Untuk Revan – Ending

0
177
views

Badai Romantic

 Kamu memang mampu membuatku merasa istimewa menjadi seorang perempuan

_Vania Naquella Atmaja

Kamu memang mampu membuatku sadar. Bagaimana semestinya seorang lelaki memperlakukan seorang perempuan

_Revano Anggara

_________________________

“BANGUNN!!”

Revan yang sedang tidur sontak menutup kedua telinganya dengan bantal karena mendengar suara teriakan itu. Ck! Mengganggu mimpi indahnya saja!

Vania menarik napas dalam, lalu menghembuskan napasnya kasar. Mencoba mengatur emosi menghadapi Revan yang tidak kunjung bangun. Padahal semalam cowok ini bilang dia akan menjemputnya untuk berangkat bersama. Tapi nyatanya sekarang dia masih tidur. Meyebalkan. Apalagi Vania harus merias anak-anak yang akan melakukan drama panggung. Hari ini PENSI sudah dilaksanakan sekaligus bazar. Dipastikan acaranya akan sangat meriah. Akan ada artis tanah air yang akan tampil sebagai pembukaan. SMA Cakrawala kalau membuat acara memang tidak tanggung-tanggung.

Vania tadi menelepon Bunda Jasmine untuk menanyakan Revan sudah bangun atau belum. Ternyata masih belum. Kebiasaan Revan kalau gadang suka lupa waktu. Niatnya Vania ingin pergi sendiri, namun kata-kata Revan semalam membuatnya meneguk ludah kasar.

Kata Revan semalam. “Kalau kamu nggak berangkat bareng aku! Aku hukum kamu sampe sesak napas!” Ah sialan! Hukuman macam apa itu?

“BANGUN REVAN!” teriak Vania lagi sambil menarik selimut Revan.

Cowok itu berdecak sebal.”Apasih, Bun?! Revan masih ngantuk,” jawab Revan asal sambil terus merapatkan bantal pada telinganya. Dia kira itu Bundanya.

“BUNDA! BUNDA! INI AKU VANIA!”

Revan segera menurunkan bantal yang menutupi telinganya. Sialan! Dia bahkan sampai tidak mengenali suara pacarnya sendiri gara-gara tidak fokus akibat masih ngantuk. Revan menampilkan cengiranya saat melihat Vania yang menatapnya tajam dengan satu tangan yang bertolak pinggang.

“Mampus lo, Re! Ibu negara ngamuk!” batin Revan meringis sendiri.

“Sayang kamu lagi ngapain disini?” tanya Revan manis dengan suara serak khas orang bangun tidur. Bodoh! Masih harus Revan bertanya Vania disini karena apa?

“Oh. Kamu lupa? Ya udah aku berangkat sendiri.”

“E-eh jangan,” kata Revan sambil buru-buru bangun dan mencekal pergelangan tangan Vania.

“Ya udah cepat mandi!” titah Vania galak.

“Iya, iya,” jawab Revan pelan. Akan tetapi, bukannya bangkit berdiri, dia malah kembali berbaring.”Bentar aduh, lanjutin mimpi dulu. Kepotong tadi.”

“REVAN!”

Revan tertawa. Puas sekali membuat Vania kesal. Dia lantas bangkit berdiri, akan tetapi dia masih diam di hadapan Vania, tidak pergi ke kamar mandi untuk segera mandi.”Apa lagi? Cepat mandi!” kesal Vania.

Kenapa Vania harus selucu ini sih? Kan Revan jadi gemas. Revan paling suka jika melihat Vania mengikat sebagaian rambutnya menggunakan ikat rambut berbentuk pita yang ukuranya tidak terlalu besar. Sekarang gadis itu memakai pita berwarna hitam.

“Re, cepat dong. Aku mau rias anak-anak yang mau pentas. Nanti aku telat gimana?” kata Vania setengah merengek.

“Iya, iya,” jawab cowok itu namun masih tetap diam ditempatnya.

“Ada kecoa!”

“AAAA!!” Vania langsung memeluk Revan dengan histeris.

“Mana?! Mana kecoanya, Re?!” tanya Vania histeris. Revan hanya menahan tawanya sambil membalas pelukan Vania.

“Nggak ada,” jawab Revan dengan entengnya membuat Vania kesal dan memukul dada bidang Cowok itu dengan keras.

“Ngeselin ya!”

Revan hanya tertawa. Vania berusaha melepaskan pelukannya tapi terlalu sulit, malah Revan semakin mengeratkan pelukannya. “Lepas!”

“Nggak.”

“Lepas Revan! Kamu harus cepat mandi!”

“Nggak mau,” jawab Revan manja seperti anak kecil.

“Aku bilang lepas! Nanti aku telat dandanin anak-anak.”

“Kalau kita punya Anak, kamu mau cowok atau cewek?” tanya Revan malah membahas topik lain.

Vania yang mendengar itu dibuat gugup.”Apaan sih?! Lulus juga belum!”

“Jawab dulu.”

“Jangan mulai,” ucap Vania sambil menatap Revan tajam.

“Oke, aku nggak mau lepasin kamu.”

Ck! sabar Vania sabar, Revan memang kepala batu. Apa-apa harus dijawab, apa-apa harus dituruti. Manja iya, ngeselin iya, keras kepala iya, tapi kenapa Vania bisa sayang ya?

“Re, lepas.”

“Nggak mau.”

“Lepas Revan.”

“Nggak mau, jawab dulu,” rengek Revan. Persis seperti Anak kecil yang minta dibelikan mainan. Singa Manja!

Vania menghembuskan napasnya. “Cewek,” jawab Vania dengan sabar dan juga malu. Mukanya sudah mulai merah.

