Untuk Revan #47

0
119
views

Keras Kepala


|RevanoAnggara|
Ke rumah. Nanti supir yang jemput.
Vania tersenyum tipis saat mendapatkan pesan tersebut. Bel baru saja berbunyi lima menit yang lalu. Dan sekarang, Vania sedang menunggu jemputan itu datang di depan gerbang sekolah. Tadinya Vania akan langsung pulang, tapi ternyata Revan menyuruhnya datang. Rini dan Amanda sudah pamit duluan.

Soal kabar Saka dan Amanda. Vania kaget saat mengetahui itu tadi pagi dari Rini. Rupanya mereka diam-diam suka, dan tahu-tahu saja sudah jadian. Tapi, Amanda kayaknya makan omongan sendiri. Dulu, kan, Amanda mana mau bersama Saka, tahu urusan soal Saka saja dia mana sudi. Lalu ini sekarang? Ck! Dasar anak muda.

Dan tadi, Amanda diantar pulang oleh pacar barunya itu. Sementara Rini? Dia pulang bersama Irfan atas paksaan dari cowok itu, dan pada akhirnya Rini mau walau masih misuh-misuh.

|RevanoAnggara|
Papa sama Mama kamu juga ada disini.
Vania kaget saat membaca pesan tersebut.

|VaniaAtmaja|
Serius?

|RevanoAnggara|
Iya. Kan jenguk calon menantu :v
Vania tertawa ringan membaca pesan tersebut. Ck! Ada-ada saja Revan.

|VaniaAtmaja|
Pd banget.

|RevanoAnggara|
Ck! Orang Papa sama Mama kamu yang bilang gitu.
Vania melongo membaca. Ish! Kenapa Papa dan Mamanya harus bilang seperti itu? Kan Revan jadi pd tingkat akut seperti ini.

“Nona?” Sontak Vania tidak jadi membalas pesan karena dirasa ada yang memangilnya. Vania mendongakan kepalanya, dan ternyata, Mang Rijal–supir pribadi keluarga Revan. Vania sudah tahu, karena Mang Rijal sering mengantar jemputnya ketika Revan sakit. Ya siapa lagi yang menyuruhnya kalau bukan Putra Bapak Reno Anggara yang super keras kepala dan manja itu.
Vania tersenyum.”Mang nggak usah formal gitu. Panggil saya Vania aja,” kata Vania.
Mang Rijal tersenyum canggung.”Ng-nggak deh, Non. Nanti Mang bisa dimarahin sama Tuan muda,” jawab Mang Rijal gugup.

Mang Rijal tidak ingin mencari masalah, tempo hari saja saat Mang Rijal tersenyum tipis pada Vania ketika membukakan pintu mobil untuknya karena akan mengantar Vania pulang, Revan memberikan tatapan tidak bersahahat padanya. Bagaimana kalau dia hanya menyebut Vania dengan namanya saja? Bisa dipastikan, Tuan mudanya itu akan menegor dirinya. Cari aman. Emang bener Revan itu possesive banget.

Vania tertawa ringan.”Biar saya nanti yang marahin kalau Revan marahin emang.”
“Nggak perlu, Non. Emang cari aman aja.” Vania kembali tertawa ringan mendengarnya. Pacarnya itu sepertinya memang suka bikin orang takut duluan. Dasar Singa! Lebih tepatnya Singa manja atau bayi gede.

“Silakan, Non.” Vania tersenyum dan mengangguk saat Mang Rijal membukakan pintu untuknya.
Vania kembali melirik ponselnya setelah mobil melaju.

|RevanoAnggara|
Read!
Mang Rijal udah sampe belum?
Van?
Ck! Kenapa nggak bales sih?
Hello?????!!
VANIA NAQUELLA ATMAJA?!
Sayang?
Van?
Istri gue kemana ini?!
Vania keget membaca pesan yang bertuliskan ‘Istri’ itu. Tapi dia juga sedikit terkekeh membacanya. Nyatanya hati Vania berdesir hanya dengan membaca pesan tersebut.
Vania melanjutkan lagi membaca pesan lainya yang Revan kirim. Pasti cowok itu sekarang sedang uring-uringan nggak jelas.

|RevanoAnggara|
Sayang kamu nggak pa-pa, kan?
Bales dong!
Van, please deh jangan mulai ngilangnya!
Ngilang teruss!
Read terusss!
Online tapi nggak jawab!
Hobi banget kayaknya bikin aku khawatir!
Vania?!
Sayang?
Vania menahan tawanya saat Revan terus mengirimnya pesan tiada henti. Sampai akhirnya Vania kaget karena Revan menelponya. Dengan jahilnya, Vania malah mendiamkannya, lalu setelah panggilan diputus oleh Revan. Vania segera menonaktifkan ponselnya. Biarlah, sekali-sekali Vania yang usil.

