Untuk Revan #50

0
202
views

Kelakuan Revan


“Punten Assalamu’alaikum.”

Semua penghuni kelas XI IPA 3 itu menoleh kearah pintu saat Irfan mengucapkan salam.

“Wa’alaikumsalam,” jawab semua.

“Ada apa Irfan?” tanya Pak Helmi yang sedang menulis di papan tulis.

Irfan tersenyum kikuk.”A-anu, Pak. Saya mau ketemu Vania.”

“Eh nikung lo, Fan!”

“Wahh… makan temen lo!”

“Auto ngamuk Revan!” seru anak cowok teman sekelas Vania yang memang kenal dengan Irfan. Sementara Vania hanya tersenyum kecil menanggapinya.

“Enak aja lo semua!” jawab Irfan dengan raut muka kesal, membuat sekelas tertawa karenanya.

Pak Helmi menggelengkan kepalanya pelan mendengar perdebatan para muridnya itu, pria itu kemudian melirik Vania, Vania yang mengerti lantas segera menghampiri Irfan.

“Ada apa?” tanya Vania setelah sampai di hadapan Irfan.

“Revan, Van.”

Vania mengkerutkan dahinya bingung.”Revan kenapa?” tanya Vania dengan nada cemas.

“UKS.”

***

Vania berjalan tergesa di koridor setelah mendapatkan izin dari Pak Helmi, dia segera melesat menuju UKS, sedangkan Irfan kembali ke kelasnya. Kata Irfan, cowok itu terbaring di UKS. Entah apa sebabnya, Irfan tadi tidak mengatakanya tadi.

Saat masuk, suasana UKS sepi, dokter yang berjaga atau petugas PMR juga tidak ada disini. Pandangan Vania teralihkan saat melihat seorang yang tengah berbaring di bilik tengah.

Vania lansung menghampiri Revan yang ternyata memang sedang terbaring dengan menutup mata, wajah cowok itu pucat, rasa khawatir itu semakin menjadi saat melihat selang oksigen terpasang dihidungnya.

Vania mengusap puncak kepala Revan lembut dengan wajah cemasnya. Sentuhan itu ternyata membuat Revan terusik, Revan mengerjap-ngerjapkan matanya untuk mengembalikan pandanganya yang kurang jelas. Dahinya mengkerut saat melihat Vania tengah menatapnya cemas.”Vania?”

“Kenapa bisa kayak gini?” tanya Vania parau.

Revan berusaha duduk.”Jangan dulu duduk, diem aja,” ucap Vania, tetapi Revan tidak menghiraukanya yang mana membuat Vania membantu cowok itu agar bisa bersandar dengan posisi setengah duduk.

“Kenapa kamu bisa ada disini?”

“Nggak penting. Yang jelas, kenapa kamu bisa kayak gini? Sesak lagi?” tanya Vania terkesan menuntut

Revan memalingkan pandanganya, dia hanya diam.

“Re? Kenapa diam?”

“Siapa yang bilang aku disini?” tanya Revan mengalihkan pembicaraan. Tadi dia bilang pada Irfan dan Saka untuk tidak memberitahukan dirinya ada disini pada Vania, tapi mungkin kedua temanya itu malah memberitahukanya pada Vania. Bisa dipastikan Irfan yang berbicara, Revan tahu kelakuan temanya itu bagaimana.

Vania menghembuskan nafasnya kasar karena Revan mengalihkan topik pembicaraan.”Jangan ngalihin topik!”

“Kamu kenapa bisa kayak gini?!” tanya Vania geram.

Revan menghembuskan nafasnya.”Berantem,” jawab Revan sambil memalingkan wajahnya. Dia yakin Vania akan marah padanya.

Jawaban singkat, padat dan jelas itu membuat Vania membulatkan kedua bola matanya. Baru beberapa hari Revan masuk sekolah, tetapi cowok ini sudah kembali berkelahi. Vania mencoba menahan emosinya.”Sama siapa?”