Senyum Revan mengembang. “Oke, semoga anak kita nanti cewek,” ucap Revan sambil mengacak rambut Vania gemas tak lupa dengan kecupan singkat. Setelahnya Revan melepas pelukannya dan bergegas menuju kamar mandinya.

Blush! Muka Vania sudah merah. Nikah belum, tapi sudah punya rencana ingin punya anak Cewek. Dasar Revan! Ada saja kelakuannya.

***

“Udah bangun?” tanya Jasmine saat Vania sudah di dapur.

“Udah, Bun,” jawab Vania diangguki oleh Jasmine, kemudian keduanya pun sibuk menyiapkan sarapan.

Beberapa menit berlalu. Revan turun setelah selesai mandi. Dia tersenyum melihat Vania yang membantu Bundanya di dapur.

Hari ini, Revan memakai kaos hitam polos dengan celana jeans senada yang lututnya agak sedikit sobek dengan sepatu Vansnya. Tidak lupa kacamata hitam tergantung di keras kaosnya dengan kalung yang setia tergantung di lehernya. Di tanganya tersampir kameja hijau army berlengan pendek.

“Selamat pagi! Bunda dan calon Istri,” ucap Revan dengan semangat sambil duduk dimeja makan dan menopang dagu dengan satu tanganya sambil menatap Vania.

Hanya ada Vania dan Jasmine, karena Reno dan Sheila belum turun untuk sarapan.

Muka Vania yang sudah tidak merah kembali merah. Jasmine yang memunggungi Revan menahan kekehanya mendengar anaknya yang sepertinya ngebet ingin segera menikahi Vania.

“Pagi juga, Re,” jawab Jasmine sambil sibuk menyiapkan ini itu.

“Nggak mau jawab?” tanya Revan pada Vania setelah Vania meletakan nasi goreng di hadapan Revan.

“Nanti aja,” jawab Vania sambil berlalu tapi tangan Revan menahanya lebih dulu.

“Jawab dulu,” kekeuh Revan.

Vania menghembuskan napasnya. “Pagi juga,” jawab Vania dengan senyum gemas, gemas ingin menampar Revan!

“Mana calon Suaminya?”

Astaga Revan! harus banget dijawab? Vania malu! Apalagi Bunda Jasmine diam-diam memperhatikan mereka berdua.

“Re,” ucap Vania menahan kesal dengan tatapan tajamnya. Revan hanya berdeham dengan suara beratnya.

“Harus banget ya dijawab?”

“Harus lah!”

Vania memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. Revan jika sudah menyebalkan seperti ini ingin rasanya Vania tampar. Namun, itu semua hanya angan-angan, karena nyatanya Vania hanya bisa menuruti kemauan Revan.

Karena tidak ingin Bunda Jasmine mendengarnya, Vania mendekatkan wajahnya ketelingan Revan. “Pagi juga, calon Suami,” bisik Vania lembut membuat senyum Revan mengembang.

Setelah menyiapkan sarapan beres, dan juga Sheila dan Reno sudah siap. Mereka semua mulai sarapan dengan keadaanya sunyi. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar, walau sesekali Reno, Jasmine dan Sheila melihat kelakuan Revan yang curi-curi pandang kepada Vania.

***

“Pakein dong,” ucap Revan sambil menyerahkan kameja yang tadi dia bawa. Keduanya sekarang hendak berangkat ke sekolah.

Vania mengkerutkan dahinya mendengar itu.”Ya ampun, Re. Kamu bisa pake sendiri.”

Revan menggeleng.”Nggak. Maunya sama kamu.”

Vania menghembuskan napas kasar mendengar itu.”Re?” tegur Vania.

“Maunya sama kamu.”

Vania menggeleng pelan dengan kelakuan Revan, dia lantas menyimpan tas kecil berisi salad buah di kursi depan mobil. Dengan sabar, Vania mengambil kameja Revan lalu memasangkannya pada tubuh cowok itu. Revan hanya tersenyum sambil memandangi wajah Vania.

“Udah,” kata Vania setelah selesai.

“Makasih calon Istri,” ucap Revan sambil tertawa pelan lalu menyuruh Vania masuk ke dalam mobil.

“Kamu bawa pesanan aku nggak?” tanya Revan sambil menyetir.

“Bawa. Mau di makan sekarang?” Revan mengangguk.

Vania membuka kotak bekal berisi salad buah tersebut. Revan semalam memang meminta Vania membawakan salad buah untuknya.

“Aaa,” ujar Revan sambil membuka mulut.

“Manja!” cibir Vania sambil memasukan satu sendok salad ke dalam mulut Revan. Revan hanya tersenyum kecil, tidak menjawab lebih. Di perjalanan menuju sekolah Revan tidak henti-hentinya bersikap manja. Entah itu minta disuapi, membersihkan sisa makanan disudut bibirnya, atau minta di usap rambutnya walau sedang menyetir. Sepertinya Revan hari ini benar-benar sangat manja.

***

Mereka sudah sampai di sekolah. Sekolah sangat ramai sekarang, apalagi bazar di buka untuk umum.

Revan keluar dari mobil sambil menyugar rambutnya dengan kacamata hitam yang sudah dia kenakan yang mana membuat pekikan kaum hawa dari berbagai sudut mulai terdengar.

“KYAAA REVAN!”

“ANJIR ASELINYA GANTENG BANGET!”

“ADUH SUAMI GUE!”

“KYAA YANG SERING KITA GOSIPIN DI SEKOLAH KITA! KETEMU JUGA DISINI!”

“HONEY I LOVE YOU!”

“REVANKU?! PAGI GANTENG!”

“MAS TERANGKU!”

