Villa Berhantu #01

0
68
views

Pagi itu, aku dan teman-teman bersiap untuk pergi liburan. Dari hasil kesepakatan bersama, akhirnya kami memutuskan untuk mengunjungi villa milik nenekku. Tempatnya nyaman, suasana pedesaannya masih sangat asri.

“Luna, kira-kira di sekitar villa nenekmu ada cewek cantik, gak ya?” celetuk Roy.
“Apaan sih, belum apa-apa udah nanyain cewek aja,” tukasku, Roy memang terkenal mata keranjang, tukang gombal.
“Ya, kali aja ada. Kan lumayan, gue bisa kenalan sama cewek di sana,” ujarnya sambil nyegir kuda.
Tak kupedulikan lagi omongan Roy.

Saat di perjalanan, semua teman-temanku tertidur. Mungkin, karena jarak tempuhnya lumayan jauh, makanya mereka kelelahan. Hanya aku sendiri yang masih terjaga, dan memang tidak boleh tidur, karena akulah yang menyetir mobil.
Hampir satu harian kami menempuh jalan yang berliku, hingga akhirnya kami hampir tiba di villa, awalnya aku sempat lupa dengan alamatnya. Sudah lama sekali aku tidak ke villa itu, dan sudah banyak perubahan di sini.
Saat berjalan pelan, aku menemui seorang nenek-nenek yang tengah memikul kayu bakar di punggungnya.
Kuhentikan mobilku, dan bertanya arah menuju Villa Lestari Indah, Lestari Indah adalah nama nenekku, makanya disematkanlah namanya untuk hunian itu.

“Permisi, Nek. Saya mau tanya, Villa Lestari Indah ke arah mana ya?” tanyaku.

Lalu nenek itu menatapku, cukup lama. Aku berfikir dia tadi melamun, lalu kusapa lagi dia.
“Nek!”
“Oh, iya. Kamu lurus aja terus. Nanti ketemu simpang tiga, kamu belok kiri. Paling ujung jalan itu, Villa Lestari Indahnya,” jawab nenek itu, yang sebelumnya gelagapan saat kumenyapanya.
“Oh, baik Nek. Terima kasih, ya,” ujarku dan tak lupa ucapan terima kasih.
“Ya.”

Lalu, ku arahkan mobilku ke petunjuk yang dikatakan nenek tadi.
Saat berada di pertigaan, aku mulai mengingat tempat itu, dengan rasa yakin, aku meneruskan perjalanan menuju villa nenek.
Dari kejauhan sudah terlihat pagar tinggi dari villa tersebut.
“Hei, bangun semua. Kita sudah sampai,” ujarku sambil membangunkan keempat teman-temanku.

“Arrrgghh, udah sampai ya?” ujar Roy.
“Waah, villanya gede juga ya, Lun.” Cindy berdecak kagum, dengan ukuran villa yang seperti istana.

“Apa, kita harus turun nih, untuk buka pagarnya?” tanya Abi.
“Gak usah, ada penjaga villa kok di dalam.” Lalu aku menekan klakson beberapa kali, dan pagar itu dibukakan.

Saat memasuki pekarangan villa, lagi-lagi mereka berdecak kagum, bagaimana tidak, selama ini mereka menganggap villa-villa itu angker. Terpengaruh film-film horor yang mereka tonton, namun apa yang mereka lihat sekarang ini, berbeda sekali dengan apa yang mereka saksikan di televisi.

“Astaga, Luna. Ini villa atau istana? Indah banget, dan ini baru pekarangannya lho. Kebayang dong, gimana isi dalamnya.” Rini menganggumi villa ini.
“Udah deh, jangan lebai. Yuk masuk atau elo tidur di pekarangan aja?” ejekku.
“Tega amat sih, Lo,” ujar Rini kesal.
“Ya udah, masuk.” Ajakku.

Saat berada di dalam, mereka tak henti-hentinya memuji villa ini. Namun, aku mengabaikannya, karena bagiku itu berlebihan.
“Roy, Abi. Kamar kalian yang di pojokkan ya. Gue, Cindy, dan Rini di kamar yang di sebelah sini.” Sambil menunjukkan kamar yang akan mereka tempati.
“Ok,” ujar Abi dan Roy serempak.

