotonya tadi.
“Apaan? Itukan elo,” ujarku.
“Iya, ini memang gue. Kalian lihat di belakangnya.”
Kami semua melihat foto Roy dan yang di belakangnya, ada seorang gadis cantik yang tengah memetik daun teh.
“Iya, ada wanita cantik,” ujar Abi.
“Roy … Roy, mau pamer? Udah berfoto sama cewek cantik,” celetuk Cindy.
“Bukan, gue gak mau pamer, tapi, tadi itu pas gue lagi foto, nggak ada siapa-siapa di sana. Kok di foto ini malah ada cewek cantik yang lagi metik daun teh.”

Kami berpandangan, lalu menertawakan Roy.
“Hahaha, kenapa lo jadi bingung gitu. Bukannya di sana memang ada warga yang tengah memetik daun teh, jadi wajar aja kalau salah satu foto kita, ada wajah mereka juga,” ujarku.
“Udahlah Roy. Tumben lo gak nanyain nama tu cewek atau di mana dia tinggal,” Abi menimpali ucapanku tadi.
“Ah, kalian resek,” ujar Roy dan kembali ke pojokkan balkon.
“Lain kali, kalau ketemu cewek itu lagi, ajak kenalan dong,” celetukku.

***

“Gaes, gue ke kebun teh dulu ya. Tapi, kalian jangan ikut. Gue mau mejeng dulu di sana. Kali aja cewek cantik itu ada di sana,” ucap Roy dengan gaya nyengir kudanya.
“Gue sama Abi juga mau ke kebun teh, Roy,” ucapku.
“Mau, ngapain?” tanya Rini.
“Cuma, jalan-jalan aja,” jawab Abi singkat.
“Tapi, elo berdua jangan gangguin gue, Ya?” ujar Roy.
“Idih, siapa juga yang mau gangguin elo,” ujarku ketus.

“Elo, Cin, Rin, mau ikut nggak?” tanya Abi.
“Enggak, ah. Kami berdua di rumah aja, udah capek soalnya,” jawab Cindy.

Lalu aku dan Abi berjalan menuju kebun teh, sementara Roy menuju penjuru lain kebun teh.
Saat di perjalanan, aku berpapasan dengan wanita cantik yang ada di fotonya Roy. Dia membungkukkan tubuhnya, lalu menyapa kami berdua.
“Sore, Mba, Mas,” sapanya.
“Sore juga, dik,” jawabku.
“Mau, jalan-jalan sore ya?” basa-basi wanita itu.
“Iya, dik. Kamu kerja di kebun teh ini ya?” tanyaku.
“Iya, Mba. Saya anak Mang Tirta. Penjaga villa milik Neneknya Mba.”
“Oh, jadi kamu yang masakkin makanan untuk kami?”
“Iya, Mba. Mohon maaf, jika rasanya tak seenak makanan di kota,” ujarnya.
“Enggak kok, makanannya enak,” pujiku.
“Oh, syukurlah kalau gitu. Saya kembali bekerja ya, Mba, Mas.” Ningsih kembali bekerja.
Aku dan Abi melanjutkan jalan-jalan sorenya.

***

Sesampainya di villa, di luar sudah hampir gelap, pertanda malam akan tiba.
Tercium aroma wangi dari arah meja makan. Sudah terhidang bermacam-macam masakkan di sana.
Cindy dan Rini yang duduk di sofa, baru menyadari kedatangan kami.
“Cie … pasangan baru udah pulang ternyata,” ejek Cindy.

‘cekleek’ terdengar pintu yang dibuka.
Ternyata, Roy juga baru tiba di villa, dengan wajah yang berseri-seri. Sudah kutebak, pasti tadi dia bertemu cewek-cewek cantik, makanya dia kelihatan senang sekali.

“Eh, Roy udah pulang juga. Makan yuk, udah lapar nih,” ujar Rini.
Lalu kami semua duduk di meja makan dan menyantap makanan yang di sediakan.
Aku yang berbunga-bunga tak begitu menikmati makanan yang kusantap, perutku terasa kenyang saat mengingat perjalananku tadi, berdua dengan Abi. Sesekali aku tersenyum sendiri, membuat Cindy semakin mengejekku.
“Makan dulu, mengkhayalnya nanti aja,” ejek Cindy.
Spontan aku malu dibuatnya dan menundukkan kepala.

Seusai makan, kami semua pindah tempat.
Kami duduk di taman belakang villa, terdapat kolam berenang besar di sana.
“Oh ya, siapa yang masak tadi?” tanyaku.
“Ningsih, anak Mang Tirta,” ujar Rini.

“Lho, bukannya tadi dia ada di kebun teh?” tanyaku.
“Gak berapa lama kalian pergi, dia datang ke sini dan langsung masak,” ujar Cindy.
“Tapi, aku dan Abi bertemu dengan dia di kebun teh, dia tengah bekerja di sana. Saat pulang kami juga masih melihat dia di sana,” ucapku heran.
“Eh, gue juga tadi ketemu cewek cantik. Ningsih namanya, anak Mang Tirta. Ini gue berfoto dengan dia juga,” ujar Roy sambil menunjukkan hasil fotonya bersama Ningsih.

Namun, yang terlihat di sana hanyalah Roy, tak ada Ningsih atau siapapun.
Roy bersikeras, kalau tadi dia bertemu Ningsih dan berfoto bersama.
Aku juga bersikukuh, kalau tadi ketemu Ningsih di kebun teh, Cindy dan Rini juga meyakini dengan apa yang mereka lihat tadi di rumah, Ningsih tiba di villa dan masak makanan yang kami makan tadi.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here