Rupanya Revan terkenal bukan hanya di sekolahnyanya saja. Kaum perempuan itu memperhatikan setiap gerak-gerik Revan. Mereka dibuat membuka mulut melihat Revan yang dengan manisnya membukakan Vania pintu mobil dengan mengulurkan tanganya.

Vania tersenyum lalu menerima uluran tangan Revan. Pekikan semakin menggila melihat keduanya bermesraan seperti itu.

“YAALLAH, MAS! AKU NGGAK KUAT LIHAT KEUWUWAN INI!”

“NGGAK LIHAT! LAGI PAKE MASKER!”

“KYAAA DISELINGKUHIN GUE!”

“TUAN PUTRINYA SMA CAKRAWALA EMANG BENAR-BENAR CANTIK!”

“INSECURE GUE LIHAT VANIA!”

Vania sedikit terkejut melihat sekolah yang benar-benar ramai. Namun dia heran saat mendapatkan tatapan permusuhan dari para perempuan, Vania mencoba tersenyum pada mereka yang sebagian menyapanya riang.

“Rame banget ya?” kata Vania. Sekarang mereka tengah berjalan di koridor.

“Iya. Kan dibuka untuk umum.”

“Eh iya aku lupa,” jawab Vania dengan cengiranya.

Vania semakin heran melihat para perempuan yang menatapnya tidak suka ketika melewati pertigaan koridor. Iri bilang girl!

“Ada apa?” tanya Revan sambil menyugar rambutnya lagi saat melihat Vania yang sepertinya tidak nyaman.

“KYAAA!!”

Revan dan Vania dibuat kaget dengan teriakan itu, sontak mereka berdua melihat ke belakang, ada segerombolan cewek-cewek yang sedang jingkrak-jingkrak kegirangan. Seheboh itukah? Hanya karena Revan menyugar rambutnya? Alayers!

Vania mulai mengerti, dia juga sudah mendengar bisik-bisik dari para gosip girl yang memuja Revan dengan gamblangnya. Sialan! Resiko punya pacar ganteng!

“Apaan si ah?! Ngeselin banget!” kesal Vania saat dia mendengar seorang cewek yang memanggil Revan dengan sebutan ‘Sayang. tepat saat dia dan Revan lewat.

Revan terkekeh melihat wajah Vania yang masam. “Kamu cemburu?”

“Jelas lah!” jawab Vania terang-terangan. Itu pacarnya di panggil ‘Sayang.’ di hadapannya sendiri, siapa yang tidak cemburu dan kesal coba?!

Revan tersenyum lalu mengusap puncak kepala Vania lembut sambil berjalan. “Jangan di dengar.”

“Ya tapi kedengaran!”

“Oke, kamu cukup dengar aja suara aku,” ujar Revan sambil menutup kedua telinga Vania rapat dengan kedua tangan besarnya. Vania dibuat yang melihat itu dibuat menatap Revan dengan pandangan dalam.

“Ayo jalan,” ucap Revan berbisik, membuat Vania tersadar dan mengangguk. Mereka masih jalan berdampingan dengan tangan Revan yang terus menutup telinga Vania. Pengertian sekali kamu Revan!

Lapangan SMA Cakrawala yang terkenal sangat luas sudah dihiasi panggung besar dan beberapa stand bazar yang ada di pinggir. Acara pembukaan rupanya sudah lewat, membuat Vania sedikit kecewa. Tapi tenang, ada kejutan nanti untuk Vania!

Revan dan Vania menuju aula utama SMA Cakrawala, karena memang drama diadakan di dalam aula. Panggung untuk drama pun sudah siap dengan hiasan-hiasan sesuai dengan judul dramanya yaitu ‘Cinderella dan sepatu kaca’

Vania memang tidak membawa alat make-upnya, karena katanya Rini sudah membawa semua yang diperlukan.

Revan melepaskan tangannya saat mereka sudah sampai di belakang panggung drama. Rupanya Saka dan Irfan sudah stay disini dari tadi.

“RE!” sapa Irfan saat melihat Revan dan Vania baru datang. Vania sudah siap beraksi dengan mendadani Ibu tiri terlebih dahulu. Karena drama sebentar lagi akan dimulai.

“Lo berdua dari tadi disini?” tanya Revan, membuat Irfan mengangguk sementara Saka hanya berdeham.

“Gue mau lihat si Ibu tiri beraksi,” ucap Irfan sambil menaik turunkan halisnya.

Revan membuka kacamatanya dan kembali mengantungkanya di kerah kaos. “Gimana? Sukses nggak semalam?”

Irfan memasang senyum lebar. Dia menyugar rambutnya sok ganteng.”Alhamdulilah, hasil do’a sepertiga malam berhasil.”

Revan memasang raut antusias mendengarnya.”Akhirnya lo nggak jomblo lagi!” kata Revan sambil tertawa.

“Oh jelas! Sekarang gue nggak akan ngenes lagi lihat lo berdua terus yang pacaran!” ucap Irfan bangga. Rini dan Irfan semalam resmi pacaran. Akhirnya perjuangan Irfan terbalaskan.

“Gue nggak minta lo lihatin gue sama Amanda,” ketus Saka.

“Hilih. Mentang-mentang udah punya pacar! Gue juga punya sekarang! Punya, Sak. PUNYA!” ucap Irfan menaikan suaranya di kata terakhir. Refleks Saka menjauhkan wajahnya karena muka Irfan yang berbicara tepat di depan wajahnya.

Revan menggeleng pelan mendengarnya.”Sombong bener.”

“Oh jelas!”

“Anak-anak kayaknya udah datang,” ucap Saka.

“Yo samperin,” ucap Irfan.

“Bentar.” Revan pergi menghampiri Vania yang tengah berdebat dengan Amanda karena tidak mau didandani.

