Untuk Revan #48

0
147
views

Pertunangan


Wajah Revan ditekuk, membuat Vania yang sedang melihat-lihat foto di kamera cowok itu menatap heran padanya.”Kenapa kamu cemberut gitu?” Keduanya sedang ada di depan rumah Revan. Lebih tepatnya rumah Ayah dan Bundanya.

Revan mengedikan sebelah bahunya cuek.”Nggak,” jawabnya jutek. Revan persis seperti anak kecil yang sedang ngambek minta dibelikan mainan sekarang.

Vania menghembuskan nafasnya kasar mendengar itu.”Kamu kenapa si? Ngambek nggak jelas kayak gini.

Revan menghembuskan nafasnya kasar.”Jalan sekitaran komplek doang? Aku maunya bawa motor.”

“Biar bisa pergi kemana gitu. Ke mall kek, nonton gitu. Atau ke cafe minimal.”

Vania berjalan ke hadapan Revan, senyumnya dipaksa selebar mungkin, satu tanganya beralih memegang pundak kanan cowok itu. “Sayang, jangan bandel ya? Udah untung kamu dibolehin sama Ayah keluar karena kondisi kamu udah membaik. Jadi jangan protes. Ya sayang?” ujar Vania menahan kesal sambil menatap Revan gemas ingin mencubit roti sobeknya.

Revan masih memasang wajah cemberut.”Ya?” kata Vania lagi, kali ini matanya melotot tetapi senyumnya tetap dipaksakan.

“Iya, iya. Ayo jalan,” kata Revan setengah kesal. Lalu dia menggenggam tangan Vania dan keduanya mulai berjalan keluar pekarangan rumah besar dan megah itu.

Vania sedikit terkekeh lalu membalas genggaman cowok itu. Sore hari, mereka berdua berjalan disekitaran komplek. Revan yang masih kesal karena hanya jalan-jalan sore seperti ini lebih banyak diam. Monoton, sama saja seperti dia di rumah, tidak ada bedanya. Hanya mungkin, bedanya dia bisa menghirup udara di luar.

Vania melirik Revan dengan kepala yang sedikit menengadah karena Revan yang lebih tinggi darinya.”Re?” Revan hanya berdeham menjawabnya.

“Jangan cemberut terus dong! Nggak asik,” keluh Vania, membuat Revan menatapnya.

“Ya terus apa?”

“Ck! Nyebelin!” kesal Vania lalu berjalan meninggalkan Revan sambil misuh-misuh.

Revan terdiam kicep ditempatnya.”Kok ditinggal sih?” gerutunya sambil berdecak sebal. Dia kemudian mengejar Vania yang sudah jauh darinya.”Van?”

“Tunguin dong!”

“Vania?!”

Vania pura-pura tuli. Masih sebal dengan kelakuan Revan yang akhir-akhir ini persis seperti anak kecil. Apa-apa harus dituruti, dikit-dikit ngambek, sensitif, keras kepala, manja apalagi. Ck! Untung Vania sabar dan sayang pada cowok itu.

Vania sedikit risih saat ada beberapa cowok yang sedang nongkrong di pinggir jalan dan duduk di kursi memanjang menatap padanya dengan tatapan memuja. Vania mempercepat langkahnya. Kira-kira ada empat orang.

“Neng cantik banget,” puji cowok yang memakai hoodie merah.

“Jalan sendirian aja nih?” kata yang lainya, membuat Vania semakin mempercepat langkahnya. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri karena tadi meninggalkan Revan.

Vania tahu mereka mengikutinya, karena mereka terus menggodanya, hanya saja Vania tetap tidak memperdulikanya. Saat salah satu dari mereka hendak menyentuh pundak Vania. Namun saat itu juga bogeman mentah mendarat diwajahnya dengan mulus membuat cowok itu langsung terhuyung ke depan.

Vania kaget saat Revan tiba-tiba datang dan memukul cowok tadi yang hendak menyentuh Vania.

Revan menyembunyikan Vania di balik punggung tegapnya.”Jangan berani sentuh punya gue!” ucap Revan penuh peringatan dan penekanan, sambil menatap nyalang pada mereka semua.