****

“Ehemm… punten.”
“Mangga,” jawab Revan masih fokus meninju samsak merah di depanya.
“Udah sembuh, Kang?”

“Alhamdulilah,” jawab Revan seadanya, sambil tetap fokus meninju samsak itu.
Vania memasang raut marah. Gadis itu sedari tadi berdiri bersandar di tembok dengan Revan yang ada di depanya yang masih terus meninju samsak merah itu. Saat sampai, Jasmine menyuruh Vania langsung ke kamar Revan. Tapi cowok itu tidak ada. Mereka mencari diberbagai sudut rumah, dan ternyata dia sedang disini dan bermain dengan samsaknya.
Vania tadi baru membuka suara, dan Revan masih tidak menyadari kalau itu Vania. Padahal baru kemarin dia pingsan, lalu dengan santainya cowok itu sekarang ada di ruang GYM yang ada di rumahnya sambil meninju samsak sedari tadi.

Vania akui dia tadi sempat terhipnotis dengan keadaan Revan yang shirtless saat ini. Cewek mana yang tidak terhipnotis dengan keadaan Revan yang sekarang? Roti sobek dan otot-otot cowok itu sangat jelas terlihat, keringat yang membanjiri tubuhnya, dengan rambutnya yang basah karena keringat, tidak lupa dengan kalung pemberian Vania yang tetap setia tergantung diilehernya. Cewek mana coba yang tidak terhipnotis?

Vania memejamkan matanya sambil menarik nafas dalam.”REVANO ANGGARA! STOP!” teriak Vania marah.
Revan yang kaget lantas refleks berhenti, dia memegang samsak itu dengan kedua tangan dan wajah cengonya. Revan meneguk ludahnya kasar. Dia masih belum berbalik. “Cuma halu,” gumam Revan mencoba menepis kenyataan kalau memang itu benar Vania.
Revan lalu melanjutkan meninju samsak lagi karena yang dia pikir itu cuma Vania yang memenuhi pikiranya sehingga dia bisa mendengar suara gadis itu.
Vania yang melihat itu semakin marah. Dia lantas berjalan mendekat, lalu dengan kejamnya dia menarik salah satu daun telinga cowok itu, sehingga Revan menghentikan aktivitasnya.
Revan meringis dan kaget secara bersamaan. Dia kira itu hanya halusinasi dan Revan kira Vania belum sampai, tadi gadis ini, kan, menghilang. Jadi Revan tidak tahu kalau Vania sudah sampai.”Aduh, Van. Lepasin, sakit ini.”

“KAMU MASIH SAKIT! KENAPA KAMU PAKE KE RUANG GYM?! MANA PUKUL SAMSAK LAGI! MEMANGNYA KAMU UDAH PULIH?! HUH?! BARU KEMARIN KAMU PINGSAN! SEKARANG UDAH MAIN YANG KAYAK GINI!”
“BANDEL BANGET SIIII!!” geram Vania sambil menambah tenaganya, membuat Revan semakin mengaduh kesakitan.

“Aw aw aw. Iya, Van, iya. Aku minta maaf.”
Vania melepaskan jeweranya dengan menghembuskan nafasnya kasar. Nafasnya sedikit memburu karena emosi.

Revan mengusap kupingnya yang merah dan terasa pasas.”Maaf,” cicitnya pelan.
“MANDI!”
“Tadi kamu k–”
“AKU BILANG MANDI YA MANDI!” potong Vania
“Iya,” jawab Revan pelan. Vania jadi galak sekarang.
Revan kemudian segera menuruti perintah Ibu Negara setelah melepas pelindung tanganya. Takut-takut dia diamuk lagi.
Reno, Jasmine, Fahri dan Viola menahan tawanya saat mereka sedari tadi mengintip keduanya dari luar, dan saat keduanya keluar ruangan, mereka buru-buru bersembunyi. Fahri dan Viola memang berkunjung kesini untuk menjenguk Revan. Rupanya para orang tua sedang libur bekerja sekarang.
Mereka berempat lantas kembali ke ruang tamu dengan tawa ringanya, takut-takut keduanya curiga.