“Radit kelas XII.”

“Sebabnya?”

Revan melirik Vania sekilas yang tengah bersidekap dada sambil menatap datar kearahnya. “Aku nggak terima dia laporin aku ke OSIS.”

“Kenapa dia laporin kamu ke OSIS?”

Vania masih menginterogasi Revan dengan nada dingin.

“Karena aku ngerokok di taman belakang,” jawab Revan sambil kembali melirik Vania sekilas dengan muka cemasnya. Takut-takut Vania marah lagi padanya seperti saat dia ketahuan kabur ke ruang GYM.

“Siapa yang salah?”

“Dia lah!” jawab Revan dengan nada kesal, rasa-rasanya dia ingin kembali menghajar Radit si anak genius yang sering ikut olimpiade itu. Sok merasa paling benar sekali dia, pikir Revan.

Vania menghembuskan nafasnya kasar mendengar jawaban dari Revan. Revan ini, dia yang salah tapi dia sendiri yang nyolot.”Terus kenapa bisa sampai kayak gini?”

“Radit benturin kepala aku ke tembok sebelum aku hajar dia sampai pingsan,” jelas Revan. Benar kejadianya seperti itu. Radit memang pingsan dengan pukulan sekali telak dari Revan. Dan cowok itu sudah kembali ke kelasnya sebelum tadi Revan dibawa ke UKS.

Wajah Revan memang masih aman tanpa ada luka lebam atau yang lainya, karena Radit tidak bisa memukul Revan walau satu kali pun.

Tadi cowok itu memang memang sempat merasakan sakit pada kepalanya, persis seperti saat malam dimana teman-temanya datang ke rumah untuk menjenguknya, berakhir dengan dia yang sulit bernafas dan pingsan. Untung saja kondisi cowok ini tidak drop lagi saat tadi dia diperiksa oleh dokter yang berjaga di UKS.

Vania yang mendengar itu kaget.”Selain ini? Nggak ada yang luka?” tanya Vania cemas.

Revan menunjuk kepala bagian kananya, yang mana membuat Vania segera menelitinya. Memang ada luka, tetapi tidak terlalu besar. “Udah diobatin?” Revan hanya mengangguk.

Revan melepaskan selang oksigenya dengan wajah ditekuk, lagi-lagi dia harus bertemu dengan alat ini. Menyebalkan. Vania yang melihat itu segera mencegahnya.”Please. Jangan larang aku,” ujar Revan.

“Jangan bandel.”

Revan menghembuskan kasar sambil mengalihkan pandanganya.”Kali ini aja,Van,” kata Revan sambil kembali beralih menatap Vania.

Ucapan Revan yang terkesan pelan dan sorot matanya yang meredup membuat Vania perlahan menurunkan tanganya. “Oke.” Revan yang mendengar itu tersenyum tipis, lalu dia melepaskan selang oksigen itu.

Detik berikutnya Vania kaget karena Revan memeluknya.”Jangan marah ya?” kata Revan sambil menengadahkan kepalanya untuk melihat Vania.

Vania kembali menghembuskan nafasnya kasar dengan kelakuan Revan. “Van?” panggil Revan lembut, mencoba membujuk agar Vania tidak marah padanya.

Vania menunduk karena Revan yang memeluknya dengan posisi setengah duduk. Dengan gemas Vania menyentil dahi cowok itu, membuatnya sedikit mengaduh.”Bandel banget! Baru juga sekolah!” geram Vania sementara Revan hanya nyengir lebar dan kembali memeluk Vania begitu erat dengan posisi kepala cowok itu yang menghadap samping kanan. Vania menggelengkan kepalanya melihat itu, satu tanganya beralih mengusap lembut puncak kepala Revan, yang mana membuat cowok itu terlena dan nyaman.