Mereka yang melihat itu lansung merinding dan takut, apalagi tatapan Revan yang seakan mau membunuh mereka saat itu juga. Mereka langsung lari terbirit-birit karena takut kena amuk Revan.”Brengsek!” umpat Revan meluapkan kesalnya.

“Re?” Revan langsung berbalik dan menatap Vania dengan pandangan khawatir.

“Kamu nggak pa-pa, kan? Mereka tadi apain kamu? Kamu nggak disentuh sama mereka, kan? Mereka bilang apa aja sama kamu? Me–”

“Aku nggak pa-pa, Re,” potong Vania dengan senyumanya, membuat Revan bernafas lega, lalu menarik Vania dalam dekapannya.
“Makanya jangan jauh-jauh. Jadi digodain, kan, sama cowok lain,” ucap Revan dengan nada sedikit kesal, sambil beralih merangkul Vania dan berjalan kembali.

Vania mendengus.”Habisnya kamu nyebelin! Dari tadi cemberuttt terus,” kesal Vania, membuat Revan tertawa sambil mencubit gemas hidung Vania.

“Apaan sih kamu! Sakit tahu!”

“Gemes,” ucap Revan gregetan. Vania tertawa ringan mendengarnya.

Mereka masih berjalan disekitaran komplek, tidak ada yang aneh. Bagi orang lain mungkin tampak membosankan, dan tadi Revan juga merasa seperti itu, namun Vania memang mampu merubah suasa menjadi hangat kembali dengan kelakuannya yang selalu membuat Revan gemas dan ujung-ujungnya mereka selalu tertawa dan bercanda ria.

“Boleh keluar ya?” tanya Revan saat mereka sudah sampai di gerbang masuk komplek prumahan elit ini. Ada pak satpam yang sedang berada di pos sambil memperhatikan keduanya dengan segelas kopi yang sedang dia minum.

Vania menatap Revan yang tengah menatapnya dengan pupy eyesnya. Singa benar-benar menjadi kucing anggora sekarang.

“Boleh ya? Boleh?” kata Revan lagi tetapi Vania hanya diam.

Dia mengetuk-ngetukan dagunya dengan jari telunjuknya yang lentik.”Gimana ya?” ujar Vania sambil berfikir.

“Ayo dong. Sampe depan doang kok. Lagian nggak jauh dari sini ada taman. Kita kesana aja, disana tempatnya bagus kok. Ya? Ya? Ya, Van? Boleh ya?” kata Revan mencoba membujuk Vania.

“Van?” panggil Revan lembut sambil bersandar dipundak Vania, jangan lewatkan dengan senyum yang dia buat semanis mungkin.

Sementara Vania menatap datar pada Revan.

“Boleh ya?” kata Revan lagi, kali ini dia memasang mata pupy eyesnya lagi. Vania yang melihat itu memutar bola matanya. Ck! Revan benar-benar seperti anak kecil yang sedang merengek sekarang.
Vania mengacak rambut Revan.”Iya boleh,” kata Vania dengan nada malas namun mampu membuat Revan mengembangkan senyumnya.

“Beneran?” tanya Revan memastikan.

Vania mengangguk, membuat Revan semakin senang melihatnya. Ck! Dasar bayi gede.

“Gow, kita keluar.”

“E-eeh bentar dulu,” kata Vania sambil menahan tangan Revan, membuat Revan harus berbalik kembali.

“Apa lagi?” tanya Revan tidak sabaran. Ayolah, sudah dua minggu lebih dia hanya berdiam diri di rumah sakit dan di rumah. Di rumah saja kemarin dia harus mendapatkan perawatan. Dan itu benar-benar membosankan. Sekali lagi, MEMBOSANKAN.

Revan ingin pergi sekolah lagi dan beraktivitas seperti biasanya. Namun apalah daya, semua orang memarahi dan melarangnya melakukan ini itu. Jadi, Revan hanya bisa sabar menunggu dirinya benar-benar pulih.

Dan sekarang setelah selama itu dia dikurung, akhirnya dia diberi kebebasan walau hanya jalan-jalan disekitar komplek. Revan memang senang karena dia bisa menghirup udara luar lagi. Namun tetap saja, dia ingin menaiki motor sport hitam kesayanganya itu, namun lagi dan lagi, dia tidak diperbolehkan. Apalagi dengan Vania yang terus memperingatkanya. Vania jadi pawang Singa sepenuhnya sekarang.