Amanda itu anti dengan yang namanya make-up, baginya itu ribet. Saat ke acara pertunangan Sheila dan Alvin saja dia hanya memakai bedak tipis dan lipstik natural. Itu pun karena paksaan Rini, namun Amanda tetap cantik apa adanya.

Rini sudah duduk anteng sembari menghafal teks drama karena dia sudah selesai.

“Pamit dulu dia mah sama Ayang beb!” gumam Irfan.

Revan kemudian mencondongkan tubuhnya dan berbisik ditelinga Vania ketika sampai. “Aku pergi dulu ya, sayang? Nanti aku balik,” bisiknya selembut mungkin, bahkan hanya Vania yang bisa mendengarnya.

Vania mengangguk dan tersenyum, Revan kemudian mengusap puncak kepala Vania sebelum pergi. Dia kemudian menyuruh Saka dan Irfan untuk mengikutinya.

“HAREUDANG… HAREUDANG… HAREUDANG… PANAS… PANAS… PANAS…,” senandung Rini sambil mengipasi dirinya dengan kipas bulu-bulu pink andalanya.

Vania hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Rini.

Di koridor. Revan kembali memasangkan kacamata hitamnya sambil berjalan bersama kedua sahabatnya.

“Orang gantengmah beda,” ucap Irfan saat melihat Revan yang disapa oleh kaum ciwi-ciwi.

“Iri bilang boy!” kata Revan saat mendengar ucapan Irfan.

“Gue bukan nggak ganteng. Tapi cuma kurang ganteng,” ucap Irfan sambil menyugar rambutnya.

Saka memutar bola matanya malas mendengar itu. Saat mereka sampai di depan gedung utama, mereka melihat Satria, Mahesa dan Arkana tengah berkumpul bersama para anak buahnya. Seperti biasa, mereka selalu berhigh-five lebih dulu.

“Gimana? Gimana? Lo jadi naik ke panggung?” tanya Arkana pada Revan.

“Ya jadi lah,” jawab Revan.

“Di tolak lo.”

“Sialan lo! Gue tendang juga lo, Sat!” Satria hanya tertawa melihat wajah Revan yang kesal.

“Intinya. Kalau udah resmi, jangan lupa apa?” intruksi Mahesa.

“TERAKTIR!” seru semua yang ada disitu.

Revan menggeleng pelan mendengarnya.”Kaum gratisan dasar!”

“Buat apa cari yang berduit kalau ada yang gratisan. Bener nggak cuy?!” seru Irfan.

“YOI!” jawab Mereka.

“Nggak modal itu namanya.” Mereka kembali dibuat tertawa atas ucapan Saka.

***

Drama sedang dimulai. Revan, Saka dan Irfan menyaksikan drama tersebut dari depan. Cukup banyak yang menonton drama ini.

“Smriwing… smriwing… smriwing…,” ujar Ibu Peri sambil melinkarkan tongkat sihirnya ke arah Amanda. Amanda berputar, taburan-taburan blink-blink pun bertabur indah. Layar di tutup.

Vania langsung gercep mendandani Amanda setelah Amanda berganti baju.

“Aelah ribet banget!” kesal Amanda saat Vania tengah mendandaninya.

“Diem lo!”

“Dah sana,” ucap Vania setelah dirasa beres.

Layar dibuka kembali.

“Waahh… Terimakasih Ibu Peri,” ujar Amanda dengan manisnya sambil melihat gaun biru yang dia kenakan. Sebenarnya Amanda muak sekali mengatakan itu dan memakai baju ribet seperti ini. Lebih baik dia mengenakan dress selutut saja, itu lebih baik daripada gaun ini. Semua orang dibuat terpana melihat Amanda yang amat cantik.

Apalagi Saka. Revan menyikut lengan Saka. “Ehem… ngedip napa, Sak.”

Saka mendelik tajam. “Pacar, pacar gue!”

“Wihh, sombong bener,” kata Irfan.

“Pacar baru alhamdulilah,” senandung Irfan membuat Revan tertawa.

Setelah dirasa tugas beres, Vania menyaksikan drama itu dari sisi panggung. Tapi tiba-tiba, ada kedua tangan yang merangkul lehernya. Lalu Vania merasakan sesuatu yang berat menimpa kepalanya. Siapa lagi kalau bukan Revan si Singa Manja, dia meletakan dagunya dikepala Vania.

“APA-APAAN KAMU CINDERELLA! BERANI-BERANINYA KAMU DATANG KE PESTA KERAJAAN!” bentak Rini sambil menunjuk Amanda yang terjatuh dilantai panggung dengan menangis tersendu-sendu.

“Semangat Ibu Tiri!” heboh Irfan menyemangati Rini, Rini lantas mendelik tajam ke arah Irfan.

“M-maaf Ibu. Aku hanya ingin berpesta, apa itu salah?” tanya Amanda sambil menatap Rini dengan wajah melasnya.

Saka jadi tidak tega melihat pacarnya dianiaya walau hanya sekedar drama.

“Re?” Revan hanya menjawab dengan dehaman serak dan berat.

“Jangan manja,” peringat Vania namun Revan tidak mengindahkannya dan malah beralih memeluk Vania lalu meletakan kepalanya dipundak kanan Vania.

“Bodo amat.”

“Revan malu diliatin orang!”

“Mau ketempat sepi?” tawaran Revan sukses membuat Vania menyentil dahi Revan dengan cukup keras sehingga membuat Revan mengaduh.

“Galak ya kamu.”

“Ayo ikut,” ucap Revan sambil menarik tangan Vania.

“Liat-liat bazar yu!” Revan mengangguk atad ucapan Vania, dan kini malah Vania yang menarik tangan Revan ke stand bazar dengan semangat.

Panggung tengah diisi oleh anak-anak Cowok kelas XII yang sedang bernyanyi.

