Untuk Revan #51

0
224
views

Jangan jadi Cinderella


“BERANI-BERANINYA KAU CINDERELLA!” ujar Rini membentak pada Amanda yang berperan sebagai Cinderella. Kelas XI IPA 3 memang sedang melakukan latihan drama untuk acara PENSI sekaligus bazar nanti saat setelah ujian kenaikan kelas. Karena SMA Cakrawala memang selalu mengadakan acara tersebut setelah ujian kenaikan atau kelulusan. Kalau kelulusan, biasanya seminggu setelah PENSI, sekolah akan mengadakan prom night party.

“Ampun Ibu. Cinderella tidak bermaksud,” ujar Amanda yang sedang terkapar di lantai. Soal Amanda yang berperan menjadi Cinderella, dia sebenarnya tidak mau dan tidak pernah mau. Tetapi teman-teman sekelasnya terus memaksa, yang alhasil membuat Amanda mau tidak mau harus mengiyakan.

Tadinya peran itu akan diambil oleh Vania, karena selain cantik dan body goals, wajah Vania yang manis dan terkesan lugu juga suara yang lemah lembut membuatnya cocok mendapatkan peran itu. Tetapi Vania menolak, katanya dia hanya ingin menjadi perias teman-temanya nanti saat acara dimulai. Soal Rini, dia tadinya ingin menjadi Ibu peri, namun sayangnya dia malah kebagian peran Ibu tiri, karena ketika latihan masih menggunakan teks, suara Rini yang kelewat cempreng dan bagai toa itu seperti membentak yang mana membuatnya kebagian peran seperti itu.

Dan hari ini, hari terakhir mereka latihan sebelum ujian kenaikan kelas.

“Halah bacot banget,” ujar seorang, membuat satu kelas menoleh padanya.

Namun Dodi, cowok yang tadi berucap itu malah dengan santainya acuh, seolah tidak salah apapun.

“RUSAKIN SUASA LO!” kesal Rini.

Amanda bangkit berdiri.”UDAH CAPE-CAPE GUE AKTING KAYAK ORANG TERANIAYA BENERAN! LO MALAH RUSAKIN SUASANA!” kesal Amanda bukan main. Cinderella kembali menjadi bar-bar. Untung tidak ada guru, jadi mereka tidak ada yang memarahi. Lagian ini diluar jam pelajaran, alias jam pulang sekolah.

Dodi memutar bola matanya.”Ribet banget. Tinggal lanjutin doang,” kesalnya. Seolah ucapanya tadi itu benar-benar bukan perusak suasana.

Amanda dan Rini saling tatap, lalu keduanya bergegas maju menghampiri Dodi dengan langkah tegap.”DODOLLL!! KURANG AJAR BANGET LO!” kesal Amanda sambil menjambak dan memukul cowok itu.

“MUSNAHIN AJA MUSNAHIN, MAN!” kata Rini sambil mecubit dan menginjak kaki cowok itu. Dodi mengaduh dan meminta tolong saat dia dihakimi. Namun teman-teman sekelasnya malah cuek bebek. Kesal dengan sikap Dodi. Udah biarin aja biarin!

Vania menghembuskan nafasnya. Lalu dia bergegas melerai kedua sahabatnya itu agar berhenti.”Man! Rin! Udah!”

“NGGAK BISA, VAN! DIA PERLU DIKASIH PELAJARAN!” kata Amanda marah.

“NGGAK TAHU APA LO?! KALAU AKTING ITU SUSAH?! LO MAH ENAK TINGGAL NGATUR MUSIK DOANG!” kesal Rini sambil menjambak rambut Dodi. Cowok itu semakin mengaduh kesakitan.

“Hey bantuin dong!” ujar Vania pada teman sekelasnya.

“Halah, udahlah biarin aja, Van!”

“Biar tahu rasa si Dodi!”

“Tahu! Ngomong seenak jidat!”

“Biar mikir dia!”

Malah jawaban itu yang Vania dapatkan dari teman-teman sekelasnya. Vania berdecak sebal.”Aduh Rini! Amanda! Udah dong!” Mereka berdua tetap tidak menghiraukan ucapan Vania.

Saat tangan Rini hendak mengenai wajah Vania, saat itu juga seorang menarik Vania ke belakang. Untung saja, kalau tidak, Vania bisa kena tamparan di pipinya tanpa sadar karena Rini tadi tidak melihat Vania ada di sampingnya.