Jadi, tidak salah bukan? Kalau Revan seantusias ini diperbolehkan walau hanya keluar area komplek?
“Jangan minta yang aneh-aneh. Jangan terlalu jauh. Jangan terlalu mondar-mandir kayak cacing kepanasan, nanti kamu bisa sesak lagi. Dan batasnya sampe jam lima,” jelas Vania seperti Ibu guru.

Revan mengedip-ngedipkan matanya kaget. Sampe seperti ini? Memangnya separah apa dia sakit?

“Segitunya? Emang aku sakit separah apa si?” tanya Revan mulai kesal.

“Revan. Cedera saraf itu nggak main-main. Walau kamu cuma cedera ringan, tapi kamu tetap harus ditangani dengan baik. Jadi please, nurut aja, kamu baru membaik. Kalau kamu drop lagi gimana?” jelas Vania.

Lagi-lagi cowok itu memasang wajah ditekuk mendengarnya. Bibirnya juga sedikit maju. Vania yang gemas melihat ekspresi Revan langsung mencubit kedua pipi cowok itu, yang mana membuat Revan meringis.”Ngerti nggak?” kata Vania gemas.

“Iya, iya, ngerti. Lepasin.” Vania lantas melepaskan cubitanya sambil terkekeh pelan dan mengacak gemas rambut Revan.

“Ya udah ayo.” Kali ini Vania yang menarik Revan, karena cowok itu jadi tidak seantusias tadi.

Pak satpam yang dari tadi masih memperhatikan mereka di post geleng-geleng kepala.”Anak muda,” gumamnya lalu kembali menyeruput kopi hitamnya yang belum habis.

“Sini kameranya, biar aku yang bawa,” ucap Revan. Vania lalu menyerahkan kameranya, membuat Revan mengantungkan kamera itu dilehernya.

“Re?” Revan hanya menjawab dengan deheman.

“Ada pasar kaget kayaknya tuh,” ucap Vania sambil menunjuk lapak-lapak penjual yang banyak memenuhi pinggir jalan yang tidak jauh dari mereka berdiri.

Revan lantas mengikuti arah pandang Vania. Matanya menyipit.”Kayaknya iya deh. Kesana yu?” ajak Revan, kali ini dia melebarkan senyumnya lagi.

Vania menatap datar pada Revan. Revan yang mengerti menghembuskan nafasnya.”Nggak akan minta yang aneh-aneh disana. Nggak akan kayak cacing kepanasan. Sampe jam lima, aku tahu,” jelasnya.

Vania tertawa mendengarnya.”Bagus. Anak pinter harus nurut.” Revan hanya mendengus mendengarnya, lalu keduanya mulai berjalan menuju pasar kaget itu.

Sampai disana, banyak yang berjualan berbagai macam. Ada baju, makanan, camilan, bahan masakan, mainan, dan lain-lain. Keduanya melihat-lihat, sambil mencari-cari mana yang menarik perhatian mereka. Sampai akhirnya pandangan Revan tertuju pada pedagang bunga.”Tunggu disini.”

“Memangnya kamu mau kemana?” tanya Vania.

“Pokoknya tunggu disini. Jangan kemana-mana.” Vania hanya mengangguk mengiyakan. Revan kemudian menghampiri lapak penjual bunga itu. Apalagi jika bukan membeli bunga mawar merah kesukaan Vania.

Sementara Revan ke penjual bunga, pandangan Vania tertuju pada pedagang boneka, dia menghampirinya dan melupakan apa yang tadi Revan ucapkan saking tertariknya dengan boneka beruang berukuran mini.

Dahi Revan mengkerut ketika dia kembali dengan buket bunga mawar merah berukuran besar namun dia tidak mendapati Vania disini. Pandangan Revan menyapu kesegala arah, dan pandanganya terhenti ketika melihat Vania yang sedang tersenyum sambil memegang boneka beruang berukuran mini. Revan menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum melihat Vania.

Revan mengambil kameranya, lalu mengatur ISO dan memfokuskan pandangan pada kamera. Revan mengembangkan senyumnya saat melihat-lihat foto Vania yang baru dia ambil. Hasilnya memang candid, tetapi tetap bagus dengan senyum Vania yang terlihat manis juga gadis itu yang selalu terlihat cantik dan menggemaskan.