Vania mengambil ponsel dari saku roknya tanpa Revan sadari. Gadis itu akan menelpon Bundanya Revan agar cowok itu bisa dijemput untuk pulang dan beristirahat di rumah.

“Halo, Bun?” kata Vania saat panggilan sudah tersambung.

Revan yang mendengar itu terkejut dan langsung menatap Vania dengan wajah kagetnya.”Kamu telpon Bunda?”

Vania menganguk mengiyakan.”Iya, Bun, ini Re–”

“Halo, Bun?” belum sempat Vania menyelesaikan ucapanya, Revan merebut ponsel Vania dan beralih dia yang berbicara.

“Siniin!”

“Revan!” Revan tetap menjauhkan ponselnya dari jangkauan Vania saat Vania berusaha merebutnya.

“….”

“Nggak, apa-apa kok, Bun,” kata Revan saat Bundanya menanyakan kabar dirinya.

“….”

“Vania tadi cuma mau bilang, katanya mau bikin bolu sama Bunda pulang sekolah nanti,” ujar Revan sambil menatap Vania dengan senyum jahilnya.

Sementara Vania kaget. Hello! Vania tidak ingin memberitahukan hal itu pada Bunda Jasmine. Tapi ini Revan malah bilang begitu? Benar-benar Revan ini. Kerjaanya bikin orang naik darah mulu. Untung Vania sabar menghadapi sikap Revan yang menyebalkan seperti ini.

“….”

“Ok, Bun.” Revan menutup telponya lalu memberikan ponsel itu pada pemiliknya. Vania mengambil ponselnya dengan wajah kesal. Sementara Revan mulai was-was karena merasa aura-aura kemarahan Vania akan segera muncul.

“Nanti pulang sekolah ke rumah ya? Bunda nungguin,” kata Revan dengan senyum yang dibuat selebar mungkin.

Vania masih memasang raut datar.”Kenapa tadi kamu bilang gitu sama Bunda?” Revan tahu tadi Vania pasti akan memberitahukan kondisinya pada Bundanya. Jika itu terjadi, bisa-bisa dia tidak diperbolehkan sekolah lagi. Bisa fatal itu jika dia kembali ke rumah. Itu sangat-sangat membosankan.

Vania bersidekap dada.”Sayang? Kenapa kamu bilang gitu hmm?” tanya Vania lagi dengan nada lembut tetapi kesanya Vania sedang menahan kesal walau senyum pada wajahnya tercetak. Senyum paksaan itu.

“Aku tahu kamu pasti mau bilang sama Bunda, kan?” Vania mengangguk pelan saat Revan menatapnya sekilas karena cowok itu tadi berbicara mengalihkan pandanganya.

“Aku nggak mau Bunda tahu, dia pasti bilang sama Ayah. Nanti Ayah bakal larang aku buat ke sekolah.”

Vania mendekat dan menarik cowok itu dalam pelukanya.”Makanya jangan bandel ya? Sekolah aja yang anteng, nggak usah berantem-berantem.”

“Radit sendiri yang cari masalah,” ujar Revan tidak terima sambil membalas pelukan Vania.

“Iya, iya, Revan,” jawab Vania sabar. Sudahlah, jika Vania tidak mengalah, sampai pulang sekolah pun perdebatan keduanya pasti tidak akan selesai karena Revan yang terlalu keras kepala.

Vania melepaskan pelukanya, membuat Revan menatap Vania dengan kepala yang sedikit menengadah.”Tunggu disini, ya? Aku mau ambil tas kamu sama tas aku. Sama sekalian izin sama Bu Mirna.”

Revan mengeryitkan dahinya bingung.”Loh, memang mau kemana?”

“Pulang.”

“Kok pulang sih?” tanya Revan heran.

Vania mengibas-ngibaskan satu tanganya.”Udah-udah, jangan ngebantah.”

“Tapi nanti Bun–”

“Soal Bunda biar aku yang urus,” potong Vania.