***

Saat malam pun tiba, perut sudah keroncongan. Aku, Cindy, dan Rini menuju dapur untuk memasak bahan-bahan yang ada di dapur. Namun, saat melewati meja makan, terlihat sudah tersaji beberapa makanan. Aku sempat bingung, siapa yang masak?
Lalu, Mang Tirta muncul di hadapanku dan mempersilahkan kami untuk makan malam.

“Silahkan, makan malam Neng. Tadi Mamang udah nyuruh anak perempuan Mamang untuk masak. Karena pastinya Neng sama teman-temannya sudah lapar, seharian di jalan,” ujar mang Tirta.
“Oh, jadi yang masak semua ini, anak Mang Tirta, ya?”
“Iya, Neng. Mohon maaf jika rasanya kurang berkenan,” ujar mang Tirta dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
“Wah, pasti enak ini Mang,” jawabku.

Kami bertiga menuju meja makan, aku pun memanggil Roy dan Abi.

“Roy, Abi, yuk makan!” teriakku.
Tak lama kemudian mereka berdua keluar dari kamar.

“Wah, para ladies kayanya udah masak, nih!” celetuk Roy, dengan gaya genitnya.
“Bukan, kita-kita yang masak. Tapi, anak Mang Tirta,” ujar Cindy.

“Anaknya, cewek ya? Cantik nggak?”
“Idih, Roy-Roy. Kaya yang gak pernah ngeliat cewe aja deh, Lo,” jawab Rini ketus.
“Eh, kok lo yang sewot. Cemburu ya?” ujar Roy dengan percaya diri.
“Amit-amit, gue cemburu,” ucap Rini.
“Udah-udah, makan aja dulu. Udah laper nih,” ujarku melerai perseteruan mereka.

Seusai makan malam, kami semua naik ke lantai dua. Di balkon atas, kami di suguhkan pemandangan yang sangat indah, letak villa yang berada di atas bukit, mampu memperlihatkan kerlap-kerlip lampu di kota.
Angin sepoi-sepoi juga menemani waktu bersantai kami.

Roy terlihat berada di pojokkan balkon, ia seperti tengah memperhatikan sesuatu.
“Roy, elo lagi ngapain?” tanya Abi.
“Lagi menyaksikan keindahan,” ujarnya tanpa menoleh ke arah kami.
“Elo, kaya gak tahu si Roy aja Bi, ngeliat kambing dibedakkin juga, udah dibilang ngelihat keindahan,” ujarku dan dilanjut dengan cekikikan teman-teman yang lain.

Udara semakin sejuk, bahkan suhu dinginnya sudah bisa menusuk tulang.
Aku lirik penunjuk waktu yang melingkar manis di pergelangan tangan kiriku, sudah tengah malam, pantas saja.
“Gaeess, kita kembali ke kamar masing-masing. Udah tengah malam nih, istirahatkan badan dulu, besok kita lanjutkan liburan kita di sekitar villa ini,” ujarku dan berdiri meninggalkan balkon, lalu mereka menyusuli langkahku.

Saat hendak masuk ke kamar, aku seperti mendengar ada aktifitas di dapur.
“Cin, Rin, kalian berdua masuk kamar duluan aja. Gue mau ke dapur dulu,” ujarku.
“Ok,” jawab mereka serempak.

Hampir memasuki dapur, aku melihat seorang wanita tua, tubuhnya sedikit bungkuk tengah berdiri di wastafel.

“Hai, siapa di situ,” ujarku
Wanita itu perlahan berbalik arah, dan betapa terkejutnya aku, ketika melihat wajah nenek tersebut. Wajahnya, banyak bekas luka
Aku terperanjat, dan mang Tirta tiba-tiba muncul.

“Maaf, Neng. Ini Ibu saya, dia yang bantuin saya untuk beres-beres di villa ini.”
“Oh, maaf. Saya tidak tahu.” ujarku yang masih kaget.
“Neng, butuh sesuatu?” tanya Ibu mang Tirta.
“Gak, saya gak butuh apa-apa.”

Aku mencoba untuk mengatur nafasku agar kembali tenang.
“Saya, permisi ke kamar dulu.”
“Silahkan, Neng.” mang Tirta membungkukkan tubuhnya.
Kutinggalkan mereka berdua, dan langsung menuju kamar tidur.

Baca selanjutnya

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here