“Revan?”

Revan tidak menjawab dan malah merapatkan Vania di sampingnya, dia menarik nafas dalam. Rini dan Amanda masih tidak sadar kalau sudah ada Revan, Saka dan Irfan di belakangnya.

“CUKUP!” suara itu berhasil menghentikan aksi jambak-menjambak. Revan mengatakanya tidak membentak, tetapi suaranya yang cukup keras membuat semua yang ada disini kaget. Semua orang tahu bagaimana menyeramkannya Revan ketika marah, sehingga suara Revan yang seperti itu saja langsung membuat mereka merinding.

Rini dan Amanda lantas berbalik dengan kaku. Mereka menyengir lebar melihat ketiga cowok itu menatap datar padanya.

“Lo sadar nggak?! Kalau tadi lo hampir tampar Vania!” kesal Revan pada Rini.

Rini yang mendengar itu kaget.”Eh seriusan? Ya ampun, Van. Sorry banget gue nggak tahu,” ujar Rini merasa tidak enak.

Vania tersenyum.”Nggak apa-apa kok, Rin.”

“Kalau gue nggak datang, mungkin tadi Vania udah kena gamparan lo! Vania kenapa-kenapa lo yang gue hakimi!” ujar Revan penuh peringatan pada Rini.

Vania yang melihat Revan seperti itu menarik sedikit baju seragamnya sehinga Revan menoleh padanya dan sedikit merunduk agar bisa menatap Vania yang kurang tinggi darinya.”Udah nggak usah diperpanjang,” kata Vania pelan.

“S-sorry banget, Re. Gue, kan, nggak tahu,” ujar Rini sambil menggigit bibir bawahnya. Ribet urusanya kalau menyangkut soal Revan.

“Lagian lo kenapa bisa berantem kayak gini si? Nggak jelas tahu, nggak?!”

“Revan!” tegur Vania saat Revan masih bersikap ketus pada Rini.

“TUH BIANGNYA!” sambar Amanda masih dengan nada tidak slow. Ketiga cowok itu lansung menoleh pada Dodi yang kondisinya begitu mengkhawatirkan.

“OH JADI INI BIANGNYA?! PERLU GUE BASMI KAYAKNYA!” ujar Irfan tiba-tiba tidak slow.

“Lo malah ikut-ikutan lagi!” kesal Revan.

“Gue, kan, mau membela calon pacar gue, Re. Ayang Rini yang cantik jelita.” Semua teman-teman sekelas Rini langsung berbisik-bisik, ada pula yang menyorakinya menggoda.

Wajah Rini langsung merah karena malu, dia menatap Irfan dengan tatapan tajam, sementara Irfan cengar-cengir nggak jelas.

“BASMI AJA BASMI!” kata Amanda, emosinya masih belum redam, bahkan keberadaan Saka di sampingnya pun tidak Amanda pedulikan saking emosinya dia. Saka segera mencekal pergelangan tangan Amanda lembut saat Amanda akan menghampiri Dodi kembali.

Hal tersebut membuat Amanda menoleh dan baru sadar kalau Saka ada di sampingnya sedari tadi.”Cukup.” Satu kata, namun mampu membuat Amanda refleks menganggukan kepalanya. Jiwa bar-bar Amanda tiba-tiba menghilang entah kemana hanya karena mendengar ucapan lembut dari Saka. Ck! Dasar Amanda, Saka memang mampu menaklukan hati Amanda.

“Ini hari terakhir lo latihan, kan? Sebelum hari senin ujian?” tanya Revan. Refleks Amanda dan Rini mengangguk mengiyakan.

“Lanjut aja.” Revan kemudian melirik Saka dan Irfan.”Lo berdua awasin, biar nggak ada keributan lagi,” lanjutnya.

Irfan mengacuhkan jempolnya tinggi-tinggi.”ASYIAPP KAPTEP!” ujarnya penuh semangat. Lumayan, bisa lihatin gebetan. Sementara Saka hanya berdeham menangapinya.

Rini dan Amanda yang mendengar penuturan Revan membulatkan kedua bola matanya. Malu dong dilihatin pacar, itu terkhusus untuk Amanda, sedangkan Rini? Ya dia juga sama malunya dilihat Irfan saat latihan walau Irfan bukan pacarnya. Aneh, tapi memang itu yang Rini rasakan.

“Yah, Re. Nggak bisa gitu dong!” ucap Amanda tidak terima.