Mata Vania berbinar saat sampai di stand bazar yang menjual pernak-pernik cewek. Mata Vania tertuju pada Bando telinga kelinci. Vania kemudian mengambilnya.”Re? Kamu pake ini lagi dong. Kayak waktu di pasar malam,” ucap Vania sambil tersenyum lebar.

Revan mengerjap-ngerjapkan matanya, bando itu lagi? Ck! Revan pasti jadi bahan tertawaan.”Nggak, nggak mau aku.”

“Ayolah Re, Please,” ucap Vania sambil memasang puppy eyesnya.

“Kamu pasti lucu deh,” ucap Vania lagi.

Revan tetap bersikeras menggeleng. “Sekali nggak ya nggak.”

Vania menghembuskan napasnya pasrah. Sudahlah, jika Vania terus membujuk Revan, bisa-bisa nanti dia diterkam oleh hukumanya.

Vania cemberut tapi sedetik kemudian dia bersikap biasa lagi. Vania menatap Revan sekalias yang tengah memperhatikanya. “Apa?!” tanya Vania tajam.

“Itu tadi k–”

“Nggak ih!” potong Vania lalu berlalu meninggalkan Revan setelah membayar bando telinga kelinci itu. Revan terkekeh lalu mengikuti ke mana Vania pergi.

Revan sampai disisi Vania karena gadis itu tadi terlalu jauh melangkah. Vania sudah asik menjilati es krim coklat ditanganya. “Kamu mau?” tanya Vania dengan lucunya, gadis itu juga sudah memakai bando kelincinya.

“Nggak.” Revan menarik Vania sehingga duduk di kursi yang berada di koridor.

“Makan jangan sambil berdiri.” Vania hanya mengangguk-nganggukan kepalanya.

Revan yang gemas karena melihat bando itu tidak benar menarik wajah Vania membuat Vania mengedip-ngedipkan matanya kaget.

Dengan lembut, Revan merapikan rambut Vania secara perlahan setelah melepaskan bando itu dari kepalanya. Setelah di rasa rapi, Revan kemudian memasangkan lagi bando itu. “Gini kan bener. Nggak kayak tadi berantakan.”

Vania langsung memalingkan wajahnya karena malu. Mukanya sudah merah sekarang. “M-makasih,” ucap Vania gugup.

Revan terkekeh dan memandangi Vania dari samping. Saat Vania hendak memakan es krimnya, saat itu juga Revan gerak cepat memakan es krim yang sedikit lagi masuk dalam mulut Vania.

“Enak es krimnya,” gumam Revan.

Vania syok. Itu tadi?! Ah Revan memang kadang suka melakukan tindakan diluar nalar. Muka Vania sekarang menjadi semakin merah.

“Aku balik ke aula deh,” ujar Vania lalu berdiri, mukanya masih merah, Vania tidak mau Revan melihatnya.

“Ayo.”

“Jangan! Aku bisa sendiri pergi ke ula.”

Revan memiringkan kepalanya dan melihat muka Vania yang merah. “Kenapa?” tanya Revan menahan tawa.

“Pokoknya aku mau pergi sendiri.”

“Nggak! Aku anter, nanti kamu diculik,” kekeuh Revan. Diculik katanya? Ini sekolah loh. Dasar Revan possesive!

Vania menghembuskan napasnya. “Revan, ini sekolah loh sayang. Memangnya ada tukang culik di sekolah?”

Revan memasang muka datar. “Ya pokoknya aku anter. Selain aku takut kamu diculik. Aku yakin para cowok-cowok centil godain kamu!”

Revan sudah keras kepala, paling susah untuk di tolak. Oke mungkin Vania memang harus menuruti lagi kemauan Revan. “Oke.”

Revan tersenyum, kemudian merangkul Vania dari samping dan kembali berjalan menuju aula.

***

“Aku pergi dulu,” ujar Revan pada Vania setelah mereka sampai di belakang panggung drama. Vania mengangguk.

Namun baru satu langkah Revan kembali berbalik. “Nanti aja deh,” ucapnya kembali pada sisi Vania.

“Eh, nggak bener banget.” Revan hanya cengengesan sambil kembali bersandar di pundak Vania.

“Manja! Manja!” Rini mencibir karena memang mereka sudah selesai melakukan pentas drama, dan hasilnya sukses membuat semua orang terpukay. Ya walau pun, Saka tadi sempat tidak terima akibat ada adegan dansa antara Amanda dan Riki teman sekelasnya yang berperan menjadi Pangeran.

“Iri bilang girl!” ucap Revan membuat semua yang ada disana tertawa.

Rini mendelik tajam ke arah Revan.”Sorry, gue nggak iri sedikit pun!” balasnya angkuh.

“Sok-sok’an nggak iri. Padahal hatinya panas!” kata Revan membuat Rini semakin kesal.

“Minta dibanting lo ya!”

“Baby Rini! Jangan marah-marah ya sayang. Entar cantiknya ilang,” ujar Irfan sambil mencolek dagu Rini dengan genitnya membuat Rini semakin kesal berada disini.

“Apaan sih lo?!”

“Sama pacar gitu amat,” kesal Irfan langsung membuat muka Rini bersemu karenanya.

“Eh. Kalian berdua pacaran?” tanya Vania tidak tahu. Rini yang mendengar itu mendadak semakin kikuk.

Irfan merangkul Rini.”Iya dong, Van. kan biar nggak jomblo terus,” jawab Irfan sambil menaik turunkan halisnya.

“Kok nggak bilang sih, Rin?” ucap Vania.

Rini nyengir lebar mendengarnya.”Baru semalam kok, Van.”

