Untuk Revan #49

0
217
views

Kejadian di Balkon


Revano Anggara. Cowok itu keluar dari mobil sambil memasangkan kacamata hitamnya. Slayer hitam dengan motif tengkorak terikat dikepalanya. Bajunya yang sengaja tidak dikancingkan, membuat kaos hitamnya terpampang jelas dengan kalung perak sayap garuda yang tergantung sampai dadanya, tidak lupa dengan sepatu vansnya. Stelan badboy and fakboi banget.

Dan saat itu juga SMA Cakrawala benar-benar ricuh. Revan lalu berjalan untuk membukakan Vania pintu, perlakuan manis Revan yang membukakan pintu sambil mengulurkan tanganya, membuat kaum hawa menahan pekikanya.

Vania menerima uluran itu sambil tersenyum, lalu keduanya mulai berjalan menuju kelasnya sambil bergenggaman tangan.

“PEMANDANGAN YANG SANGAT MENYEGARKAN DIPAGI INI!”

“YUHUUUU COGAN SMA CAKRAWALA BALIK!”

“REVAN APA KABAR?!”

“MANTAANNN KUUU, KAMU SUDAH SEMBUH SAYANG?!”

“HONEYYY! APA KABAR GANTENG?!”

“SAYANG KAMU UDAH SEMBUH?!”

SMA Cakrawala dipagi hari benar-benar ricuh dengan kembalinya Revan. Cowok itu sudah diperbolehkan sekolah, setelah tadi malam dia marah-marah nggak jelas pada semua orang di rumah. Revan memang diperbolehkan sekolah, dengan syarat, dia tidak boleh membawa kendaraan dan harus diantarkan Mang Rijal. Setelah acara makan malam di rumah Vania dua hari yang lalu, kondisi Revan memang jadi lebih baik.

Dari mana mereka tahu Revan sakit? Ck! Insiden yang bisa disebut perang itu memang sudah menggemparkan warga sekolah, apalagi dengan Rendi anak dari pemilik sekolah yang ikut terlibat semakin membuat SMA Cakrawala gempar. Bisa dipastikam bukan hanya satu sekolahan yang gempar.

Dan dengan santainya, cowok itu tersenyum manis kearah mereka semua, sesekali dia melambaikan tanganya. Ok! Jiwa fakboi Revan mungkin sedang kumat.

Vania yang melihat itu memasang raut masam, apalagi dengan pekikan-pekikan alay itu. Baru sekolah sudah berulah, ingin rasanya Vania tendang Revan yang sedang tebar pesona kesana-kemasi. Walau tangan Revan menggenggamnya hangat dan nyaman, tapi tetap saja Vania merasa kesal dengan kelakuan Revan yang tengil pagi ini.

Vania berdeham.”Tebar pesona aja terus!” gerutu Vania, namun masih bisa terdengar oleh Revan.

Revan sedikit terkekeh, lalu dia beralih merangkul Vania, sementara Vania hanya memalingkan wajahnya.”Cemburu ya?” goda Revan

“Nggak!” ketus Vania.

Revan kembali terkekeh, lalu dia mencubit gemas pipi Vania.”Sakit tahu!” kesal Vania.

“Calon Istri jangan cemburu ya.”

Muka Vania jadi langsung memerah mendengar itu.”A-apaan si, Re?!” ucap Vania malu-malu.

“Mau kapan dilamarnya?” tanya Revan berbisik dengan senyumnya, membuat Vania langsung menoleh dengan wajah merah karena malu.

“Ish! Kamu ya! Lulus aja belum!”

“Ya biarin. Ntar kalo ada yang ganggu kamu bilangnya bukan pacar lagi. Tapi calon Istri,” jawab Revan sambil kembali mencubit pipi Vania gemas. Vania tidak menjawab, dia hanya memalingkan wajahnya ke samping karena malu.

Mereka jadi sorotan sepanjang perjalanan menuju kelas. Bisa dipastikan, kaum jomblo gigit jari dengan kelakuan mereka berdua.

Mereka berdua akhirnya berhenti di depan kelas Vania. Revan bukanya pergi, malah merapikan rambut Vania yang agak berantakan.

“Nggak mau ke kelas?” tanya Vania.

Revan menghentikan aktivitasnya, dia menghembuskan nafasnya pelan.”Pengennya sih nggak. Tapi udah mau masuk,” ujar Revan agak sedikit kesal.

“Kenapa nggak mau?”

Revan menggeleng pelan.”Maunya sama kamu.”

Astagfirullah. Seperti prangko saja Revan ini. Nempel terus dengan Vania.

“Yaampun, Re. Aku juga nggak bakal diculik.”