“Kalau kamu nolak, aku bilang langsung sama Ayah,” kata Vania lagi saat Revan hendak membuka suara, yang mana ucapan Revan harus berhenti diujung lidah.

“Ok,” jawab Revan ogah-ogahan, membuat Vania mengembangkan senyumnya.

“Terus pulang naik apa? Kita, kan, tadi diantar Mang Rijal.”

“Amanda bawa mobil, biar dia pulang sama Saka.”

Revan yang mendengar itu menghembuskan nafasnya kasar.”Ok. Tapi aku yang bawa.”

“Oh tidak bisa!” sambar Vania cepat.

“Bawa mobil doang, nggak sampai salto, Van.”

Vania tetap menggeleng, dia lalu mengangkat ponselnya yang masih dia pegang. Revan yang mengerti memutar bola matanya. Hal tersebut membuat Vania menahan tawa karena melihat ekspresi Revan yang kesal.

“Tunggu ya.” Revan hanya menjawab dengan dehemanya. Lalu Vania pergi, sebelum pergi dia mengacak rambut Revan gemas tetapi wajah cowok itu tetap ditekuk. Vania memang benar-benar pawang Singa.

“Pengen gue hukum rasanya,” guman Revan geregetan sambil menatap Vania yang kini sudah menghilang. Tahu, kan? Hukuman Revan itu bagaimana?

“Awas aja nanti di rumah,” gumam Revan lagi dengan kekehan kecil.

***

Cup!

Pipi Vania bersemu saat dia sedang menyetir dan Revan mencium pipinya sekilas. Revan yang melihat pipi Vania bersemu terkekeh pelan.

“Merah gitu kayak tomat,” kata Revan menggoda sambil sedikit terkekeh.

“Kok diem mulu si?!” ujar Revan tidak tahan saat Vania hanya diam saja dengan wajah yang masih memerah. Ayolah, Vania merasa malu sekarang.

Revan mendekatkan wajahnya ke arah Vania sehingga Vania memundurkan wajahnya.”Kamu mau ngapain si?!” ujar Vania was-was.

“Pengennya si hukum kamu. Tapi.” Revan menggantungkan ucapanya sambil menggigit bibir bawahnya menahan tawa.

“A-apaan si?! Aku lagi nyetir ya! Jangan ganggu!” jawab Vania disela-sela menyetirnya, sesekali dia melirik Revan dengan ekor matanya. Wajah cowok itu masih tetap seperti tadi.

Revan tertawa pelan sambil sedikit mengacak rambut Vania gemas.”Tapi nanti aja deh di rumah,” lanjutnya.

Ck! Hello! Memangnya Vania melakukan kesalahan apa tadi? “Aku nggak cemberut ya, Re!”

“Suruh siapa nggak bolehin aku nyetir,” ujar Revan sambil kembali duduk dengan benar, membuat Vania sedikit bernafas lega.

“Kalau pun aku izinin kamu nyetir. Sampai rumah juga kamu pasti dimarahin sama Bunda.”

Benar juga. Ya tapi tetap saja Revan ingin dia yang menyetir. Bisa, kan? Di depan gerbang komplek mereka gantian menyetir?

“Ya tapi bisa, kan? Sampai gerbang komplek doang?”

Vania memutar bola matanya. Keras kepala! Ingin menang sendiri.”Terserah kamu deh!” ujar Vania mulai kesal.

Revan hanya melirik Vania sekilas dengan wajah yang kembali ditekuk. Sejujurnya ekspresi Revan jika sudah ditekuk seperti itu benar-benar lucu dan menggemaskan. Seperti bukan Revan yang terkenal sebagai Singa yang sadis dan Raja jalanan, melainkan seperti cowok imut yang sangat manja pada pacarnya. Vania saja jika sudah melihat ekspresi Revan yang seperti itu ingin habis-habisan mencubit gemas kedua pipi cowoknya itu, ya karena memang selucu dan semenggemaskan itu.