“Revan?” Suara itu membuat Revan beralih menatap Vania yang ternyata sudah ada di hadapanya.

“Habis darimana? Nggak denger tadi aku bilang apa?” tanya Revan walau dia tahu Vania habis dari mana.

Vania mengembangkan senyumnya. Lalu dia mengangkat sebuah kresek bening berisikan boneka beruang mini tadi yang berwarna hitam dan putih.”Beli ini,” katanya dengan cengiran.

Revan mengembuskan nafasnya sambil mengusap puncak kepala Vania.”Reva masih ada?” tanya Revan sambil sedikit terkekeh.

“Masih dong. Dia anteng-anteng aja di kamar aku,” jawab Vania sambil tertawa dikuti Revan yang juga ikut tertawa. Masih ingat? Boneka beruang besar berwarna coklat dengan pita dibagian lehernya? Yang waktu itu Revan berikan di pasar malam saat dia memenangkan permainan. Dan sekarang, boneka itu masih Vania simpan di kamarnya, Vania juga suka memeluknya ketika dia tidur.

“Untuk Tuan Putri,” kata Revan sambil menyerahkan buket bunga mawar merah berukuran besar itu.
Mata Vania berbinar melihat hal yang paling dia sukai, Vania menerimanya.”Makasih,” kata Vania sambil menghirup aroma khas bunga mawar itu.

“Ucapan makasihnya aku nggak mau kamu cuma bilang aja.”

“Terus gimana?” tanya Vania bingung.

Revan kemudian memalingkan wajahnya kesamping.”Ini,” katanya sambil menunjuk pipinya sebanyak dua kali.

“Ish! Banyak orang tahu!” kesal Vania lalu beranjak pergi meninggalkan Revan. Revan terkekeh, lalu dia mengikuti kemana Vania pergi.

Keduanya mulai berkeliling kelapak penjual makanan, keasikan keduanya tidak pernah habis, walau hanya berjalan-jalan di pasar kaget ini. “Pengen minum,”ujar Revan.

Vania menghembuskan nafasnya, dia lalu mengulurkan es teh manisnya yang tadi dia beli. Bukanya mengambil dan meminumnya sendiri, Revan malah meminumnya langsung.”Kenapa nggak sendiri aja si?”
“Kamu sendiri yang bilang aku bayi gede,” kata Revan sambil menjulurkan lidahnya dan pergi meninggalkan Vania.

Vania mengedip-ngedipkan matanya masih tidak konek dengan ucapan Revan barusan. Detik selanjutnya Vania menghembuskan nafasnya kasar.”DASAR MANJA!” kesal Vania.

Vania mulai berjalan lagi menyusul Revan, namun sayangnya dia tidak bisa menemukan keberadaan cowok jangkung itu.”Revan kemana si?” tanya Vania pada dirinya sendiri. Pandangannya menyapu kesagala arah, namun tetap saja tidak menemukan Revan.

“Ck! Malah ditinggal,” gerutu Vania kesal. Pandanganya terkunci pada lapak penjual aksesoris, sepertinya itu Revan. Namun, saat hendak menghampiri Revan, banyak orang yang berlalu kesana-kesini, sehingga membuat Vania harus beberapa kali tertahan ditempatnya. Saat hendak kembali melanjutkan langkahnya, Revan sudah hilang lagi.

Vania menghembuskan nafasnya kasar.”Kok ngilang lagi sih?” Lagi-lagi Vania tidak menemukan Revan setelah menyapu kembali pandanganya pada segala arah.

“Revan kemana si?!” kesal Vania.

Saat hendak berjalan, pandanganya terhalang oleh sesuatu yang ada di kepalanya.”Eh apaan ni?”

“Kebesaran ya?” Vania mendongakan kepalanya, dan ternyata Revan. Vania mengangkat topi hitam yang tadi Revan pakaikan padanya.

“Kamu kemana aja si?!” kesal Vania.

“Beli itulah,” ujar Revan sambil menunjuk topi yang masih Vania kenakan.

Vania melepaskan topi itu. Topi warna hitam dengan bordiran sebelah mata yang mengedip.”Lucu. Buat apa emangnya kamu beli ini?”