***

“Makanya jangan bandel!” tegur Reno.
“Nurut kenapa sih, Re?” kesal Jasmine.
Viola menghembuskan nafasnya.”Revan, lebih baik kamu diam dulu.”
“Iya. Biar kamu cepat pulih,” lanjut Fahri.

“Iya,” jawab Revan singkat, padat, dan jelas dengan raut wajah datarnya. Dia jadi bahan ceramahan para orang tua sekarang. Dia sedikit meringis saat jarum infus kembali menusuk kulit tanganya. Sejujurnya tadi dia sendiri yang melepas infusan itu dan kabur ke ruang GYM saat keempat orang tua itu sibuk di ruang tamu, juga Vania yang hilang kabar entah kemana. Revan merasa bosan tadi.
Vania masih bersidekap dada dengan pandangan penuh amarah pada Revan, dia masih berdiri di hadapan Revan. Revan yang melihatnya menghembuskan nafas lesu. Dia jadi menyesal sekarang.
Dokter Andre menggelengkan kepalanya dengan satu tangan yang bertolak pinggang.”Lain kali, jangan cabut infusan kayak gitu. Bahaya,” tegurnya.

“Iya, dok,” jawab Revan masih sama seperti tadi.
Dokter Andre kemudian pamit. Para orang tua itu lalu mengantarkan dokter Andre. Sekarang, hanya tinggal Revan dan Vania.

Revan melirik Vania sekilas, gadis itu masih terlihat marah padanya. Revan kembali melirik Vania. Detik berikutnya dia berdecak sebal karena Vania masih memandangnya dengan kilatan penuh amarah.”Jangan ngambek dong, Van.”

“SIAPA SURUH KAMU KAYAK GITU?!” Sontak Revan terlonjak kaget, dan menatap Vania dengan mata mengedip-ngedip kaget. Ini Vania lagi pms atau gimana?

“Ka–”
“KENAPA?! HUH?!” tanya Vania galak. “KENAPA KAMU COPOT IMPUSANNYA KAYAK GITU?!”
“KENAPA KAMU BANDEL BANGET! NGGAK BISA APA?! NURUT KALI INI AJA!” kesal Vania bukan main. Vania hanya takut, Vania hanya tidak mau Revan terus-terusan keras kepala seperti ini. Ini sama saja memperlambat proses pemulihanya.
“Kamu ngerti nggak si, Re?” kata Vania. Nadanya kali ini pelan namun terdengar lirih ditelinga Revan.

Revan yang mendengar itu tertegun. Dia akui dia salah.”Maaf Vania.” hanya itu yang meluncur dari bibirnya.

“Please, Re. Jangan keras kepala terus, aku nggak mau kamu kayak gini terus. Kalau kamu kayak gini terus, itu sama aja kamu memperlambat proses pemulihan kamu sendiri.”
“Dan aku nggak mau. Kamu ngerti nggak sih? Kalau aku khawatir! Kita semua tuh khawatir sama kamu, Re. Tapi kenapa kamu tetap keras kepala kayak gini? Kalau kamu udah sembuh, kamu boleh lakuin apa aja yang kamu mau. Tap–”

“Oke, aku salah. Aku minta maaf. Aku nggak akan keras kepala lagi, aku bakal nurut,” potong Revan sambil merangkul Vania dalam dekapanya, dan mengusap surai gadis itu, dengan dagu yang dia simpan dipuncak kepala Vania.

Vania masih diam, dia masih kesal. Ayolah, Vania sayang terhadap cowok ini. Itu sebabnya Vania marah seperti ini.

“Jangan marah terus.” Vania masih bergeming.
Revan mengurai pelukanya, dan menatap Vania teduh, tatapan yang lagi-lagi mampu membuat Vania terhipnotis. Revan menghembuskan nafasnya terlebih dahulu.”Van, aku minta maaf.”
“Minta maaf sama diri kamu sendiri!” ketus Vania. Vania hendak pergi tetapi tangan Revan menahanya.
“Mau kemana?”
“Pulang,” ketus Vania lagi.
“Eh jangan,” sambar Revan cepat.

Vania tidak menjawab. Dia berusaha melepaskan cekalan Revan.”Jangan marah.”
“Lepas!”
“Nggak!”
“Lepasin Revan!”
“Nggak akan.” Revan kemudian menarik Vania dan mendekap gadis itu dari belakang dengan erat.
“Please. Jangan marah,” bisik Revan lembut ditelinga Vania. Hal tersebut membuat pertahanan Vania sedikit goyang.
“Kamu yang bikin aku marah.”