Setelahnya hanya keheningan yang terjadi, sampai Vania berhenti karena lampu merah.

Jarak dari sekolah ke rumah Revan memang cukup jauh, sehingga harus memakan waktu dua puluh menit lamanya, itu pun kalau tidak macet. “Re, ka–” Vania menghentikan ucapanya saat melihat Revan yang tertidur dengan damainya.

Senyum manis terukir diwajah Vania, tanganya kini beralih mengusap lembut rambut Revan, lalu turun mengelus lembut pipi cowok itu.”Nyebelin! Keras kepala! Bandel! Mau menang sendiri! Hobynya bikin khawatir mulu!” ucap Vania pelan dengan nada kesal.

Vania menghembuskan nafasnya, lalu mendekat kearah Revan dan mencium pipi cowok itu cukup lama.”But, i love you,” bisiknya pelan.

***

Jasmine geleng-geleng kepala saat mendengar penjelasan Vania. Dia dan Vania sedang di ruang tamu sekarang. Sedangkan Revan? Cowok itu kembali melanjutkan tidurnya karena Jasmine dan Vania yang menyuruhnya. Namun seperti biasa, jika mau tidur Vania harus mengusap rambut cowok itu sambil memeluknya. Kalian pasti sudah tahu kebiasaan Revan yang satu itu dan posisinya bagaimana.

Tidak lupa, Revan berpesan pada Vania bahwa dia jangan dulu pulang sebelum Revan mengizinkanya pulang. Kalau tidak mengiyakan, ribet urusanya. Tadi Jasmine juga sudah menelpon pada Viola kalau Vania ada di rumahnya agar nantinya jika Vania pulang telat, Viola dan Fahri tidak perlu cemas.

“Tapi Bunda jangan bilang sama Ayah, ya?”

“Kenapa?” tanya Jasmine heran.

Vania kembali mengingat ucapan Revan yang tidak mau Bunda dan Ayahnya tahu.”Vania takutnya Ayah nggak izinin Revan buat sekolah lagi karena denger kejadian ini,” kata Vania pelan sambil menatap Jasmine penuh harap.

Jasmine berfikir. Benar, Suaminya itu pasti melarang Revan untuk ke sekolah karena mendengar kejadian ini, namun Jasmine juga khawatir dengan keadaan Revan. Tetapi, saat kembali mengingat bagaimana sikap Revan yang murung saat berada di rumah saja, membuat Jasmine berfikir dua kali untuk membicarakan hal ini pada Suaminya.

Jasmine menghela nafas pelan.”Ya udah, Bunda nggak akan bilang sama Ayah.” Vania yang mendengar itu mengembangkan senyumnya.

“Makasih, Bun.” Jasmine hanya mengangguk kecil dengan senyumanya.

“Tapi, Bunda minta tolong sama kamu awasin Revan di sekolah ya? Kalau Revan bandel, marahin aja nggak apa-apa,” ujar Jasmine lagi sambil sedikit terkekeh.

Vania mengangguk.”Bunda tenang aja. Vania pasti awasin Revan,” kata Vania, membuat Jasmine yang mendengarnya tersenyum lega. Jasmine yakin Vania bisa mengatasi kelakuan Putranya yang kelewat bandel dan keras kepala itu.

“Kalau gitu. Kita bikin bolu aja daripada kamu bosen disini. Lagian tadi kamu bilang itu cuma akal-akalan Revan aja, kan?”

Vania mengangguk sambil sedikit terkekeh.”Ayo, Bun.” Lalu keduanya mulai pergi ke dapur.

“Eh bentar.”

“Kenapa, Bun?” tanya Vania heran saat Jasmine menghentikan langkahnya, membuat Vania ikut berhenti.

“Kamu, kan, masih pakai baju sekolah. Kamu ganti baju dulu, ya?”

“Tapi Vania nggak bawa baju ganti, Bun.”