Revan memegang puncak kepala Vania. Lalu mengacaknya dengan gemas.”Biar Tuan Putri nggak kepanasan,” ucap Revan sukses membuat hati Vania berdesir.

Vania mengembangkan senyumnya.”Makasih Singa manja.” Revan hanya tertawa ringan menangapinya.
“Topinya kebesaranya?” tanya Revan.

Vania kembali memakai topi itu dan membenarkan tata letaknya agak nyaman dan pas.”Nggak kok. Pas,” jawab Vania sambil kembali tersenyum. Revan lalu merangkul Vania dan keduanya kembali berjalan disekitaran pasar kaget ini.

Vania sekarang sudah memakan bakso bakar dengan asiknya, sedangkan Revan hanya meminum jus jeruknya dengan santai. Keduanya kini duduk di sebuah kursi dengan pohon yang rindang sehingga mereka mendapat kesan sejuk duduk disini.

Revan melirik Vania yang masih makan.”Kayak anak kecil kamu,” ujar Revan sambil mengelap sudut bibir Vania yang terdapat sisa saus menggunakan ibu jarinya. Vania hanya tersenyum lebar menanggapinya.

Saat Vania hendak memakan bakso bakarnya lagi, saat itu juga Revan malah mengigit bakso yang hendak Vania makan. Vania terdiam kicep atas perlakuan Revan. Revan memang suka membuat kejutan. Revan terkikik geli saat melihat muka Vania yang merah.

Selanjutnya hanya keheningan yang terjadi dengan mereka yang memakan makanannya masing-masing.

“Mau ke taman nggak?” tanya Revan memecah keheningan.

Vania melirik jam yang ada dipergelangan tangan kirinya.

“Baru jam empat lebih kok,” ujar Revan saat mengerti maksud Vania.

Vania tersenyum.”Ya udah ayo sekarang.” Revan mengangguk, lalu keduanya mulai berjalan dengan Revan yang membantu Vania membawa boneka mini itu, dan satu tanganya yang lain merangkul Vania sehingga tanganya tersampir dipundak Vania.

Sampai di taman. Mereka duduk di sebuah kursi. Vania melihat sekeliling, cukup sepi dan tidak terlau ramai. Sedangkan Revan sibuk dengan kameranya. Vania melirik Revan.”Re, fotoin dong, mumpung langitnya bagus,” ujar Vania sambil beranjak berdiri.

Revan menengadahkan kepalanya.”Boleh,” kata Revan sambil beranjak.

Vania lalu mencari spot foto yang sekiranya bagus, setelah selesai mendapatkan tempat yang cocok, Vania mulai bergaya dengan senyum yang sangat manis. Terpaan cahaya jingga di lamgit yang mulai berubah warna pada rambut dan wajah Vania, membuatnya sangat terlihat cantik. Bahkan Revan sampai terpesona dan hanya diam memandangi Vania.

“Re? Kok diam aja?” tanya Vania bingung.

Revan tersadar.”Eh iya. Sebentar.” Vania mendengus mendengarnya. Lalu Revan mulai mengatur ISO lagi, namun dia menurunkan kamera dari pandanganya, dan malah menatap sekitar taman yang terdapat beberapa orang cowok yang sedang lewat menatap Vania dengan mata memuja.

“Kenapa?”

“Nggak usah senyum gayanya.”

Dahi Vania mengkerut bingung mendengarnya.”Loh, kenapa?” tanyanya bingung.

“Yang lewat pada liatin kamu,” kata Revan sambil melirik mereka yang masih menatap Vania dengan mata tajamnya.

“Ck! Udah biarin aja. Ayo cepet foto, kata Vania setengah kesal.

Revan menggeleng.”Nggak. Jangan senyum dulu.”

“Iya, iya, nggak.” Revan tersenyum lebar mendengarnya. Lalu dia kembali memfokuskan pandanganya pada kamera. Namun saat melihat gaya Vania yang menggemaskan dengan bibir yang sengaja mengerucut dan mata terpejam malah membuat Revan menurunkan kembali kamera dari pandanganya. Walau nyatanya dia mengambil foto tersebut sebanyak satu kali sebelum menurunkan kamera dari pandanganya. Itu tanpa Vania ketahui.

“Itu malah gemes. Nanti mereka gemes sama kamu.”