“Kita nggak bakal ribut lagi. Mending bawa ajalah dua temen lo ini!” ujar Rini dengan wajah kesal.

Revan menggeleng.”Disini nggak ada guru. Jadi kalau ada yang ribut lagi nggak ada yang handle. Udah untung gue suruh mereka berdua awasin lo semua.”

Ada benarnya juga si ucapan Revan. Ya tapi tetap saja, bagi Amanda dan Rini itu sangat berlebihan.

“Tap–”

Belum sempat Amanda berucap, Revan sudah pergi duluan menarik Vania bersamanya, yang mana ucapan Amanda harus berhenti diujung lidah. Kedua gadis itu berdecak sebal atas kejadian ini. Ini semua gara-gara Dodi.

Mereka mulai kembali bersiap-siap untuk latihan lagi, dengan Saka dan Irfan yang berdiri mengawasi di pojok kanan dan kiri.

“Kapan coba gue punya pacar kayak Revan?” ujar seorang perempuan teman sekelas Vania pada temanya yang sedang membuat properti untuk drama sambil melirik Revan dan Vania yang keluar kelas sambil gandengan tangan.

“Halu dulu lah, haluin punya pacar kayak Revan,” jawabnya masih tetap fokus pada pekerjaanya itu.

“Udah ganteng, gemesin lagi mukanya, sayang banget sama pacarnya lagi. Beuh! Bahagialah kalau gue punya pacar kayak Revan,” katanya lagi seolah begitu kagum pada Revan.

Cewek itu menghentikan aktivitasnya dan menatap temanya itu yang terus berbicara di sampingnya.”Tapi kalau marah serem anjir. Gue aja waktu lihat Revan marah sama Rendi sampai nangis, serem banget liatnya,” katanya kembali mengingat kejadian dulu saat Revan benar-benar kalap di sekolah.

Si cewek yang masih belum kebagian peran itu mengangguk membenarkan.”Tapi dia gitu karena nggak terima Vania disakitin. Sweet banget anjir.”

“Udahlah jangan halu mulu.” temanya itu hanya menghembuskan nafas lesu, sambil membayangkan bagaimana jika

***

“Mau kemana si, Re? Aku mau ke kelas lagi,” ucap Vania saat Revan terus membawanya entah kemana. Revan tidak menjawab, dia kemudian mengajak Vania untuk duduk di kursi tepi lapangan.

“Kamu nggak kenapa-napa?” tanya Revan khawatir sambil merapikan rambut Vania, posisi duduk cowok itu menghadap Vania.

“Aku nggak apa-apa, Re.” Revan yang mendengarnya bernafas lega.

“Nanti kamu minta maaf sama Rini.”

Revan mengkerutkan dahinya.”Kenapa harus minta maaf?”

“Kamu tadi marahin dia,” kata Vania setengah kesal.

Revan menghembuskan nafasnya kasar.”Dia hampir tampar kamu.”

“Tapi itu di luar kendali.”

“Ya ta–”

“Minta maaf,” potong Vania penuh penekanan.

“Fine!” ujar Revan setengah kesal.

Vania mengembangkan senyumnya mendengar itu, lalu dia mencubit gemas pipi Revan karena ekspresi cowok itu yang ditekuk.”Sakit, Van.

,” ujar Revan sambil meringis.

“Kamu kalau cemberut gitu kayak bukan kamu tahu,” ujar Vania sambil sedikit tertawa.

Revan menatap Vania dengan masih memasang ekspresi seperti tadi.”Maksud kamu?”

Vania mendekat lalu memegang sebelah wajah cowok itu.”Mukanya jadi gemesin, jadi nggak kayak Revan si Singa sadis. Tapi Revan si cowok imut yang manja banget sama pacarnya,” kata Vania sambil kembali tertawa dan mencubit lagi pipi Revan dengan gemas.

“Jangan cubit terus, Van,” kata Revan sambil berusaha melepaskan cubitan Vania.

Vania melepaskan cubitanya dengan kekehan pelan lalu mengusap lembut pipi cowok itu yang merah karena ulah dirinya.

“Kamu nggak jadi Cinderella, kan?” tanya Revan.

Vania menggeleng pelan sambil menurunkan tanganya.”Nggak kok. Aku nanti yang make-up mereka waktu tampil.”