“Cie malu-malu gitu. Biasanya juga malu-maluin.” Rini yang kesal langsung memukul Revan dengan kipas andalanya itu, membuat Revan tertawa sambil menghindari pukulan Rini dengan bersembunyi di balik punggung Vania.

“Udah-udah. Mending kita pacaran aja kayak yang dipojok itu,” ucap Irfan melerai sambil melirik Saka dan Amanda yang memang tengah berduaan di pojok panggung.

“Mojok teross!” Revan menyindir sehingga kedua orang itu yang merasa tersindir menoleh padanya.

“BYE! Gue mau pacaran dulu!” pamit Irfan sambil merangkul Rini keluar dari belakang panggung.

“Sombong amat!” cibir Revan. Vania tertawa ringan melihat itu. Akhirnya temanya itu bisa membuka hati.

Revan yang melihat Vania hendak pergi menahan pergelan tangan Vania.”Mau ke mana? Disini aja. Lagian tugas kamu udah selesai, kan?” tanya Revan.

Vania mengangguk pelan menjawabnya.”Mau apa si?”

Revan duduk di kursi lalu menepuk pelan kursi satunya lagi. Vania yang mengerti lantas duduk.

Revan langsung memeluk Vania yang mana membuat Vania sedikit tersentak kaget.”Maunya gini sama kamu,” kata Revan sambil meletakan dagunya di pundak kanan Vania.

“Usapin dong,” pinta Revan.

“Manja banget si kamu hari ini?”

“Kamu sendiri yang bilang aku manja,” jawab Revan dengan satu tangan yang memeluk Vania sedangkan tangan yang satunya mengotak-ngatik ponselnya.

Vania memutar bola matanya mendengar itu.”Itu anak-anak pada lihatin tahu. Nggak enak.”

Revan melirik sekilas pada teman-teman sekelas Vania yang memang sebagian tengah memperhatikannya.”Nggak peduli.”

“Re?”

“Udah biarin aja. Sirik mereka. Mendingan kamu cepat usapin rambut aku.”

Vania mendengus. Rasanya percuma jika dia mendebat lagi. Vania lantas mulai mengusap rambut Revan dengan sabar. “Nanti ke lapangan ya?”

“Mau ngapain?”

“Pokoknya ke lapangan.”

“Iya, Revan.”

***

Sesuai keinginan Revan, Vania pergi ke lapangan. Entah apa yang dilakukan Revan, yang jelas sekarang Vania sedang diseret menuju lapangan oleh Amanda dan Rini.

“Ada apa sih?” tanya Vania saat Rini dan Amanda sudah membawa Vania di depan panggung.

Rini dan Amanda saling tatap kemudian tersenyum penuh arti. “Lo fokus aja sama panggung,” ucap Rini membuat Amanda mengeryitkan dahinya bingung.

“Emangnya kenapa? Terus kenapa Revan nyuruh kalian berdua seret gue kesini?” tanya Vania.

“Pokoknya lo fokus aja sama panggung,” ucap Amanda gemas.

Vania hanya mendengus, namun sedetik kemudian dia dibuat heran melihat Revan yang naik ke panggung dengan membawa gitar ditangan kanannya. Kata Revan dia tidak akan tampil saat Vania menanyakan. Namun sekarang? Kenapa Revan malah ke panggung? Saat itu juga panggung heboh oleh pekikan histeris para umat perempuan.

“WOOOO!”

“SEMANGATT TAMPAN!”

“REVAN SAYANG!”

“PACAR GUE!”

“KYAA… NGGAK KUAT GUE!”

Seketika kuping Vania ingin meledak mendengarnya. Kenapa harus seheboh itu sih? Tidak tahukah mereka bahwa Vania ini pacarnya! Sekali lagi P-A-C-A-R!

Revan mulai duduk di kursi yang disediakan dengan posisi nyaman. Kemudian dia mendekatkan microponnya. Saat Revan baru berdeham saja, pekikan itu semakim heboh. Dasar kaum alayers!

“Lagu ini saya persembahkan untuk Vania Naquella Atmaja. Pacar sekaligus calon Istri saya di masa depan nanti,” ucap Revan dengan senyumannya sambil menatap Vania yang mematung ditempatnya dengan muka merah.

“ARGGGGHH… MAU DONG DINYANYIIN!”

“UDAH CALON AJA!”

“AKU AJA YANG JADI CALON ISTRINYA!”

“AKU MAU DONG JADI CALON ISTRINYA!”

“Anjirr, Van. Udah calon Istri aja,” ujar Rini menggebu-gebu. Lagi-lagi dia mengipasi dirinya dengan kipas bulu-bulu pinknya. Hareudang gengs!

“Nah. Itu cowok gentle,” kata Arkana sembari menyaksikan Revan.

“Iya. Bukan kayak yang ini, nih,” ucap Irfan sambil menunjuk Mahesa dengan ekor matanya.

“Kena frendzone jadinya,” kata Satria, membuat mereka tertawa. Tidak kecuali Mahesa yang kesal bukan main.

Vania tidak malu. Hanya dia tidak menyangka Revan bisa mengatakan itu di hadapan ratusan orang. Vania seakan berada diawang-awang, jantungnya kian berdebar kencang, ribuan kupu-kupu seolah terbang di dalam perutnya. Wajahnya semakin memerah membuat Revan semakin tersenyum menatap Vania. Tanpa sadar, senyum Vania terukir dengan begitu manis sambil menatap Revan.

“Selamat mendengarkan, Tuan Putri,” ujar Revan lagi.

Revan mulai memetik gitarnya.

Kau begitu sempurna

Dimata ku kau begitu indah

kau membuat diriku akan selalu memujamu

Revan mulai bernyanyi. Lagu sempuran dari Andra and the backbone menjadi pilihan Revan. Suara berat dan sedikit serak membuat para penonton terlena dengan lagu yang dinyanyikan Revan.