“Ih Revan! Terus harus gimana?!” kesal Vania.

“Kayak foto KTP,” ujar Revan enteng.

Vania menghembuskan nafasnya kasar mendengar itu.”YA UDAH NGGAK USAH!” kesal Vania lalu berjalan pergi meninggalkan Revan.

“Eh kok malah pergi?” tanya Revan. heran.

“Vania?!”

“Van?!”

“NGGAK DENGER!” kesal Vania sambil menutup kedua telinganya rapat-rapat.

Revan terkekeh melihat itu. Tingkah Vania memang selalu menggemaskan dan mampu membuat Revan tersenyum.

***

“ADIK IPAR GUE!” seru Sheila heboh sambil memeluk Vania saat dirinya, Revan, Reno dan Jasmine baru sampai kekediaman keluarga Atmaja ini.

Revan memasang raut datar melihatnya, dia menarik Sheila bak kucing dengan tanpa dosanya.”Nggak boleh peluk-peluk!” ketusnya, membuat para orang tua menahan tawa karena Revan yang sangat possesive.

Sheila memasang raut masam mendengarnya.”Dih! Possesive banget lo!”

“Suka-suka gue lah! Vania itu punya gue ya!” kesal Revan.

“Please deh. Gue cewek, bukan cowok!” kesal Sheila.

Revan memutar bola matanya malas.”Gue bilang nggak ya nggak!” kekeuh Revan tidak ingin dibantah.

“Tap–”

“Sheila, Revan. Udah ya, nggak usah ribut,” tegur Jasmine mencoba melerai. Mereka akhirnya tidak jadi melanjutkan keributanya, namun pandangan mereka berdua masih meleparkan aura-aura permusuhan.
Mereka bertujuh kemudian menuju meja makan, karena memang Fahri sengaja mengundang Reno dan keluarganya untuk makan malam di rumahnya. Selain mempererat tali silaturahmi antara calon besan, ralat, tali silahturahmi antara keluarga, ya apalagi kalau bukan membahas pertunangan Revan dan Vania. Kalau soal Sheila dan Alvin. Mereka berdua memang akan melaksanakan tunangan, setelah Revan selesai ujian kenaikan kelas.

Mereka sudah mulai menyantap jamuan yang sudah dihidangkan. Tadi Viola dan Vania yang memasaknya. Karena Viola kali ini tidak ingin Bi Inah yang memasak.

“Aku maunya disuapin kamu, tapi nanti mereka pada nyinyir,” bisik Revan pada Vania, karena memang Vania dan Revan duduk bersebelahan.

“Jangan manja,” tegur Vania sambil menatap Revan datar.

“Iya nggak.”

Sheila yang berada di samping kiri Revan menyikut lengan Revan pelan.”Apaan lo?!” kesal Revan dengan nada pelan.

“Lo nggak merasa curiga gitu? Kenapa kita diundang makan malam kesini?” tanya Sheila berbisik. Para orang tua memang sedang makan, tapi sesekali mereka mengobrol yang para Anak-anak abaikan.

Revan mengedikan sebelah bahunya cuek.”Mungkin sesama calon besan pengen lebih deket,” kara Revan sambil tersenyum lebar, membuat Sheila menghembuskan nafas kasar mendengarnya.

“Sayang?” Vania hanya menjawab dengan dehemanya karena dia sedang memakan makananya sambil menolehkan kepalanya pada Revan.

“Kamu tahu nggak? Kenapa Mama sama Papa kamu undang kita semua kesini?”

Vania menggelengkan kepalanya pelan.”Nggak tahu. Selain ajak makan malam. Selebihnya aku nggak tahu.” Revan hanya mengangguk kecil, lalu dia mulai kembali memakan makananya. Ya, tadi ketiganya berbincang dengan nada berbisik.

Setelah makan malam, kini mereka sedang memakan hidangan penutup.

Fahri, Viola, Reno dan Jasmine saling tatap dengan pandangan penuh arti. Keempatnya mulai melirik Revan dan Vania yang sedang asik menyantap hidangan penutup.

Fahri berdeham membuat semuanya menoleh.”Sebenarnya, ada yang ingin dibahas di makan malam ini.”
“Tujuan sebenarnya adalah. Kami berempat setuju mengadakan tunangan untuk kalian berdua. Revan dan Vania.”