Hembusan nafas Revan dapat Vania rasakan, diikuti kepala cowok itu yang dia simpan dipudaknya.”Aku ngerti. T–”
“Kalau kamu ngerti, kenapa kamu kayak gitu? Kamu buat aku takut tahu, nggak?” ujar Vania mulai parau, membuat Revan yang mendengarnya semakin merasa bersalah.

“Aku bosen, Van. Duduk disini, nggak ada kegiatan. Jenuh,” jelas Revan dengan pandangan yang meredup. Suaranya terdengar pelan ditelinga Vania. Giliran Vania yang merasa bersalah sekarang.
Keduanya hanya diam, dengan masih tetap pada posisi tadi. Revan seperti ini karena dia melindungi Vania. Lagi dan lagi rasa bersalah itu kian menghujam diri Vania. Tapi Vania kali ini tidak mau bicara, karena Vania tahu Revan tidak suka Vania menyalahkan dirinya sendiri.
Bagamana pun, menurut Vania dialah yang salah. Sekarang hanya penyesalan yang ada karena semua sudah terjadi. Vania melepaskan tangan Revan yang melingkar dipinggangnya, dia berbalik dan melihat Revan dengan wajah murungnya. Vania memeluk Revan, kakinya agak berjinjit karena Revan yang lebih tinggi darinya.”Maaf. Aku marah karena aku sayang sama kamu. Aku mau kamu cepet pulih. Aku nggak mau kamu gini terus.”

Revan hanya diam dan memeluk Vania. Vania melerai pelukanya, dia memegang sebelah wajah cowok itu dan sedikit mengangkatnya agar dia bisa melihat wajah Revan yang tadi tertunduk.”Kamu bosen ya?” Revan hanya mengangguk kecil.

Vania tersenyum kecil, membuat Revan bingung. “Kenapa kamu senyum?”
“Kalau keadaan kamu makin membaik. Besok kita jalan ke luar.”
“Eh? Emang udah membaik gitu?” tanya Revan bingung.
Vania mengangguk.”Tapi. Masih ada tapi, paling sekitaran komplek rumah,” kata Vania dengan cengirannya.

Revan memasang raut datar mendengarnya.”Sama aja boong, Van,” keluh Revan.
Vania berdecak sebal.”Katanya bosen. Udah untung bisa keluar.”
“Emangnya kamu tahu dari mana aku udah membaik?” tanya Revan.
“Tadi dokter Andre pagi-pagi periksa kamu, kan?” Revan refleks mengangguk.
“Tahu dari mana kamu?”
“Tadi Bunda yang cerita waktu aku datang. Waktu dokter Andre pagi-pagi periksa kamu. Katanya kamu udah mulai membaik.” Ya, seperti yang diucapkan dokter Andre. Dia pastikan Revan akan cepat pulih. Dan terbukti dengan Revan yang sudah mulai membaik lagi sekarang. Dokter Andre memang selalu bisa diandalkan.

Revan tersenyum lebar mendengarnya. Dia kemudian bersandar di pundak Vania dengan senyum yang kian melebar.”Kalau gitu. Boleh dong, ini dilepas,” katanya sambil memperlihatkan infusan ditangan kirinya, tak lupa dengan cengirannya.

Vania menyentil dahi Revan, sehingga cowok itu mengaduh.”Sampe besok jangan dulu dilepas! Kalau kondisi kamu makin baik baru boleh dilepas!” kesal Vania.
Revan yang mendengar itu mengerucurkan bibirnya sebal.”Ck! Sakit ini.”

“Makanya jangan bandel kalau mau cepat sehat!”
“Iya, iya, Ibu.”
“Apa kamu bilang?”
“Nggak sayang,” kilah Revan sambil terkekeh pelan.

Vania memutar bola matanya.”Udah mendingan duduk. Pegel tahu berdiri terus.” Revan tertawa mendengarnya sambil mengacak rambut Vania gemas.
Revan duduk lebih dulu ditepi kasur. Dia melirik Vania yang sedang merapikan rambutnya dengan bibir sedikit maju.”Kenapa cemberut gitu? Mau d–”

“Apa mau ngomong apa?!” sambar Vania galak.
Revan tertawa melihat wajah Vania yang kesal sekaligus memerah. “Udah sini duduk,” kata Revan setelah tawanya reda sambil menepuk tepi kasur yang kosong di sampingnya.
Dengan masih kesal, Vania duduk di samping cowok itu, membuat Revan segera menidurkam kepalanya dipangkuan Vania. Vania menggelengkan kepalanya pelan dengan kelakuan Revan. Revan mengambil tangan Vania, lalu meletakan kepalanya dipuncak kepalanya.”Usapin dong.” Sudah Vania duga, Revan pasti mau seperti ini.