Di setiap langkahku

Ku kan selalu memikirkan dirimu

Tak bisa kubayangkan

hidupku tanpa cintamu

Pandangan Revan tidak pernah lepas dari Vania yang sama-sama menatapnya dengan tersenyum.

Jangan lah kau tinggalkan diriku

Takan mampu menghadapi semua

Hanya bersamamu ku akan bisa

Kau adalah darahku

Kau adalah jantungku

Kau adalah hidupku

Lengkapi diriku

Oh, sayangku kau begitu

Sempurna… sempurna…

Semua orang bernyanyi mengikuti Revan, semua orang kembali dibuat terlena oleh suara Revan persis saat waktu acara api ungun saat kamping. Walau hanya dengan gitar, tetapi suara Revan yang enak didengar mampu membuat semua orang hanyut dalam setiap lirik yang Revan nyanyikan.

Kau genggam tanganku

Saat diriku lemah dan terjatuh

Kau bisikan kata dan hapus semua sesalku

Revan bernyanyi kembali lagi ke reff tanpa mau memalingkan pandangnya dari Vania. Hingga beberapa menit berlalu dan Revan selesai menyenyikan lagu itu.

Revan turun setelah menyelesaikan lagunya. Dia langsung menghampiri Vania.

“Makasih lagunya,” ucap Vania malu-malu.

Revan tersenyum dan mengangguk. Kemudian dia beralih menarik wajah Vania dengan satu tanganya dan mencium lembut puncak kepala Vania di hadapan semua orang. “I Love you Vania,” ucapnya dengan begitu lembut.

Vania dibuat sesak nafas akibat perlakuan Revan. Lapangan semalin heboh dengan tindakan yang Revan lakukan. Karena tidak tahan, Vania langsung berhambur memeluk Revan dengan begitu erat. “I love you more!”

Revan tersenyum mendengarnya.”Ada satu lagu lagi,” bisiknya. Baru satu kejutan, ada satu lagi yang Revan ingin lakukan.

***

“Pantai lagi?” ucap Vania membuat Revan mengangguk dan tersenyum.

“Ada momen apalagi nih?” tanya Vania curiga sambil berjalan beriringan ke tepi pantai.

Satu tangan Revan merangkul Vania dan tangan lainnya membawa gitar.”Kita lihat lainnya.”

Vania duduk diikuti Revan, Vania menyandarkan kepalanya pada pundak Revan membuat Revan memeluk Vania dari samping dan memainkan rambut gadis itu. “Suka nggak tadi kejutannya?” tanya Revan.

Vania mengangguk antusias. “Suka banget, makasih ya.” Revan menganguk, dia lega karena Vania suka dengan kejutannya.

“Aku kaget tahu waktu kamu naik panggung. Kan kamu bilangnya nggak mau tampil, tapi taunya malah tampil. Apalagi waktu kamu bilang lagu itu buat aku, sama sebut kamu calon Istri kamu,” jelas Vania membuat Revan terkekeh.

“Itu, kan, kejutan. Masa iya aku bilang-bilang.”

“Iya sih.”

“Mau yang lebih mengejutkan nggak?” tanya Revan membuat Vania menatapnya.

“Apa?”

Revan beralih mengambil gitarnya yang tadi dia simpan di sampingnya. Vania hanya memperhatikan Revan yang sedang memetik asal gitarnya. Terpaan cahaya jingga pada wajah Revan dari langit sore yang mulai berubah warna, membuat Vania mengukir senyumnya. Dia suka melihatnya, apalagi dengan rambut Revan yang beterbangan karena tertiup angin.

“Dengerin, ya?”

“Aku selalu dengerin kamu Revan.”

Revan tersenyum, lalu mulai memetik gitarnya dengan benar.

Di ujung cerita ini

Di ujung kegelisahanmu

Ku pandang tajam bola matamu

Cantik dengarkalah aku

Revan mulai bernyanyi, Vania hanya menikmati lagu tersebut sambil tetap memandang wajah Revan.

Aku tak setampan Don Juan

Tak ada yang lebih dari cintaku

Tapi saat ini ku tak ragu

Ku sungguh memintamu

Jadilah pasangan hidupku

Jadilah ibu dari anak-anakku

Membuka mata dan tertidur di sampingku|

Aku tak main-main

Seperti lelaki yang lain

Satu yang kutahu ku ingin melamarmu

Vania baru sadar sesaat setelah Revan menyanyikan lagu tersebut. Dia terdiam membisu, apalagi ketika Revan mengambil kedua tangannnya dan menggenggamnya hangat.

Mata keduanya saling memandang satu sama lain, langit senja kembali menjadi saksi kemesraan mereka berdua. “Mungkin ini memang terlalu cepat, dan aku mungkin nggak tahu kedepannya kita kayak gimana.”

“Tapi, aku bener-bener ingin bilang ini sama kamu.”

“Re a–”

“Vania Naquella Atmaja. Apa kamu mau menjadi gadis yang selalu aku liat setiap hari disaat aku bangun tidur dan akan tidur? Apa kamu mau? Menjadi gadis yang akan selalu menyambut kepulanganku disaat aku pulang kerja? Apa kamu mau nemenin aku disaat aku sakit, sehat, senang, sedih dan susah? Apa kamu mau menjadi gadis, yang akan mengisi hari-hariku sampai kematian itu datang?”

“Sekali lagi, Vania Naquella Atmaja, di tempat yang sama lagi, disaksikan langit senja lagi, apa kamu mau? Nerima lelaki keras kepala, manja, dan menyebalkan ini untuk jadi pendamping hidup kamu?”