“Uhuk… uhuk…” Sontak keduanya tersedak makananya secara bersamaan saat mendengar perkataan Reno. Sheila sudah menduga ada hal yang akan dibicarakan. Mereka yang melihat Revan dan Vania tersedak makananya sedikit meringis. Mungkin tadi Reno tidak tepat waktu memberitahukan hal ini.

Revan dan Vania mengatur nafas terlebih dahulu setelah mereka meminum air putih. Apa-apaan ini? Berita yang sangat mengejutkan.

“Tunangan?” beo Revan, membuat keempat orang tua itu mengangguk.

“Kok mendadak?” tanya Vania heran.

Fahri menghembuskan nafasnya.”Nggak kok Vania. Kami hanya bilang setuju. Kalau kalian setuju, acara pertunangan kalian bisa disatukan sama acara pertunangan Sheila,” jelas Fahri, membuat Revan dan Vania saling tatap dengan wajah cengonya.

Reno mengangguk.”Jadi nanti kita bisa atur secepatnya. Lagian kalian sebentar lagi ujian kenaikan kelas, kan?” tanya Reno, membuat Revan dan Vania mengangguk dengan masih memasang wajah shock. Ayolah, kedua orang tua mereka tahu-tahu sudah sepakat saja. Lalu ini mereka berdua? Baru tahu sekarang dong!

“Lagian nggak ada salahnya, kan? Kalau kalian tunangan?” tanya Viola, keduanya kembali menganguk pelan.

“Yaudah, berarti kalian tunangan aja,” ujar Jasmine.

Revan dan Vania kembali saling tatap, keduanya seolah saling melempar tanya ‘Gimana?’ lewat tatapanya.

Revan menghembuskan nafasnya, lalu dia berdeham.”Buat apa tunangan? Kalau bisa langsung lamaran.”

“HUH?!” kali ini para orang tua yang shock mendengar penuturan Revan, begitu pun Sheila. Sementara Vania terdiam shock ditempatnya. Helo! langsung lamaran? Belum lulus woy!

“K-kamu bilang apa tadi, Re?” tanya Reno.

Dengan santainya Revan malah meminum minumanya terlebih dahulu.”Revan bilang. Buat apa tungan kalau bisa langsung lamaran,” katanya tenang dan damai.

Keempat orang tua itu saling tatap, sambil tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. Dasar Revan!

“Jadi, kamu mau langsung lamar Vania?” tanya Fahri.

Revan mengangguk.”Iya, Pa. Nggak perlu pake tunangan. Ribet, yang penting itu komitmen bukan hanya sekedar ikatan sebatas tunangan atau calon Istri. Lagian setelah lamaran, bisa langsung nikah.”

Demi apapun muka Vania sudah merah sekarang. Tolong bawa Vania sekarang juga, karena dia sudah tidak tahan mendengar penuturan Revan yang membuatnya ingin berteriak-teriak nggak jelas.

“Yaallah. Adik gue udah gede,” seru Sheila dengan tiba-tiba, sehingga tawa mereka pecah saat itu juga, namun Revan hanya tertawa kecil. Sementara Vania hanya sedikit terkekeh.

Fahri mengatur nafasnya setelah tawanya reda.”Oke. Papa pegang kata-kata kamu. Tapi, lulus sekolah sama lulus kuliah dulu kalau mau nikah.”

Revan tertawa ringan mendengarnya.”Itu pasti dong, Pa.”

“Tapi kalau Vania gimana ni? Kok dari tadi diem terus,” ujar Jasmine menggoda, membuat Vania semakin merasa mukanya ini semakin merah.

Vania tersenyun kikuk.”Vania ikut Revan aja,” jawab Vania gugup sambil menunduk malu. Vania benar-benar ingin kabur sekarang.

Jasmine tertawa ringan.”Ok kalau itu keputusan kalian berdua.”

Vania merlirik Revan sekilas karena malu, membuat Revan gemas melihat ekspresi Vania yang malu-malu kucing.

“Jadi, kapan mau lamaran?” tanya Viola dengan tiba-tiba, membuat suasana hening seketika. Namun didetik berikutnya mereka kembali tertawa. Revan hanya kembali tertawa ringan, dan Vania hanya kembali terkekeh pelan.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here