Revan tersenyum lalu mengacak gemas rambut Vania pelan.”Bagus. Terus yang jadi Cinderella siapa?” tanya Revan karena memang dia belum tahu siapa yang memainkan peran dalam drama tersebut.

“Amanda.”

“Amanda?” beo Revan, membuat Vania mengangguk.

“Emangnya kenapa kalau aku yang jadi Cinderella? Lagian aku sempat disuruh ambil peran itu.”

“Ya jangan lah,” sambar Revan cepat.

“Kenapa jangan?” tanya Vania heran.

Revan mendekat lalu mengusap lembut pipi Vania.”Nanti pasti banyak anak cowok yang nonton kamu waktu tampil. Terus nanti pasti ada adegan dansanya. Itu, kan, sama cowok. Tambah lagi nanti anak cowok yang nonton pasti fokusnya sama kamu terus. Aku nggak mau, ya, mereka lirik-lirik kamu kayak gitu, apalagi yang jadi Pangerannya nanti. Enak banget pegang-pegang kamu,” jelas Revan begitu terdengar possesive.

Vania terkekeh atas ucapan Revan.”Possesive amat si.”

“Kamu itu milik aku, aku nggak suka berbagi.”

“Iya Revan.”

***

Hari senin, hari pertama ujian kenaikan kelas untuk kelas X dan XI. Dan sekarang sedang jam istirahat. Revan dan Vania sedang mengobrol di depan kelas Vania.

“HALLO PAK BOS?!” ujar Kevin tiba-tiba datang menyapa Revan. Revan hanya tersenyum lalu ber-high five dengan Kevin. Vania hanya tersenyum tipis saat Kevin juga menyapanya.

“Apa kabar lo?” tanya Kevin.

“Baik,” jawab Revan seadanya.

“Apel mulu cie,” goda Kevin.

“Suka-suka gue lah,” jawab Revan.

Kevin hanya terkekeh kecil mendengarnya. Di baru teringat soal informasi yang baru dia dapatkan tadi pagi.”Oh iya, Re.” Revan hanya menunggu Kevin melanjutkan ucapanya.

“Soal, David, Zero sama Justin. Mereka udah sadar,” lanjut Kevin, membuat Revan seketika mengepalkan tanganya kuat. Gigi-giginya pun dia gertakan karena mendengar kabar yang kurang menyenangkan ini.

“Kapan?” tanya Revan begitu terdengar dingin. Vania dapat meliha raut wajah Revan yang berubah menjadi dingin dan datar, juga mata cowok itu yang berubah menajam.

“Kata Dewa. David sama Justin udah sadar dua hari yang lalu. Kalau Zero, baru sadar tadi malam,” jelas Kevin. Wajar sih kalau Zero yang paling lama sadar, toh dia yang paling babak belur.

Revan masih mengepalkan tanganya kuat mendengar itu. Sial! Rasa-rasanya dia masih belum puas menghajar mereka semua.

Kevin yang melihat raut muka Revan yang berubah langsung merasa bersalah karena memberitahukan informasi ini pada Revan.”Kalau gitu. Gue pamit dulu ya, Re?” Revan hanya berdeham menjawabnya.

“Hey?” kata Vania lembut sambil menarik wajah Revan pelan dengan sebelah tanganya agar cowok itu bisa melihat dirinya.

Pandangan Revan masih tajam, apalagi saat menatap Vania. Terbesit ingatanya saat Vania terluka karena insiden waktu itu. Buku-buku jarinya bahkan sampai memutih karena menahan emosi yang terkumpul dalam dirinya.”Tenang ya? Nggak usah peduliin mereka,” kata Vania. Dia tahu Revan sedang menahan emosinya.

“Mereka udah berani sentuh kamu,” ujar Revan penuh penekanan. Harga dirinya benar-benar merasa tercoreng saat Vania diperlakuan seperti itu oleh mereka. Bukan hanya soal harga diri, Revan juga sangat sakit jika mengingat bagimana Vania terluka dan disakiti.

“Re. Itu udah berlalu, nggak usah diinget lagi. kamu pernah bilang, kan, sama aku? Jangan ingat apapun yang buat kita sakit.”

“Sayang? Kamu denger, kan?” ucap Vania lagi.

Pandangan yang semula tajam perlahan kembali teduh, emosinya perlahan mulai menghilang saat melihat tatapan Vania dan senyum yang begitu menenangkan.”Iya,” jawab Revan, membuat Vania mengembangkan senyumnya.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here