“Aku nggak mau nunggu melamar kamu dimasa depan nanti. Karena aku takut, aku nggak bisa bilang semua ini sama kamu nanti,” ucap Revan dengan gamblang, membuat Vania diam membeku.

Sungguh, untuk pertama kalinya Vania benar-benar merasa istimewa menjadi seorang perempuan. Manik mata coklat itu mulai berkaca-kaca saat Revan mengeluarkan sebuah kotak kecil berwarna merah. Betapa kagetnya Vania saat Revan membuka kotak tersebut, kotak tersebut berisi cincin berlian yang berbinar indah.

Jangan kira cincin itu Revan membelinya dengan uang orangtuanya. Salah besar! Walau pun dulu Revan itu tidak tahu aturan, tetapi sebenarnya dari kelas X Revan sudah diajarkan mengola bisnis Ayahnya yang lain, kalian hanya tidak tahu saja. Dan ini, salah satu hasil jerih payah Revan selama tiga tahun. Revan memang sudah memperisiapkan cincin ini jauh sebelum mengenal Vania. Dulu, Revan berkata bahwa dia akan memakaikan cinci ini untuk perempuan yang benar-benar telah mencuri hatinya bahkan telah membuatnya jatuh cinta dengan begitu dalam.

Dan Vania adalah orangnya.

“Jadi, apa jawaban kamu?” tanya Revan lagi.

Vania diam, dia tidak tahu harus menjawab apa. Seberusaha mungkin Vania berusaha bersikap tenang dan berfikir jernih. “Re, apa kamu yakin? Pilih aku sebagai pendamping hidup kamu?”

Revan tersenyum.”Aku sangat yakin Vania. Karena kamu adalah satu-satunya perempuan yang bisa buat aku sadar akan satu hal yang nggak pernah aku sadari.”

Vania mengangguk dengan air mata yang ikut turun. “Aku mau Revan.”

Revan tersenyum bahagia. Dia segera memeluk Vania dengan begitu erat. Dia bernapas lega mendengarnya. Rasanya seperti beban yang dia tanggung sedari tadi seolah hilang dengan begitu lega.

Untuk kedua kalinya, Revan berhasil membuat Vania menangis karena bahagia. Dan untuk pertama kalinya, Revan berhasil membuat Vania merasa menjadi perempuan yang paling istimewa.

Revan melepaskan pelukannya. Lalu beralih memasangkan cincin iti dijari manis Vania. Sangat indah saat cincin itu sudah melingkar dijari manis Vania.

“Kamu berhasil, buat aku merasa menjadi perempuan yang paling istimewa,” ucap Vania sambil mengecup pipi Revan.

Revan bahagia, sangat bahagia bisa memiliki Vania di dalam hidupnya.

Hadirnya Vania membuat Revan mengerti satu hal yang tidak pernah Revan mengerti terlalu dalam sebelumnya.

Revan kemabali memeluk Vania. Dia mengacungkan satu jempolnya seketika membuat sorakan terdengar. Vania yang kaget segera melepaskan pelukanya dan melihat kearah sumber suara, ternyata teman-temanya ada tengah berlarian kearah mereka.

“Kok ada mereka?” tanya Vania bingung.

“Mereka memang ada disini dari tadi. Bunda, Ayah. Papa sama Mama kamu juga ada disini,” jawab Revan enteng.

“Huh?! Seriusan?” Revan mengangguk, lalu menunjuk kearah dekat pohon kelapa yang tidak terlalu jauh dari mereka.

Refleks Vania melambaikan tanganya dengan kaku karena terlihat kedua orangtua mereka melambaikan tangannya kearah mereka berdua. Seketika muka Vania menjadi semakin merah.

“YUHU SELAMAT MAD BRO!”

“TERAKTIR! TERAKTIR! TERAKTIR!” sorak Irfan, Mahesa dan Arkana beserta yang lainya.

“CEPAT NIKAH AJA LAH!”

“Eh turunin woi!” Mereka tertawa karena melihat Revan yang di lempar ke pantai, membuatnya basah kuyup.

“Langgeng sampai pelaminan ya, Van?” kata Amanda

“Amin,” ucap Vania.

Aqilla, Aurel, Rini dan Amanda saling pandang penuh arti. Sementara Nathalia masih cengo di tempatnya.

“SERET VANIA!” Vania yang mendengar itu kaget. Keempat orang itu langsung menyeret Vania dan menceburkan Vania ke pantai bersama Revan.

“Eh kok gue nggak diajak?” kata Nathalia sambil pergi menyusul mereka ke tepi pantai.

Mereka saling lempar tawa dengan menyirami Revan dan Vania. Seolah hari ini menjadi puncak kebahagiaan mereka, seolah hari ini menjadi ujung cerita yang mereka tunggu dan nantikan.

Cinta, satu kata berjuta arti, satu kata berjuta resiko saat orang memiliki rasa cinta, satu kata yang begitu sulit dipahami, satu kata yang begitu rumit untuk diakhiri, satu kata yang begitu menyiksa tetapi terkadang begitu sempurna saat mengenal kata bahagia dengan kata Cinta.

Namun tanpa cinta, kisah ini tidak akan dimulai. Tanpa cinta, kisah ini juga tidak akan berakhir dan sampai dititik ini.

Revan dan Vania, terimakasih, sudah membuatku hanyut dalam dunia kalian. Terimakasih, sudah membawaku ke dalam dunia imajinasi, yang di dalamnya penuh dengan berbagai impian yang selalu ingin menjadi nyata.

Terimakasih, sudah membuat aku merasakan berbagai hal saat menulis kisah tentang kalian.

Sekali lagi terimakasih, sudah membuatku hanyut dalam kisah kalian berdua.

-TAMAT-

Baca dari awal

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com

 

Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here