“Ya udah, aku ke kelas,” jawab Revan malas. Vania hanya mengangguk menanggapinya.

Revan berjalan menuju kelasnya, sebelum berjalan, dia mengusap puncak kepala Vania lembut. Namun baru dua langkah, dia kembali berbalik.

“Apa lagi?” tanya Vania heran.

Revan menampilkan senyumnya.”Istirahat jangan dulu keluar sebelum aku datang.”

“Iya,” jawab Vania sabar.

“Nanti kalau ada yang jahil sama kamu di kelas bilang aja.”

“Iya.”

“Nanti kalau ada yang lirik kamu juga bilang.”

Vania menghembuskan nafasnya kasar.”Iya Revan iya.”

Revan tersenyum lebar mendengarnya. Bukanya melanjutkan langkahnya, dia malah kembali melangkah menuju Vania sambil membuka kacamata hitamnya.

“Apalagi Revan?” tanya Vania kembali heran dengan tingkah Revan.

Revan tidak menjawab, dia malah melihat sekitar dan melihat ke dalam kelas Vania. Dirasa cukup sepi, Revan langsung memeluk Vania.”Sayang calon Istri,” bisiknya sambil mengusap puncak kepala Vania lembut, yang mana seketika membuat wajah Vania memerah.

Dirasa cukup, Revan kemudian pergi tanpa sepatah kata pun. Kalau Vania? Dia masih terdiam kicep ditempatnya. Detik berikutnya Vania mengembangkan senyumnya.”Sayang kamu juga, calon Suami,” gumam Vania sambil terkikik geli.

***

“Pacar baru alhamdulilah
Di gandeng takutnya ngilang
Kaum jomblo bisanya apa
Ya bisanya liatin doang,” senandung Irfan dengan lirik yang dia ubah sendiri sambil melihat pasangan baru di depanya yang sedari tadi gandengan tangan. Sejujurnya Amanda sedikit risih, namun cowoknya ini kelihatanya tidak peduli dengan sekitar yang mana membuat Amanda hanya bisa pasrah dan menurut.

“Ayang Rini?”

“Apa lo?! Ayang, Ayang?!” sewot Rini, membuat Irfan mengusap dadanya pelan sambil mengucap ‘istigfar’ dalam hati.

“Galak amat.”

“Serah gue lah!” kesal Rini.

“Rini Nazila. Will you be my girlfrend?”

“Nggak jelas lo ah!” kesal Rini sambil berlalu pergi diikuti Irfan yang mengekor di belakangnya.

Mereka berenam memang sedang berjalan menuju kantin, dengan Revan yang beriringan dengan Vania, Saka yang beriringan dengan Amanda, dan Rini beriringan bersama Irfan walau tanpa status yang lebih dari teman. Bahkan sedari tadi Rini dan Irfan terus ribut hanya karena Irfan yang terus menggoda Rini.

Revan, Vania dan Amanda terkekeh melihat itu, Saka? Seperti biasa, dia hanya cuek dan tidak peduli.

“Bisa jodoh mereka,” ucap Revan sambil sedikit terkekeh.

Vania mengangguk kecil.”Bisa jadi tuh.”

Lapangan sedang diisi oleh anak basket, yang mana membuat perhatian Vania teralihkan. Revan yang melihat itu tidak suka, lantas dia menarik wajah Vania agar berhadapan denganya.”Nggak boleh lirik yang lain ya?”

Vania terkekeh.”Cuma liatin yang main basket doang.”

Revan menggelengkan kepalanya.”Nggak, nggak. Mereka cowok, jadi nggak boleh ya?!”

Kan, Revan itu cemburuan banget.

Vania menghembuskan nafasnya kasar.”Iya, iya, Revan,” jawab Vania sabar.

“Cemburuan iya, possesive apalagi. Kalau gue jadi lo, Van. Udah kabur gue,” ujar Amanda yang memang berjalan di belakang keduanya.

Vania hanya tersenyum menangapinya.

“Jangan jadi penghasut ya lo!” kesal Revan.

“Gue nggak ngehasut!”

“Itu ta–”

“Udah-udah ya. Jangan ribut,” lerai Vania sehingga keduanya kembali diam.

Sampai di kantin, mereka langsung memesan makanan yang ingin mereka pesan. Setelahnya mereka mencari meja untuk makan, mereka duduk di meja kantin yang ada di pojok, karena memang itu tempat yang kosong.

“Oh iya. Kata Bunda, pulang sekolah kita fitting baju.”

“HUH?!”

Revan meringis saat teman-temanya itu keget secara bersamaan. Untuk Vania, dia hanya kaget sewajarnya karena dia juga baru tahu informasi ini.