Jasmine tersenyum lalu beralih merangkul Vania.”Bunda waktu itu belanja sama Kak Sheila. Dan Bunda lihat baju yang kayaknya cocok buat kamu, jadi Bunda beliin buat kamu.”

“Ya ampun, Bun. Padahal Bunda nggak perlu repot-repot beliin Vania baju,” ucap Vania merasa tidak enak.

“Sayang. Jangan sungkan gitu sama Bunda.” Jasmine mengantungkan ucapanya lalu mencubit gemas pipi Vania pelan.”Kamu, kan, calon menantu Bunda.”

Pipi Vania langsung bersemu mendengar itu. Rupanya selain Revan, para kedua orangtua Revan dan Vania juga ngebet ingin segera menikahkan mereka berdua.

Jasmine tertawa pelan melihat Vania yang malu-malu, lalu dia mengajak Vania untuk berganti baju.

***

“Re?”

“Revan bangun. Makan dulu,” ujar Vania mencoba membangunkan Revan yang masih tertidur.

Revan bergumam tidak jelas, lalu detik berikutnya cowok itu membuka matanya secara perlahan. Bukanya segera bangun, Revan malah tersenyum sambil memandangi Vania, membuat Vania merasa sedikit salah tingkah di tatap seperti itu.”Ayo bangun,” kata Vania lagi.

“My wife is so beautiful.”

“Heh! Belum nikah ya!” tegur Vania, membuat Revan malah tertawa.Ya walau tidak bisa dipungkiri bahwa hati Vania berdesir mendengar itu.

“Ayo cepetan bangun! Makan siang dulu!” ujar Vania lagi, kali ini nadanya sedikit kesal.

Revan menggeleng, dan malah menarik Vania sehingga Vania jatuh dalam pelukanya.”R-Revan! Jangan mulai ya!”

“Nanti aja makanya, pengen kayak gini dulu,” ujar Revan sambil mempererat pelukanya.

Vania menghembuskan nafasnya kasar mendengar jawaban dari Revan. Detik berikutnya Vania merasa nyaman karena Revan mengusap puncak kepalanya lembut. Wangi strawberry dari rambut Vania begitu membuat Revan semakin tidak mau melepaskan gadis ini dalam dekapanya.”Kamu tadi pulang dulu?” tanya Revan.

“Nggak,” jawab Vania. Kali ini dia membalas pelukan cowok itu.

“Kamu bawa baju ganti?” tanya Revan. Revan sangat suka dan semakin gemas saat melihat Vania memakai baju dress bunga selutut dengan warna merah maroon yang tidak mencolok.

“Nggak. Bunda yang kasih baju ini buat aku.”

Revan tersenyum mendengarnya.”Makin gemes aku sama kamu.”

Vania mendongakan kepala sehingga Revan memberikan ruang untuk gadis itu.”Kalau aku gemes karena kamu bandel banget!” ujar Vania sambil mencubit pipi Revan dengan gemas sehingga membuat Revan meringis karena cubitan Vania cukup keras. Bahkan pipi cowok itu yang putih sampai merah, dan Vania malah tertawa melihatnya.

“Kencang banget nyubitnya.”

“Biarin wle,” kata Vania sambil sedikit menjulurkan lidahnya.

Revan memasang senyum jahil. Dia baru ingat soal kejadian tadi saat di mobil. Ngomong-ngomong soal mobil, tadi Amanda dan Saka datang kemari untuk mengambilnya.

Vania mengkerutkan dahinya saat melihat senyum Revan yang mencurigakan.”Kamu kenapa?”

Revan tidak menjawab, dia malah semakin mendekatkan wajahnya, membuat Vania memundurkan wajahnya namun hasilnya nihil karena tangan cowok itu menahan tengkuknya.”Mau hukum kamu.”

Dan, kalian tahu sendiri jawaban dari tragedi ini apa.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here