Vania menurut sambil menggelengkan kepalanya pelan.
“Tadi ngilang kemana?”
“Sama cowok lain.” Sontak Revan langsung memposisikan dirinya menjadi duduk dan menatap Vania dengan wajah kagetnya.
“Apa tadi kamu bilang?” tanya Revan, semoga dia salah dengar.

Vania mendekat.”Sama cowok lain,” ujar Vania mengulangi dengan penuh penekanan.
Harapan Revan bahwa dia salah dengar ternyata salah besar.”Oh. Siapa?” tanya Revan datar. Tetapi Vania yakin cowok itu menahan marahnya. Cemburuan banget Revan tuh.

Vania mengigit bibir bawahnya menahan tawa saat melihat muka Revan yang masam. Vania memalingkan wajahnya kesamping saking tidak kuat melihat wajah Revan yang benar-benar menahan marah sampai mukanya agak merah, dan itu malah membuat Vania gemas ingin mencubitnya.
“Siapa aku bilang!” tanya Revan begitu terdengar dingin dan menusuk.
“Kamu nggak perlu tahu,” jawab Vania masih tetap menahan tawanya.
Revan mengepalkan tanganya kuat menahan marah.”Kenapa?”
“Kenapa aku nggak boleh tahu? Takut aku buat dia koma?” Sontak Vania menolehkan wajahnya mendengar itu. Kelihatanya Revan benar-benar marah.

“N-nggak gitu t–”
“Terus apa? Kenapa aku nggak boleh tahu?” potong Revan tidak sabaran.
Vania menghembuskan nafasnya. Oke, kelihatanya Vania salah besar telah mengatakan itu tadi.
“Jawab jangan diem aja,” kata Revan menuntut.
Vania menghembuskan nafasnya, satu tanganya beralih memegang sebelah wajah Revan. Tetapi pandangan cowok itu berubah tajam.”Revan denger dulu. Aku tadi c–”

“Aku bilang siapa orangnya!” potong Revan dengan menekan setiap kata sambil menurunkan tangan Vania dari wajahnya. Detik itu juga Vania tahu, bahwa Revan benar-benar marah.
“Denger dulu makanya!”

“Ck! Yaudah apa?!” kesal Revan. Tetapi nadanya masih terdengar standar.
Vania menghembuskan nafasnya.”Cowoknya tuh.” Vania mengantungkan ucapanya, dia kembali menahan tawanya saat melihat Revan yang tidak sabar menunggu kelanjutan ucapanya.”Cowoknya tuh lebih baik dari kamu. Lebih care sama aku. Lebih bisa bikin aku nyaman. Pokoknya lebih plus-plus dari kamu.”
Revan yang mendengar itu hanya diam walau rasanya dia akan meledak saat ini juga.
“Tapi.” Vania mengantungkan ucapanya.

“Tapi apa?” tanya Revan dingin.
Vania melebarkan senyumnya, membuat dahi Revan berkerut bingung.”Tapi boong.” Gelak tawa Vania terdengar setelahnya. Sampai-sampai gadis itu berguling di kasur.
Revan masih tidak konek. Dia hanya melihat Vania yang terus tertawa dengan tampang datarnya. Vania melirik Revan yang memperhatikanya dengan raut sama seperti tadi.”Kamu nggak ngerti?” tanya Vania setelah tawanya reda sambil kembali duduk.

“Re? Kamu beneran marah? Aku cuma prank kamu loh,” kata Vania dengan raut sedikit panik saat Revan masih menatap datar kearahnya.

Revan menghembuskan nafasnya kasar. Dia mendekat kearah Vania, saat Vania memundurkan wajah dan badanya, Revan malah memegang pinggang gadis itu dengan erat sehingga Vania tidak bisa berkutik.”Udah berani sekarang ya,” kata Revan pelan, namun mampu membuat Vania terdiam mematung dengan meneguk ludah kasar.