“L-lo berdua mau nikah?” tanya Irfan setengah heboh.

“Gila! Gercep amat!” heboh Rini.

Amanda memasang ekspresi terkejut bukan main.”S-seriusan ini lo berdua mau nikah?” tanyanya tidak percaya.

Saka menggelengkan kepalanya pelan.”Emang bener-bener nggak mau Vania diambil orang ya lo?!”

Revan dan Vania yang mendengarnya saling tatap, detik berikutnya mereka tertawa, membuat teman-temanya itu heran. Apa yang lucu?

“Nggak mungkin lah, orang kita masih sekolah,” ujar Vania setelah tawanya reda.

“Nah, dengerin. Jangan heboh dulu,” kata Revan, membuat para teman-temanya menghembuskan nafas lega. Mereka kira keduanya akan nikah muda.

“Terus buat apa lo berdua fitting baju?” tanya Rini kepo.

Revan menghembuskan nafasnya terlebih dahulu.”Kata Bunda si. Fitting baju buat nanti di pertunangan Kak Sheila.” Mereka yang mendengar itu mengangguk mengerti.

“Bunda bikin baju buat kita? Kok aku nggak tahu?” tanya Vania heran

“Aku juga nggak tahu Bunda bikin baju. Baru tadi pagi aku dikasih tahu, tahunya udah disuruh fitting aja. Palingan Bunda sama Mama kamu yang rencanain ini semua tanpa sepengatuhan kita,” jelas Revan, membuat Vania berfikir.

Bisa jadi ini ulah Mama dan Bundanya Revan. Karena yang Vania lihat, Mamanya itu sering pergi keluar dengan Bundanya Revan.”Bisa jadi sih. Ya udah nanti kita datang.” Revan hanya mengguk mengiyakan.

“Bukanya acara pertunangan Kak Sheila masih dua minggu lagi?” tanya Amanda heran.

Revan mengedikan bahunya cuek.”Nggak tahu juga gue kenapa Bunda secepat ini nyuruh gue sama Vania fitting baju,” jawab Revan sambil kembali memakan makananya.

Mereka kemudian kembali berlanjut dengan obrolan-obrolan ringan, dilanjut dengan Irfan dan Rini yang menjadi bahan godaan agar mereka cepat jadian. Kasian, ngenes mulu lihat yang pacaran.

***

“Lama!”

“Tunggu sebentar ya?!”

“Nggak. Cepetan dong,” kesal Revan sambil menusuk-nusuk pipi Vania dengan jari telunjuknya.

“Diem Revan!”

“Revan diem ih!”

“Sibuk mulu!” kesal Revan sambil terus menusuk-nusuk pipi Vania dengan jari telunjuknya tanpa henti yang mana membuat konsentrasi Vania saat menyalin catatan yang belum dia salin harus terganggu.

“Diem dulu makanya! Aku salin catatan dulu!” kesal Vania sambil kembali fokus menyalin catatanya.

Setelah fitting baju. Malamnya Revan tahu-tahu sudah ada di depan pintu kamar Vania. Dan sekarang, cowok itu terus mengganggu Vania yang membuat Vania kesal.”Lama tahu!” ujar Revan tidak sabaran.

“Ini sedikit lagi.”

“Ya udah cepetan.”

Vania mendengus mendengarnya, dia tidak mengindahkan ucapan Revan dan kembali sibuk menyalin catatanya. Cowok itu yang bersandar di meja belajar Vania dengan jahilnya malah menarik buku yang sedang Vania tulis, membuat buku itu jadi tercoret.

Revan tertawa pelan melihat Vania yang memasang muka masam.”Nggak sengaja,” ujar Revan dengan cengiranya saat Vania menatapnya tajam. Padahal Revan sengaja itu.

Vania menghembuskan nafasnya kasar.”Sayang? Kamu itu maunya apa si? Udah aku bilang tunggu sebentar ya tunggu. Bisa nggak nurut?” kata Vania dengan nada kesal namun tertahan.

“Maunya kamu nggak sibuk sama buku.”

Vania menghembuskan nafasnya kasar mendengar penuturan Revan. Dasar keras kepala!

“Tunggu di balkon. Nanti aku nyusul.”

Revan memicingkan matanya.”Nggak lama?”

“Lima menit.”

Revan sedikit berfikir.”Deal!” ujar Revan final lalu dia berjalan menuju balkon. Sebelum pergi, dia mengacak rambut Vania gemas yang mana membuat Vania sedikit kesal.

Tok … tok … tok ….

“Vania sayang?!”

“Iya Ma?” jawab Vania sambil beranjak berdiri dan pergi menuju pintu.

“Ada apa, Ma?” tanya Vania setelah membuka pintu.