“L-lepasin. Aku mainta maaf,” ucap Vania gugup sambil sedikit melebarkan senyumnya.
Revan terdiam, wajahnya mengekspresikan bahwa dia sedang berpikir.”Kayaknya nggak deh. Karena kamu harus aku hukum.”
“J-jangan git-ahhha…”
“Ahhha Revan geli.”
“Nggak denger,” ucap Revan masih tetap terus menggelitiki Vania, membuat gadis itu kembali terbaring dengan tawa yang tak kunjung reda dan tangan yang berusaha menahan tangan Revan yang terus mengelitikinya.
“Revan udah Revan. Stop ahhahaha.”

“Ahahahah… udah stop.”
Revan berhenti, membuat Vania bernafas lega dengan nafas yang terengah-engah.”Oh, kamu mau hukuman lain ya?” kata Revan jahil.
“Ya nggak lah!”
“Ok. Kalau gitu aku lanjut.”
“E-eh jangan ahhha.” Vania tidak diberi ampun oleh Revan. Revan terus mengelitiki Vania membuat gadis itu tidak berhenti tertawa.
Sampai akhirnya, Revan berhenti. Dan ikut berbaring di samping Vania. Revan memposisikan dirinya menjadi menyamping, lalu dia memeluk Vania dan menaruh kepalanya dipundak Vania.”Kamu jangan lirik cowok lain. Apalagi jalan dan deket sama cowok lain. Nggak boleh pokoknya. Cuma boleh sama aku,” kata Revan dengan raut wajah ditekuk dan bibir sedikit maju. Persis seperti anak kecil yang sedang ngambek.

Vania terkekeh mendengarnya. Dia mencubit gemas pipi Revan sehingga Revan sedikit meringis.”Ututu possesive banget si,” ucap Vania gemas.
Raut muka Revan masih sama seperti tadi. Pelukanya mengerat.”Kamu itu punya aku. Titik. Nggak pake koma atau pun tanda tanya. Apalagi bantahan dan penolakan,” kata Revan serius.
Vania beralih mengusap rambut cowok itu.”Iya, iya, Revan. Lagian siapa sih? Yang berani lirik punya Singa.”

Revan menengadahkan kepalanya untuk melihat Vania yang kini juga menatapnya. Senyumnya terukir, lalu dia mengacak rambut Vania gemas.”Anak pinter.”
“Jadi pengen balik lagi kemasa remaja,” ujar Jasmine sambil kembali mengingat jaman dulu saat dia dan Reno berpacaran.

Reno terkekeh pelan mendengarnya.”Inget jaman kita pacaran ya, Bun?” Jasmine refleks mengangguk.
“Gemes liat mereka berdua,” seru Viola.
“Possesive banget, Revan,” gumam Fahri. Mereka bertiga refleks mengangguk pelan sambil tetap memperhatikan Revan dan Vania yang kini tengah bertukar canda dan tawa.
Ya, mereka berempat lagi dan lagi mengintip kebersamaan Revan dan Vania dari pintu yang memang tadi tidak tertutup.

“Kita nikahin aja mereka berdua.” Seketika Fahri, Viola dan Jasmine menatap Reno dengan raut muka terkejut.

“Masih sekolah Yah,” tegur Jasmine.
Viola mengangguk.”Iya. Kalau aja mereka udah lulus. Pasti udah punya cucu yang gemes-gemes kita.”
“Tunangan aja dulu. Gimana?”

Mereka yang mendengar usul dari Fahri mengembangkan senyumnya.
“Oke. Kita bicarain besok sama mereka,” ucap Reno final, membuat mereka mengangguk setuju.

Baca selanjutnya

Baca sebelumnya


Jika kalian punya tulisan, baik cerpen/cerbung, quotes, puisi dan ingin karya kalian tampil di befren.com, Silahkan daftar diri kalian di: KLIK DAFTAR
Setelah terdaftar, lakukan verifikasi di fanspage befrenmedia: KIRIM VERIFIKASI
kirim pesan dengan format: DAFTAR

Karena ada program seru buat kalian yang terpilih, yaitu karya akan dijadikan versi cetak/fisik berupa buku, yang nantinya akan diberikan kepada author buat portofolio kalian.

Keuntungan yang didapat:

  1. Mudah terindek di pencarian google
  2. Tak hanya bisa dibaca di media sosial tapi, bisa dibaca secara global diseluruh dunia
  3. Dapat menginspirasi orang banyak
  4. dan terakhir, tulisan dapat dijadikan versi cetak/buku sesuai kebijakan befren.com
Silahkan Komentar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here