Viola menyerahkan sepiring bolu coklat ke hadapan Vania.”Kasih sama Revan. Dia suka bolu coklat, kan?” ujarnya.

“Loh. Mama kok tahu?” tanya Vania heran.

“Ya iya dong. Masa kesukaan calon menantu nggak tahu,” ujar Viola sambil sedikit terkekeh.

Vania yang mendengar itu membuat wajahnya bersemu.”Mama.”

Viola tertawa ringan melihat wajah Vania yang merah karena malu.”Ua dah sana. Kasih sama Revan.”

“Iya. Makasih ya, Ma.”

Viola mengangguk.”Sama-sama sayang,” jawab Viola sambil tersenyum lalu dia kembali berjalan kembali ke bawah.

Setelah Viola pergi, Vania kembali menghampiri Revan yang sedang duduk-duduk manis sambil menatap bintang di langit malam.

Pandangan Revan teralihkan pada Vania yang berdiri di sampingnya sambil membawa sesuatu, gadis itu kini beralih duduk di sampingnya.”Lama,” ujar Revan dengan nada kesal.

“Dari mana aja? Katanya l–”

“Jangan banyak ngomel ya? Makan aja bolunya,” ujar Vania sambil memasukan sepotong bolu ke dalam mulut Revan, membuat ucapan cowok itu harus terpotong karena suapan dadakan itu.

“Belum selesai ngomong juga,” kesal Revan setelah menelan bolunya, membuat Vania terkekeh mendengarnya.

“Enak nggak?”

Revan menganguk.”Mau lagi dong,” ujar Revan sambil membuka mulutnya. Vania yang mengerti lantas kembali menyuapi cowok itu. Dasar Singa manja!

“Siapa yang buat?” tanya Revan sambil beralih bersandar dipundak Vania.

“Mama sengaja bikin buat kamu,” jawab Vania seadanya.

Revan mengubah posisinya menjadi duduk dengan benar.”Seriusan?” Vania mengangguk mengiyakan.

Revan tersenyum mendengarnya.”Nanti aku ucapin makasihnya langsung aja deh.”

“Anak pinter!” ujar Vania sambil mengacungkan satu jempolnya, membuat Revan tertawa melihatnya.

Vania memakan satu potong bolu dengan Revan yang seolah sibuk memandangi Vania dan merapikan rambut gadis itu yang agak sedikit berantakan.”Kamu cantik banget pake baju tadi,” puji Revan tulus.

Vania yang mendengar itu beralih menatap Revan.”Makasih.” Revan hanya mengangguk kecil dengan senyum tipisnya.

Vania beralih mengusap rambut Revan.”Kalau Singa tadi nggak ganteng. Cuma makin ganteng,” ujar Vania diikuti tawanya. Revan yang mendengar itu ikut tertawa sambil mengacak rambut Vania gemas.

Detik selanjutnya Revan menarik wajah Vania, membuat Vania gugup karena jarak yang tidak bisa dibilang jauh. Terpaan nafas Revan dapat Vania rasakan menyapu halus wajahnya. Vania memejamkan matanya karena Revan terus mendekatkan wajahnya.

Revan sedikit terkeh melihat Vania yang menutup mata. Revan meniup wajah Vania.”Kok merem si?” katanya sambil tertawa.

Refleks Vania membuka matanya akibat ulah Revan. Mukanya merah karena malu. Dia memalingkan wajahnya kesamping menghindari tatapan Revan

Revan yang melihat itu gemas dan langsung mencubit pipi Vania.”Aw sakit tahu!” kesal Vania sambil berusaha melepaskan tangan Revan yang terus mencubit gemas pipinya.

“Gemes tahu.”

“Jadi pengen terkam kamu,” lanjut Revan geregetan sambil melepaskan cubitanya.

“A-apa kamu bilang?” tanya Vania gugup.

Revan tidak menjawab dan malah tersenyum membuat Vania was-was, cowok itu melingkarkan satu tanganya dipinggang Vania dan sedikit menarik gadis itu agar lebih dekat denganya.”R-Revan?” tannya Vania lagi dengan nada gugup.

“Hmmm?” jawab Revan pelan sambil mengusap lembut pipi Vania dengan satu tanganya. Sentuhan lembut yang membuat Vania selalu merasa nyaman.

“Lepasin. K-kamu mau ngapain?” tanya Vania kembali gugup.

Revan kembali mengembangkan senyumnya, dia semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Vania.”Mau lanjutin yang tadi,” ujarnya pelan sambil sedikit memiringkan wajahnya.

Awalnya Vania diam, tetapi pada akhirnya dia membalas perlakuan itu tak kalah lembut.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here